Deflasi Adalah Kebalikan Dari Inflasi. Berikut adalah Pengertian, Jenis dan Contohnya

Fenomena-fenomena ekonomi merupakan yang patut dan menarik untuk diulas lebih jauh. Seperti yang diketahui bersama, fenomena ekonomi memberikan dampak yang besar dalam sektor kehidupan manusia salah satunya adalah deflasi.

Deflasi sendiri adalah salah satu fenomena ekonomi yang memiliki dampak yang luar biasa bagi perekonomian manusia, baik yang bersifat positif atau negatif.

Pengertian Deflasi

Bagi mereka yang tidak berasal dari dunia perekonomian atau tidak sering membahas tentang masalah ekonomi, deflasi adalah hal yang terdengar asing jika dibandingkan inflasi. Meskipun sering di bahas di berbagai siaran berita di TV dan media massa lainnya belum tentu mereka paham mengenai deflasi itu sendiri. Untuk itu mari membangun konsep mengenai pengertian deflasi.

Deflasi adalah keadaan yang menunjukkan penurunan harga suatu barang atau jasa terus menurun dalam kurun waktu yang relatif singkat. Turunnya harga suatu barang atau jasa berimbas pada sektor lain seperti menurunnya upah pekerja. 

Namun disisi lain, terjadinya deflasi dianggap hal yang menguntungkan bagi beberapa kalangan dalam kehidupan sehari-hari. Adanya deflasi adalah jalan yang dianggap bisa menghemat pengeluaran lebih banyak dibanding sebelumnya. 

Namun ternyata deflasi bukan hal yang baik jika ditinjau dari kacamata ekonomi yang bisa menimbulkan kekacauan. Untuk itu keadaan seperti ini harus segera diatasi agar tidak menimbulkan permasalahan ekonomi yang bisa mengganggu keseimbangan perekonomian berkelanjutan.

Kebalikan dari deflasi adalah inflasi yang merupakan kebalikan kondisi yang ditunjukkan oleh deflasi. Inflasi adalah kondisi dimana terjadi peningkatan harga secara terus menerus pada suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu. Suatu kondisi dapat dikatakan sebagai inflasi jika kenaikan harga terjadi secara meluas dan berimbas pada harga barang lainnya.

Baca juga : Mengetahui Rumus Pendekatan Pendapatan Guna untuk Penghitungan

Jenis-Jenis Deflasi

Setelah membahas mengenai pengertian deflasi, selanjutnya akan dibahas mengenai jenis-jenis dari deflasi. Jenis deflasi secara umum dibagi menjadi dua bagian yaitu deflasi strategis dan deflasi sirkulasi. Pembagian deflasi berdasarkan jenis dapat membantu pembaca dalam memahami deflasi lebih jauh dan mengetahui penyebab timbulnya deflasi.

1. Deflasi Strategis

Deflasi strategis merupakan deflasi yang timbul karena adanya penetapan kebijakan mengenai pengendalian gejala konsumsi berlebihan. Kondisi ini diyakini dapat menekan kenaikan harga produk di pasaran. 

Kebijakan-kebijakan oleh pemerintah nyatanya tidak dapat menekan konsumsi berlebihan pada masyarakat, justru menyebabkan penurunan harga yang justru meningkatkan konsumsi masyarakat.

Salah satu penyebab dari deflasi strategis adalah adanya kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Sentral dan pemerintah. Banyak negara yang mengalami deflasi akibat kebijakan Bank Sentral yang mengatur perekonomian suatu negara. 

Kebijakan ini merupakan kebijakan yang menurunkan tingkat suku bunga yang mempermudah konsumen mendapatkan pinjaman dari Bank. Hal ini membuat produsen berlomba-lomba menyimpan uang mereka di Bank dengan harapan memperoleh bunga yang besar. 

Namun hal ini membuat peredaran uang menjadi langka dan menyebabkan harga terus menurun dan kondisi perekonomian negara menjadi tidak stabil. Deflasi yang terus menerus terjadi bisa melumpuhkan aktivitas di sektor industri dan manufaktur.

Baca juga : Mengetahui Secara Lengkap Apa Itu Pasar Persaingan Tidak Sempurna

2. Deflasi Sirkulasi

Jenis selanjutnya yang akan dibahas adalah deflasi sirkuler. Deflasi ini disebabkan oleh kondisi yang tidak stabil dalam kondisi perekonomian. Berlangsung dalam transisi kondisi ekonomi stabil ke ekonomi merosot membuat kondisi ini cukup meresahkan.

Deflasi sirkulasi muncul karena konsumsi dan daya produksi dalam suatu negara tidak lagi menunjukkan keseimbangan. Hal ini menyebabkan harga produk mengalami kemerosotan di pasaran pada resesi ekonomi. 

Kondisi ini diawali dengan penurunan signifikan terhadap kebutuhan masyarakat pada barang ekonomis yang menimbulkan harga menurun drastis. Salah satu yang menyebabkan hal ini terjadi adalah produksi barang yang serupa dalam jumlah yang berlebihan. 

Seperti yang terjadi pada tahun 2008 dimana banyak negara yang memproduksi minyak mentah secara berlebihan. Hal ini menyebabkan harga minyak menjadi turun drastis dan tidak bisa dikendalikan dan menyebabkan banyak negara mengalami deflasi.

