Apa Itu Depreciation? Ini Pengertian dan Cara menghitungnya!

Depreciation atau depresiasi bukanlah suatu hal yang baru dalam proses pembukuan akuntansi suatu bisnis. Dalam praktiknya, depreciation atau penyusutan ini kerap kali dikaitkan dengan kerugian dalam perhitungan nilai.

Namun untuk mereka yang telah memahami bentuk laporan keuangan, depreciation bisa dijadikan sebagai alat untuk mengalokasikan biaya.

Untuk itu, ayo kita pahami lebih jelas apa itu depreciation dan cara menghitungnya di bawah ini.

Apa Itu Depreciation?

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan atau PSAK menjelaskan bahwa depreciation adalah alokasi dari jumlah sebuah aktiva yang bisa disusutkan sepanjang masa kegunaan yang telah diestimasi.

Selanjutnya, Rudianto menjelaskan bahwa penyusutan atau depreciation adalah mengalokasikan harga perolehan aset tetap menjadi beban dalam periode akuntansi yang menikmat fungsi manfaat dari aset tetap itu sendiri.

Di didi lain, Winston Pontoh menjelaskan bahwa pengurangan kemampuan aset tetap akan diiringi dengan jangka waktu pemakaiannya. Pada saat yang sama, aset tetap tersebut akan mulai mengalami kondisi keusangan yang membuat barang tersebut disebut dengan depreciation.

Berdasarkan penjelasan para ahli di atas, bisa kita simpulkan bahwa depreciation adalah suatu proses akuntansi yang digunakan agar bisa mengalokasikan biaya dari aset berwujud ke biaya sistematis pada periode yang sudah diharapkan demi memperoleh manfaat atau fungsi dari penggunaan aset itu sendiri.

Baca juga: Mengenal Perbedaan Aset Tetap Berwujud dan Tidak Berwujud

Namun, Apa Itu Aset?

Tidak seluruh aset perusahaan bisa mengalami penyusutan. Aset yang bisa mengalami penyusutan adalah aset jangka panjang dengan tujuan akuntansi dan juga pajak. Pihak perusahaan bisa mengurangi pajak untuk biaya asetnya. Itu artinya, perusahaan bisa mengurangi penghasilan kena pajaknya sambil memanfaatkan aset tersebut.

Dalam melakukan depreciation, tentunya terdapat aturan tertentu.

Berdasarkan Internal Revenue Service (IRS), saat melakukan metode depreciation untuk suatu aset, maka perusahaan harus menyebarkan biaya dari setiap waktunya. IRS pun membuat aturan tentang kapan perusahaan bisa melakukan pengurangan tersebut. Suatu aset pun harus bisa dinyatakan dengan mata uang.

IRS pun menjelaskan bahwa aset sebagai properti. Artinya, aset tersebut bisa dalam bentuk aset berwujud dan aset tidak berwujud. Keduanya bisa dilakukan depreciation. Namun untuk aset tidak berwujud, proses penyusutannya dikenal dengan amortisasi.

Aset berwujud dalam hal ini adalah aset nyata yang bisa disentuh, seperti komputer, laptop, gedung, gudang, kendaraan, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, aset tidak berwujud adalah aset yang tidak bisa disentuh namun bisa dijual atau dibeli, seperti hak cipta, hak paten, dan beragam properti intelektual lainnya.

Baca juga: Current Ratio (Rasio Lancar): Pengertian, Rumus, Contoh dan Batasannya

Faktor yang Mempengaruhi Penentuan Biaya Depresiasi

Berikut ini adalah berbagai faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan biaya depreciation.

1. Harga Perolehan (Acquisition Cost)

Harga perolehan adalah faktor yang paling berdampak pada biaya penyusutan. Alasannya, karena harga perolehan ini akan menjadi patokan dalam menentukan nilai depreciation yang harus dialokasikan pada tiap periode akuntansi.

Harga ini bisa didapat dari sejumlah yang yang dialokasikan untuk mendapatkan aktiva tetap hingga siap untuk digunakan.

2. Nilai Residu (Salvage Value)

Nilai residu atau nilai sisa adalah nilai potensi atau estimasi dari arus kas yang masuk jika aset tersebut dijual ketika penarikan asetnya.

