Value Chain: Pengertian, Fungsi dan Strategi Menerapkannya

oleh | Mei 30, 2024

source envato.

Value Chain Adalah: Pengertian, Fungsi dan Strategi Menerapkannya

Pada dasarnya, rantai nilai atau value chain adalah serangkaian kegiatan bisnis yang mana pada setiap tahapan atau langkahnya mampu meningkatkan nilai atau pemanfaatan pada barang atau jasa yang diproduksi.

Mengutip Cambridge Institute for Sustainability Leadership, Value Chain Adalah bagian integral dari perencanaan strategis bagi banyak bisnis saat ini.

value chain adalah konsep yang mengacu pada siklus hidup penuh suatu produk atau proses, termasuk sumber bahan, produksi, konsumsi, dan proses pembuangan/daur ulang.

Orang yang pertama kali mengusulkan value chain adalah Michael Porter pada bukunya yang berjudul Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance yang kala itu diterbitkan di tahun 1985.

Di dalam buku tersebut terdapat kumpulan kegiatan bisnis yang bertujuan demi membuat dan membangun suatu nilai agar mampu menghasilkan margin nilai tambah untuk perusahaan.

Value chain pun mempunyai konsep analisa yang biasanya disebut dengan Analisis Rantai Nilai,

Yakni suatu kegiatan menganalisa kembali kunci proses bisnis yang berhubungan dengan entitas lainnya yang berada di luar perusahaan,

Seperti pihak pemasok, pelanggan, sampai dengan relasi antar entitas yang berada di dalam perusahaan.

Apa itu Value Chain?

Pengelompokan Value Chain Adalah

ilustrasi value chain adalah: fungsi dan strategi. source envato

Dalam suatu bisnis, value chain adalah proses yang akan membentuk suatu kerangka yang tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan juga menginventarisasi berbagai area fungsi bisnis.

Pengelompokkan ini dilakukan berdasarkan kegiatan utama dan juga pendampingan.

Dalam kegiatan utama dan pendampingan ini terdapat beberapa kategori yang bisa dimasukkan, seperti logistik.

Sedangkan untuk contoh kategori pendamping bisa dari pengembangan teknologi. Berikut ini adalah penjelasan lengkapnya.

1. Kegiatan Utama (Primary Activities)

Kegiatan utama dalam value chain adalah seluruh kegiatan bisnis yang mampu menciptakan nilai untuk para pelanggan dalam menyajikan sesuatu yang mampu menunjukkan keistimewaan perusahaan di pasar.

Kegiatan utama ini dinilai sebagai kegiatan yang penting dalam menjalankan bisnis.

Beberapa kegiatan perusahaan yang termasuk dalam kategori utama adalah sebagai berikut:

  • Inbound logistics, adalah suatu kegiatan perusahaan yang berkaitan dengan penyimpanan, penerimaan dan juga menyebarkan produk.
  • Operation, yakni suatu kegiatan yang merubah produk bahan baku menjadi produk akhir.
  • Outbound logistic, adalah suatu kegiatan perusahaan yang berkaitan dengan menyebarkan produk ataupun jasa kepada pelanggan.
  • Marketing and sales, adalah suatu kegiatan yang berkaitan dengan pemasaran dan juga penjualan seperti promosi, dll.
  • Service, adalah suatu kegiatan yang berkaitan dengan menyediakan layanan agar bisa lebih meningkatkan pemeliharaan suatu produk, seperti perawatan, perbaikan, dan juga pelatihan.

2. Kegiatan Pendukung (Support Activities)

Kegiatan pendukung dalam value chain adalah suatu kegiatan perusahaan yang bertujuan dalam memberikan aktivitas guna mencapai kegiatan utama perusahaan.

Dalam hal ini, kegiatan pendukung adalah penunjang dari kegiatan utama, yang mana tanpa adanya kegiatan ini maka akan membuat kegiatan utama menjadi kurang maksimal atau tidak bisa berjalan sama sekali.

