Jurnal Pembelian: Pengertian, Jenis, dan Cara Pencatatannya

Pada dasarnya, jurnal pembelian digunakan oleh perusahaan untuk mencatat kegiatan transaksi pembelian. Selain jurnal pembelian, ada juga jurnal penjualan yang memiliki fungsi serupa.

Kegiatan transaksi penjualan dan pembelian adalah kegiatan utama perusahaan yang terjadi secara rutin dan terus berulang. Untuk itu, dibutuhkan pencatatan yang akurat, tepat, baik, dan juga benar.

Nah pada kesempatan kali ini, mari kita bahas secara tuntas tentang jurnal pembelian, lengkap dengan contoh dan cara pencatatannya pada laporan keuangan.

Pengertian Jurnal Pembelian

Jadi, jurnal pembelian adalah suatu catatan jurnal yang dimanfaatkan untuk mencatat berbagai transaksi pembelian.

Sama seperti transaksi penjualan yang dicatat dengan menggunakan jurnal penjualan, maka pada transaksi pembelian pun dicatat dengan menggunakan jurnal pembelian. Baik itu untuk pembelian yang dilakukan secara kredit, tunai, retur, diskon, atau potongan pembelian.

Contohnya seperti pembelian bahan baku yang dicatat pada jurnal pembelian bahan baku, dan pembelian kendaraan yang dicatat pada jurnal pembelian kredit yang disertai dengan PPN.

Baca juga: Apa itu Saldo Menurun Ganda dan Bagaimana Cara Menggunakannya?

Jenis Jurnal Pembelian dan Contoh Pencatatannya

Tercatat ada empat jenis jurnal pembelian yang harus Anda ketahui, yaitu jurnal pembelian tunai, jurnal pembelian kredit, jurnal pembelian diskon, dan jurnal retur serta potongan pembelian. Berikut ini adalah penjelasannya.

1. Jurnal Pembelian Tunai

Para pebisnis ritel dan perusahaan dagang kecil umumnya banyak yang menggunakan sistem persedian perpetual yang terkomputerisasi.

Cobalah perhatikan contoh jurnal pembelian tunai di bawah ini.

Diketahui pada tanggal 3 Juni 2018, perusahaan PT ABC melakukan pembelian bahan baku secara tunai dari Toko Budi Jaya dengan total Rp 2.510.000.

Pada sistem ini, maka pembelian bahan baku yang dilakukan secara tunai di atas dicatat pada jurnal pembelian bahan baku seperti berikut ini:

(Debit) Persediaan = Rp 2.510.000

(Kredit) Kas = Rp 2.510.000

2, Jurnal Pembelian Kredit

Pembelian yang dilakukan secara kredit merupakan kegiatan yang seringkali terjadi dalam sistem akuntansi perusahaan dagang, jasa dan manufaktur. Untuk cara mencatatnya perhatikanlah contoh berikut ini:

Diketahui pada tanggal 4 Juni 2018, PT ABC melakukan pembelian barang dari Toko Cemerlang Jaya secara kredit dengan total nilai Rp 9.250.000 plus PPN 10%. Nah, berikut ini adalah pencatatan jurnal pembelian kredit yang ditambahkan dengan PPN atas kegiatan transaksi tersebut.

(Debit) Persediaan = Rp 8.325.000

(Debit) PPN = Rp 925.000

(Kredit) Utang Usaha = Rp 9.250.000

3. Jurnal Diskon Pembelian

Saat ini, umumnya faktur yang diterima oleh pebisnis tidak akan menawarkan diskon untuk pembayaran yang dilakukan lebih awal. Umumnya, faktur hanya memberikan informasi tanggal jatuh tempo dan denda saat terjadi keterlambatan pembayaran.

Jika Anda sering menerima faktur beberapa hari sebelum tanggal jatuh tempo tersebut tiba, maka Anda tidak memperoleh keuntungan apapun berdasarkan tanggal jatuh tempo. Namun dengan cara yang akan kami jelaskan di bawah ini, maka Anda bisa menggunakan dana Anda untuk tujuan yang lebih produktif lagi, seperti membuka tabungan deposito.

Untuk perusahaan atau badan usaha, diskon pembelian yang didapatkan oleh pembeli karena melakukan pembayaran faktur lebih awal bisa dilakukan dengan mengurangi harga pokok pembelian. Umumnya, kebanyakan perusahaan sudah membuat sistem akuntansi mereka yang memungkinkan pembeli bisa mengambil semua diskon yang tersedia.

Agar lebih jelasnya, perhatikanlah jurnal pembelian diskon di bawah ini.

