Mengenal Strategi Buy The Dip dalam Dunia Cryptocurrency

Ketika memutuskan terjun dalam dunia investasi, penting bagi kita untuk memahami instrumen investasi yang akan dipilih, termasuk resiko untung rugi dan strategi yang akan digunakan. Terlebih dalam dunia cryptocurrency yang cenderung fluktuatif dan menawarkan berbagai resiko. Dalam hal ini, terdapat salah satu strategi yang banyak digunakan oleh trader dalam meraup keuntungan yang disebut dengan istilah buy the dip.

Istilah buy the dip sendiri mengacu pada sikap investor yang memborong suatu aset ketika harganya turun. Mereka menganggap bahwa penurunan harga bersifat sementara dan merupakan waktu yang tepat untuk mengakumulasi portofolio asetnya. Sehingga, saat harga aset tersebut naik, mereka bisa mendulang keuntungan dalam jumlah banyak.

Namun, layaknya strategi lain, buy the dip juga memiliki resiko disamping keuntungan yang ditawarkannya. Apa sajakah resiko kerugian tersebut? Sebelum menjawabnya, mari bahas lebih lanjut mengenai pengertian dan waktu yang tepat untuk menerapkan strategi tersebut.

Apa Itu Strategi Buy The Dip?

Buy the dip adalah strategi trading berupa pembelian aset ketika harganya mengalami penurunan. Strategi ini meyakini bahwa harga aset yang mencapai titik rendah nantinya akan mengalami kebangkitan dan harganya akan meningkat ke nilai yang lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan konsep pada teori gelombang harga (price waves).

Biasanya, harga yang turun dari tingkat tertinggi ini dianggap sebagai sebuah peluang oleh trader dan investor untuk membeli atau menambah jumlah aset yang mereka miliki. Dimana mereka mengharapkan terjadinya rebound atau kembali naiknya harga ke titik yang lebih tinggi.

Namun, terlepas dari teori gelombang harga, strategi ini memiliki beberapa konteks dan peluang yang berbeda, yang sesuai dengan kondisi pasar. Namun, strategi ini dianggap lebih aman bila digunakan saat pasar mengalami bull atau stagnan.

Baca juga: Airdrop, Ini Pengertian dan Perannya Dalam Mata Uang Crypto

Waktu Buy The Dip yang Tepat

Lantas, kapan waktu yang tepat untuk menerapkan strategi buy the dip? Jawabannya adalah tidak ada. Sebab, tidak ada seorang pun yang bisa menentukan kapan waktu yang tepat untuk melakukannya.

Namun, Anda bisa melakukan analisi untuk menentukan apakah aset yang sedang mengalami penurunan harga atau anjlok memiliki kemungkinan untuk merangkak naik kembali. Misalnya, dengan membaca riset dan rekomendasi yang ada di laporan analisis finansial.

Anda juga bisa menerapkan strategi lain, salah satunya dengan random walk theory. Strategi ini mengacu pada fluktuasi harga saham sebuah aset selama sehari penuh. Dimana harga saham bisa naik turun selama beberapa kali dalam sehari, yang ketika harganya anjlok, itulah saat yang tepat untuk membelinya.

Namun, ketika Anda membelinya, janganlah beli secara sekaligus. Belilah secara bertahap saat harganya turun. Tujuannya ialah untuk menciptakan posisi dan dapat membeli lebih banyak saat harga jauh turun di bawah rata-rata.

Tunggu pula hingga harga aset cenderung tenang dan menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan.

Baca juga: Trading Crypto: Pengertian, Cara Kerja, dan Tips Melakukannya

Keuntungan dan Resiko Strategi Buy The Dip

Seperti telah disebutkan sebelumnya, strategi buy the dip juga sama dengan strategi lain yang tidak bisa menjamin Anda akan terhindar dari resiko dan selalu mendapatkan keuntungan. Sebab, aset dapat turun karena berbagai alasan, termasuk perubahan pada nilai dasarnya (underlying).

Hanya karena harganya lebih murah dari sebelumnya, tidak dapat disimpulkan secara langsung bahwa aset tersebut mewakili nilai yang baik. Anda harus bisa membedakan penurunan harga yang bersifat sementara dan sinyal peringatan bahwa harga akan jatuh hingga titik terbawah.

Oleh karena itu, penting bagi trader maupun investor untuk mempelajari beberapa aspek teknis lainnya, seperti moving averages, level support RSI, dan volume perdagangan.

Dari pembelajaran aspek teknis ini, Anda dapat mengetahui seberapa rendah harga suatu aset dan kapan pemulihan akan terjadi. Pada akhirnya, strategi buy the dip dapat menjadi strategi pilihan dengan tingkat keberhasilan yang tinggi.

Baca juga: Apa Itu Decentralized Applications (DApps) dan Hubungannya dengan Cryptocurrency

Penutup

Buy the dip bisa disebut juga sebagai sebuah kesempatan untuk membeli suatu aset saat harganya turun dengan harapan bahwa hal tersebut tidak akan berlangsung lama. Harga aset diharapkan akan kembali naik dan perusahaan yang jatuh akan segera bangkit, sehingga pembeli aset dapat meraih keuntungan.

Sejatinya, hampir semua investor bisa menerapkan strategi ini, baik mereka yang suka melakukan trading cepat ataupun investor jangka panjang. Begitu pun dengan jenis instrumen investasi yang dipilih, tidak hanya kripto, melainkan juga saham dan instrumen investasi lainnya.

Namun, karena tidak ada yang tahu berapa lama penurunan harga ini akan berlangsung, Anda harus cekatan dalam menganalisis aset tersebut untuk segera memutuskan akan membelinya atau tidak.

Jangan lupakan juga bahwa setiap keputusan finansial akan selalu mengandung resiko, sekecil apapun itu. Karena itu, penting untuk mengelola keuangan Anda dengan benar dan menganggarkan kebutuhan sesuai kemampuan. Dalam hal pengelolaan keuangan, Anda bisa menggunakan software akuntansi dan bisnis seperti Accurate Online.

Accurate Online menawarkan kemudahan pengelolaan dan pembuatan laporan keuangan secara lebih cepat, akurat, dan otomatis melalui lebih dari 200 jenis template laporan keuangan dan bisnis yang disediakannya. Berbagai fitur dan keunggulan juga tersedia secara lengkap dan mudah untuk digunakan bahkan bagi para pemula.

Ratusan ribu pebisnis di Indonesia juga telah mempercayai Accurate Online dalam membantunya mencapai kesuksesan finansial dan keberlangsungan bisnisnya.

Jika Anda tertarik untuk mencoba Accurate Online, silahkan klik tautan gambar di bawah ini dan nikmati secara gratis selama 30 hari.

ibnu

Lulusan S1 Ekonomi dan Keuangan yang menyukai dunia penulisan serta senang membagikan berbagai ilmunya tentang ekonomi, keuangan, investasi, dan perpajakan di Indonesia