IHSG Adalah: Pengertian, Fungsi, dan Beberapa Istilah di Dalamnya

Terdapat banyak sekali hal yang wajib Anda pahami sebelum Anda melakukan investasi saham ataupun reksadana. Salah satunya adalah IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan. IHSG adalah suatu acuan yang sering dilakukan oleh para investor dalam menentukan kapan mereka harus membeli dan juga menjual instrumen investasi.

Nah, untuk Anda yang penasaran tentang pengertian IHSG beserta fungsi dan istilah di dalamnya. Berikut ini kami akan jabarkan seluruh hal yang terkait dengan IHSG tersebut untuk Anda.

Pengertian IHSG Adalah

Dalam setiap harinya, di setiap jam kerja, setiap media massa akan selalu ada yang memberitakan pergerakan IHSG. Umumnya, angka pada IHSG akan terus bergerak dari pagi sampai sore.

Dikutip langsung dari situs resmi Bursa Efek Indonesia atau BEI, IHSG adalah suatu indeks yang mengukur kinerja seluruh saham yang tercatat di papan utama dan juga papan pengembangan BEI.

IHSG juga dikenal dengan sebutan Indonesia Composite Index (ICI) atau dengan sebutan lainnya IDX Composite.

Didalamnya, ada banyak sekali emiten yang terdaftar. Biasanya, dalam satu hari setiap saham mempunyai pergerakan yang beragam. Ada yang sedang meningkat, ada yang menurun, ada juga yang stagnan.

Apabila seluruh saham tersebut digabung, maka seluruh rata-rata pergerakannya akan tergambar jelas dalam IHSG. Jadi, ketika IHSG sedang meningkat, maka bisa disimpulkan rata-rata saham yang melantai di BEI sedang mengalami kenaikan, pun begitu juga sebaliknya.

Pertama kali IHSG diperkenalkan ke masyarakat adalah pada tanggal 1 April 1983. Ketika itu, IHSG adalah suatu indikator utama dalam Bursa Efek Jakarta.

Selanjutnya, di tanggal 10 Agustus 1982 dijadikan hari dasar dalam perhitungan IHSG, yang mana pada tanggal tersebut IHSG ditetapkan dengan nilai dasar saham sebesar 100. Pada saat itu, jumlah saham yang tercatat baru 13 saham saja.

Perhitungan yang digunakan pada IHSG adalah dengan memanfaatkan jumlah nilai pasar atau harga pasar dan jumlah nilai dasar atau harga IPO pada seluruh saham yang sudah tercatat.

Nah, harga saham yang digunakan untuk menghitung IHSG adalah harga saham pada pasar reguler dengan berdasarkan sistem lelang. Perhitungan ini dilakukan pasca penutupan perdagangan pada setiap harinya.

Baca juga: Pialang Adalah: Pengertian, Jenis, dan Tips Memilih Pialang yang Tepat

Fungsi IHSG

1. Penanda Pergerakan Pasar

Fungsi dasar dari IHSG adalah sebagai suatu penanda pada pergerakan pasar. Artinya, IHSG adalah suatu indeks pergerakan saham yang sudah tercatat pada BEI.

Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa IHSG adalah cerminan dari seluruh kondisi saham di pasar modal

Dilansir dari laman Warta Ekonomi, IHSG bisa dijadikan sebagai suatu patokan yang bisa dipercaya untuk bisa melihat kondisi bursa saham pada hari tersebut.

Jika tren IHSG pada saat itu sedang meningkat, maka itu artinya setiap harga saham di lantai bursa juga sedang mengalami peningkatan. Apabila posisi IHSG sedang melemah, maka artinya seluruh harga saham secara rata-rata juga sedang mengalami penurunan.

Namun, perlu diketahui bahwa nilai tersebut hanya nilai rata-rata saja. Ada kemungkinan bahwa ada saham yang berkebalikan dengan kondisi saham di IHSG.