Katakanlah perusahaan PT MKM sudah mengeluarkan faktur sebanyak Rp 3.000.000 pada PT ABC di tanggal 12 Juni 2018, dengan diberlakukannya syarat 2/10, n/30. Lalu, tanggal akhir periode diskon sebanyak Rp 60.000 baru bisa diperoleh di tanggal 22 Juni 2018.

Asumsikanlah agar bisa membayar faktur di tanggal 22 Juni 2018, PT ABC harus meminjam uang selama 20 hari periode kredit. Bila kita asumsikan dengan tingkat suku bunga tahunan yang sebanyak 6% dan satu tahun dihitung sebanyak 360 hari, maka bunga pinjaman dan penghematan yang bisa dilakukan PT ABC adalah berikut ini:

  • Besar pinjaman:

= Rp 3.000.000 – Rp 60.000

= Rp 2.940.000

  • Bunga pinjaman:

= Rp 2.940.000 X 6% X (20/360)

= Rp 9.800

  • Penghematan bersih untuk Perusahaan PT ABC:

Diskon 2% atas Rp 3.000.000 = Rp. 60.000

Bunga selama 20 hari dengan tingkat suku bunga 6% atas Rp 2.940.000 = (Rp 9.800)

Penghematan dari pinjaman = Rp 50.200

Penghemat juga bisa kita ketahui dengan cara membandingkan tingkat suku bunga atas uang yang sudah dihemat karena mengambil diskon dan tingkat bunga pada uang yang dipinjam untuk mengambil disko tersebut.

Untuk PT ABC, tingkatan bunga yang bisa dihemat pada contoh ini kita perkirangan dengan mengubahnya sebanyak 2% untuk waktu 20 hari ke tingkat bunga tahunan, seperti berikut ini.

= 2% x (360 hari/20 hari)

= 2% x 18 = 36%

Nah, jika perusahaan PT ABC melakukan peminjaman uang demi mengambil diskon, maka PT ABC bisa membayar bunga di tingkat 6%. Lalu, jika perusahaan tersebut tidak mengambil diskon, maka wajib membayar tingkat suku bunga sebanyak 36% atas penggunaan Rp 2.940.000 dengan tambahan 20 hari.

Sedangkan di dalam sistem persediaan perpetual, pembeli awalnya akan melakukan debit akun persediaan untuk jumlah yang sudah tertulis di dalam faktur. Ketika membayar faktur, maka pembeli akan mengkredit akun persediaan untuk jumlah diskonnya.

Cobalah perhatikan contoh jurnal pembelian diskon di bawah ini.

Diketahui Perusahaan PT ABC ingin mencatat faktur dari perusahaan PT MKM dan pembayarannya di akhir periode diskon adalah seperti di bawah ini.

(Debit) Persediaan Rp 3.000.000

(Kredit) Utang Usaha – PT MKM Rp 3.000.000

(Debit) Utang Usaha – PT MKM Rp 3.000.000

(Kredit) Kas Rp 2.940.000

(Kredit) Persediaan Rp 60.000

Bila perusahaan PT ABC tidak mengambil diskon karena tidak membayar faktur hingga tanggal 11 Juli 2018, maka pencatatan pembayarannya adalah seperti di bawah ini.

(Debit) Utang Usaha – PT MKM Rp 3.000.000

(Kredit) Kas  Rp 3.000.000

4. Jurnal Retur dan Potongan Pembelian

Jurnal retur pembelian atau purchases return dan potongan pembelian dilakukan saat ada barang yang dikembalikan. Umumnya, pembeli akan mengirimkan surat atas memorandum debit ke penjual. Berikut ini adalah studi kasusnya:

Jurnal Pembelian: Pengertian, Jenis, dan Cara Pencatatannya

Berdasarkan contoh memo debit diatas, maka diketahui bahwa jumlah yang diajukan pembeli pada penjual untuk mendebet utang usaha yang tercatat pada penjual. Selain itu, memo tersebut juga memberikan informasi retur atau permintaan potongan harga.

Dalam hal ini, pembeli bisa menggunakan salinan memorandum debit sebagai dasar dalam mencatat retur dan juga potongan pembelian atau menunggu persetujuan dari pihak penjual. Dalam kasus kedua ini, maka pihak pembeli harus melakukan debit utang usaha atau dagang dan melakukan kredit persediaannya.

Cobalah perhatikan contoh berikut ini.

