Pengertian Manajemen Krisis, Tahapan, dan Bedanya dengan Manajemen Risiko

Setiap manusia tentu pernah mengalami jatuh bangun dalam kehidupan. Tidak hanya dalam kehidupan pribadi saja, namun juga dalam berorganisasi dan berbisnis juga mengalami hal ini. Keadaan ini bisa disebut sebagai krisis dan perlu ditangani dengan manajemen krisis. Untuk itu berikut di bawah ini adalah penjelasan mengenai hal tersebut mulai dari pengertian hingga tahapannya.

Pengertian Manajemen Krisis

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keadaan sangat parah dan berbahaya disebut dengan krisis. Keadaan suram dalam kaitan moral, ekonomi, dan lain-lain serta keadaan yang genting juga bisa disebut dengan krisis. Berbeda dengan masalah yang terjadi di kehidupan sehari-hari, krisis menjadi hal yang tidak bisa diduga kapan datangnya.

Tentunya dalam keseharian sebuah organisasi terdapat masalah kecil, misalnya saja perdebatan antar anggota dan pemimpin organisasi. Masalah yang ada tersebut tidak melulu menjadikan krisis dalam sebuah organisasi. Sebuah dialog atau pembicaraan dalam organisasi perlu terjadi untuk menangani krisis yang terjadi pada organisasi.

Hal tersebut menjadi tujuan dari adanya manajemen krisis. Komunikasi dalam masa krisis perlu ditangani dengan strategi yang tepat dan dilakukan dengan cara yang baik. Hal tersebut memberikan keuntungan pada organisasi dan berlaku sebaliknya. Pada intinya, manajemen krisis adalah tindakan yang dilakukan dalam menangani krisis yang ada pada sebuah organisasi.

Baca juga : Pengertian Iklan Advertorial dan Tips Membuatnya untuk Mendongkrak Penjualan

Tahapan Manajemen Krisis

Dalam melakukan pengelolaan terhadap manajemen krisis dalam organisasi, tidak bisa dilakukan dengan satu cara. Jika dilakukan dengan satu cara, tentu akan timbul masalah yang baru lagi. Sebagaimana sebuah proses, ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam manajemen krisis. Berikut di bawah ini adalah beberapa tahapan dalam mengelola krisis organisasi.

1. Pra-Krisis

Sebagaimana akan membuat sebuah acara, tentu tidak bisa langsung mengadakan acara tanpa persiapan apapun. Dalam melakukan manajemen krisis, tentu ada persiapan dan pencegahan yang dilakukan terlebih dahulu. Pencegahan dalam pengelolaan terhadap krisis ini dilakukan dengan menemukan langkah mengurangi risiko yang nantinya menimbulkan krisis.

Jika pencegahan sudah dilakukan, maka yang dilakukan adalah persiapan dalam mengelola krisis yaitu dengan membuat rencana dalam mengelola krisis. Tentukan saja siapa anggota yang akan berperan dalam penanganan krisis dan juga mengkondisikan anggota supaya bisa beradaptasi terhadap krisis dan siap untuk mengelola krisis.

2. Respon Terhadap Krisis

Setelah menyiapkan apa saja rencana yang akan dilakukan dalam mengelola krisis hingga menentukan anggota, saatnya melakukan respon terhadap krisis. Dalam hal ini para anggota termasuk para petinggi organisasi akan bertindak langsung dalam menangani krisis pada organisasi, dalam hal ini krisis pada organisasi. Dalam hal ini, perkataan dan perbuatan petinggi organisasi sangat berperan penting.

Tidak hanya petinggi organisasi saja yang berperan penting dalam penanganan terhadap krisis, PR atau yang biasa disebut humas juga berperan penting. Humas berperan dalam mendampingi dan membantu proses dalam menyampaikan hal yang terjadi pada instansi tertentu. Dengan adanya hal ini, beban sebuah organisasi akan lebih ringan.

Baca juga : Manajemen Penjualan: Pengertian, Tahap, Teknik, dan Faktor yang Memengaruhinya

3. Pasca-Krisis

Organisasi yang sudah melewati masa krisis umumnya bisa melakukan kegiatannya kembali seperti biasa. Namun untuk manajemen krisis tidak bisa berhenti begitu saja, ada juga perhatian lanjutan meski krisis tidak menjadi masalah utama. Komitmen antar anggota organisasi yang sudah dibuat sebelumnya harus dapat dipenuhi.