2. Tolak Ukur Kinerja Portofolio

Apabila Anda sudah mulai melakukan investasi saham ataupun investasi reksadana, maka Anda akan memiliki portofolio yang bisa selalu Anda pantau. Nah, portofolio adalah himpunan aset investasi yang sudah Anda miliki.

Dengan adanya IHSG, maka Anda bisa menilai seberapa baik portofolio yang Anda miliki. Contoh sederhananya, jika Anda sudah melakukan investasi selama 10 tahun, lalu ternyata IHSG mengalami peningkatan sebanyak 198% dalam kurun waktu 10 tahun, dan kinerja portofolio Anda masih berada dibawah angka tersebut, maka ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan.

Dalam hal ini, Anda juga bisa memilih mengganti strategi investasi yang tepat.

3. Mengukur Tingkat Keuntungan

Fungsi lain dari IHSG adalah untuk mengukur tingkat keuntungan rata-rata investasi Anda.

Contoh sederhananya, pada tahun 2008, IHSG berada pada level 1400. Lima tahun selanjutnya, IHSG terus meningkat pada level 4400

Dari hal tersebut, maka bisa diperhatikan adanya pertumbuhan suatu indeks dalam kurun lima tahun adalah 3000 atau 214%. Secara tahunan, maka bisa disimpulkan juga adanya perkembangan indeks sebesar 42,8%.

Oleh karena itu, Anda bisa mengukur tingkat rata-rata keuntungan Anda dalam kurun waktu pada angka tersebut.

4. Melihat Perkembangan Ekonomi

Fungsi IHSG yang terakhir dan tidak kalah pentingnya adalah untuk bisa memperhatikan perkembangan ekonomi negara. Walaupun ada banyak sekali faktor yang bisa dilihat untuk mengukur perkembangan ekonomi negara, namun IHSG juga mempunyai peranan yang sangat besar dalam menunjukkan perkembangan ekonomi di Indonesia.

Indeks Lain Selain IHSG

Selain IHSG, ternyata ada indeks lain yang bisa menunjukkan pergerakan saham gabungan. Dilansir dari laman BEI, setidaknya ada 34 indeks saham yang ada di BEI, beberapa diantaranya adalah seperti yang dijelaskan di bawah ini.

1. LQ45

Indeks LQ45 adalah suatu indeks yang mengukur performa ke 45 saham yang memiliki tingkat likuiditas paling tinggi dan kapitalisasi pasar yang sangat besar dan sudah didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

2. IDX30

IDX30 adalah indeks yang mengukur kinerja ke 30 saham dengan tingkat likuiditas yang tinggi dan kapitalisasi pasar yang cukup besar dan juga sudah didukung dengan fundamental perusahaan yang cukup baik.

3. Kompas100

Kompas 100 adalah indeks yang menilai kinerja 100 saham dengan tingkat likuiditas yang baik dan kapitalisasi pasar yang cukup besar. Indeks ini dikeluarkan dan juga dikelola oleh Kompas Gramedia Group.

4. Bisnis-27

Indeks ini akan mengukur performa ke 2 saham yang dipilih oleh Komite Indeks Bisnis Indonesia. Bisnis-27 ini dirilis dan juga dikelola oleh perusahan penerbit harian Bisnis Indonesia bernama PT Jurnalindo Aksara Grafika.

Beberapa Jargon Penting terkait IHSG

1. Bubble

Di dalam kamus jargon ekonomi, bubble adalah meningkatnya suatu harga saham secara signifikan. Bahkan, kenaikan di dalamnya terkadang bisa sangat tidak wajar dan mampu melewati kondisi harga normal saham dari suatu perusahaan. Bubble bisa terjadi karena berbagai peristiwa yang tidak bisa diduga.

2. Fluktuasi

Fluktuasi adalah suatu peningkatan dan penurunan pada suatu harga saham. Fluktuasi pada harga saham bisa terjadi karena adanya mekanisme perdagangan pada saham. Di dalam IHSG, fluktuasi adalah sesuatu hal yang normal terjadi.

