Process Costing, Metode Penting Untuk Membiayai Suatu Produk

Process costing adalah salah satu metode yang sangat penting dalam menentukan biaya pada suatu produk yang didalamnya melewati beberapa tahapan dalam proses pembuatannya. Umumnya, process costing digunakan oleh industri manufaktur seperti pabrik kertas, pabrik sabun, pabrik obat-obatan, pabrik cat, dll.

Suatu produk bisa diproduksi dengan satu ataupun lebih proses. Namun pertanyaannya adalah produk manakah yang paling efisien dari sisi biaya? Nah, untuk menjawabnya, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang process costing atau biaya proses.

Pengertian Process Costing Adalah

Process costing adalah suatu metode yang mampu mengidentifikasi berbagai biaya spesifik yang terdapat di dalam komponen biaya produksi untuk setiap proses pengolahan bahan baku menjadi suatu produk matang. Dengan nilai process costing yang sudah diketahui, maka pihak perusahaan akan lebih mudah dalam mengambil keputusan.

Bila diperhatikan dari tujuannya, process costing memiliki tujuan yang hampir sama dengan job order costing. Keduanya sama-sama bertujuan untuk menghitung biaya per unit produk, termasuk di dalamnya biaya bahan baku, overhead perusahaan, dan juga tenaga kerja.

Sedangkan jika diperhatikan dari definisinya, process costing adalah biaya yang dibebankan pada setiap proses produk. Sementara job order costing adalah suatu cara perhitungan yang dibebankan atas pekerjaan atau order kontrak dari pihak klien.

Baca juga: Sinking Fund Adalah Salah Satu Dana Khusus Yang Berbeda Dengan Dana Darurat

Jenis Process Costing

Setidaknya terdapat tiga jenis process costing yang bisa Anda pahami. Ketiga process costing tersebut adalah sebagai berikut:

1. Metode Rata-Rata Tertimbang dari Perhitungan Process Costing

Biaya aktual yang dibagi rata-rata tertimbang produk pada produksi selama satu tahun. Perhitungan tersebut lebih sederhana daripada metode lainnya. Rata-rata tertimbang unit adalah penjumlahan pada produk berdasarkan tarif dan juga kuantitas per unit produk.

2. Biaya Standar

Untuk  biaya aktual produk yang tidak dipertimbangkan, maka pilihan yang bisa dilakukan adalah dengan mengikuti metode penetapan biaya standar. Biaya standar adalah biaya bahan baku sesuai dengan perkiraan manajemen. Setiap perbedaan yang ada pada biaya standar dan biaya aktual akan dicatat secara terpisah sesuai dengan akun di dalam akuntansi.

3. First-In First-Out

Metode FIFO atau First-In-First-Out akan lebih fokus pada pembebanan biaya ke setiap unit sesuai dengan urutan produksi. Produk yang dibuat pertama kali akan dikenakan biaya terlebih dahulu, lalu kemudian akan menjadi produk pertama yang dikirim atau dikeluarkan.

Tujuan Utama dari Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan Proses

Tujuan utama process costing adalah agar bisa membebankan semua biaya yang sudah terjadi pada departemen, yang mana nantinya biaya tersebut akan diakumulasikan per departemen dan biaya per unitnya akan dihitung dengan membagi antara total biaya dengan unit ekuivalen yang sudah berhasil dibuat.

Selain itu, process costing juga sangat berguna untuk membuat laporan biaya pokok produksi pada setiap produk departemen perusahaan dengan melakukan teknik pengumpulan dan juga pengikhtisaran total biaya yang terjadi pada setiap akhir periode akuntansi.

Karakteristik Perhitungan Process Costing

Perusahaan yang mempunyai produk homogen melalui proses ataupun departemen yang hampir sama akan menggunakan perhitungan process costing. Berikut ini adalah beberapa karakteristiknya:

1. Unit Ekuivalen

Unit ekuivalen adalah jumlah unit selesai yang sama ataupun serupa yang sudah bisa dihasilkan dengan berdasarkan jumlah pekerjaan yang benar-benar dilakukan atas berbagai unit produk yang sudah selesai ataupun yang selesai sebagian. Namun, unit ekuivalen berbeda dengan unit lainnya secara fisik.

Umumnya, suatu perusahaan manufaktur mempunyai produk selesai pada akhir periode akuntansi. Berdasarkan sistem perhitungan process costing, unit produk yang baru saja selesai sebagian tersebut bisa dengan mudah ditangani karena biaya pesanannya sudah tersedia di kartu biaya pesanan. Tapi, pada sistem perhitungan process costing, biaya produk untuk setiap unit produk yang sudah selesai sebagian tidak tersedia.

Dengan melakukan perhitungan unit yang sudah selesai dan sudah selesai sebagian, maka kita memerlukan cara untuk mengukur jumlah pekerjaan produksi secara tepat yang dilakukan selama periode tersebut. Unit ekuivalen adalah salah satu ukuran yang umum digunakan.

Unit ini harus bisa dijumlahkan secara terpisah untuk bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan juga overhead pabrik, karena proporsi total pekerjaan yang dilakukan pada setiap unit produk pada persediaan barang dalam proses tidak selamanya sama.

Selain itu, overhead juga seringkali dibebankan berdasarkan pada jam tenaga kerja, dan beberapa perusahaan umumnya menggunakan dua kategori, yakni bahan baku langsung dan juga biaya konversi.