Beberapa contoh kegiatan yang termasuk dalam kegiatan pendukung adalah sebagai berikut:

  • Infrastruktur perusahaan (firm infrastructure), adalah suatu kegiatan yang berkaitan dengan biaya dan juga aset yang berkaitan dengan manajemen umum, keuangan, akuntansi, keamanan, dan juga keselamatan sistem informasi.
  • Manajemen sumber daya manusia (SDM) (human resources management), adalah suatu kegiatan pelatihan, pengembangan, dan juga kompensasi untuk seluruh jenis personel yang di dalamnya termasuk mengembangkan tingkat keahlian pekerja.
  • Pengembangan teknologi (technology development), adalah kegiatan yang berhubungan dengan perbaikan proses, produk, pengembangan software, perancangan alat, sistem telekomunikasi, kapabilitas basis data baru, sampai membangun dukungan sistem yang terkomputerisasi.
  • Pengadaan (procurement), adalah suatu aktivitas yang berkaitan dengan cara mendapatkan sumber daya, seperti fungsi pembelian yang digunakan di dalam value chain

Baca juga: Apa itu Value Based Selling? Ini Pengertian dan 6 Prinsip Penting

Strategi Value Chain

 Strategi Value Chain

ilustrasi value chain adalah: fungsi dan strategi. source envato

Meskipun value chain adalah sendiri adalah sebuah strategi namun, perusahaan yang ingin menerapkan value chain harus melakukan strategi lainnya terlebih dahulu.

Strategi ini sebagai rangkaian kegiatan yang lebih terkoordinir dan juga lebih terintegrasi guna mendapatkan keunggulan bersaing.

Strategi yang terdapat di dalam value chain sendiri terdiri dari strategi keunggulan dalam bersaing, strategi keunggulan biaya, dan strategi diferensiasi.

Ketiga jenis strategi value chain adalah sebagai berikut:

1. Strategi Keunggulan Bersaing

Strategi keunggulan bersaing adalah kemampuan perusahaan dalam mendapatkan keuntungan ekonomis terhadap laba yang bisa diperoleh oleh kompetitor di pasar dalam industri yang sama.

Keberhasilan suatu perusahaan ini bisa diukur dengan daya saing strategis dan juga profitabilitas yang tinggi.

Kedua hal tersebut adalah hasil dari kemampuan perusahaan dalam hal menggunakan dan mengembangkan kompetensinya untuk bersaing dalam pasar dengan para kompetitornya.

Perusahaan yang mempunyai keunggulan kompetitif ini berarti mampu memahami adanya perubahan struktur di pasar dan memilih strategi pemasaran yang lebih efektif.

Baca juga: Apa itu Analisis Value Chain? Berikut Pengertian Lengkap dan Tahapannya

2. Strategi Keunggulan Biaya 

Harga jual, biaya, dan biaya lainnya akan menjadi pertimbangan pada setiap perusahaan yang ingin menjual suatu barang ataupun jasa.

Dari segi konsumen, keunggulan biaya ini bisa dilihat dari sisi harga jual yang lebih murah untuk suatu barang yang nilainya sama.

Strategi keunggulan biaya ini akan menjadi instrumen yang sangat penting untuk menjadi juara di dalam persaingan pasar.

Biaya akan menjadi hal yang penting untuk menerapkan strategi selanjutnya, yaitu diferensiasi.

Kenapa? Karena kompetitor harus bisa mempertahankan posisi biaya dengan para kompetitor lainnya agar mereka bisa tetap unggul.

Rata-rata, setiap perusahaan ingin lebih fokus pada biaya manufaktur dan mengabaikan dampak biaya pada kegiatan lainnya, seperti pemasaran, infrastruktur, dan juga layanan.

Cara untuk menyiasatinya, perusahaan tersebut harus mampu menawarkan produk dan juga fungsi yang bisa diterima oleh konsumen namun dengan harga yang tetap mampu bersaing di level pasar.

3. Strategi Diferensiasi  

Arti dari diferensiasi adalah berbeda. Di zaman seperti saat ini, perusahaan yang hanya mengeluarkan produk yang sama dengan yang lain tentu tidak akan terlihat menarik.

Pun sama halnya dalam strategi bisnis, perusahaan bisa menerapkan strategi ini secara efektif.

Kenapa? Karena walaupun tidak unggul dalam satu kriteria, suatu produk akan tetap dianggap menarik bila berbeda.

Contohnya saja seperti Samsung A80 yang berani tampil beda dengan kameranya yang bisa berotasi menghadap ke depan dan kebelakang. Sehingga bisa dijadikan sebagai kamera depan sekaligus kamera belakang.

Tips untuk perusahaan yang ingin melakukan strategi ini harus berdasarkan pada atribut produk, pengiriman produk, rancangan pemasaran, dan juga aspek lain yang bisa membedakan.

Menggunakan tampilan yang berbeda juga harus terus dijaga agar konsumen tidak lekas melupakan produk Anda.

Baca juga: Value Proposition: Pengertian Lengkap dan Cara Membangunnya

Value Chain sebagai Pendukung Perusahaan

Tujuan utama dari menerapkan value chain adalah demi meningkatkan keuntungan perusahaan dan sebisa mungkin mengurangi biaya produksi perusahaan.

