Tips Mengelola Utang-Piutang di Tengah Badai Resesi

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, pada awal April 2020 lalu, lembaga Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) telah mengatakan bahwa ekonomi dunia akan segera mengalai resesi karena pandemi COVID-19 di sepanjang tahun. Kondisi ini mengancam para pengusaha khususnya di Indonesia, dalam mengelola utang-piutang di tengah badai resesi.

Para pakar ekonomi bahkan mengklaim bahwa kondisi resesi ini bisa lebih buruk dibandingkan dengan depresi besar atau The Great Depression yang pernah melanda berbagai negara di dunia pada tahun 1930 lalu.

Resesi adalah sebuah penurunan berbagai kegiatan ekonomi secara signifikan yang terjadi dalam beberapa bulan, atau umumnya lebih dari satu kuartal.

Berbagai tolak ukur yang biasa digunakan dalam mengukur kondisi resesi yaitu, adanya penurunan PDB atau Produk Domestik Bruto, menurunnya angka pendapatan riil, meningkatnya jumlah pengangguran karena lapangan kerja yang berkurang, merosotnya penjualan ritel, hingga industri manufaktur yang terpuruk.

Untuk bisa pulih dari kondisi ini dibutuhkan waktu yang cukup panjang.

Namun untuk para pebisnis, dibutuhkan cara dan strategi yang ampuh dalam mengelola bisnisnya agar tidak terkena efek resesi. Para pakar ekonomi mengatakan bahwa salah satu hal penting dalam menjaga keberlangsungan suatu bisnis adalah dengan mengelola keuangan, khususnya utang piutang perusahaan.

Mereka juga harus bisa mengelola perputaran arus kas masuk dan keluar agar tetap stabil dan aman. Berikut ini adalah tips mengelola utang-pitang perusahaan di tengah badai resesi.

6 Tips Mengelola Utang-Piutang di Tengah Badai Resesi

1. Mengelola Utang-Piutang dengan Mengetahui Posisi Neraca

Sebagai seorang pebisnis, Anda harus mengetahui posisi neraca secara tepat dan akurat. Sederhananya, kondisi ini digambarkan sebagai uang, aset, dan utang.

Pengambilan dan pengumpulan data yang dilakukan secara komprehensif akan membuat Anda mengetahui kondisi serta posisi keuangan perusahaan agar Anda mampu membuat keputusan yang tepat ke depannya.

Dari masalah uang, Anda harus mengetahui secara tepat uang yang dimiliki oleh perusahaan di bank, baik itu dengan bentuk tabungan, petty cash, atau bentuk lainnya. Jadi, Anda harus mengetahui ada berapa banyak dana yang dimiliki perusahaan untuk bisa membayar utang dan menjalankan beragam kewajiban lainnya.

Selain itu, Anda juga harus mengetahui jumlah investasi yang perusahaan miliki, lengkap dengan jenis instrumen investasinya, seperti deposito, obligasi, saham, ataupun sukuk. Anda juga harus mendapatkan informasi penting terkait banyaknya total aset berwujud yang perusahaan Anda miliki, seperti, tanah, bangunan, komputer, mesin, atau alat produksi lainnya.

Anda juga wajib mencari tahu jumlah kewajiban total ataupun utang yang harus segera dilunasi oleh perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Tujuannya, tentu untuk menghindari adanya pelanggaran dari kesepakatan bisnis yang telah dibuat.

Tak ketinggalan, Andapun harus mengetahui banyaknya jumlah dana yang masih tersangkut atau belum cair dari konsumen, mitra, klien atau merchant Anda. Lengkap dengan data subjek dan kurun waktu piutang tersebut harus dilunasi.

Anda juga tidak boleh melupakan kewajiban yang sudah Anda berikan berupa barang atau jasa pada klien, namun belum mendapatkan bayarannya. Bentuk kelalaian dalam segi pencatatan akan mampu menyebabkan Anda mendapatkan kerugian karena tidak sadar bahwa Anda masih mempunyai dana di pihak luar sana.

2. Mengelola Utang-Piutang dengan Memprioritaskan Utang Berbiaya Tinggi

Adanya istilah “Cash is the king” nampaknya akan memiliki arti yang besar dan bisa Anda gunakan ketika berada pada kondisi saat ini. Pada kondisi krisis, menjaga bentuk likuiditas arus kas ataupun uang tunai adalah hal yang sangat penting demi pergerakan bisnis Anda.

Walaupun begitu, Anda tidak serta merta bisa mengabaikan kewajiban perusahaan dalam membayar utang.

Dalam situasi krisis saat ini, kemungkinan Anda dalam membayar utang sesuai kewajiban memang sulit. Oleh karena itu, Anda harus mengukur ulang utang yang harus dibayar terlebih dahulu, lalu dahulukan pembayaran utang yang jumlah cicilan ataupun bunganya lebih tinggi.

Perhatikanlah jumlah minimal cicilan tersebut, jika di dalamnya tidak ada bunga ataupun pinalti, maka bayarlah senilai jumlah minimal cicilan tersebut, lalu dana yang masih ada bisa Anda gunakan untuk membayar kewajiban lain.

Jika Anda diharuskan membayar cicilan aset operasional, maka dahulukan membayar cicilan aset yang mampu memberi pengaruh besar pada kegiatan produksi, seperti cicilan mesin produksi, sewa mobil, jasa konsultan, atau membayar sewa software lainnya yang dianggap penting.

Sebaliknya, Anda bisa menunda pembayaran dana yang bertujuan untuk mengembangkan aset dan tidak memiliki dampak langsung pada kegiatan operasional, seperti renovasi gedung, dll.

