Mengenal Metode FEFO dan Perbedaannya dengan FIFO, LIFO dan Average

Dalam dunia bisnis, metode pencatatan persediaan tidak bisa dilepaskan dari FIFO, FEFO, LIFO, dan Average. Keempat metode tersebut telah dikenal luas di dalam industri bisnis untuk kebutuhan laporan persediaan barang. FIFO sendiri adalah singkatan dari First In First Out, sedangkan FEFO adalah singkatan dari First Expired First Out.

Beberapa pemilik perusahaan dagang, khususnya perusahaan yang menjual produk makanan, minuman atau obat-obatan, kerap kali kesulitan membedakan FIFO dan FEFO, bahkan LIFO dan Average. Padahal, keempat metode tersebut bisa digunakan untuk menentukan harga pokok penjualan dengan cara menganalisa jumlah produk yang masih disimpan di dalam gudang.

Lantas apa itu metode FEFO? Apa bedanya antara LIFO, FIFO, dan Average? Penasaran? Tenang, karena kami sudah merangkum jawaban tersebut pada artikel di bawah ini.

Apa itu Metode FEFO (First Expired First Out)

Sama seperti namanya, metode pencetatan persediaan FEFO dilakukan dengan cara menjual produk yang mengutamakan produk yang lebih cepat kadaluarsa. Jadi, metode ini akan memprioritaskan berbagai produk yang kadaluarsa atau expired untuk terlebih dahulu dijual daripada produk yang lainnya.

Contoh sederhana dari penerapan metode FEFO adalah pada industri toko obat-obatan dan dunia farmasi. Pihak pemilik perusahaan toko obat tersebut akan terlebih dahulu menjual obat yang mempunyai tanggal kadaluarsa paling cepat agar tidak mengalami kerugian.

Jadi, toko tersebut harus menempatkan obat yang masa kadaluarsanya paling cepat berakhir di barisan paling depan agar bisa cepat terjual atau diambil oleh pelanggan.

Baca juga: Apa itu Batch Picking? Ini Pengertian dan Sistem Kerjanya!

Apa Bedanya FEFO dengan FIFO, LIFO dan Average?

1. Metode FIFO

Pada metode FIFO, metode ini digunakan untuk menjual produk yang paling difavoritkan oleh pebisnis ritel. Karena saat barang masuk, maka barang tersebut harus cepat dijual atau dikeluarkan dari gudang. Keunggulan dari digunakannya metode ini adalah jumlah persediaan barang di gudang.

Contoh bisnis yang umumnya menggunakan metode FIFO adalah bisnis toko kue atau toko makanan. Produk yang pertama kali dibuat oleh pebisnis harus menjadi produk yang pertama kali dijual pada hari itu. Bila tidak, maka kue akan menjadi lebih mudah basi atau kualitasnya jadi berkurang.

2. Metode LIFO (Last In First Out)

Bila metode FIFO lebih mengutamakan menjual produk yang pertama kali dibuat. Maka metode LIFO justru akan menjual produk yang terakhir dibuat oleh perusahaan. Sedangkan untuk produk yang pertama kali dibuat akan disimpan untuk keperluan persediaan esok hari.

Metode LIFO ini diaplikasikan sebagai metode pencatatan persediaan yang berguna untuk bisa menghindari inflasi dan juga efisiensi dari pembayaran pajak.

Alasannya adalah karena pada saat terjadi, keuntungan yang didapat perusahaan akan menurun. Namun, operasional tidak ikut terkena dampak.

Contoh bisnis yang menggunakan metode LIFO adalah toko pakaian atau butik busana. Pakaian yang saat itu sedang mengalami banyak peminat harus terlebih dahulu dijual secara cepat. Sedangkan pakaian dengan model yang lama atau saat itu sedang tidak diminati oleh pelanggan akan disimpan di gudang.

3. Metode Average

Metode rata-rata atau average adalah suatu cara penjualan produk dengan cara mempertimbangkan biaya unit persediaan. Cara melakukan metode ini adalah dengan membagi nilai pada seluruh produk yang disimpan di dalam gudang dengan produk yang masih tersedia untuk dijual ke pelanggan.

Melalui perhitungan tersebut nantinya akan didapatkan nilai rata-rata setiap unit produk yang akan ditawarkan kepada pelanggan. Contoh bisnis yang menggunakan metode average ini adalah perusahaan yang menjual barang tanpa adanya tanggal atau masa kadaluarsa, seperti toko bahan bangunan, toko buku, toko furnitur, toko alat tulis sekolah atau alat tulis kantor, toko elektronik, dan lain sebagainya.

Baca juga: Apa itu LIFO? Ini Pengertian Lengkapnya!

Penutup

Demikianlah penjelasan dari kami tentang metode pencatatan persediaan FEFO dan perbedaannya dengan FIFO, LIFO, dan Average atau rata. Jadi, mengelola dan mencatat produk barang digudang memang memerlukan banyak waktu dan tenaga.

Prosesnya harus dilakukan secara teliti, karena bila tidak, maka bisa menimbulkan kekeliruan persediaan dan membuat perusahaan menjadi rugi. Hal tersebut bisa diperparah jika Anda masih melakukan cara yang manual.

Untuk itu, cobalah menggunakan aplikasi bisnis dan akuntansi dari Accurate Online untuk lebih mudah mencatat persediaan di perusahaan.

Dengan menggunakan Accurate Online, Anda tidak perlu khawatir dan pusing-pusing lagi dalam menghitung persediaan secara manual, karena aplikasi ini telah dilengkapi dengan pengelolaan persediaan secara otomatis.

Selain itu, aplikasi ini telah terintegrasi dengan fitur akuntansi, sehingga Anda bisa langsung mendapatkan lebih dari 200 jenis laporan keuangan secara otomatis, cepat dan akurat. Bila ada persediaan yang keluar, maka jumlah produk di gudang pun akan berkurang secara otomatis.

Jadi, Anda tidak perlu lagi menginput persediaan barang secara manual dan Anda bisa mendapatkan laporan persediaan secara rapi dan praktis. Performa karyawan Anda pun akan lebih produktif dan efisien.

Lebih dari itu, Accurate Online pun telah dilengkapi dengan fitur bisnis lain yang akan membantu Anda dalam melakukan kegiatan penjualan dan pembelian, menyelesaikan administrasi perpajakan bisnis, dan masih banyak lagi.

Bahkan, seluruh kelebihan dan fitur bisnis luar biasa dari Accurate Online ini bisa Anda nikmati dengan mengeluarkan biaya investasi yang sangat sederhana, yakni sebesar 200 ribuan saja perbulan.

Tertarik dengan Accurate Online? Tenang, Anda bisa lebih dulu mencobanya secara gratis selama 30 hari dengan klik tautan gambar di bawah ini.

anggimo

Seorang wanita lulusan sarjana manajemen bisnis dan akuntansi yang hobi menulis blog tentang manajemen bisnis secara spesifik.