Pengertian Demand-Pull Inflation dan Contoh Sederhananya

24 Nov 2023 | Ditulis oleh: Ibnu Ismail

Demand-pull inflation, adalah suatu kondisi di mana tingkat harga barang dan jasa naik sebagai akibat dari peningkatan permintaan yang melebihi kapasitas produksi yang ada.

Demand-pull inflation merupakan fenomena yang mendasar dalam ekonomi yang memerlukan pemahaman mendalam, karena memiliki implikasi yang signifikan terhadap stabilitas ekonomi suatu negara.

Artikel ini akan membahas konsep demand-pull inflation, penyebabnya, dampaknya, serta upaya-upaya yang dapat diambil untuk mengendalikan fenomena ekonomi ini.

Untuk itu, baca terus artikel tentang demand-pull inflation di bawah ini hingga selesai.

Pengertian Demand-Pull Inflation

Pengertian Demand-Pull Inflation

ilustrasi demand-pull inflation. source envato

Demand-pull inflation adalah suatu bentuk inflasi yang terjadi ketika tingkat harga barang dan jasa naik sebagai akibat dari peningkatan permintaan yang melebihi kapasitas produksi yang ada dalam perekonomian, seperti yang dijelaskan dalam laman Investopedia.

Fenomena ini terjadi ketika permintaan konsumen dan investasi tumbuh secara signifikan, mengakibatkan peningkatan dalam permintaan agregat (total) di ekonomi.

Peningkatan permintaan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk peningkatan belanja konsumen, investasi bisnis yang kuat, atau kebijakan fiskal yang ekspansif (peningkatan pengeluaran pemerintah).

Ketika permintaan melebihi kapasitas produksi aktual, produsen cenderung menaikkan harga barang dan jasa mereka untuk mengambil keuntungan dari tingginya permintaan.

Akibatnya, tingkat harga secara umum mengalami kenaikan, yang dikenal sebagai inflasi.

Demand-pull inflation dapat berdampak positif dan negatif. Di satu sisi, meningkatnya permintaan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan pendapatan konsumen.

Namun, di sisi lain, jika demand-pull inflation berlanjut dalam jangka panjang dan tidak terkendali, maka dapat mengganggu stabilitas ekonomi, mengurangi daya beli masyarakat, dan menciptakan ketidakpastian di pasar.

Untuk mengendalikan demand-pull inflation, pemerintah dan bank sentral dapat mengambil langkah-langkah kebijakan ekonomi, seperti menaikkan suku bunga atau mengurangi belanja pemerintah, guna mengurangi tingkat permintaan yang berlebihan.

Tujuannya adalah mencapai keseimbangan antara penawaran dan permintaan di pasar, sehingga tingkat harga dapat tetap stabil.

Baca juga: Pengertian Inflasi Tinggi dan 8 Dampak Besarnya Bagi Perekonomian

Apa Itu Kurva Demand Pull Inflation?

Kurva Demand Pull Inflation menggambarkan kondisi ketika permintaan agregat dalam suatu perekonomian meningkat melebihi kapasitas produksi (penawaran agregat), sehingga menyebabkan kenaikan harga secara umum (inflasi).

demand pull curva

source: researchgate

Pada grafik di atas:

  • Sumbu P (vertikal) menunjukkan tingkat harga (Price).
  • Sumbu Q (horizontal) menunjukkan jumlah output atau kuantitas barang/jasa (Quantity).
  • Kurva S mewakili penawaran agregat.
  • Kurva D1 adalah permintaan agregat awal, dan E1 adalah titik keseimbangan awal di mana harga P1 dan kuantitas Q1.
  • Ketika permintaan meningkat (misalnya karena kenaikan konsumsi, investasi, atau belanja pemerintah), kurva permintaan bergeser dari D1 ke D2.
  • Titik keseimbangan baru terjadi di E2, dengan harga naik ke P2 dan output meningkat ke Q2.

Dengan kata lain, demand pull inflation terjadi karena adanya dorongan dari sisi permintaan, yang menyebabkan harga meningkat dari P1 ke P2 dan jumlah output dari Q1 ke Q2.

Baca juga: Apa itu Hukum Permintaan? Ini Fungsi dan Faktor yang Memengaruhinya

Contoh Demand-Pull Inflation

Contoh Demand-Pull Inflation

ilustrasi demand-pull inflation. source envato

Berikut adalah contoh situasi yang dapat mengilustrasikan demand-pull inflation:

1. Peningkatan Belanja Konsumen

Misalkan dalam suatu negara, terjadi peningkatan signifikan dalam belanja konsumen karena tingkat pengangguran yang rendah, kenaikan upah, atau insentif fiskal yang memacu belanja konsumen.

Sebagai hasilnya, permintaan terhadap barang-barang konsumen, seperti mobil, elektronik, dan pakaian, meningkat secara signifikan.

2. Investasi Bisnis yang Tinggi

Sektor bisnis dalam negara tersebut memutuskan untuk melakukan investasi besar-besaran dalam kapasitas produksi mereka.

Misalnya, perusahaan-perusahaan membangun pabrik-pabrik baru, mengadopsi teknologi produksi yang lebih efisien, dan memperluas operasi mereka.

Hal ini meningkatkan permintaan terhadap tenaga kerja dan bahan baku.

3. Kebijakan Fiskal Ekspansif

Pemerintah mengimplementasikan kebijakan fiskal yang ekspansif dengan meningkatkan belanja publik untuk infrastruktur dan program-program sosial.

