Benefit Cost Ratio: Pengertian, Rumus, dan Contoh Perhitungannya

Benefit Cost Ratio atau biasa disingkat dengan B/C Ratio merupakan salah satu istilah dalam dunia usaha yang berkaitan dengan perhitungan keuntungan. Perhitungan ini dilakukan untuk mengetahui apakah suatu usaha menguntungkan atau justru merugikan.

B/C Ratio juga digunakan sebagai salah satu konsep yang terkadang digunakan untuk menentukan kelayakan sebuah proyek. Terlebih pada proyek pemerintah yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat luas, dimana metode perhitungan B/C Ratio ini cukup dibutuhkan.

Lantas, apa sebenernya Benefit Cost Ratio ini? Artikel berikut akan menjawab pertanyaan tersebut sekaligus membahas rumus, contoh perhitungan, dan kelebihan serta kekurangan dari metode analisa Benefit Cost Ratio.

Pengertian Benefit Cost Ratio

Benefit Cost Ratio atau B/C Ratio merupakan suatu ukuran perbandingan antara pendapatan dengan Total Biaya Produksi sebuah proyek usaha. Dimana “B” adalah benefit atau keuntungan, sementara “C” adalah cost atau biaya.

Hasil dari perhitungan B/C Ratio akan menunjukkan berapa keuntungan berlipat yang didapatkan dari total biaya yang dikeluarkan dari sebuah proyek usaha.

Jika hasil perhitungan lebih dari 1, maka usaha tersebut menguntungkan dan bisa untuk dilanjutkan. Namun, jika hasil perhitungan kurang dari 1, maka usaha tersebut cenderung tidak menguntungkan dan perlu dilakukan peninjauan ulang.

Baca juga: Carbon Trading: Ini Pengertian, Kelebihan dan Kekurangannya

Rumus Benefit Cost Ratio

Adapun untuk menghitung Benefit Cost Ratio, data yang diperlukan ialah total biaya yang dikeluarkan dan penghasilan yang didapatkan per tahun. Lebih jelasnya, berikut rumus matematis untuk menghitung B/C Ratio.

BCR = Benefit Cost Ratio

FI = Total Pendapatan (Rp)

TC = Total Biaya (Rp)

Seperti disebutkan sebelumnya, terdapat indikator yang dapat memperlihatkan besaran keuntungan sebuah proyek usaha. Indikator tersebut meliputi:

  • Jika B/C Ratio lebih dari 1, maka keuntungan dari proyek tersebut lebih besar daripada pengeluaran sehingga proyek tersebut dapat diterima atau layak dilanjutkan.
  • Jika B/C Ratio kurang dari 1, maka keuntungan dari proyek tersebut lebih kecil daripada pengeluarannya sehinga proyek tersebut tidak layak dan perlu ditinjau ulang.
  • Jika B/C Ratio sama dengan 1, maka keuntungan dan pengeluarannya dikatakan seimbang atau impas

Baca juga: Konsolidasi Adalah: Ini Pengertian dan Bedanya Dengan Merger Serta Akuisisi

Contoh Perhitungan B/C Ratio

Sebuah usaha tani tanaman padi di Madiun memperoleh penghasilan atau pendapatan sebesar Rp110.000.000 pada tahun pertama. Dimana untuk beroperasi selama satu tahun tersebut, usaha tani mengeluarkan modal sebesar Rp70.000.000, dimana modal tersebut termasuk biaya implisit dan biaya eksplisit.

Jika usaha tani ingin mengevaluasi keuntungan dan hendak memutuskan untuk melanjutkan proyek usaha tani ini atau tidak, maka perhitungan B/C Rationya adalah:

Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh hasil sebesar 1,57. Dimana artinya setiap Rp1 yang dikeluarkan oleh petani akan mengantarkan keuntungan sebesar Rp 1,58. Dengan demikian, usaha tani tanaman padi di Magetan tersebut cukup menguntungkan dari segi finansialnya.

Baca juga: Pengertian Identifikasi, Bentuk, dan Prosesnya dalam Bisnis

Kelebihan dan Kekurangan B/C Ratio

Kelebihan dari penerapan metode Benefit Cost Ratio ini ialah kita dapat melihat berapa rasio keuntungan yang bisa didapatkan hanya dari perhitungan antara jumlah pendapatan dan total biaya produksi. Dengan kata lain, metode ini memperhitungkan aliran kas selama umur proyek investasi.

Namun, penerapan metode B/C Ratio juga memiliki kekurangan berupa proses perhitungan yang lama karena perlu mengidentifikasi terlebih dahulu semua biaya.

Selain itu, analisa B/C Ratio juga hanya memvisualisasikan suatu proyek menjadi sebuah angka yang sederhana. Dimana keberhasilan atau kegagalan sebuah proyek sebenarnya dipengaruhi oleh banyak faktor dan dapat dirusak oleh peristiwa yang tidak terduga, bukan hanya sekedar angka pendapatan dan angka modal yang dikeluarkan.

Indikator di atas angka 1 yang berarti keuntungan dan di bawah angka 1 berarti kerugian juga cenderung bias dan dapat memberikan rasa aman palsu terhadap suatu proyek. Karena itu, untuk penggunaan analisis B/C Ratio sebaiknya dipadukan dengan jenis analisis lain agar dapat membuat suatu keputusan yang baik.

Baca juga: Sistem Informasi Bisnis dan Manfaatnya Bagi Perusahaan

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa Benefit Cost Ratio merupakan metode untuk menganalisis tingkat keuntungan sebuah proyek usaha. Metode ini dihitung dengan membagi pendapatan dan total biaya yang dikeluarkan per tahun.

Hasil dari perhitungan metode analisa ini dapat digunakan untuk melihat keuntungan berlipat dan membantu memutuskan apakah proyek tersebut baik untuk dilanjutkan. Meski begitu, penggunaan metode ini sebaiknya dipadukan dengan jenis analisis lain guna mendapatkan hasil yang lebih akurat dan tidak bias.

Adapun pengelolaan finansial sebuah proyek usaha perlu dicatat dengan detail dan terperinci dalam pembukuan dan laporan keuangan. Sebab, hal ini dapat menunjukkan kesehatan keuangan proyek usaha tersebut, sekaligus untuk menghindari masalah finansial.

Alih-alih menggunakan metode manual, Anda bisa menggunakan metode yang lebih modern yakni dengan menggunakan software akuntansi dan bisnis seperti Accurate Online.

Accurate Online telah dipercaya oleh ratusan ribu pebisnis di Indonesia dalam membantunya mencapai kesuksesan finansial. Pasalnya, Accurate Online menyediakan lebih dari 200 jenis laporan keuangan dan bisnis yang memungkinkan Anda untuk dapat mengelola keuangan secara lebih akurat, cepat, dan otomatis.

Berbagai fitur dan keunggulan juga tersedia secara lengkap dan mudah untuk digunakan, bahkan bagi pemula. Karena berbasis cloud, Accurate Online pun bisa diakses kapan saja dan di mana saja.

Tunggu apa lagi? Jika Anda tertarik untuk mencoba Accurate Online, Anda bisa klik tautan gambar di bawah ini dan nikmati secara gratis selama 30 hari.