Apa itu Lean Accounting? Ini Pengertian dan Penerapannya di Perusahaan!

Untuk Anda yang sudah lama bergelut dalam bidang akuntansi, pasti Anda sudah sangat akrab dengan istilah lean accounting. Tapi, apa sebenarnya lean accounting itu?

Berdasarkan laman Business Agility Insititute, lean accounting adalah konsep yang dibuat agar bisa mencerminkan performa keuangan perusahaan yang sudah menerapkan proses lean manufacturing dengan baik.

Proses penerapan lean accounting ini bisa mencakup pengorganisasian biaya dengan menggunakan teknik value stream, yakni teknik penilaian persediaan dan memodifikasi laporan keuangan agar bisa memasukkan informasi non keuangan.

Penerapan lean accounting ini pada dasarnya sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berterima Umum atau PABU, karena pelaporannya pun berbasis akrual dan biaya yang dilaporkannya juga biaya yang sifatnya aktual.

Hal tersebut tentunya berbeda dengan pelaporan akuntansi konvensional yang masih menggunakan standar biaya yang mana didalamnya masih harus dikonversi pada biaya aktual.

Pengaplikasian Lean Accounting di Dalam Perusahaan Manufaktur

Akuntansi tradisional pada dasarnya masih menerapkan activity-based costing, penerapan biaya standar, penetapan harga jual dengan berdasarkan harga pokok, dan penerapan lainnya yang diklaim masih terasa kurang efisien. Disisi lain, lean accounting sudah menggunakan value stream costing.

Sederhananya, metode value stream costing tersebut akan memotong jalur pengiriman barang dari hulu ke hilir yang umumnya akan melewati beberapa divisi fungsional. Dengan begitu, maka satu aliran sudah bisa mencakup biaya penjualan dan biaya pemasaran, produksi, desain hingga mengumpulkan uang kas yang berasal dari pelanggan.

Idealnya, setiap karyawan atau pegawai akan ditugaskan ke satu value stream daripada dibagi ke beberapa divisi.

Penilaian persediaan bahan baku juga nantinya akan terjadi perubahan dalam lean accounting. Pasalnya, fokus produksi hanya untuk memenuhi permintaan pelanggan saja, sedangkan kuantitas persediaan akan cenderung lebih rendah daripada operasi manufaktur tradisional. Sehingga, penilaian persediaan di dalam laporan neraca akan bisa dilakukan secara lebih cepat.

Baca juga: Apa itu Financial Accounting? Ini Pentingnya Untuk Perusahaan Anda!

Apa Perbedaan Lean Accounting dan Traditional Accounting

Lean Accounting akan cenderung lebih real time, laporan yang akan dihasilkan tidak harus menunggu setiap akhir bulan ataupun akhir minggu. Laporan bisa dihasilkan setiap penghujung hari. Hal tersebut akan membuat proses evaluasi menjadi lebih efektif.

Selain itu, di dalam traditional accounting, persediaan bahan baku akan dianggap sebagai aset. Sedangkan lean accounting akan melihat persediaan bahan baku sebagai kewajiban. Itu artinya, persediaan harus bisa dimanfaatkan dengan baik dan jangan sampai menjadi waste produk atau persediaan yang sia-sia karena tidak digunakan.

Banyak juga perusahaan manufaktur besar ataupun menengah yang sudah menerapkan lean accounting dan lean manufacturing. Dengan adanya kedua metode tersebut, diharapkan proses produksi suatu perusahaan manufaktur dan pelaporan akuntansi bisa berjalan secara lebih efisien dan lebih efektif.

Baca juga: Apa itu Akuntansi Konvensional? Apa Bedanya dengan Akuntansi Syariah?

Penerapan Lean Accounting dalam Pelaporan Keuangan

Di dalam metode lean accounting, pengumpulan pendapatan dan beban akan dilakukan dengan berdasarkan value stream costing. Umumnya, laporan laba rugi value stream ini dibuat setiap seminggu sekali oleh stream manager agar bisa mengendalikan dan memangkas biaya.

Suatu perusahaan mungkin saja memiliki beberapa value stream produk baru, value stream penghasil pendapatan, kelompok orang yang mendukung kegiatan value stream, tapi posisinya tidak berada di dalam value stream, seperti manajer pabrik, manajer divisi, staf personalia, staf sistem informasi, dan lain sebagainya.

Umumnya, biaya staf pendukung ini akan relatif lebih kecil daripada biaya value stream. Untuk pelaporan eksternal, seperti pelaporan arus kas atau laporan laba rugi, value stream umumnya akan digabungkan dengan biaya staf pendukung yang nantinya akan mampu menghasilkan laporan keuangan departemen.

Beberapa penyesuaian terkadang harus dilakukan agar bisa membuat laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi berterima umum atau PABU, contohnya seperti penyesuaian perubahan persediaan dan laba atau rugi selisih kurs.

Salah satu aspek yang paling penting dalam pengendalian keuangan adalah melakukan evaluasi pada stok persediaan. Sehingga, pelaporan keuangan untuk pihak eksternal dengan menggunakan lean accounting sudah sesuai dengan PABU, bahkan dengan IAS atau international accounting standards.

Saat metode akuntansi tradisional diubah dengan menggunakan metode terbaru dari lean accounting, maka tidak akan ada perubahan akuntansi yang terjadi, karena laporan akuntansi dengan menggunakan lean accounting juga bisa menggunakan basis akrual, seperti yang sudah disyaratkan oleh PABU. Bahkan, seluruh hal yang dilaporkan di dalam lean accounting juga adalah biaya yang akrual.