Selain itu, value chain juga bisa meningkatkan nilai ataupun pemanfaatan produk ataupun jasa yang akan diproduksi.

Lebih dari itu, fungsi lain dari value chain adalah sebagai berikut

1. Penelitian dan Pengembangan

Diterapkannya sistem ini akan lebih memudahkan perusahaan dalam melakukan penelitian dan juga pengembangan produk barang atau jasa yang sudah dipasarkan.

Seperti perusahaan bisa melihat apakah produk yang sudah disebarkan di pasar mampu bersaing dengan produk kompetitor atau tidak.

Bila memang tidak, contohnya karena harganya jauh lebih mahal dari kompetitor, maka Anda bisa menerapkan strategi diferensiasi dengan keunggulan agar harga tinggi yang sudah di bandrol tidak diklaim mahal.

2. Desain Produk atau Jasa Hingga Proses

Suatu bisnis yang menerapkan value chain akan lebih terbantu dalam sisi mendesain produk atau jasa hingga prosesnya agar bisa lebih mudah dijual di pasar.

Karena, dengan menggunakan sistem ini perusahaan akan mengetahui bahwa produknya tidak hanya memberikan barang atau jasa yang berkualitas saja.

3. Produksi

Untuk fungsi yang satu ini sudah pasti sangat berkaitan dengan value chain.

Anda bisa menggunakan strategi value chain yang mampu meningkatkan produksi dalam sisi jumlah dan juga efisiensi biaya.

Seluruh strategi di dalam value chain bisa diterapkan untuk tim produksi.

4. Pemasaran dan Penjualan

Pemasaran dan Penjualan

ilustrasi value chain adalah: fungsi dan strategi. source envato

Pemasaran dan juga penjualan adalah dua hal penting di dalam perusahaan yang berkaitan dengan pendapatan penjualan produk barang atau jasa.

Untuk itu, value chain adalah konsep yang bisa diandalkan dalam proses pemasaran dan juga penjualan.

Dengan menerapkan strategi value chain, maka Anda bisa meningkatkan peluang saing di pasar.

Contoh sederhananya dengan strategi diferensiasi yang diterapkan sejak merencanakan bisnis hingga produksi.

Hal ini akan mempermudah Anda dalam melanjutkan strategi ini oleh para divisi pemasaran dan juga penjualan.

Distribusi dan juga pelayanan pelanggan pun menjadi fungsi lain dari penerapan value chain.

Kedua hal ini akan menjadi fungsi yang didasari dari strategi diferensiasi dan juga keunggulan bersaing di pasar.

Contoh Value Chain pada Macam-macam Perusahaan

Berikut adalah beberapa contoh penerapan value chain pada beberapa jenis perusahaan:

1. Perusahaan Manufaktur

Aktivitas Value Chain pada Perusahaan Manufaktur:

  • R&D: Melakukan penelitian dan pengembangan untuk menciptakan produk baru dan meningkatkan produk yang sudah ada.
  • Desain Produk: Merancang produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan.
  • Procurement: Membeli bahan baku dan komponen yang dibutuhkan untuk produksi.
  • Produksi: Mengubah bahan baku dan komponen menjadi produk jadi.
  • Distribusi: Mengirimkan produk jadi ke pelanggan.
  • Penjualan dan Pemasaran: Mempromosikan dan menjual produk kepada pelanggan.
  • Layanan Pelanggan: Memberikan layanan purna jual kepada pelanggan, seperti garansi dan perbaikan.

2. Perusahaan Ritel

Aktivitas Value Chain pada Perusahaan Ritel:

  • Pembelian: Membeli produk dari pemasok.
  • Penerimaan Barang: Menerima produk dari pemasok dan memastikan kualitasnya.
  • Penyimpanan: Menyimpan produk di gudang dengan aman dan terawat.
  • Penataan Toko: Menata produk di toko dengan menarik dan mudah diakses pelanggan.
  • Penjualan: Melayani pelanggan dan membantu mereka menemukan produk yang mereka cari.
  • Pemrosesan Pembayaran: Menerima pembayaran dari pelanggan.
  • Layanan Pelanggan: Memberikan layanan purna jual kepada pelanggan, seperti pengembalian dan penukaran produk.

3. Perusahaan Jasa

Aktivitas Value Chain pada Perusahaan Jasa:

  • Pengembangan Layanan: Menentukan dan mengembangkan layanan yang dibutuhkan pelanggan.
  • Penjualan dan Pemasaran: Mempromosikan dan menjual layanan kepada pelanggan.
  • Penyampaian Layanan: Memberikan layanan kepada pelanggan dengan kualitas yang tinggi.
  • Dukungan Pelanggan: Memberikan dukungan dan bantuan kepada pelanggan sebelum, selama, dan setelah mereka menggunakan layanan.