Jika komitmen yang dibuat sebelumnya dilakukan, informasi yang berupa pemberitahuan bisa disampaikan pada pihak terkait termasuk masyarakat. Adanya pengelolaan terhadap krisis ini juga bisa memberi dorongan bagi organisasi untuk menemukan langkah persiapan di masa mendatang. Tujuannya tentu agar para anggota organisasi tidak merasa terancam akibat krisis.

Pengelolaan terhadap krisis juga memiliki nilai yang harus dipegang oleh organisasi, yaitu konsisten, cepat, dan akurat. Pada hakikatnya, publik ingin mengetahui apa yang terjadi dalam sebuah organisasi ketika ada krisis. Hindarilah untuk memberikan pendapat ke media bagi orang yang di luar organisasi ketika organisasi dilanda krisis.

Dalam kondisi tersebut, Humas bisa menjadi juru bicara ketika ada masalah yang menimpa sebuah organisasi. Apabila humas tidak mampu untuk menjadi juru bicara, maka CEO atau pemangku kepentingan di organisasi juga bisa menjadi juru bicara.

Perbedaan Manajemen Krisis Dengan Manajemen Risiko

Tidak hanya krisis saja yang datang dalam sebuah organisasi, risiko juga bisa muncul dalam sebuah organisasi. Menangani risiko yang terjadi juga membutuhkan manajemen risiko. Apa yang membedakan manajemen krisis dengan manajemen risiko? Berikut adalah perbedaannya.

Baca juga : Pengertian Lengkap Manajemen Risiko, Komponen, Jenis, Dan Tujuannya Dalam Bisnis

1. Jenis Proses

Secara proses, pengelolaan terhadap kritis menjadi proses reaktif yang mana dilakukan sebagai tanggapan dalam peristiwa buruk sebuah organisasi. Pengelolaan terhadap risiko berbeda, ia adalah sebuah proses pendekatan proaktif terhadap peristiwa yang terjadi di masa mendatang.

2. Tujuan

Manajemen krisis memiliki tujuan untuk meredam ketegangan yang timbul atas krisis yang dihadapi saat itu. Hal tersebut berbeda dengan pengelolaan terhadap risiko yang bertujuan untuk memahami, mencari, serta merencanakan risiko yang akan dihadapi sebuah organisasi.

3. Pengertian

Secara pengertian, sudah disampaikan pada poin sebelumnya bahwa pengelolaan krisis dilakukan untuk menangani sebuah peristiwa yang tidak terduga. Hal tersebut tentu berbeda dengan manajemen risiko yang mana melibatkan proses identifikasi risiko yang mungkin dihadapi di masa depan.

4. Peristiwa

Dengan pengertian di atas, tentu bisa diketahui bahwa pengelolaan terhadap krisis dilakukan pada peristiwa yang tidak terduga kapan datangnya. Di sisi lain, pengelolaan terhadap risiko dilakukan terhadap kejadian potensial yang dihadapi di masa depan. Contoh mudahnya adalah banjir yang datang di suatu daerah.

Baca juga : Pengertian Sistem Inventory, Manfaat, serta Tips Pengelolaannya

Pembukuan Baik sebagai Cara Menanggulangi Krisis

Krisis memang tidak bisa diduga kapan datangnya dan setiap organisasi tertentu harus memahami bagaimana cara manajemen krisis. Dari penjelasan di atas, ada tiga tahapan penting yang harus dilakukan dalam menangani hal tersebut. Mulai dari persiapan hingga pasca krisis harus dieksekusi dengan matang, salah satunya adalah melakukan pembukuan terhadap seluruh transaksi bisnis Anda.

Baca juga : Analisis Gap : Apa itu dan Mengapa itu Penting dalam Manajemen Proyek?

Dengan pembukuan yang benar, semua data keuangan, stok, dan seluruh catatan transaksi pada bisnis akan tersimpan secara benar dan pada saat dibutuhkan, semua data tersebut bisa disajikan dengan faktual.

Kesulitan melakukan pencatatan dengan proses pembukuan manual? Atau tidak memahami ilmu akuntansi secara mendalam? Anda bisa mencoba menggunakan software akuntansi yang mudah digunakan dan sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda seperti Accurate Online.

Tertarik mencoba semua fitur yang ada di Accurate Online? Anda bisa mencobanya secara gratis selama 30 hari melalui tautan pada gambar di bawah ini:

accurate berhenti membuang waktu