Bagaimana Cara Menghitung Laba Ditahan?

Salah satu hal yang mampu mempengaruhi kapabilitas dari perusahaan agar terus eksis di pasar adalah laba atau keuntungan. Laba sendiri memiliki banyak jenis, salah satunya adalah laba ditahan. Lantas, apa itu laba ditahan? Bagaimana cara menghitung laba ditahan?

Untuk mendapatkanya jawabannya, Anda bisa membaca artikel tentang cara menghitung laba ditahan di bawah ini hingga selesai.

Bagaimana Cara Menghitung Laba Ditahan?

Untuk bisa mengetahui bagaimana cara menghitung laba ditahan, Anda bisa menggunakan cara di bawah ini:

1. Mengumpulkan Data Penting

Setiap perusahaan harus melakukan kegiatan dokumentasi atas riwayat keuangan perusahaannya secara resmi. Jadi, Anda harus mengumpulkan data dan melakukan analisa laporan keuangan agar bisa lebih mudah dalam menghitung sisa laba bersih selama periode tahun berjalan.

Gunakanlah berbagai angka yang terdapat dalam laporan resmi agar bisa mengetahui jumlah laba ditahan dalam tanggal tertentu, laba bersih, dan juga dividen yang sudah dibayar.

Laba ditahan termasuk ke dalam akun perusahaan hingga periode pencatatan terakhir yang ditampilkan dalam neraca, sedangkan laba bersih perusahaan akan ditampilkan pada laporan laba rugi untuk periode waktu berjalan.

Bila Anda sudah memperoleh seluruh informasi tersebut, maka cara menghitung laba ditahan bisa dilakukan dengan menggunakan rumus berikut:

Laba Ditahan = Laba Bersih – Dividen yang Dibayarkan

Lalu untuk menghitung laba bersih kumulatif, tambahkanlah laba ditahan yang baru saja Anda hitung dengan saldo laba ditahan yang saat ini sudah ada.

Contohnya, di akhir tahun 2020 Anda memiliki saldo ditahan kumulatif sebanyak 512 juta rupiah. Selama tahun 2021, bisnis Anda mampu menghasilkan laba bersih sebesar 21,5 juta rupiah dan membayar dividen sebanyak 5,5 juta rupiah. Nah, saldo akhir dari laba ditahan Anda adalah sebagai berikut

Rp 21,5 juta – Rp 5,5 juta = Rp 16 juta

Rp 512 juta + Rp 16 juta = Rp 528 juta

Jadi, laba ditahan bisnis Anda adalah sebanyak 528 juta rupiah.

2. Tidak Memiliki Info Laba Bersih? Hitunglah Laba Kotor

Bila Anda tidak mempunyai informasi laba bersih, Anda bisa menghitung laba bersih secara manual melalui proses yang agak panjang. Caranya adalah dengan menghitung laba kotor.

Laba kotor adalah suatu nilai yang didapat dari laporan laba rugi dan dihitung dengan mengurangi nominal penjualan dan harga pokok penjualan.

Misalnya, selama satu kuartal Anda bisa mencapai penjualan sebanyak 150 ribu rupiah, namun Anda harus mengeluarkan biaya sebesar 90 ribu rupiah untuk berbagai barang yang diperlukan dalam mendapatkan hasil penjualan tersebut.

Nah, cara menghitung laba kotor dalam satu kuartal di atas adalah sebagai berikut:

Rp 150.000 – Rp 90.000 = Rp 60.000

Baca juga: Cara Mencari Laba Rugi Di Dalam Perusahaan Secara Mudah dan Cepat

3. Hitunglah Laba Operasi

Laba operasi adalah laba yang dihitung dari laba bruto dikurangi dengan jumlah biaya operasi. Laba operasi akan menggambarkan laba perusahaan setelah membayar berbagai biaya penjualan dan berbagai biaya operasi.

Untuk mengetahui bagaimana cara menghitung laba ditahan, maka kita juga harus mengetahui data laba operasi. Untuk menghitungnya, Anda cukup mengurangi laba kotor dengan berbagai biaya operasional perusahaan, kecuali harga pokok penjualan.