Baca juga: Apa itu KAP Big Four? Ini Penjelasannya!

Aplikasi Lean Accounting

Dalam hal mengaplikasikan konsep lean accounting, Anda sudah tidak memerlukan lagi berbagai metode akuntansi manajemen tradisional, seperti activity-based costing, standard costing, analisis selisih, penentuan harga jual dengan berdasarkan harga pokok, sistem pengendalian transaksi yang kompleks, dan juga pelaporan keuangan yang membingungkan serta tidak tepat waktu.

Berbagai hal tersebut bisa digantikan dengan beberapa teknik lain, seperti menentukan harga pokok dengan berdasarkan beban langsung atau value stream, dan juga pelaporan keuangan yang lebih tepat waktu dengan menggunakan bahasa sederhana yang bisa dipahami oleh semua orang di dalam perusahaan.

Baca juga: Apa itu Jurnal Piutang? Ini Pengertian dan Cara Membuatnya!

Penentuan Value-Stream Cost

Setidaknya terdapat tiga jenis value stream, yakni value stream fulfillment, value stream produk baru, dan value stream marketing.

Value stream order fulfillment akan lebih fokus pada penyediaan produk yang ada saat ini di tangan pelanggan. Beberapa kegiatannya mencakup menerima pesanan, perpindahan, mengubah bahan baku menjadi produk yang bernilai, sampai produk tiba di tangan pelanggan.

Untuk value stream produk baru, di dalamnya lebih fokus pada mengembangkan produk baru untuk pelanggan baru. Sedangkan value stream marketing lebih fokus pada menyediakan produk yang ada saat ini untuk pelanggan baru.

Lean accounting akan melaporkan biaya dan juga laba dengan menggunakan value stream costing system, yang mana didalamnya berisi ringkasan sederhana terkait biaya langsung yang berasal dari value stream tersebut.

Biaya value stream juga bisa dikumpulkan setiap minggu dengan sangat sedikit atau tanpa adanya alokasi overhead, karena semua biaya yang dilaporkan akan dianggap sebagai biaya langsung, sehingga perhitungan harga pokok produk pun akan menjadi lebih akurat.

Hasilnya adalah, informasi keuangan akan lebih mudah untuk dipahami oleh semua orang yang bekerja di dalam value stream, sehingga keputusan yang didasarkan pada informasi tersebut nantinya akan menjadi lebih baik, dan terdapat juga akuntabilitas yang lebih jelas atas biaya dan juga profitabilitas values stream tersebut.

Namun, value stream costing system tetap memiliki kelemahan penugasan karyawan secara eksklusif dalam satu value stream kemungkinan besar akan sulit untuk dilakukan. Beberapa karyawan bisa saja bekerja dalam lebih dari satu value stream. Sehingga, pembebanan biaya harus terbagi lagi sesuai dengan proporsi waktu yang dihabiskan dalam value stream tertentu.

Lebih dari itu, akan tetap ada juga mereka yang berada di luar value stream, sehingga biayanya harus bisa dialokasikan pada semua value stream. Sehingga, biayanya harus dialokasikan pada semua values stream yang menikmati jasanya.

Kelemahan yang terakhir adalah values stream tidak praktikal bila diterapkan dalam seluruh jenis produk. Umumnya, penerapan values stream adalah pada kelompok tertentu saja.

Baca juga: Apa Itu IFRS di dalam Akuntansi?

Penutup

CI atau continuous improvement menjadi fokus bisnis masa kini yang mampu mendorong perkembangan industri manufaktur. Perusahaan yang menjadi pionir dalam menerapkan lean manufacturing adalah negara Jepang, yang mana tujuannya adalah menghilangkan pemborosan serta menciptakan nilai untuk pelanggan.

Perkembangan teknik tersebut diikuti juga dengan perkembangan akuntansinya. Lean accounting adalah pendekatan akuntansi yang dibuat untuk mendukung dan mendorong penerapan teknik lean manufacturing.

Dalam hal menentukan harga pokok produk, lean accounting akan menyajikan informasi biaya yang jauh lebih aktual, karena unsur alokasi sudah ditekan akibat dari digunakannya pendekatan value stream dalam hal menentukan biaya.

Dalam sisi menyajikan laporan keuangan untuk pihak eksternal perusahaan, lean accounting pun bisa tetap menjaga kesesuaian dengan menggunakan berbagai prinsip akuntansi yang bisa diterima secara umum, termasuk standar dari IAS atau International Accounting Standards.

Namun bila Anda masih bingung dalam menerapkan dan menyelesaikan kegiatan akuntansi dalam bisnis, Anda bisa menggunakan aplikasi bisnis dan akuntansi dari Accurate Online.

Aplikasi ini akan mencatat seluruh transaksi keuangan dan menyajikan lebih dari 200 jenis laporan keuangan pada Anda secara real-time, seperti laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan neraca, dan masih banyak lagi.

Bahkan, Accurate Online pun sudah dilengkapi dengan fitur bisnis lain yang saling terintegrasi, sehingga akan memudahkan Anda untuk melakukan penjualan dan pembelian, mengelola persediaan bahan baku, menyelesaikan administrasi perpajakan, dan masih banyak lagi.

Masih ragu dengan Accurate Online? Tenang, Anda bisa mencobanya lebih dulu selama 30 hari gratis dengan klik tautan gambar di bawah ini.

Lala

Seorang lulusan S1 ilmu akuntansi yang suka membagikan istilah, rumus, dan berbagai hal yang berkaitan dengan dunia akuntansi lewat tulisan.