Tapi, harus Anda ketahui bahwa dalam suatu periode akuntansi, tidak selamanya nilai residu ini hadir. Ada waktu tertentu ketika aktiva tidak bisa dijual di masa penarikannya dan membuat aktiva tersebut menjadi tidak mempunyai nilai residu.

3. Usia Kegunaan

Berdasarkan nilai ekonomisnya, terdapat dua jenis usia yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dari suatu aset. Pertama dari usia secara fisik. Suatu aktiva bisa dikatakan masih mempunyai nilai usia berdasarkan fisiknya. Jika aset tersebut secara fisik masih mempunyai kondisi yang baik, maka masih memiliki nilai ekonomis, walaupun secara fungsi memang sudah menurun.

Kedua secara fungsional. Biasanya, usia fungsional ini akan dikaitkan dengan kontribusi dari aset itu sendiri dalam penggunaanya.

Aset yang memiliki kondisi baik secara fisik belum tentu bisa memberikan kontribusi secara fungsional untuk perusahaan. Aset tersebut bisa saja tidak bisa digunakan lagi karena ada perubahan modal atas produk yang dihasilkan atau aset tersebut memang telah usang.

4. Jumlah Biaya yang dapat Disusutkan

Jumlah biaya yang bisa disusutkan adalah selisih antara biaya perolehan dengan nilai dari residunya sendiri. Kemudian, akan dialokasikan secara lebih sistematis sebagai beban penyusutan.

5. Jumlah Tercatat atau Nilai Buku

Artinya, terdapat selisih antara biaya perolehan dengan akumulasi penyusutannya.

Baca juga: Mengetahui Lebih Jauh Perbedaan Depresiasi dan Amortisasi pada Bisnis

Aset Apa Saja yang Dapat Disusutkan?

Jenis aset yang bisa diapresiasi ini telah ditetapkan oleh IRS. Mereka menjelaskan bahwa aset tersebut harus bisa memenuhi beberapa syarat di bawah ini:

  • Aset adalah hak milik
  • Aset digunakan untuk kegiatan bisnis atau sebagai pemasukan bisnis
  • Aset mempunyai masa manfaat atau masa pakai yang dapat diperkirakan
  • Perkiraan masa pakainya adalah lebih dari 1 tahun

Beberapa contoh aset yang umum dilakukan depreciation oleh bisnis kecil adalah peralatan kantor, kendaraan kantor, properti, komputer, printer, dan lain sebagainya.

Baca juga: Jurnal Penyusutan: Pengertian dan Cara Membuatnya

Apa Itu Jadwal Depresiasi?

Saat melakukan metode depreciation, terdapat suatu hal yang dikenal dengan depresiasi. Artinya, suatu tabel akan menunjukkan seberapa banyak aset perusahaan akan disusutkan selama jangka waktu tertentu. Biasanya, jadwal depreciation akan memuat informasi seperti di bawah ini.

  • Memiliki dekripsi aset yang jelas
  • Terdapat waktu pembelian aset
  • Total harga yang dibayar untuk memiliki aset tersebut
  • Perkiraan masa manfaat atau masa guna aset
  • Metode depreciation yang nantinya akan digunakan
  • Memiliki nilai sisa, atau perkiraan harga aset setelah melewati masa gunanya.

Baca juga: Metode Unit Produksi: Pengertian dan Bedanya Dengan Metode Penyusutan Saldo

Jenis-Jenis Metode Depresiasi

Terdapat beberapa metode untuk bisa melakukan depreciation demi kepentingan laporan keuangan atau neraca di akhir tahun. Namun, IRS hanya memberikan izin untuk satu metode depreciation di dalam pengembalian pajak.

Untuk itu, perusahaan diharuskan menggunakan satu metode pembukuan saja, dan satu metode lainnya untuk pajak. Tapi, beberapa perusahaan ada juga yang menggunakan metode penyusutan pajak untuk keperluan pembukuannya.

Terdapat 4 metode depreciation yang bisa Anda gunakan, yaitu:

1. Depresiasi Garis Lurus

Metode yang satu ini dianggap sebagai metode yang paling mudah untuk melakukan penyusutan aset tetap. Metode ini akan membagi nilai secara lebih merata selama masa guna aset itu sendiri.

