Bear Market: Sejarah, Penyebab, dan Proses Terjadinya Bear Market

Untuk Anda para investor pasar saham, Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah bull market dan bear market. Bull market adalah suatu situasi di pasar saham yang mana harga saham sedang mengalami tren meningkat atau menguat.

Sedangkan bear market adalah kebalikan atau lawannya dari bull market, yakni suatu kondisi di pasar saham yang mana harga saham sedang mengalami tren penurunan atau sedang melemah.

Nah pada kesempatan kali ini, kami akan membahas secara mendalam tentang sejarah, penyebab, dan tahapan terjadinya bear market.

Sejarah Adanya Istilah Bear market

Bear market memang tidak ada kaitannya dengan pasar saham secara kasat mata. Beruang tidak ada kaitannya sama sekali dengan berbagai surat berharga. Tapi, bear market hanya suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan situasi pasar saham yang sedang mengalami penurunan. Jadi, artinya dipasar tidak ada perdagangan beruang.

Istilah ini digunakan pada cara beruang dalam berkelahi dengan musuhnya, yaitu banteng. Dalam bertarung, beruang lebih menghujamkan cakarnya ke arah bawah. Sedangkan banteng bertarung dengan menyerudukkan tanduknya ke arah atas.

Oleh karena itu, cara bertarung mereka digunakan untuk menggambarkan situasi dan kondisi yang terjadi di pasar saham.

Bear market menunjukkan harga saham yang sedang mengalami tren penurunan, sedangkan bull market menunjukkan harga saham yang sedang mengalami peningkatan.

Jika kita tinjau berdasarkan sejarahnya, penggunaan istilah ini digunakan dengan berdasarkan para pemburu di Inggris pada abad ke 17 lalu yang mana mereka menjual kulit beruang sebelum menangkapnya. Hal tersebut juga dilakukan oleh para short seller di pasar saham.

Mereka akan menjual saham sebelum mereka mempunyainya. Pembelian tersebut dilakukan di hari yang sama, lalu mereka akan langsung menjualnya. Bila harga saham sedang menurun, maka mereka pun akan memperoleh keuntungan.

Baca juga: Analisis Fundamental: Ini Pengertian dan Bedanya Dengan Analisis Teknikal!

Faktor Terjadinya Bear Market

Walaupun memang tidak ada aturan baku yang digunakan sebagai standar dan diratifikasi secara mendunia, tapi umumnya kondisi ini terjadi jika harga saham mengalami penurunan sebanyak 20% pasca bertahan dengan harga tertingginya atau selama setidaknya satu tahun.

Kondisi ini ditandai dengan menurunnya harga saham selama dua bulan berturut-turut atau lebih dari itu.

Sebagian besar dari kita pasti sudah mengetahui bahwa sektor ekonomi bergerak sangat fluktuatif. Itu artinya, kondisi ekonomi tidak bisa dipastikan akan selalu kuat dan baik, akan ada kalanya sektor ini mengalami penurunan.

Terdapat banyak sekali faktor eksternal yang bisa mempengaruhi kestabilan ekonomi yang dinamika dan keberadaannya tidak bisa dikendalikan. Seperti misalnya keseimbangan pada penawaran dan permintaan, mekanisme pasar, dan masih banyak lagi.

Jadi, penyebab terjadinya bear market sangatlah banyak. Tapi secara umum, kondisi ini terjadi karena adanya kelesuan ekonomi.

Ekonomi yang sedang lemah atau lesu kerap kali ditandai dengan adanya peningkatan pengangguran yang sangat tinggi, rendahnya tingkat pendapatan, dan menurunnya laba perusahaan.

Selain itu, intervensi yang dilakukan pemerintah dalam perekonomian juga bisa memicu terjadinya kondisi bear market, contohnya seperti peningkatan tarif pajak. Kondisi ini juga bisa terjadi saat kepercayaan investor mengalami penurunan.

Baca juga: Rekomendasi Tepat Investasi untuk Pemula dan Kesalahan yang Harus Dihindari

Tahapan dalam Bear Market

Bear market tidak bisa terjadi dengan sendirinya dan secara mendadak. Sama seperti tubuh bila mengalami kondisi yang sedang tidak baik, pasti akan gejala terlebih dulu, sehingga bisa diantisipasi dan diketahui dampak terburuknya. Pun demikian dengan kondisi bear market.

Terdapat empat tahapan terjadinya kondisi ini, yakni.

1. Tingginya Harga Saham dan Sentimen Investor

Biasanya, harga saham yang menguat akan diiringi dengan sentimen yang positif dari para investor untuk melakukan investasi di berbagai sektor atau perusahaan yang dinilai menguntungkan. Tapi dalam tahapan ini, para investor malah lebih memilih keluar dari saham dan memperoleh keuntungan.

2. Harga Saham Mulai Merosot Tajam

Penurunan yang sangat drastis pada harga saham dipicu dengan adanya kegiatan perdagangan dan laba perusahaan yang cenderung mengalami penurunan.

Hal tersebut cukup mengkhawatirkan, karena dalam tahapan ini para investor mulai panik sebab menurunnya sentimen.

3. Muncul Para Spekulan

Sebagai salah satu pelaku di dalam pasar saham, para spekulan akan berusaha keras dalam mencari keuntungan yang tinggi di dalam perdagangan saham dengan cara melakukan spekulasi terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada harga saham.

Kehadiran mereka bisa membuat harga saham dan volume perdagangan saham menjadi meningkat.

4. Harga Saham Terus Menurun Secara Perlahan

Dalam tahap ini, bear market mempunyai potensi untuk berubah menjadi bull market. Rendahnya harga saham bisa menjadi kabar baik yang membuat para investor tertarik untuk membeli saham.