3. Portofolio

Portofolio adalah himpunan seluruh aset investasi berupa saham milik individu ataupun perusahaan.

4. Likuiditas

Likuiditas adalah suatu penilaian jumlah dari kegiatan transaksi saham di pasar modal dalam kurun waktu tertentu. Tingginya nilai likuiditas pada suatu saham diartikan sebagai tingginya frekuensi kegiatan jual beli saham di dalamnya.

5. Buyback

Buyback adalah suatu kegiatan membeli berbagai saham perusahaan kembali dari para pemegang saham.

6. Capital Gain/Loss

Capital gain adalah suatu keuntungan yang bisa didapatkan oleh individu atau perusahaan yang sudah menanamkan saham. Profit ini adalah hasil selisih harga total penjualan saham yang sudah dikurangi jumlah keseluruhan harga beli saham.

Sebaliknya, capital loss adalah hasil selisih dari harga jual saham yang lebih murah daripada harga belinya. Capital loss adalah suatu kerugian bagi para investor.

7. Cut Loss

Cut loss adalah suatu kondisi ketika ada investor yang lebih memilih untuk kembali menjual sahamnya kembali. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kerugian yang lebih parah. Disisi lain, ada juga istilah Hold yang memiliki arti menahan saham yang dimilikinya.

8. BEI

BEI atau Bursa Efek Indonesia adalah himpunan dari Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Kehadirannya bertujuan untuk efektivitas kegiatan operasional transaksi. Kedua bursa tersebut mulai bergabung dan dioperasikan pada tanggal 1 Desember 2007 sebagai Bursa Efek Indonesia.

9. Bullish 

Bullish kerap kali disamakan dengan bearish yang memiliki bearish yang memiliki arti naik turunnya suatu harga saham dalam suatu periode tertentu yang ditandai dengan optimisme dan juga pesimisme para investor di pasar saham.

Baca juga: Emiten Adalah: Pengertian, Tujuan, Fungsi dan Syarat Menjadi Perusahaan Emiten

Penutup

Demikianlah penjelasan dari kami terkait IHSG. Jadi bisa disimpulkan bahwa IHSG adalah suatu indeks pasar saham yang digunakan di dalam BEI. Anda bisa terus memantau pergerakan IHSG agar bisa menentukan kapan Anda harus menjual, menahan atau membeli instrumen investasi saham yang ada di BEI.

Sebagai investor, khususnya investor perusahaan, Anda harus selalu rajin memantau pergerakan IHSG agar bisa mengambil keputusan secara bijak agar dana investasi perusahaan bisa mendatangkan keuntungan yang besar selain dari hasil penjualan.

Selain itu, Anda juga harus lebih bijak lagi dalam mengatur dana perusahaan agar setiap operasional perusahaan bisa terus dilakukan dengan baik. Nah, untuk lebih memudahkan Anda dalam mengatur dana perusahaan, Anda bisa menggunakan program akuntansi dari Accurate Online.

Dengan menggunakan aplikasi akuntansi ini, maka Anda akan lebih mudah dalam melakukan berbagai proses akuntansi, mulai dari laporan arus kas, rekonsiliasi bank, laporan perubahan modal, dll. Accurate Online juga akan memudahkan Anda dalam melakukan berbagai proses akuntansi yang rumit. Jadi, Anda bisa mencatat seluruh transaksi laporan keuangan Anda dengan cepat.

Tertarik? Anda bisa mencoba menggunakan Accurate Online secara gratis selama 30 hari melalui tautan pada gambar di bawah ini:

accurate 3 banner bawah

Seberapa bermanfaat artikel ini?

Klik salah satu bintang untuk menilai.

0 pembaca telah memberikan penilaian

Belum ada yang memberikan penilaian untuk artikel ini :( Jadilah yang pertama!

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

ibnu

Lulusan S1 Ekonomi dan Keuangan yang menyukai dunia penulisan serta senang membagikan berbagai ilmunya tentang ekonomi, keuangan, investasi, dan perpajakan di Indonesia