Ageism adalah Bentuk Diskriminasi Karena Umur, Bagaimana Cara Menghadapinya?

Ageism adalah salah satu wujud diskriminasi di tempat kerja. Diskriminasi ini mengarah pada stereotip terhadap individu atau kelompok tertentu berdasarkan usianya. Di mana yang lebih umum ialah diskriminasi terhadap karyawan yang lebih tua, yang mana mereka dianggap kurang berkontribusi dan sulit beradaptasi.

Sadar atau tidak, masyarakat kita memang masih sering memandang seseorang berdasarkan usianya. Mereka yang tua dianggap tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, sementara mereka yang muda dianggap remeh kemampuannya.

Dalam upaya memerangi bentuk diskriminasi tersebut, mari pahami lebih lanjut mengenai apa itu ageism dan apa saja contohnya, serta bagaimana cara menghadapinya.

Pengertian Ageism

Istilah ageism atau ageisme pertama kali digunakan oleh ahli gerontologi Robert N. Butler untuk menggambarkan diskriminasi terhadap orang yang lebih tua. Di mana orang berusia tua dianggap sudah tidak produktif dan keahliannya tidak relevan dengan dunia pekerjaan saat ini. Rekruter bahkan bisa mengabaikan kandidat berusia tua tersebut demi merekrut kandidat muda meski kualitas dan pengalamannya belum memenuhi standar.

Kendati demikian, kini ageism adalah istilah yang diterapkan terhadap semua jenis diskriminasi berdasarkan usia, baik yang terkait dengan orang lanjut usia, dewasa, remaja, ataupun anak-anak. Sebagaimana yang dijelaskan oleh WHO bahwa ageism adalah stereotip, prasangka, dan diskriminasi terhadap suatu individu berdasarkan usia mereka.

Menurut BBC, dampak dari ageisme pun cenderung lebih buruk terhadap generasi pekerja muda. Sebab, ada stereotip yang mengatakan bahwa generasi milenial dan Gen Z adalah generasi yang manja dan memiliki etos kerja yang buruk.

Pada dasarnya, ageisme bukan sekedar tindakan, melainkan juga cara memandang dan berpikir seorang manusia terhadap manusia lainnya.

Sehingga, dapat dikatakan bahwa ageism adalah salah satu bentuk diskriminasi, baik dalam tindakan maupun pemikiran, yang membedakan manusia berdasarkan usia. Di mana dalam lingkup pekerjaan, diskriminasi ini menjadi suatu alasan seseorang dianggap tidak cocok untuk mengemban posisi atau tanggung jawab tertentu.

Baca juga: Manajemen Stress di Lingkungan Kerja: Pengertian, Tujuan, dan Cara Mengelola Stress

Contoh Ageism di Lingkungan Kerja

Ada banyak sekali contoh praktik ageisme yang terjadi di lingkungan kerja, yang mana mungkin saja sebenarnya terjadi di lingkungan kerja Anda. Beberapa contohnya adalah sebagai berikut.

  • Pekerja dengan usia tua di-PHK karena dianggap sudah tidak mampu menjalani suatu pekerjaan.
  • Kesempatan untuk mengembangkan skill, baik pelatihan, seminar, konferensi, ataupun yang lainnya, hanya ditawarkan kepada karyawan muda.
  • Karyawan yang masih muda diberikan tanggung jawabyang membosankan, sementara karyawan senior diberikan tanggung jawab yang menantang.
  • Karyawan muda sering tidak dilibatkan dalam rapat karena dianggap belum memahami perusahaan secara mendalam.
  • Karyawan muda sulit memperoleh promosi karena usianya dianggap belum mencukupi meski telah memiliki jejak yang bagus.
  • Ide ditolak karena alasan masih muda dan belum mengetahui apa-apa.
  • Karyawan muda sulit mengajukan cuti karena belum memiliki keluarga atau anak di rumah.
  • Adanya percakapan-percakapan yang merendahkan kemampuan seseorang karena faktor usia, baik bercanda ataupun serius.
  • Merencanakan kegiatan tim yang cocok untuk rentang usia tertentu sehingga karyawan di usia lain tidak diizinkan ikut di dalamnya.

Baca juga: Ragam Jenis Budaya Kerja dan Langkah Membangunnya Agar Lebih Positif

Cara Menghadapi Ageism

Praktik ageisme memang tidak bisa hilang begitu saja. Namun, Anda bisa mencegah dan menghadapinya dengan cara-cara sebagai berikut.

1. Jangan Lakukan Diskriminasi

Apabila Anda menjadi korban dari praktik ageism, Anda sebaiknya tidak ikut melakukan diskriminasi balik. Cobalah untuk menghadapi dan menanggapinya dengan tenang. Tunjukkan pada mereka bahwa Anda bisa menjadi pendengar dan pembicara yang baik serta perspektif yang menarik terlepas dari berapapun usia Anda.