2. Biaya Konversi

Karena jumlah tenaga kerja langsung cenderung lebih kecil dalam industri pemrosesan, seperti halnya industri penyulingan minyak, kertas kimia, aluminium, dan farmasi, maka biaya overhead pabrik dan juga biaya tenaga kerja langsung seringkali digabungkan dan disebut dengan biaya konversi agar bisa menghitung unit ekuivalen produksi.

Beberapa operasi industri banyak dikenakan biaya konversi yang sama untuk semua produksi. Unit yang setara dengan biaya konversi agar bisa menghasilkan suatu perkalian persentase pesanan yang sudah selesai selama periode dengan jumlah unit yang bekerja.

3. Bahan Baku Langsung

Bahan baku langsung bisa ditambahkan pada setiap titik produksi yang berlainan atau secara terus menerus selama produksi berlangsung. Bila bahan baku yang ditambahkan tersebut menggunakan proporsi yang sama untuk digunakan dalam menghitung unit produk yang setara dengan bahan langsung, maka sama dengan proporsi biaya konversi.

Tapi, jika bahan tersebut ditambahkan sekaligus, maka proporsi yang digunakan dalam perhitungan akan tergantung pada titik proses yang mana bahan yang ditambahkan sudah tercapai.

Tahapan Process Costing

Setidaknya terdapat lima tahapan process costing, yaitu:

1. Analisis Persediaan

Tahapan pertama dalam menghitung process costing adalah dengan menganalisa persediaan dan juga arus biaya persediaan. Pihak perusahaan bisa menentukan biaya setiap proses produksi dengan cara menentukan jumlah persediaan pada awal periode, jumlah yang bisa diselesaikan dan jumlah persediaan yang tersisa dalam kurun waktu periode akuntansi.

2. Konversi Biaya Persediaan

Tahap kedua dalam menghitung process costing adalah dengan cara mengubah setiap persediaan dalam proses pada akhir periode akuntansi menjadi satu unit yang sama.

Misalnya bila PT ABC membuat mousepad dan menetapkan 4200 pcs dalam proses di akhir periode akuntansinya, dan setiap mousepad ini 50% sudah selesai. Maka, PT ABC akan menganggap bahwa inventaris tersebut sama dengan 2100 mousepad yang dibuat.

3. Hitung Biaya yang Berlaku

Lalu, setelah selesai mengubah persediaan menjadi jumlah yang setara dalam unit yang diproduksi, maka selanjutnya adalah dengan menghitung total biaya. Jumlah ini lalu diterapkan antara persediaan yang sudah selesai dan persediaan yang tersisa dalam proses.

Biaya produksi tidak langsung dan langsung ini mencakup biaya persediaan pada periode awal dan juga biaya yang sudah dijumlahkan selama periode tersebut berlangsung.

4. Hitung Biaya Per Unit

Setelah berhasil menghitung seluruh biaya yang terkait dengan process costing untuk menghitung persediaan lengkap dan proses, maka selanjutnya adalah menghitung biaya per unit. Termasuk di dalamnya unit yang sudah selesai dan setara dengan unit yang sudah selesai pada akhir periode akuntansi berjalan.

Misalnya, PT ABC memproduksi mousepad. Perusahaan tersebut lantas menyelesaikan 3000 pembuatan mousepad dan membiarkan 2000 mousepad dalam 50% produk proses jadi. Sehingga, PT Abc akan membagi biayanya menjadi 4000.

5. Tentukan Biaya Untuk Produk yang Sudah Selesai dan Masih Setengah Proses

Dalam tahap terakhir ini, perusahaan harus bisa memisahkan biaya dengan cara mengalokasikan jumlah yang sesuai pada jumlah produk yang sudah selesai, serta pada persediaan yang dianggap masih dalam proses pada akhir periode akuntansi.

Contoh Process Costing

Agar bisa lebih mudah dalam memahami process costing, maka mari kita ambil studi kasus di bawah ini.

Diketahui PT ABC membuat mousepad dalam beberapa tahapan. Tahapan pertama adalah desain. Untuk membuatnya diperlukan desain mousepad, bentuk, dan juga ukuran.

Selama periode 30 hari atau satu bulan, tahapan desain pun dijumlahkan dan memakan biaya total 80 juta rupiah biaya langsung untuk bahan baku dan juga sumber daya. Serta 100 juta rupiah biaya konversi untuk biaya karyawan dan juga biaya overhead pabrik.

Dalam tahapan desain tersebut, 10.000 mousepad berhasil dibuat selama 30 hari. Itu artinya, biaya per unit mousepad adalah 8000 rupiah untuk biaya bahan baku dan sumber daya. Serta 10.000 rupiah untuk biaya konversi atau biaya tidak langsung.

Baca juga: Cost Plus Pricing, Strategi Penetapan Biaya dengan Banyak Kelebihan

Penutup

Demikianlah penjelasan dari kami tentang process costing, lengkap dengan contoh dan cara menghitungnya. Biaya ini harus dicatat secara terperinci selama proses produksi usaha berlangsung.

Untuk itu, jangan biarkan tim finance Anda kewalahan untuk mencatatnya dan menghitungnya hanya karena Anda masih menggunakan pembukuan berbasis kertas ataupun hanya menggunakan aplikasi Excel saja.

Gunakanlah software akuntansi dari Accurate Online yang di dalamnya sudah dilengkapi dengan berbagai fitur akuntansi modern yang berbasis cloud. Sehingga, Anda bisa mencatat laporan keuangan dan pembukuan dengan mudah hanya beberapa kali klik saja.

Anda bisa mencoba Accurate Online secara gratis selama 30 hari dengan klik tautan gambar di bawah ini. accurate1