Hal ini meningkatkan permintaan dalam ekonomi dan menciptakan peluang bisnis yang lebih besar.

4. Peningkatan Permintaan Ekspor

Negara tersebut mungkin mengalami kenaikan dalam permintaan ekspor karena mata uangnya melemah, sehingga produk-produknya menjadi lebih terjangkau bagi pasar internasional.

Hal ini dapat menyebabkan peningkatan produksi untuk memenuhi permintaan ekspor yang kuat.

5. Kenaikan Harga Minyak

Harga minyak dunia mengalami kenaikan tajam karena konflik geopolitik atau ketidakstabilan pasokan.

Ini dapat mengakibatkan kenaikan biaya produksi di sektor energi dan sektor-sektor terkait lainnya, yang dapat menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa secara keseluruhan.

Dalam contoh-contoh di atas, peningkatan permintaan melebihi kapasitas produksi yang ada, dan produsen mungkin menaikkan harga barang dan jasa mereka untuk mengambil keuntungan dari situasi tersebut.

Inilah yang menjadi ciri khas dari demand-pull inflation, di mana tingkat harga naik akibat dorongan dari peningkatan permintaan yang berlebihan.

Pemerintah dan bank sentral biasanya akan merespons dengan mengambil tindakan untuk mengendalikan inflasi, seperti menaikkan suku bunga atau mengurangi belanja pemerintah.

Dalam kondisi seperti ini, penting bagi pelaku usaha untuk memiliki kontrol penuh terhadap keuangan bisnis mereka.

Pengelolaan keuangan yang tepat dapat membantu menghadapi tantangan inflasi dengan lebih bijak.

Gunakan software akuntansi seperti Accurate Online untuk membantu memantau arus kas, menyusun laporan otomatis, dan membuat keputusan finansial yang lebih akurat.

Dengan sistem yang terintegrasi, Anda bisa tetap fokus pada pertumbuhan bisnis meski di tengah tekanan ekonomi.

Baca juga: Permintaan Potensial: Pengertian, Faktor, Contoh

Perbedaan Demand Pull Inflation dan Cost Push Inflation

demand pull dan cosh push

Demand Pull Inflation berasal dari dorongan demand (permintaan) yang meningkat.

Sedangkan Cost Push Inflation berasal dari tekanan biaya produksi yang membuat harga naik meski permintaan tetap atau bahkan turun.

Baca juga: Tindakan Ekonomi: Pengertian, Jenis, Tujuan Dan Contohnya

Penutup

Jadi, demand-pull inflation adalah suatu fenomena ekonomi yang terjadi ketika peningkatan permintaan yang signifikan melampaui kapasitas produksi dalam perekonomian, yang pada gilirannya mengakibatkan kenaikan tingkat harga barang dan jasa.

Situasi ini dapat muncul dari berbagai faktor, seperti peningkatan belanja konsumen, investasi bisnis yang tinggi, kebijakan fiskal ekspansif, peningkatan permintaan ekspor, atau kenaikan harga bahan bakar.

Demand-pull inflation memiliki konsekuensi ekonomi yang perlu diperhatikan.

Meskipun peningkatan permintaan dapat mengindikasikan pertumbuhan ekonomi yang sehat, jika tidak diatasi dengan baik, dapat mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi dan ketidakpastian bagi masyarakat.

Oleh karena itu, pengendalian demand-pull inflation adalah tugas yang penting bagi pemerintah dan bank sentral.

Dalam menghadapi demand-pull inflation, kebijakan ekonomi yang cermat dan efisien diperlukan untuk mempertahankan stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi yang seimbang.

Strategi kebijakan termasuk mengatur suku bunga, mengendalikan belanja publik, dan memantau kondisi pasar secara cermat.

Dengan pendekatan yang tepat, demand-pull inflation dapat diatasi sehingga ekonomi dapat tetap berjalan dalam kondisi yang sehat dan stabil.

Namun, untuk lebih mudah dalam mengelola dan menjaga kesehatan keuangan perusahaan, Anda bisa menggunakan software akuntansi dan bisnis dari Accurate Online.

Aplikasi yang sudah dipercaya oleh ratusan ribu pengguna ini akan membantu Anda dalam mengelola keuangan dan mengelola bisnis secara menyeluruh.

Kenapa? Karena Accurate Online mampu mencatat transaksi secara otomatis, membuat laporan keuangan, mengelola persediaan, mengelola aset, dan masih banyak lagi.

Dengan begitu, Anda bisa lebih fokus dalam mengelola bisnis dan mencapai kesuksesan secara menyeluruh.

Klik tautan gambar di bawah ini untuk langsung mencoba Accurate Online selama 30 hari, Gratis!

ekonomi-keuanganfooter-copy

Efisiensi Bisnis dengan Satu Aplikasi Praktis!

Konsultasikan kebutuhan bisnismu dengan tim kami.

Jadwalkan Konsultasi
artikel-sidebar

Download E-Book Peluang Bisnis Potensial 2025

Inilah 3 Peluang Bisnis yang Diprediksi Bersinar di 2025.

Ibnu Ismail
Berawal dari hobi berkembang hingga profesi, tak sekedar fokus menulis di bidang ekonomi dan keuangan, saat ini Saya juga menggeluti SEO dan SEM secara lebih mendalam.

Artikel Terkait