Take Home Pay Adalah: Pengertian dan Cara Menghitungnya

Istilah take home pay atau THP sendiri seharusnya sudah sangat familiar oleh para pemilik perusahaan. Kenapa? Karena setiap karyawan yang diberikan slip gaji biasanya akan ada unsur THP di dalamnya. Bentuk perhitungan dari take home pay adalah melewati berbagai seluruh unsur pemotongan yang biasa dicantumkan di dalam slip gaji.

Untuk memberikan THP tersebut, maka pihak perusahaan harus memiliki performa keuangan yang baik. Sebagian besar orang biasanya akan berpikiran bahwa besaran nilai suatu perhitungan take home pay akan sama dengan upah minimum yang berlaku dan sesuai dengan setiap daerah. Tapi, sebenarnya take home pay adalah pembayaran yang diterima oleh karyawan dan juga memiliki cara perhitungannya tersendiri.

Nah, agar bisa memahami bagaimana cara menghitung take home pay secara tepat, maka pada kesempatan kali ini kami akan menjelaskan hal tersebut pada Anda. berikut ini adalah penjelasannya.

Take Home Pay Adalah

Pengertian umum dari take home pay adalah bentuk penghasilan yang diterima karyawan untuk bisa dibawa pulang secara langsung ke rumah. Namun dalam teorinya, take home pay adalah jumlah pembayaran utuh yang diterima karyawan setelah menambahkan berbagai pendapatan rutin.

Oleh karena itu, biasanya THP akan dihitung dan dikurangi dengan kebijakan yang memang sebelumnya sudah diatur oleh pihak pemerintah dan perusahaan, serta termasuk pendapatan insidentil atau komponen atas suatu pemotongan gaji.

Namun, kebanyakan masyarakat saat ini masih banyak yang keliru dan menyamakan THP dengan gaji pokok. Padahal, kedua hal ini sebenarnya sangatlah jauh berbeda dari sisi pengertian dan nominal yang diperoleh.

Baca juga: Cash Ratio Adalah: Pengertian, Fungsi, dan Cara Menghitungnya

Perbedaan Gaji Pokok Dengan Take Home Pay ?

Perbedaan yang terdapat pada gaji pokok dan take home pay sudah seharusnya Anda ketahui. Pada dasarnya, gaji pokok adalah komponen atas penghasilan yang akan diperoleh oleh karyawan. Sehingga, nominalnya akan ditetapkan pada tingkatan dan juga jenis pekerjaannya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, gaji pokok yang diberikan adalah minimal 75% dari jumlah gaji pokok dan juga tunjangan mereka.

Selain itu, sesuai yang sudah disinggung sebelumnya, Take home pay adalah bagian dari pendapatan rutin pada tiap bulannya. Namun, dalam besarannya, take home pay juga bisa didapatkan dari pendapatan rutin dan dari pendapatan insidentil yang mampu mengurangi berbagai komponen pemotongan.

Komponen gaji tersebut pada dasarnya sudah disepakati antar karyawan dan pihak perusahaan sebelum bekerja. Sehingga, gaji pokok tersebut adalah bagian dari gaji pokok tunjangan tetap dan juga tunjangan tidak tetap. Selain itu, jika dibandingkan dengan pendapatan insidentil, pendapatan yang diterima secara tidak tetap akan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti prestasi atas performa karyawan dan juga laba perusahaan.

Berbeda dengan gaji pokok bulanan, pendapatan insidentil tidak selalu bisa diterima setiap bulannya. Setiap karyawan mempunyai nominal dan perhitungan yang berbeda, seperti bonus dan uang lembur.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa take home pay adalah penghasilan yang akan diterima oleh karyawan yang sudah dikurangi dengan biaya pemotongan, seperti pajak penghasilan ataupun iuran BPJS, serta pada beban lainnya yang juga menjadi komponen potongan gaji atan utang karyawan.

Acuan Dalam Menghitung Take Home Pay

Take home pay memiliki cara perhitungannya tersendiri agar bisa menghindari segala bentuk kesalahpahaman yang terjadi antar karyawan dan juga staf keuangan perusahaan. Untuk itu, disarankan agar pihak perusahaan mampu menjelaskan dari awal terkait bagaimana ketentuan dan juga komponen yang berlaku pada perusahaan.

Disisi lain, jika mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 terkait upah, maka upah di Indonesia terdiri dari beberapa unsur, yaitu:

1. Gaji Pokok

Gaji pokok adalah upah paling mendasar yang harus dibayar oleh pihak perusahaan yang didalamnya harus disesuaikan dengan posisi, jabatan, serta jenis pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan. Pada umumnya, nominal gaji pokok sudah tertulis secara jelas di kesepakatan atau kontrak kerja.

2. Tunjangan Tetap

Tunjangan tetap adalah bayaran yang dilakukan oleh pihak perusahaan kepada karyawannya yang dibayarkan secara rutin. Tunjangan ini memiliki berbagai macam sesuai dengan kebijakan dari perusahaan, seperti tunjangan WFH atau Work from Home, tunjangan prestasi, dll.

3. Tunjangan Tidak Tetap

Tunjangan tidak tetap adalah bayaran yang dilakukan oleh pihak perusahaan kepada karyawannya serta keluarga karyawan yang sifatnya tidak tetap. Biasanya, tunjangan tidak tetap ini akan tetap dibayar dengan mengikuti satuan waktu yang berbeda dengan pemberian gaji tetap pada karyawan.