Baca juga: Pengertian PJAP dan Hubungannya dengan Reformasi Sistem Perpajakan Indonesia

3. Negosiasi dengan Kreditur 

Tips berikutnya adalah berusaha lebih aktif dalam melakukan negosiasi dengan pihak bank atau pihak lain yang memberikan pinjaman untuk mendapatkan keringanan pembayaran utang. Selain itu, Anda juga harus memperhatikan beragam kebijakan insentif keuangan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan lembaga pemberi pinjaman utang.

Sehingga, Anda bisa mendapatkan kompensiasi dengan aturan yang sudah ditetapkan.

4. Restrukturisasi Utang

Jika perusahaan tidak sanggup membayar utang secara penuh berdasarkan laporan neraca keuangan, maka disarankan agar Anda melakukan pengajuan restrukturisasi utang, baik itu pada pihak bank, lembaga keuangan, atau lembaga lainnya. Restrukturisasi utang bisa didapatkan dalam bentuk perubahan jumlah pokok pembayaran, atau biaya bunga, dan perpanjangan tenor ataupun jangka waktu dalam berutang.

Kenapa hal ini perlu? Karena kebanyakan para pebisnis sudah ketakutan jika tidak mampu membayar utang. Padahal, jika melakukan komunikasi yang baik oleh pihak pemberi utang, ada kemungkinan bisa mendapatkan hasil atau jalan tengah terbaik.

5. Siapkan Daftar Penagihan Tepat Waktu

Anda juga harus mengumpulkan seluruh data terkait utang piutang secara akurat berdasarkan informasi laporan neraca. Data tersebut antara lain banyaknya jumlah dana yang belum cair, subjek piutang, serta rentang waktu piutang. Sehingga, Anda bisa menyiapkan daftar penagihan piutang secara tepat waktu.

6. Menghitung Perputaran Piutang

Anda bisa menghitung sirkulasi atau perputaran piutang guna menilai efisiensi pengumpulan piutang. Sirkulasi atau perputaran piutang merupakan periode waktu dari dana tersebut diberikan. Jika kebanyakan pengumpulan piutang tersebut ternyata lebih lama dibandingkan dengan batas pembayarannya, maka bisa diartikan bahwa pengumpulan piutang yang Anda lakukan ternyata tidak efisien.

Baca juga: Tips & Trik Mengatur Keuangan Untuk Freelancer

Tips Mengatasi Piutang yang Tidak Tertagih

Kerap kali, perusahaan mengalami kegagalan dalam hal pengelolaan utangnya. Hal ini biasa terjadi ketika perusahaan kecolongan piutang yang menjadi tidak tertagih dan sudah melawati waktu tempo yang sudah ditetapkan sebelumnya. Jika kondisi ini terjadi pada perushaan Anda, maka cara mengatasinya adalah sebagai berikut:

1. Melakukan Penagihan Dengan Cara Agresif

Anda bisa melakukan penagihan piutang dengan cara menghubungi pelanggan atau konsumen secara kontinyu, baik itu lewat telepon atau email dengan tujuan mengingatkan mereka bahwa utang yang mereka punya sudah hampir jatuh tempo.

Jika tetap tidak bisa dibayarkan dengan alasan yang kurang jelas, maka Anda bisa langsung mendatanginya ke perusahaan atau rumah yang bersangkutan.

2. Menerapkan Kebijakan Kredit Ketat

Kebijakan kredit ketat ini bisa Anda lakukan dengan cara mempersempit tenor atau jangka waktu jatuh tempo. Jika pada sebelumnya waktu tenor atau waktu jatuh tempo tersebut adalah 30 hari untuk semua konsumen, maka Anda bisa mempersingkatnya menjadi 3 minggu atau 2 minggu saja demi mencegah terjadinya piutang yang tidak tertagih.

Atau Anda juga bisa melakukan cara yang lebih ekstrim, yaitu dengan hanya menerima pembayaran langsung secara tunai saja.

Baca juga: Ingin Investasi Online? Pahami Dulu 10 Hal Berikut

Jadi, Apakah Anda Sudah Siap Mengelola Utang-Piutang di Tengah Ancaman Badai Resesi?

Tips mengelola utang-piutang dengan cara diatas dinilai mampu untuk mengatasi masalah Anda. Namun, Anda juga tetap harus memperhatikan serta memperhitungkan segala faktor lain yang memengaruhinya. Kenapa? Karena hal ini akan memiliki efek yang besar pada penjualan Anda, yang pada akhirnya akan memengaruhi jumlah laba-rugi perusahaan.

Untuk lebih membantu Anda dalam menghindari hal buruk terkait pengelolaan utang-piutang perusahaan, Anda bisa menggunakan software akuntansi dalam mengelolanya. Dengan bantuan software akuntansi, maka Anda akan mendapatkan berbagai informasi mengenai data utang dan piutang yang jatuh tempo secara lebih akurat.

Salah satu software akuntansi yang bisa Anda manfaatkan adalah Accurate Online. Aplikasi ini bisa dengan mudah mengelola utang-pitang perusahaan Anda. Dengan begitu, bisnis Anda bisa bertahan di tengah badai resesi. Selain itu, software akuntansi Accurate Online juga memiliki berbagai fitur yang mampu memudahkan Anda dalam mengelola bisnis, seperti membuat faktur, mengelola aset, inventori, dll.

Tertarik? Anda bisa mencoba menggunakan Accurate Online secara gratis selama 30 hari melalui tautan pada gambar di bawah ini:

accurate1