Margin of Safety, Prinsip Penting dalam Berinvestasi

Terdapat banyak sekali prinsip yang bisa digunakan sebagai panduan untuk menjalankan investasi. Margin of safety adalah satu prinsip yang paling terkenal. Kemungkinan besar istilah ini sudah sangat akrab sekali di telinga para penggemar investasi. Selain itu, mereka yang bergelut di dalam dunia ekonomi pasti sudah biasa mendengar hal ini.

Pada dasarnya, margin of safety adalah suatu konsep di dalam dunia investasi yang sudah sejak lama dikenal. Walaupun begitu, kehadiran istilah ini masih tetap relevan sampai sekarang. Ada banyak sekali investor yang masih memegang teguh prinsip ini dan memperoleh banyak keuntungan.

Lalu, kenapa prinsip ini masih terus relevan sampai saat ini? Ingin tahu jawabannya? Baca selengkapnya di artikel tentang margin of safety di bawah ini hingga selesai.

Memahami Margin of Safety

Menurut laman Investopedia, margin of safety adalah salah satu prinsip di dalam dunia investasi yang mana investor hanya akan membeli sekuritas saat harga pasarnya sudah berada di bawah nilai intrinsiknya.

Prinsip investasi ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang investor asal Amerika, Benjamin Graham, dan semua pengikutnya, seperti Warren Buffet. Prinsip ini secara khusus diambil dari buku yang ditulis oleh Benjamin Graham dan David Dodd yang berjudul The Security Analysis.

Di dalam buku yang dipublikasikan pada tahun 1934 ini, dijelaskan bahwa margin of safety adalah suatu perbedaan antara nilai intrinsik saham dengan harga yang saat ini beredar. Sebenarnya konsep ini terbilang sangat sederhana.

Sebagai contoh, katakanlah saat ini Anda ingin berinvestasi saham dan ada harga saham yang dijual seharga 5 ribu rupiah per lembar. Tapi, nilai intrinsik dari saham tersebut sebenarnya bisa meningkat hingga 10 ribu rupiah pada masa yang akan datang.

Ketika membeli saham tersebut, maka Anda akan mendapatkan margin of safety sebanyak 50%. Semakin banyak jumlahnya, maka akan semakin kecil juga risiko yang bisa Anda dapatkan.

Berdasarkan laman CFI, terdapat dua jenis ruang lingkup dari prinsip margin of safety, yaitu:

1. Investasi

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, dalam dunia investasi, margin of safety adalah selisih dari nilai intrinsik sebuah saham dengan harga pasar yang saat ini berlaku. Dalam hal ini, nilai intrinsik yang dimaksud adalah nilai aset perusahaan.

Ketika diterapkan di dalam kegiatan investasi, hal tersebut dihitung dengan berdasarkan asumsi. Artinya, investor akan membeli sekuritas ketika harga material berada di bawah nilai intrinsik yang diperkirakannya.

Menentukan nilai intrinsik dari suatu saham sekuritas sangatlah subjektif, karena semua investor mempunyai caranya masing-masing dalam menghitung dan menentukan nilai tersebut.

2. Budgeting

Dalam ruang dunia akuntansi, istilah margin of safety sangat berhubungan dengan penganggaran atau budgeting. Jadi di dalam dunia akuntansi, margin of safety adalah perbedaan dari hasil perkiraan penjualan dengan tingkat penurunan penjualan.

Bila nilai persentasenya rendah, maka bisnis bisa mengurangi banyak biaya. Sedangkan bila nilai persentase margin of safety-nya tinggi, maka perusahaan bisa terlindungi dari adanya ketidakpastian pada nilai penjualan.

Baca juga: Rekomendasi Tepat Investasi untuk Pemula dan Kesalahan yang Harus Dihindari

Hal yang Harus Diperhatikan Saat Menentukan Nilai Intrinsik Margin of Safety

Berdasarkan laman investbro,  terdapat beberapa hal yang harus Anda perhatikan saat menghitung nilai intrinsik dari margin of safety, yaitu:

1. Nilai Intrinsik Biasanya Akan Lebih Tinggi Dari Nilai Buku

Konsep nilai intrinsik ini akan Anda temukan dengan mudah saat Anda melihat nilai nodal bersih dari perusahaan. Nilai intrinsik ini biasanya akan selalu lebih tinggi daripada modal bersih.

Contohnya, katakanlah sebuah perusahaan mempunyai modal bersih sebanyak 500 miliar rupiah, maka nilai intrinsik dari perusahaan tersebut secara otomatis lebih dari 500 miliar rupiah. Katakan saja bila nilai ROE nya adalah 20%, maka laba yang bisa dihasilkan dari perusahaan tersebut bisa mencapai 100 miliar rupiah per tahun.

Laba tersebut bisa menjadi milik dari para pemilik saham. Bila perusahaan memiliki performa yang bagus, maka laba tersebut akan selalu meningkat per tahunnya.

Akan lebih baik lagi bila mengambil nilai intrinsik yang paling rendah agar nantinya Anda bisa membeli saham tersebut dengan harga paling tinggi sebesar 25% di bawahnya. Karena saat perusahaan sudah memiliki umur yang lama, maka nilai intrinsik perusahaan tersebut akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Nilai intrinsik akan terjadi penurunan bila ada momen koreksi di pasar.

2. Perhatikan Jangka Waktu Beroperasinya Perusahaan

Semakin lama jangka waktu operasional perusahaan, maka peluang untuk mendapatkan keuntungan dari berinvestasi di perusahaan tersebut juga akan semakin besar.

Saat sebuah perusahaan sudah berjalan dalam kurun waktu yang lama, maka perusahaan tersebut juga akan mempunyai track record yang baik. Track record ini sangat penting untuk bisa mengetahui nilai intrinsik dari sebuah perusahaan.