Metode ini sangat sesuai untuk bisnis kecil yang menggunakan sistem akuntansi sederhana. Selain itu, jenis perusahaan ini pun umumnya tidak memerlukan penasihat akuntan dan juga pajak untuk membantu mereka.

Rumus menghitungnya adalah sebagai berikut:

(Biaya Aset – Nilai Sisa) : Masa Manfaat

Jadi katkanlah ada suatu perusahaan Event Organizer kecil yang membeli peralatan pesta seharga 1 juta rupiah. Nilai sisa dari aset tersebut adalah 50 ribu rupiah setelah mengalami masa pakai setelah 10 tahun. Nah, depresiasinya adalah sebagai berikut:

(1 juta – 50 ribu) : 10 = 95 ribu rupiah

Jadi, di pembukuannya nanti akan ditulis bahwa peralatan pesta memiliki nilai sebesar 95 ribu rupiah selama 10 tahun.

2. Depresiasi Saldo Menurun Ganda

Metode saldo menurun ganda ini akan lebih kompleks, karena perusahaan harus mengurangi nilai aset yang lebih banyak segera setelah dibeli dan menguranginya lagi di lain hari. Metode yang satu ini sangat cocok untuk perusahaan yang ingin memulihkan nilai aset di awal waktu.

Namun untuk menghitungnya, Anda harus terlebih dahulu mengetahui tarif depresiasi, setelah itu Anda baru bisa menghitung depresiasi, berikut ini adalah rumusnya:

Depresiasi = nilai awal tahun X tarif depresiasi

Tarif depresiasi = (100 % : taksiran umur manfaat) x 2

3. Jumlah Depresiasi Digit Tahunan

Dalam bahasa asing, istilah ini dikenal dengan depreciation Sum of the Year’s Digits (SYD). Metode ini akan membantu perusahaan dalam menyusutkan aset di tahun awal masa manfaatnya dan lebih sedikit pada tahun-tahun setelahnya.

Metode ini juga akan sangat sesuai untuk bisnis yang ungun memulihkan lebih banyak nilai aset di awal, namun dengan distribusi yang sedikit lebih merata daripada metode di poin sebelumnya. Rumus untuk menghitungnya adalah sebagai berikut:

(sisa umur aset : SYD) x (biaya aset – nilai sisa)

4. Depresiasi Unit Produksi

Depresiasi unit produksi adalah cara yang paling sederhana untuk menghitung penyusutan peralatan dengan berdasarkan banyaknya pekerjaan yang telah dilakukan oleh alat tersebut.

Cara ini sangat sesuai untuk bisnis kecil dengan cara mengurangi nilai peralatan dengan hasil yang bisa dikurangi dan diterima selama masa gunanya. Umumnya, cara ini hanya digunakan untuk mesin yang memiliki nilai tinggi. Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut:

(nilai aset – nilai sisa) : jumlah unit yang diproduksi selama masa pakai.

Baca juga: Apa itu Saldo Menurun Ganda dan Bagaimana Cara Menggunakannya?

Penutup

Demikianlah penjelasan dari kami tentang depreciation. Jadi, setiap hal memiliki umur pemakaian. Untuk itu, di dalam dunia ekonomi dan akuntansi semuanya harus dihitung secara jelas agar bisa menetapkan keputusan yang lebih baik.

Namun, bila Anda tidak kesulitan atau tidak memiliki waktu untuk menghitungnya, Anda bisa menggunakan aplikasi bisnis dan akuntansi dari Accurate Online.

Aplikasi ini akan mengerjakan berbagai kebutuhan akuntansi Anda dan akan menyajikan laporan arus kas, laporan laba rugi, laporan neraca, dan lebih dari 200 jenis laporan keuangan atau laporan penjualan secara akurat.

Selain itu, aplikasi ini juga telah dilengkapi dengan berbagai fitur dan modul yang akan memudahkan Anda dalam melakukan penjualan dan pembelian, mengelola persediaan barang di gudang. Menyelesaikan administrasi perpajakan dan masih banyak lagi.

Seluruh kelebihan dan fitur luar biasa dari Accurate Online ini bisa Anda nikmati dengan biaya investasi yang sangat terjangkau. Bahkan, Anda bisa lebih dulu mencobanya secara gratis selama 30 hari dengan klik banner di bawah ini.