Quantitative Easing Adalah Salah Satu Kebijakan Moneter, Ini Penjelasannya!

QE atau Quantitative easing adalah salah satu istilah ekonomi yang sangat tidak terkenal di kalangan masyarakat umum. Walaupun begitu, istilah ini bukanlah hal yang baru untuk mereka yang fokus pada berbagai kebijakan pemerintah, khususnya pada bidang perekonomian.

Kebijakan quantitative easing ini seringkali menjadi kontroversi bagi mereka, yang mana sebagian mengklaim sebagai suatu solusi, namun sebagian lainnya mengklaim sebagai sumber masalah.

Salah satu contoh sederhananya adalah seperti yang terjadi belakangan ini, untuk menghadapi dampak perekonomian karena pandemi Covid-19 dan menekan dampaknya, makan Bank Indonesia sebagai pihak yang independen memberlakukan Quantitative Easing hingga 300 triliun rupiah.

Lantas, apa itu quantitative easing? Temukan jawabannya dengan membaca artikel tentang Quantitative Easing ini hingga tuntas.

Pengertian Quantitative Easing

Jadi, quantitative easing adalah suatu kebijakan moneter yang diterapkan oleh bank sentral guna meningkatkan jumlah uang yang sedang beredar agar bisa meningkatkan tingkat perekonomian dengan cara membeli berbagai aset jangka panjang berbentuk surat berharga pemerintah ataupun bank komersial.

Kebijakan moneter seperti ini ditempuh dengan alasan menciptakan inflasi sampai mencegah terjadinya risiko deflasi.

Di dalam kebijakan quantitative easing, pihak bank sentral nantinya akan meningkatkan jumlah uang beredar di pasar dan mendorong setiap bank komersial untuk mau memberikan pinjaman atau kredit, baik itu untuk usaha ataupun untuk konsumtif pada perusahaan dan juga masyarakat.

Untuk itu, dalam penerapan kebijakan moneter ini nantinya akan terjadi penurunan tingkat suku bunga jangka pendek, bahkan bisa sampai menyentuh angka 0%.

Harapannya adalah, rendahnya suku bunga mampu mendorong perusahaan dan masyarakat untuk mau melakukan peminjaman ataupun kredit. Meningkatnya tingkat kredit diharapkan mampu meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat secara mikro ataupun makro.

Lebih lanjut lagi, tingkat konsumsi setiap masyarakat dan perusahaan juga diharapkan akan meningkat. Dengan begitu, kegiatan usaha masyarakat dan perusahaan akan mampu memperbaiki dan bahkan meningkatkan perkembangan ekonomi negara secara luas.

Baca juga: Hiperinflasi: Pengertian, Faktor dan Contoh Negara yang Terkena Hiperinflasi

Alasan Perlunya Dilakukan Quantitative Easing

Adanya kelesuan dan juga krisis ekonomi menjadi alasan utama diperlukannya kebijakan quantitative easing. Saat perekonomian negara sedang krisis, beberapa sektor bisnis sedang lesu, tingkat pengangguran meningkat, tingkat permintaan sedang rendah, sudah bisa dipastikan tingkat pendapatan masyarakat pun akan rendah.

Dengan melakukan kebijakan quantitative easing, jumlah peredaran uang di masyarakat akan meningkat dan disertai dengan menurunnya tingkat suku bunga jangka pendek pada level yang bisa menyentuh angka 0%.

Tujuannya adalah masyarakat dan perusahaan bisa mengajukan pinjaman jangka pendek dengan bunga yang rendah. Pemberian pinjaman pada perusahan dan masyarakat ini diharapkan mampu mendorong tingkat pengeluaran ataupun meningkatkan konsumsi masyarakat.

Bila kondisi tersebut sudah terjadi, maka tingkat permintaan ataupun belanja masyarakat pada berbagai barang pun akan meningkat. Kondisi tersebut juga akan meningkatkan kembali kegiatan produksi agar mampu memenuhi permintaan masyarakat. Sehingga, perekonomian pun akan perlahan-lahan stabil sesuai dengan yang diharapkan.