Dari tahapan tersebut, bear market bisa dikenali dengan baik. Kondisi umum yang banyak terjadi saat terjadi bear market adalah menurunnya indeks harga saham gabungan. Indeks tersebut setiap hari akan menyentuh posisi terendah terbaru.

Itu artinya, nilai tertinggi di hari berikutnya akan lebih rendah dibandingkan harga sebelumnya. Kondisi ini akan terjadi dalam kurun waktu yang tidak bisa dipastikan.

Tapi berdasarkan sejarah ekonomi yang pernah terjadi, rata-rata kondisi ini akan berlangsung selama kurang lebih satu tahun.

Dalam periode tahun 1900 hingga tahun 2008, tercatat sudah terjadi bear market sebanyak 32 kali, dengan rentang waktu yang berkisar selama 367 hari. Itu artinya, bear market seperti menjadi siklus tiga tahunan sekali di dalam pasar saham.

Seperti yang sebelumnya sudah disinggung, kondisi ini terjadi ketika ekonomi sedang mengalami penurunan atau yang akrab dikenal dengan resesi. Pada saat itu, kondisi ekonomi akan sedikit terguncang, sehingga akan terhenti untuk berkembang dan cenderung mengalami kontraksi.

Akibatnya, tingkat pengangguran pun akan tinggi karena perusahaan terus mengalami kerugian yang membuat mereka harus melakukan pemutusan hubungan kerja dengan para karyawannya.

Kondisi inibisa dengan mudah dikenali jika Anda mengetahui posisi ekonomi di dalam siklus bisnis. Jika siklus bisnis baru memasuki tahap ekspansi, maka akan kecil sekali terjadinya bear market.

Tapi ketika aset mengalami penggelembungan dan investor berperilaku secara rasional, maka siklus bisnis kemungkinan akan masuk pada tahap kontraksi, sehingga kemungkinan besar kondisi bear market pun akan terjadi.

Baca juga: Aplikasi Trading: Keuntungan dan Aplikasi Trading yang Direkomendasikan

Tips Untuk Para Investor

Walaupun bear market menggambarkan kondisi pasar saham yang sedang mengalami kelesuan karena menurunnya harga saham, tapi bukan artinya Anda tidak bisa mendapatkan keuntungan di dalam bear market.

Salah satu cara untuk bisa mendapatkan keuntungan walaupun sedang terjadi bear market adalah dengan short selling.

Short selling adalah suatu teknik dalam menjual saham dengan mekanisme investor atau trader yang meminjam sejumlah uang untuk menjual saham yang belum dimiliki dengan harga yang tinggi dan berharap akan membelinya lagi serta mengembalikan pinjaman saham ke pialangnya ketika harga saham sedang mengalami penurunan.

Teknik ini dilakukan dengan cara menjual saham yang dipinjam, dan membelinya lagi dengan harga yang lebih minim.

Secara teknis, short seller akan meminjam saham dari pihak broker sebelum order penjualan singkat. Dari kegiatan tersebut, investor akan menjadi short seller dan memperoleh keuntungan dari adanya selisih harga yang terjadi ketika saham dijual dengan harga pembeliannya ketika perdagangan sudah ditutup.

Contohnya, Anda sebagai short seller menjual 1000 lembar saham dengan harga 740 rupiah per lembarnya. Selama perdagangan terjadi di pasar saham, ternyata harga saham tersebut menurun dan ditutup dengan harga 500 rupiah per lembar. Dari kegiatan transaksi tersebut, Anda akan mendapatkan keuntungan sebanyak 250 x 1000, yaitu 250 ribu rupiah.

Baca juga: Aplikasi Investasi: Pengertian, Keuntungan dan Aplikasi Investasi yang Diawasi OJK

Penutup

Lesunya kondisi ekonomi akan berpotensi terjadinya bear market. Walaupun di dalam bear market kondisi saham akan terasa kurang stabil, tapi bukan artinya kegiatan perekonomian akan terhenti dan merugi.

Terdapat beberapa tahapan yang bisa Anda gunakan untuk mengenali dan mendeteksi terjadi bear market, sehingga Anda bisa mengambil langkah antisipatif bila terjadi bear market yang tidak bisa Anda hindari.

Selain itu, ada juga teknik yang bisa Anda gunakan agar tetap bisa memperoleh keuntungan di tengah terjadinya bear market, yaitu dengan short selling.

Namun, jangan lupa untuk mencatat setiap keuntungan yang sudah Anda dapatkan di dalam laporan keuangan. Kegiatan ini tidak hanya penting dilakukan oleh investor, namun perusahaan pun harus melakukannya dengan baik.

Nah, untuk memudahkan perusahaan dalam mencatat keuntungan atau kerugian di dalam laporan keuangan, saat ini sudah ada software akuntansi dan bisnis Accurate Online.

Accurate Online akan menyajikan laporan laba rugi, laporan arus kas, dan lebih dari 200 jenis laporan keuangan bisnis pada Anda secara otomatis, cepat dan akurat. Anda juga bisa mengakses laporan tersebut kapanpun dan dimanapun Anda butuhkan.

Di dalamnya juga sudah dilengkapi dengan fitur penjualan, pembelian, persediaan, perpajakan, manufaktur, multi cabang, cost and profit center, dan fitur luar biasa lainnya yang akan membuat operasional Anda berjalan lebih efisien.

Penasaran? Klik banner di bawah ini untuk bisa langsung mencoba Accurate Online selama 30 hari, Gratis!

Baim

Penulis blog lulusan sarjana manajamen bisnis yang mendalami dunia penulisan dan senang membagikan wawasan tentang duna manajemen kepada masyarakat luas.