Untuk Anda yang masih awam tentang dunia investasi, kami sangat tidak menyarankan untuk berinvestasi pada perusahaan rintisan yang baru menjalankan bisnisnya, karena Anda tidak bisa melihat dan menilai angka nilai intrinsik dari perusahaan tersebut melalui track record.

Saat ini, sangat sulit sekali untuk mencari perusahaan yang tidak mempunyai utang. Sebagian besar perusahaan mempunyai utang, namun selama utang tersebut terkendali dengan baik, Anda tidak perlu mengkhawatirkannya. Sistem mereka akan menggunakan prinsip gali lubang tutup lubang.

3. Perhatikan Utang yang Dimiliki Oleh Perusahaan

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa setiap perusahaan pasti akan berusahaa mendapatkan untung yang banyak demi kepentingan operasional perusahaan. Dalam hal ini, kepentingan tersebut adalah untuk meningkatkan laba dengan cara melakukan ekspansi perusahaan melalui adanya peningkatan kuantitas dan kualitas produksi.

Utang tersebut nantinya akan mengurangi jumlah dividen atau keuntungan yang akan didapat oleh investor. Umumnya, perusahaan akan mengalokasikan dividen atau laba tersebut ke investor, tapi ada juga yang menggunakannya untuk membayar beban utang sebelumnya.

Untuk itu, cobalah untuk mencari perusahaan yang memiliki nominal utang yang wajar dan pandai dalam melakukan manajemen finansial. Sehingga, Anda nantinya akan merasa aman meskipun perusahaan memiliki utang, karena mereka memiliki sistem manajemen yang bagus.

Bila utang dan laba bisa dikelola dengan baik oleh perusahaan, maka Anda tidak perlu mengkhawatirkan keuntungan yang akan Anda dapatkan.

4. Hindarilah Saham Komoditas

Selain memeriksa dan mengukur perusahaan berdasarkan track record-nya, stabilitas kerja dari perusahaan pun memiliki peran yang sangat penting dalam mengukur nilai intrinsik dari perusahaan.

Kami sangat menyarankan untuk menghindari perusahaan yang mana labanya bergantung pada tingkat fluktuasi harga yang mereka pasarkan dan mereka jual sendiri.

Contohnya saja seperti perusahaan batubara, mereka bisa menghasilkan laba bersih yang sangat banyak dalam satu waktu tertentu tergantung pada harga dari batu bara tersebut. Namun di tahun selanjutnya, laba mereka bisa saja menurun karena menurunnya harga batu bara.

Hal tersebut sebenarnya bisa diatasi dengan selalu meninjau dan memerhatikan pergerakannya di masa depan, apakah bergerak fluktuatif atau tidak. Namun, hal ini sangat sulit untuk dilakukan.

Untuk Anda yang ingin terhindar dari risiko yang besar, maka ada baiknya untuk menghindari perusahaan ini. Cobalah untuk lebih memilih perusahaan yang nominal harga produknya akan terus mengalami peningkatan seiring meningkatnya angka inflasi.

5. Perhatikan Ekonomi Makro

Anda tidak melulu harus memerhatikan nilai intrinsik dari suatu perusahaan, namun Anda juga harus terus memerhatikan kondisi ekonomi makro negara. Karena, nantinya nilai intrinsik ini akan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro.

Salah satu komponen dari ekonomi makro yang memberikan dampak besar adalah tingkat inflasi. Inflasi adalah salah satu hal yang umum terjadi pada suatu negara, dan hal tersebut akan berubah setiap saat dalam kurun waktu tertentu.

Ketikan inflasi telah meningkat, maka suku bunga pun akan turut meningkat secara otomatis. Saat suku bunga meningkat, maka nilai intrinsik dari perusahaan pun akan mengalami penurunan atau menjadi sangat rendah.

Baca juga: High Risk High Return: Ini Pengertiannya di Dalam Dunia Investasi

Penutup

Berdasarkan penjelasan lengkap diatas, bisa kita simpulkan bahwa margin of safety adalah satu prinsip penting di dalam dunia investasi. Saat Anda ingin membeli suatu saham, cobalah untuk memasukkan prinsip ini dalam pertimbangan Anda.

Jangan pernah takut untuk mencoba, karena masih ada banyak sekali tips yang bisa Anda lakukan. Anda harus selalu memerhatikan kondisi nilai intrinsik perusahaan dan kondisi ekonomi makro negara. Kedua hal ini sangat penting untuk meminimalisir risiko dalam berinvestasi.

Selain itu, catatlah setiap keuntungan yang sudah Anda dapatkan di dalam laporan keuangan. Laporan keuangan ini nantinya bisa Anda jadikan referensi yang kuat untuk menentukan keputusan Anda.

Bila Anda tidak memiliki waktu untuk membuat laporan keuangan, maka coba gunakanlah aplikasi bisnis dan akuntansi Accurate Online.

Aplikasi yang dikembangkan dengan teknologi cloud computing ini akan menyajikan lebih dari 200 jenis laporan keuangan secara otomatis, cepat dan akurat. Anda juga bisa mengakses laporan keuangan tersebut di mana saja dan kapan saja Anda perlukan.

Selain itu, masih ada banyak sekali keunggulan dan fitur yang ada di dalam Accurate Online.

Penasaran? Anda bisa langsung mencobanya sendiri secara gratis selama 30 hari dengan klik gambar di bawah ini.

ibnu

Lulusan S1 Ekonomi dan Keuangan yang menyukai dunia penulisan serta senang membagikan berbagai ilmunya tentang ekonomi, keuangan, investasi, dan perpajakan di Indonesia