Dampak Quantitative Easing Terhadap Perekonomian Global

Kebijakan moneter quantitative easing yang diberlakukan oleh suatu negara tertentu akan berdampak pada perekonomian global.

Meningkatnya jumlah uang yang beredar di pasar akan dialokasikan untuk melakukan pembelian surat berharga dan menyalurkan pinjaman yang tidak hanya mampu menjangkau pasar nasional saja, tapi juga mampu merambah pada pasar internasional, bahkan hubungan bilateral pada tiap negara di sektor ekonominya.

Jadi pada prinsipnya, quantitative easing akan memberikan pengaruh positif pada indeks harga saham.

Banyaknya jumlah uang dalam peredaran juga berpotensi mampu meningkatkan investasi, sehingga akan mampu menyebabkan capital inflow, yaitu aliran modal yang masuk berkaitan dengan pembelian berbagai surat berharga. Bila tingkat pengembalian yang ditawarkan ternyata cukup tinggi, maka nilai capital inflow ini akan menjadi pemicu terjadinya inflasi.

Selain itu, derasnya arus investasi yang tidak bisa diimbangi dengan peningkatan sektor riil akan beresiko menyebabkan masalah baru, yaitu capital flight, khususnya pada negara-negara berkembang.

Kelemahan Quantitative Easing

Bila bank sentral meningkatkan jumlah peredaran uang, maka hal tersebut akan menyebabkan inflasi. Dalam skenario yang paling buruk, bank sentral bisa melahirkan inflasi dengan kebijakan QE tanpa adanya perkembangan ekonomi, yang mampu menyebabkan suatu periode yang biasa disebut dengan stagflasi.

Bila peningkatan jumlah uang yang beredar init tidak berhasil melalui bank dan masuk ke dalam perekonomian negara, maka kebijakan QE tidak akan efektif, kecuali bila digunakan hanya untuk memfasilitasi pengeluaran defisit atau kebijakan fiskal.

Dampak lainnya adalah QR mampu mendevaluasi mata uang domestik. Untuk produsen, hal ini akan membantu merangsang perkembangan karena barang yang nantinya akan diekspor akan menjadi lebih murah di pasar internasional. Tapi, penurunan nilai mata uang ini akan membuat kegiatan impor menjadi lebih mahal dan bisa meningkatkan biaya produksi dan tingkat harga konsumen di pasar.

Apakah QE Efektif?

Bila kita lihat dari program QE yang dilakukan oleh pihak Federal Reserve AS di tahun 2008, The Fed kala itu meningkatkan jumlah peredaran uang sebanyak 4 triliun dolar Amerika. Itu artinya, sisi aset neraca The Fed akan berkembang secara signifikan saat membeli obligasi, hipotek, ataupun aset lainnya. Liabilitas milih The Fed, khususnya cadangan pada berbagai Bank AS, tumbuh dengan nilai yang sama.

Sebagian besar para pakar ekonom meyakini bahwa program dari The Fed membantu menyelamatkan perekonomian AS dan Global setelah krisis keuangan yang terjadi pada tahun 2008. Tapi, peranan yang besar dalam pemulihan selanjutnya menjadi lebih diperdebatkan dan tidak mungkin bisa diukur.

Berbagai bank sentral lainnya pun telah berusaha untuk menetapkan QE guna melawan resesi dan deflasi, namun hasilnya tidak jelas.

Sekali lagi, tujuan utama dari ditetapkannya quantitative easing ini adalah mampu membantu masyarakat. Selain itu, masyarakat juga diharapkan mampu memahami kebijakan ini guna menambah pasokan uang melalui adanya pencetakan uang secara lebih terkontrol. Di satu sisi, quantitative easing ini memang bisa dijadikan solusi, tapi bila tidak dilakukan dengan hari-hati, maka kelak akan menyebabkan masalah.

Saat ini, pihak pemerintah Indonesia terus memberikan stimulus yang dilakukan dengan tepat dan sesuai sasaran. Tujuannya adalah untuk meningkatkan konsumsi masyarakat dan juga menopang keberlangsungan UKM di Indonesia.