Setelah mampu mengetahui berbagai acuan dalam menghitung upah karyawan, maka Anda juga harus mengetahui adanya ketentuan Upah Minimum Provinsi yang diterapkan oleh perusahaan., jika kita mengacu pada Undang Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 89, maka upah minimum tersebut bisa langsung ditetapkan setiap satu tahun sekali agar mampu membangun kehidupan yang lebih layak.

Cara Menghitung Take Home Pay

Cara sederhana dalam menghitung take home pay adalah seluruh total nominal upah yang diperoleh oleh karyawan dalam setiap periode bulanan atau mingguan. Disisi lain, rumus yang bisa digunakan untuk menghitung take home pay ini sendiri tergantung dari pengertian dari upah itu sendiri. Jika kita mengacu pada Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (30), maka akan didapatkan informasi berupa:

“upah adalah hak pekerja yang bisa diterima dan juga dinyatakan ke dalam bentuk uang sebagai imbalan dari perusahaan kepada pihak pekerja yang sebelumnya sudah ditetapkan dan juga dibayar berdasarkan perjanjian, kesepakatan atau undang-undang yang berlaku, termasuk di dalamnya tunjangan bagi para pekerja atau keluarga atas suatu pekerjaan”

Tapi, arti upah secara keseluruhan dalam hal ini adalah harus ditambah dari pendapatan insidental yang selanjutnya harus dikurangi potongan atas kewajiban karyawan. Jadi, secara umum, berikut ini adalah rumus perhitungan take home pay:

Take home pay = (pendapatan rutin + pendapatan insidental) – (potongan BPJS + PPh 21 + potongan lainnya)

  • Studi Kasus Perhitungan THP 1

Sebut saja Doni memiliki gaji pokok sebanyak 7 juta rupiah perbulan. Pada bulan 2020, Doni mendapatkan potongan pinjaman dari pihak perusahaan sebanyak 70 ribu. Pada bulan yang sama pula, doni mampu mencapai target sehingga mendapatkan bonus sebanyak 4 juta rupiah.

Dalam studi kasus ini, maka akan cara perhitungannya adalah:

Take home pay = (Rp 7.000.000+ Rp 4.000.000) – (Rp 180.000 + Rp 70.000,- + Rp 100.000) = Rp10.650.000

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka take home pay yang bisa diperoleh oleh Doni adalah Rp10.650.000

  • Studi Kasus Perhitungan THP 1

Sebut saja Mawar Bekerja di PT ABC dengan gaji pokok yaitu 4 juta Rupiah. Mawar setiap bulan mendapatkan tunjangan makan sebanyak 800 ribu dan juga tunjangan BPJS ketenagakerjaan dan kesehatan sebanyak 200 ribu. Lantas, Mawar pun mendapatkan bonus sebanyak 5 juta. Dalam studi kasus ini, maka akan cara perhitungannya adalah:

Take home pay = Rp 4.000.000 + Rp800.000 + Rp200.000 + Rp5.000.000 = Rp10.000.000

Baca juga: Airway Bill Adalah: Pengertian dan Persamaannya dengan Faktur Pajak

Penutup

Masalah take home pay memang menjadi masalah dengan tingkat tantangan yang besar untuk setiap perusahaan, untuk itu harus dilakukan perhitungan yang tepat untuk menghindari berbagai kesalahpahaman yang ada. Selain itu, pihak perusahaan juga harus mampu meningkatkan engagement pada karyawannya.

Diatas kitas sudah membuat studi kasus tentang cara perhitungan take home pay yang bisa dilakukan oleh perusahaan. Umumnya, staff HR atau staff keuangan akan menghitung gaji karyawan secara lebih akurat agar mampu mendapatkan pendapatan gaji bersih karyawan.

Tapi, nantinya hal tersebut pasti akan menimbulkan kebingungan dan kesulitan dalam menghitung PPH dan BPJS kesehatan atau ketenagakerjaan. Selain itu, cara ini juga bisa digunakan untuk menetapkan laporan keuangan perusahaan.

Nah, di zaman serta digital seperti saat ini, kemungkinan besar setiap perusahaan akan memerlukan laporan keuangan yang modern dan sudah terintegrasi, salah satunya adalah menggunakan aplikasi akuntansi yang memiliki banyak fitur laporan keuangan.

Software akuntansi yang memiliki banyak fitur laporan keuangan tersebut adalah Accurate Online. Dengan menggunakan aplikasi ini, maka Anda bisa membuat berbagai laporan keuangan, seperti laporan perubahan modal, secara lebih mudah dan cepat.

Accurate Online juga akan memudahkan Anda dalam melakukan berbagai proses akuntansi yang rumit. Selain itu, Anda juga bisa mengelola stok barang, aset perusahaan, sampai dengan mengelola utang-piutang perusahaan secara instan. Tertarik? Anda bisa mencoba menggunakan Accurate Online secara gratis selama 30 hari melalui tautan pada gambar di bawah ini:

accurate 3

Lala

Seorang lulusan S1 ilmu akuntansi yang suka membagikan istilah, rumus, dan berbagai hal yang berkaitan dengan dunia akuntansi lewat tulisan.