Contohnya, Anda bisa menghasilkan laba kotor sebanyak 60 ribu rupiah dalam kuartal yang sama, terdapat berbagai biaya administrasi dan upah, yaitu sebesar 15 ribu rupiah. Jadi, cara menghitung laba operasionalnya adalah sebagai berikut:

Rp 60.000 – Rp 15.000 = Rp 45.000

4. Hitunglah Laba Bersih Sebelum Pajak

Dalam menghitung laba bersih sebelum pajak, kurangilah laba operasi dengan bunga, depresiasi dan juga amortisasi. Depresiasi dan amortisasi adalah penyusutan dari nilai aktiva selama masa ekonomisnya. Hal tersebut akan dicatat sebagai biaya dalam laporan laba rugi perusahaan dagang, perusahaan jasa, dan perusahaan manufaktur.

Jadi, bila suatu perusahaan membeli suatu alat dengan nominal 10 ribu rupiah dan memiliki masa ekonomis selama 10 tahun, maka biaya depresiasinya adalah 1 ribu rupiah pertahun, dengan asumsi nilainya yang akan terdepresiasi secara rata.

Contohnya, Anda harus membayar biaya bunga sebanyak 1,200 rupiah dan biaya depresiasinya sebesar 4 ribu rupiah. Jadi, cara dalam menghitung laba bersih sebelum pajak dari perusahaan adalah sebagai berikut:

Rp 45.000 – Rp 1.200 – Rp 4.000 = Rp 39.800

5. Hitunglah Laba Bersih Setelah Pajak

Cara menghitung laba ditahan selanjutnya adalah harus terlebih dahulu mengetahui jumlah laba bersih setelah pajak. Jadi, biaya akhir yang harus dihitung adalah pajak. Cara menghitungnya, pertama Anda harus mengalikan tarif pajak perusahaan dengan laba bersih sebelum pajak. Lalu, kurangi hasilnya dengan angka laba bersih sebelum pajak.

Dengan menggunakan contoh sebelumnya, anggaplah tarif pajak Anda adalah 34%. Nah, biaya pajak yang harus Anda bayar adalah sebagai berikut:

34% (0,34) x Rp 39.800 = Rp 13.532

Lalu, Anda harus mengurangi angka tersebut dari jumlah laba bersih sebelum pajak.

Rp39.800 – Rp13.532 = Rp26.268

6. Kurangi dengan Jumlah Dividen yang Sudah Dibayarkan

Setelah menghitung nominal laba bersih perusahaan, maka Anda memiliki suatu angka yang bisa digunakan untuk menghitung nominal laba ditahan selama periode pembukuan yang sedang berlangsung. Untuk bisa menguranginya, kurangilah laba bersih setelah pajak dengan menggunakan dividen yang telah Anda bayar.

Masih menggunakan contoh di atas, katakanlah Anda harus membayar dividen pada investor sebanyak 10 ribu rupiah untuk kuartal kali ini. Lalu, bagaimana cara menghitung laba ditahan untuk periode yang berjalan tersebut?

Rp 26.268 – Rp 10.000 = Rp 16.268.

7. Hitunglah Saldo Akhir dari Akun Laba Ditahan

Anda juga harus ingat bahwa laba ditahan adalah suatu akun kumulatif yang mampu menampilkan perubahan bersih dari laba sejak berdirinya perusahaan hingga saat ini. Untuk bisa mengetahui nominalnya, Anda harus menambahkan laba ditahan pada periode yang berjalan dengan saldo akhir laba ditahan ketika periode pembukuan sebelumnya telah berakhir.

Dengan menggunakan contoh sebelumnya, katakanlah Anda sudah menahan laba sebanyak 30 ribu rupiah hingga sekarang. Jadi, bagaimana cara menghitung saldo laba ditahan saat ini?

Rp30.000 + Rp16.268 = Rp46.268

Baca juga: Pengertian Laporan Laba Rugi, Jenis, Fungsi, Pengguna, Komponen, Cara Buat dan Contohnya

Penutup

Demikianlah penjelasan dari kami tentang bagaimana cara menghitung laba ditahan. Tapi jika Anda tidak memiliki waktu untuk menghitungnya atau masih terasa sulit. Anda bisa menggunakan aplikasi bisnis dari Accurate Online.

Aplikasi ini akan menyajikan berbagai jenis laba dan laporan keuangan lainnya secara otomatis, cepat dan akurat. Terlebih lagi, di dalamnya pun sudah dilengkapi dengan berbagai fitur dan modul bisnis luar biasa yang akan membuat operasional Anda berjalan lebih efisien.

Penasaran? Segera gunakan Accurate Online sekarang juga dan coba gratis selama 30 hari dengan klik tautan gambar di bawah ini.

Lala

Seorang lulusan S1 ilmu akuntansi yang suka membagikan istilah, rumus, dan berbagai hal yang berkaitan dengan dunia akuntansi lewat tulisan.