Contoh Negara yang Melakukan Quantitative Easing

Ada banyak sekali negara yang sudah menerapkan kebijakan quantitative easing. Beberapa diantaranya ada yang berhasil, tapi ada juga yang tidak. Namun pada kesempatan kali ini, kita akan membahas Amerika Serikat dan Indonesia saja.

  • Amerika Serikat

Sebagai negara Adidaya, Amerika juga pernah mengalami krisis ekonomi. Agar bisa menghadapinya, bank sentral Amerika, yaitu US Federal Reserve atau The Fed telah melakukan kebijakan moneter pelonggaran kuantitatif sebanyak 3 tahapan.

Oleh karena itu, negara ini menjadi yang paling sering menerapkan kebijakan quantitative easing. Amerika mengalami krisis ekonomi yang disebabkan oleh adanya penurunan tingkat konsumsi dalam negeri, menurunnya sektor properti, serta meningkatnya jumlah pengangguran.

Lalu, The Fed memberlakukan kebijakan quantitative easing yang sampai saat ini sudah dilakukan sebanyak 3 hali.

  1. Quantitative easing yang pertama dilakukan pada periode November sampai Maret 2010. Saat itu The Fed memberikan kucuran dana sebanyak $1.650 triliun guna membeli berbagai surat berharga dengan jangka panjang.
  2. Quantitative easing tahap kedua dilakukan pada periode November 2010 sampai bulan Juni 2011. Dalam periode ini, The Fed memberikan kucuran dana sebanyak $600 miliar guna membeli utang.
  3. Sedangkan untuk tahap ketiga, dilakukan dalam periode September 2012. Artinya berselang dua tahun dari tahap kedua. Saat itu, The Fed memberikan kucuran dana sebanyak $85 miliar untuk membeli surat utang.
  • Indonesia

Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini sangat mempengaruhi kondisi perekonomian dunia, termasuk Indonesia. sudah banyak sekali sektor perekonomian yang mengalami kelumpuhan saat kondisi seperti ini.

Lantas, bank sentral Indonesia pun melakukan kebijakan QE dengan meningkatkan jumlah peredaran uang di masyarakat. Hal tersebut diharapkan mampu memberikan kemudahan dalam melakukan pinjaman dan juga suku bunga yang lebih rendah yang bisa digunakan oleh para pebisnis UKM agar bisa terus berjalan saat kondisi seperti saat ini.

Selain itu, pihak pemerintah juga berharap kebijakan ini mampu membantu UKM untuk bisa selalu bertahan dalam membantu perekonomian di Indonesia.

Baca juga: Ekonomi Deskriptif: Pengertian, Ciri-Ciri Dan Contohnya

Penutup

Demikianlah penjelasan dari kami tentang quantitative easing. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa quantitative easing adalah suatu kebijakan moneter yang diterapkan oleh bank sentral guna meningkatkan jumlah uang yang sedang beredar agar bisa meningkatkan tingkat perekonomian dengan cara membeli berbagai aset jangka panjang berbentuk surat berharga pemerintah ataupun bank komersial.

Bila Anda adalah salah satu orang yang mampu menikmati adanya kebijakan quantitative easing dan memperoleh pinjaman dari pihak perbankan dengan bunga yang rendah, maka ada baiknya Anda mencatat dana pinjaman tersebut dan mengelolanya secara rapi dan tepat.

Nah, untuk membantu Anda dalam mengelola dana keuangan perusahaan, Anda bisa menggunakan software akuntansi dari Accurate Online.

Aplikasi ini dikembangkan dengan basis cloud system yang memungkinkan Anda untuk mengelola keuangan dan mendapatkan laporan keuangan yang Anda butuhkan kapanpun dan dimanapun Anda berada. Selain itu, fiturnya pun sangat lengkap, dan Anda tidak memerlukan biaya tambahan untuk bisa menikmati berbagai fitur tersebut.

Tertarik? Anda bisa menggunakan Accurate Online secara gratis selama 30 hari dengan klik tautan gambar di bawah ini.accurate 200 ribu perbulan