Sekalipun Anda bukan korban dari ageism, hindarilah membedakan seseorang, baik yang lebih tua ataupun muda. Apabila mereka mengalami kesulitan, Anda bisa menawarkan bantuan jika memang hal tersebut dapat membantu dalam berproses.

2. Menunjukkan Sikap Positif

Memiliki sikap positif akan memudahkan Anda untuk diterima di suatu lingkungan. Oleh karena itu, tunjukkan bahwa Anda adalah orang yang passionate ketika bekerja. Anda juga bisa menunjukkan body language yang baik ataupun sikap terbuka pada rekan kerja. Dengan begitu, Anda akan lebih mudah diterima dan dianggap bisa diandalkan.

3. Kolaboratif Saat Bekerja

Salah satu alasan praktik ageism adalah komunikasi yang tidak efektif. Orang lain mungkin mengetahui keberadaan Anda, namun tidak mendalami personal Anda. Karena itu, Anda perlu menunjukkan bahwa Anda adalah seorang team player yang mau belajar dan bisa bersikap fleksibel. Hal ini akan menunjukkan bahwa Anda dapat berkomunikasi dan berkolaborasi dengan baik bersama rekan kerja.

4. Bergabung atau Berbicara dengan Sesama Profesional

Ketika masuk ke dalam lingkungan yang tidak seusia, memang akan ada rasa canggung ataupun rasa sulit untuk menempatkan diri di dalamnya. Namun, pastikan bahwa hal tersebut bukanlah masalah besar.

Berusahalah untuk selalu bersikap dan berdiskusi secara profesional tanpa pandang bulu apakah mereka lebih tua atau muda. Hal ini pun bisa menjadi tempat bagi Anda untuk sharing dan bertukar ide tentang cara menghadapi ageisme.

5. Beritahu Atasan atau HR

Apabila Anda mendapatkan perlakuan ageism, cobalah untuk membicarakan hal tersebut ke atasan Anda terlebih dahulu. Mungkin saja ia bisa menawarkan solusi berdasarkan pengalaman yang dimilikinya.

Anda juga bisa membicarakan masalah ini ke departemen HR perusahaan Anda dan mengetahui bagaimana perusahaan menindak hal ini. Apabila tidak ada peraturan yang membahas ageism, Anda bisa mengusulkannya melalui kerja sama dengan pihak HR agar tidak terulang masalah yang sama.

6. Berbicara Langsung dengan Pelaku

Hal selanjutnya yang bisa dilakukan apabila Anda menjadi korban ageism adalah membicarakannya langsung dengan pelaku. Tanyakan apa alasan dan motif sesungguhnya dibalik tindakannya tersebut. Namun, tetap usahakan untuk membuka dialog yang santai dan baik dengan pelaku.

Baca juga: Kinerja Karyawan: Pengertian dan Faktor yang Mempengaruhi Kinerja karyawan

Penutup

Baik disengaja atau tidak, ageism adalah bentuk diskriminasi terhadap manusia. Parahnya, bentuk diskriminasi ini sering dianggap normal dan tidak ada upaya bersama untuk meminimalisirnya. Tanpa disadari, ageism tidak hanya akan menyakiti hati seseorang, melainkan juga bisa mempengaruhi kinerja seseorang di perusahaan. Sebab, bagaimana bisa bekerja dengan nyaman apabila mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan?

Oleh karena itu, perusahaan perlu menaruh perhatian lebih terhadap isu diskriminasi ini dengan membuat peraturan dan dengan membangun lingkungan kerja yang sehat di antara karyawannya. Dengan begitu, karyawan dapat bekerja dengan maksimal dan perusahaan pun dapat mencapai tujuannya.

Perusahaan juga perlu mengelola keuangannya dengan baik agar setiap karyawan mendapatkan hak sesuai kinerjanya. Jangan sampai karyawan dibayar tidak sesuai karena dianggap terlalu muda atau tua, padahal mereka memiliki kinerja yang baik. Untuk itu, perusahaan bisa menggunakan aplikasi bisnis seperti Accurate Online.

Accurate Online merupakan software berbasis cloud yang menyediakan lebih dari 200 jenis laporan keuangan dan bisnis. Berbagai fitur di dalamnya ditujukan untuk membuat proses pengelolaan dan pembuatan laporan keuangan menjadi lebih cepat, akurat, dan otomatis.

Jika Anda tertarik untuk mencobanya, klik tautan gambar di bawah ini dan nikmati Accurate Online secara gratis selama 30 hari.