Apa itu Anglo Saxon? Istilah Akuntansi di Amerika Serikat

Sistem akuntansi yang saat ini berkembang di Amerika Serikat dikenal dengan sistem Anglo Saxon. Istilah tersebut digunakan dengan seiring dengan berkembangnya dunia bisnis dan akuntansi yang digunakan oleh para pebisnis.

Namun, apa itu Anglo Saxon? Penasaran? Baca terus artikel tentang Anglo Saxon di bawah ini untuk mendapatkan jawabannya.

Apa itu Anglo Saxon?

Sebagian dari Anda pasti masih agak asing dengan istilah Anglo Saxon. Berdasarkan laman Wikipedia, Anglo Saxon adalah berbagai negara maritim kepulauan yang berada di benua Eropa. Selain itu, Anglo Saxon juga adalah berbagai negara yang termasuk ke dalam Inggris Raya dan negara lainnya yang berada di kepulauan Inggris.

Anglo Saxon pun merupakan berbagai negara yang memiliki budaya khusus dan berbeda dengan sejarah budaya lainnya di berbagai negara daratan lainnya yang dikenal dengan Kontinental. Negara Irlandia, Inggris, Australia, dan Amerika Serikat adalah berbagai negara yang termasuk dengan istilah Anglo Saxon.

Baca juga: Apa Perbedaan Akun Riil dan Akun Nominal?

Perkembangan Akuntansi Kontinental dan Akuntansi Anglo-Saxon

Pada awalnya, sistem akuntansi dan sistem pembukuan perdagangan dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yakni dicatat pada kulit kayu, batu, dan lain sebagainya. Catatan akuntansi paling tua yang saat ini masih tersimpan berasal dari Babilonia, tepatnya 3600 tahun sebelum maseh. Penemuan yang sama juga ditemukan di Mesir dan Yunani Kuno.

Namun, pencatatan tersebut belum dilakukan dengan cara yang sistematis dan kerap kali tidak lengkap. Pencatatan yang lebih lengkap kemudian dikembangkan di Italia setelah dikenalnya berbagai angka desimal arab dan semakin berkembang pada dunia bisnis pada kala itu.

Perkembangan ilmu akuntansi pun terjadi bersamaan dengan ditemukannya suatu sistem pembukuan berpasangan atau sistem double entry oleh para pedagang dari Venesia, yang mana kota Venesia adalah kota perdagangan yang sangat terkenal di Italia pada masa itu.

Dengan dikenalnya sistem pembukuan double entry, maka di tahun 1494 pun diterbitkan suatu buku terkait pelajaran pembukuan berpasangan yang ditulis oleh seorang ahli agama dan juga ahli matematika bernama Luca Pacioli dengan judul Summa de Arithmatica, Geometrica, Proportioni et Proportionalita yang mana didalamnya berisi tentang pembelajaran ilmu pasti.

Di dalam buku tersebut terdapat beberapa lembar halaman yang berisi tentang pelajaran pembukuan untuk setiap pebisnis. Halaman yang berisi pembelajaran pembukuan tersebut memiliki judul Tractatus de Computis et Scriptorio. Kemudian, buku tersebut tersebar di daratan Eropa Barat dan dikembangkan oleh para pengarang selanjutnya.

Sistem pembukuan tersebut pun mengalami perkembangan dengan sistem yang menyebut asal dari negaranya masing-masing, seperti sistem Inggris, Belanda, dan juga sistem Amerika Serikat. Sistem belanda atau tata pembukuan di negara tersebut dikenal dengan sistem kontinental.

Sedangkan sistem pembukuan di Inggris dan Amerika Serikat dikenal dengan sistem Anglo Saxon. Perkembangan sistem kontinental menuju Anglo Saxon di abad pertengahan terjadi pada pusat perdagangan Eropa Barat.

Eropa Barat, terutama Inggris, kala itu menjadi pusat perdagangan di masa revolusi Industri. Pada masa itu juga terjadi perkembangan akuntansi dengan sangat pesat.

Lalu di akhir abad ke-19, sistem pembukuan double entry pun berkembang di Amerika serikat yang dikenal dengan accounting atau akuntansi. Seiring dengan perkembangan teknologi yang terjadi di negara tersebut, sekitar di pertengahan abad 20, digunakanlah komputer untuk mengolah data akuntansi, sehingga kegiatan pembukuan double entry bisa diselesaikan dengan waktu yang lebih cepat dan lebih akurat.

Di zaman kolonial Belanda, berbagai perusahaan di Indonesia kala itu lebih mengenal penggunaan tata buku. Akuntansi berbeda dengan tata buku, walaupun memang pada dasarnya berasal dari sistem double entry.

Ruang lingkup akuntansi sangatlah luas, salah satunya adalah teknik pembukuan. Setelah melewati tahun 1960, akuntansi yang dikenal dengan Anglo Saxon pun mulai diperkenalkan di Indonesia. Sehingga, sistem pembukuan yang digunakan di Indonesia pun mengalami perubahan, dari sistem Eropa yaitu Kontinental, ke sistem Amerika atau Anglo Saxon.

Di negara Inggris, bursa efek pasar dan para akuntan memiliki peran yang penting dalam proses akuntansi regulasi. Laporan tahunan dan piutang di Inggris terdiri dari laba konsolidasi dan akun rugi, neraca, dan laporan arus kas. Agar bisa menilai review operasional per tahun, maka laporan direktur pun harus selalu diikut sertakan.

Dalam pelaksanaan konsolidasi, metode pembelian umumnya akan diikutsertakan, walaupun dalam beberapa kasus dan merger akuntansi atau metode penyatuan terkadang dibutuhkan.