4. Perusahaan Furniture

Aktivitas Value Chain pada Perusahaan Furniture:

ABC Yaitu toko furniture yang menjual custom furniture. Contoh value chain ini memberikan gambaran singkat tentang cara kerja analisis value chain.

value chain tabel

5. Perusahaan Makanan

Aktivitas Value Chain pada Perusahaan Makanan:

  • R&D (Penelitian dan Pengembangan): Melakukan riset pasar untuk memahami tren dan preferensi konsumen, mengembangkan produk baru, dan meningkatkan resep produk yang sudah ada.
  • Procurement (Pengadaan): Membeli bahan baku dan bahan kemasan berkualitas dari pemasok yang terpercaya. Memastikan pasokan bahan baku terjaga dan harga yang kompetitif.
  • Produksi: Mengubah bahan baku menjadi produk makanan jadi dengan proses produksi yang higienis dan efisien. Menjaga kualitas dan konsistensi produk.
  • Distribusi: Mengirimkan produk jadi ke distributor, agen, atau langsung ke pelanggan. Memastikan produk terkirim tepat waktu dan dalam kondisi baik.
  • Penjualan dan Pemasaran: Mempromosikan produk kepada pelanggan melalui berbagai saluran, seperti iklan, media sosial, dan promosi di toko. Membangun citra merek yang kuat dan meningkatkan brand awareness.
  • Layanan Pelanggan: Memberikan layanan purna jual kepada pelanggan, seperti menangani keluhan dan memberikan informasi produk. Membangun hubungan yang baik dengan pelanggan dan meningkatkan loyalitas.

Perlu diingat bahwa value chain hanyalah sebuah model dan tidak selalu persis sama untuk semua perusahaan.

Setiap perusahaan memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda, sehingga value chain mereka pun dapat berbeda-beda.

Namun, value chain tetaplah menjadi alat yang bermanfaat untuk memahami dan menganalisis bagaimana sebuah perusahaan menciptakan nilai bagi pelanggan.

Dengan memahami value chain, perusahaan dapat mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan profitabilitas mereka.

Perbedaan Value Chain dan Supply Chain

Sementara rantai nilai dan rantai pasokan memiliki kualitas dan elemen yang saling tumpang tindih, ada beberapa perbedaan utama yang penting.

Rantai pasokan melacak penciptaan produk dan upaya yang terkait langsung, sementara rantai nilai melacak setiap elemen perusahaan untuk mengukur nilai tambah.

Rantai pasokan terutama bersifat eksternal, sedangkan rantai nilai terutama bersifat internal.

Rantai pasokan fokus pada mengidentifikasi bagian fisik dan bahan yang masuk ke suatu produk sementara rantai nilai mengukur semua elemen rantai pasokan selain proses terkait dalam pemasaran, periklanan, desain, dan penelitian dan pengembangan.

Baca juga: Apa Itu Manajemen? Berikut Pengertian, Fungsi, Unsur, Gaya, Jenis, Dan Karakteristiknya

Penutup

Jadi, bisa kita simpulkan bahwa value chain adalah serangkaian kegiatan bisnis yang mana pada setiap tahapan atau langkahnya mampu meningkatkan nilai atau pemanfaatan pada barang atau jasa yang diproduksi.

Untuk Anda yang sudah memiliki bisnis atau membuat bisnis, pertimbangkanlah untuk menerapkan value chain agar usaha yang Anda jalani bisa semakin lancar.

Namun untuk urusan lainnya seperti mengelola keuangan perusahaan ataupun membuat laporan keuangan perusahaan agar neraca keuangan bisa tetap imbang, maka gunakanlah software akuntansi dan bisnis Accurate Online.

Berbagai fitur lengkap dan tampilan yang sederhana dari Accurate Online pun akan memudahkan setiap kegiatan bisnis Anda, mulai dari bisnis online seperti bisnis dropship, bisnis afiliasi atau bisnis offline di toko akan lebih mudah dilakukan.

Tertarik? Anda bisa mencoba Accurate Online terlebih dahulu secara gratis selama 30 hari dengan klik tautan gambar di bawah ini.

marketingmanajemenbanner
sidebarPromo
Anggi
Seorang wanita lulusan sarjana manajemen bisnis dan akuntansi yang hobi menulis blog tentang manajemen bisnis secara spesifik.

Artikel Terkait