Diketahui PT Go Berkah melakukan pencatatan pengembalian barang yang ditunjukkan pada memo debit di atas sebagai berikut:

(Debit) Utang Usaha – PT Sukses Penuh Keberkahan Rp 9.000.000

(Kredit) Persediaan Rp 9.000.000

Saat pembeli melakukan pengembalian barang atau diberikan potongan pembelian sebelum pembayaran faktur, maka jumlah memo debit akan dikreditkan dari nilai faktur. Jumlah ini selanjutnya harus dikurangi dengan diskon pembelian.

Perhatikan contoh berikut ini:

Katakanlah di tanggal 2 Juni 2018 PT ABC melakukan pembelian barang seharga Rp 5.000.000 dari Toko Alpha Komputer dengan menggunakan syarat  2/10, n/30. Lalu, ada tanggal 4 Juni 2018, PT ABC melakukan pengembalian barang dengan total nilai Rp 3.000.000, dan di tanggal 12 Juni 2018, perusahaan tersebut membayar faktur lebih awal dan dikurangi dengan retur.

Untuk itu, PT ABC harus mencatat berbagai transaksi tersebut sebagai berikut ini:

(Debit) Persediaan Rp 5.000.000

(Kredit) Utang Usaha – Toko Alpha Komputer Rp 5.000.000

(Debit) Utang Usaha – Toko Alpha Komputer Rp 3.000.000

(Kredit) Persediaan Rp 3.000.000

(Debit) Utang Usaha – Toko Alpha Komputer Rp 2.000.000

(Kredit) Kas Rp 1.960.000

(Kredit) Persediaan Rp 40.000

Untuk semakin meningkatkan pemahaman Anda, cobalah perhatikan jurnal pembelian berikut ini juga:

Diketahui Humaira Hijab melakukan pembelian barang secara kredit dari pemasok dengan nilai Rp 11.500.000 dan syarat 2/10, n/30. Lalu, Humaira Hijab mengembalikan barang senilai Rp 3.000.000 serta memperoleh kreditnya secara penuh.

Pada sistem persedian perpetual, maka akun yang dikredit oleh Humaira Hijab untuk mencatatkan retur adalah akun persediaan. Bila Humaira Hijab melakukan pembayaran faktur pada periode diskon, maka jumlah uang tunai yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

= Pembelian – Retur – Diskon

= Rp 11.500.000 – Rp 3.000.000 – (Rp 11.500.000 – Rp 3.000.000) x 2%

= Rp 8.330.000

Baca juga: Accrued Expense Adalah: Berikut Pengertian, Jenis dan Contohnya

Kesimpulan

Transaksi pembelian adalah salah satu kegiatan utama pada perusahaan, baik itu perusahaan jasa, dagang, atau manufaktur. Untuk perusahaan manufaktur, mereka pasti akan melakukan pembelian bahan baku dan bahan pembantu dari pemasok untuk menunjang kegiatan produksinya.

Untuk perusahaan jasa, mereka membutuhkan pemasok untuk membantu kegiatan usahanya. Sedangkan untuk perusahaan dagang, mereka membutuhkan pemasok untuk barang dagang dan membantu kegiatan operasionalnya.

Ketiga perusahaan tersebut tentunya akan menjual hasil produksi, jasa dan barangnya kepada pihak konsumen. Sehingga, pihak perusahaan harus melakukan pencatatan proses pembelian dan juga penjualan dengan baik dan benar.

Untuk cara pencatatan jurnal pembeliannya sendiri kita sudah bahas secara lengkap di atas beserta dengan contohnya.

Setelah kita membahasnya secara lengkap, diharapkan kita sudah lebih mudah dalam melakukan pencatatan jurnal pembelian. Sehingga laporan keuangan yang disajikan pun akan valid dan akurat, serta bisa dijadikan referensi perusahaan untuk membuat strategi operasional di periode akuntansi selanjutnya.

Tapi, bila Anda tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan pencatatan jurnal pembelian, maka gunakanlah software akuntansi dari Accurate Online.

Dengan hanya menginput beberapa data yang diperlukan saja, Anda akan mendapatkan lebih dari 200 jenis laporan keuangan, termasuk laporan pembelian.

Terlebih lagi, di dalamnya juga sudah dilengkapi dengan fitur modul pembelian, persediaan, dan penjualan. Sehingga akan lebih memudahkan Anda dalam mengatur kegiatan bisnis.

Masih ada banyak lagi fitur dan kelebihan yang terdapat pada Accurate Online. Anda bisa mencoba dan menikmatinya sendiri secara gratis selama 30 hari dengan klik tautan gambar di bawah ini.accurate-200 ribu per bulan