Inggris sendiri menerapkan pendekatan konservatif yang berbeda dari kebanyakan negara Anglo Saxon lainnya, yang mana terdapat selisih penilaian kembali pada aktiva tetap, seperti tanah dan bangunan untuk bisa menilai pasar.

Persediaan biaya pun ditentukan dengan menggunakan metode First in First Out atau FIFO untuk kebutuhan pajak, sedangkan metode Last in First Out atau LIFO tidak diperkenankan.

Untuk bisa melakukan identifikasi pada perbedaan perhitungan antar bangsa eropa barat, maka seorang ahli bernama Nobes membuat klasifikasi yang berkaitan dengan harmonisasi akuntansi dalam masyarakat Eropa dan proses perkembangan yang signifikan dengan daerah pemeriksa pertama, yang mana memiliki dampak besar pada perkembangan dunia akuntansi.

Dirinya melakukan identifikasi pada beberapa bidang, seperti format akun, publikasi dan audit, konservatisme dalam menyediakan informasi akuntansi, informasi wajar yang bisa dipublikasikan, dasar penilaian, praktek konsolidasi, dan berbagai hal lainnya sebagai latar belakang akuntansi yang berbeda, sehingga akan berdampak pada perkembangan akuntansi di berbagai negara.

Di awal tahun 1930 an, di sebagian besar negara di benua Eropa, konsolidasi adalah perkembangan baru yang berasal dari berbagai negara yang paling banyak diadopsi direktif ketujuh di tahun 1985.

Konservatisme pun dipengaruhi dengan berbagai nilai akuntansi dengan menggunakan cara yang berbeda. Undang-undang dan regulasi perusahaan di Irlandia, Inggris dan Belanda menggunakan negara yang memerlukan nilai wajar dalam laporan keuangan yang diauditnya.

Sedangkan dalam laporan keuangan yang digunakan di Jerman, mereka masih terdapat preferensi yang kecil pelaporan keuangannya masih harus dilakukan pembukuan yang akurat dan harus memenuhi unsur dan pengawasan dari inspektorat pajak.

Nobes pun melakukan identifikasi perbedaan utama antar berbagai negara Eropa menjadi dua kelompok klasifikasi. Normalisasi laporan keuangan tahunan yang pantas untuk negara-negara penganut Anglo Saxon ini terdiri dari isi laporan keuangan, berbagai unsur deskriptif, isi dari berbagai sel, peraturan standar, dan prosedur akuntansi, serta penyajian laporan keuangan.

Baca juga: Apa itu Kas dan Setara Kas? Ini Pengertian dan Perbedaannya!

Perlakuan Sistem Akuntansi Kontinental Anglo Saxon

Pada awalnya, sistem akuntansi di Indonesia menganut sistem kontinental, seperti yang pada saat itu dilakukan oleh Belanda.

Sistem tersebut juga sebenarnya berbeda dengan sistem akuntansi, yang mana tata buku atau pengelolaan pencatatannya berkaitan dengan berbagai kegiatan yang lebih bersifat konstruktif, seperti pencatatan, peringkasan, penggolongan dan berbagai kegiatan lainnya agar bisa menciptakan sistem informasi akuntansi yang berdasarkan pada data.

Sedangkan akuntansi sendiri berkaitan dengan berbagai kegiatan yang bersifat konstruktif dan analitikal, seperti kegiatan analisis dan interpretasi dengan berdasarkan informasi akuntansi. Sehingga, bisa ditarik kesimpulan bahwa pembukuan adalah salah satu bagian dari kegiatan akuntansi.

Untuk kegiatan tata buku sendiri sudah mulai ditinggalkan oleh para pebisnis. Berbagai individu dan perusahaan semakin banyak yang menggunakan sistem akuntansi Anglo Saxon.

Perkembangan sistem akuntansi Anglo Saxon di Indonesia sendiri terjadi karena adanya investasi asing yang memberikan dampak positif pada perkembangan akuntansi di Indonesia. Pasalnya, sebagian besar investasi asing menggunakan sistem akuntansi Amerika Serikat, yakni Anglo Saxon.

Faktor lainnya adalah karena para investor asing yang berperan dalam kegiatan perkembangan akuntansi di Indonesia tersebut telah menyelesaikan pendidikannya di Amerika, sehingga mereka menerapkan ilmu akuntansi tersebut di Indonesia.

Baca juga: Apa itu Aset Produktif? Ini Pengertian dan Jenisnya!

Penutup

Demikianlah penjelasan sederhana dari kami tentang sistem akuntansi Anglo Saxon.

Namun, bila Anda kesulitan atau tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan kegiatan akuntansi perusahaan, maka Anda bisa mempercayakannya pada Accurate Online.

Aplikasi bisnis dan akuntansi yang telah dipercaya oleh ratusan ribu pebisnis di Indonesia ini akan mencatat kegiatan transaksi Anda secara otomatis dan akan menyajikan lebih dari 200 jenis laporan keuangan yang siap digunakan.

Selain itu, di dalamnya juga telah disediakan berbagai fitur bisnis luar biasa yang akan memudahkan Anda dalam melakukan kegiatan jual-beli, mengelola persediaan barang digudang, menyelesaikan administrasi perpajakan, dan masih banyak lagi. Sehingga, Anda bisa lebih mudah dalam menjalankan dan mengembangkan bisnis.

Tunggu apa lagi? Ayo segera coba dan gunakan Accurate Online sekarang juga dengan klik tautan gambar di bawah ini.

Lala

Seorang lulusan S1 ilmu akuntansi yang suka membagikan istilah, rumus, dan berbagai hal yang berkaitan dengan dunia akuntansi lewat tulisan.