Baca juga : Pengertian Surat Perjanjian Hutang, Manfaat, Contohnya dan Cara Membuatnya

Contoh Deflasi

Melihat pembahasan mengenai deflasi sebelumnya pembaca diharapkan memiliki gambaran mengenai seperti apa deflasi itu. Namun alangkah lebih baik jika ada contoh kasus yang digunakan untuk meningkatkan pemahaman terhadap deflasi. Simak lebih lanjut mengenai contoh-contoh deflasi yang terjadi berikut ini.

1. Penurunan Harga Komoditas Makanan dan Bumbu-Bumbu di Indonesia

Pada akhir tahun 2019 lalu, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,27% pada bulan September. Hal ini terjadi karena sejumlah besar komoditas makanan dan bumbu-bumbu seperti ayam, cabai merah, cabai rawit dan telur mengalami penurunan harga. Tercatat ada 82 kota di Indonesia yang mengalami kondisi yang sama.

Baca juga : Pengertian Inflasi, Penyabab, Dampak, Penghitungannya, dan Cara Mengatasinya

2. Harga Komoditas Anjlok di Romania

Tahun 2008 lalu tepatnya setelah terjadi krisis finansial secara global, negara Eropa mengalami deflasi yang cukup parah. Salah satu negara di Eropa yang menerima dampak yang cukup besar dari deflasi adalah Rumania yang biasanya memiliki kondisi ekonomi yang stabil. 

Deflasi yang dialami oleh Romania pada tahun 2016 lalu bahkan mencapai angka 3,6%. Penyebab utama dari deflasi adalah karena produksi minyak mentah yang melimpah pada saat itu. 

Banyak negara yang berlomba-lomba memproduksi minyak mentah untuk diolah menjadi bahan bakar untuk keperluan industri. Produksi minyak secara berlebihan itu justru membuat harga minyak mentah anjlok dan berimbas pada harga komoditas di Romania pun ikut anjlok.

3. Deflasi di Siprus

Negara Eropa yang juga mengalami dampak deflasi akibat anjloknya harga minyak dunia adalah Siprus. Angka deflasi pada tahun 2015 di Siprus mencapai 3,4%, 0,4% lebih rendah dari Rumania namun berdampak besar juga. Siprus yang menggantungkan perekonomian negara pada sektor industri migas, angkutan logistic laut, dan pariwisata harus menelan kesulitan.

Baca juga : Pengertian Inflasi, Penyabab, Dampak, Penghitungannya, dan Cara Mengatasinya

4. Deflasi di Yunani

Selain Siprus, negara Eropa yang merasakan dampak deflasi pada negaranya adalah Yunani. Negara yang populer dengan kisah dewa dewi ini harus menerima imbas dari deflasi. Sempat mengalami deflasi di tahun 2008, Yunani kembali mengalami krisis finansial di tahun 2015. Angka 2,9% menunjukkan besarnya deflasi yang dialami oleh negara ini.

5. Perluasan Revolusi Industri Dunia

Pada abad ke-19 akhir, banyak bermunculan teknologi-teknologi dalam berbagai industri untuk meningkatkan produksi. Hal ini membuat mereka berlomba-lomba memproduksi barang dalam jumlah berlebihan yang justru mendatangkan dampak yang besar. Saat itu pasokan barang meningkat secara signifikan dan membuat harga barang justru semakin menyusut dan menyebabkan deflasi secara global.

6. Jepang Terjebak dalam Spiral Deflasi Selama 30 Tahun

Meskipun menjadi negara yang memiliki berbagai teknologi rupanya tidak dapat menghindarkan Jepang dari deflasi. Sejak tahun 1989 tepatnya suku bunga dinaikkan oleh Bank of Japan. Dari tahun tersebut pertumbuhan ekonomi Jepang melambat bahkan tidak mencapai 2%. Hal ini menyebabkan produktivitas pekerja menurun dan kegemaran masyarakat menabung.

Baca juga : 10 Komponen dalam Perencanaan Usaha

Kesimpulan

Nah itulah informasi seputar pengertian deflasi, jenis, dan contohnya yang menjadi pembahasan kali ini. Deflasi adalah keadaan yang menunjukkan penurunan harga suatu barang atau jasa terus menurun dalam kurun waktu yang relatif singkat.

Berbeda dengan inflasi, deflasi yang tinggi sebenarnya sangat jarang terjadi pada suatu Negara. Hal ini dikarenakan jika tingkat deflasi tinggi makan daya beli masyarakat mulai mengkhawatirkan.

Semoga ulasan kali ini dapat menjadi sumber pengetahuan dan menjadi bahan referensi yang bermanfaat bagi pembaca.

Jika Anda adalah seorang pemilik bisnis yang sedang kesulitan melakukan pembukuan atau sedang mencari software pembukuan yang tepat untuk usaha, Anda bisa mencoba menggunkan Accurate Online.

Accurate Online adalah software akuntansi online yang memiliki fitur terlengkap dan harga terjangkau. Hanya dengan 200 ribu perbulan, Anda bisa dengan memudah memantau stok, mencatat penjualan dan pembelian, penghitungan dan pelaporan pajak otomatis, melakukan pemantauan banyak cabang, hingga membuat lebih dari 200 jenis laporan keuangan saecara otomatis.

Jika Anda tertarik menggunakan Accurate Online, Anda bisa mencobanya secara gratis selama 30 hari melalui tautan pada gambar di bawah ini :

accurate fokus pengembangan

 

ibnu

Lulusan S1 Ekonomi dan Keuangan yang menyukai dunia penulisan serta senang membagikan berbagai ilmunya tentang ekonomi, keuangan, investasi, dan perpajakan di Indonesia