Analisis Teknikal Saham: Definisi, Prinsip, dan Indikator

Sebagai investor saham, baik pemula maupun yang telah berpengalaman, semuanya membutuhkan strategi guna memaksimalkan hasil dari investasi. Dalam hal ini, analisis teknikal saham dapat digunakan untuk menilai kondisi pasar saat ini berdasarkan histori harga di masa lampau sekaligus memberikan gambaran mengenai pergerakan pasar di masa depan.

Berbeda dengan analisis fundamental, analisis teknikal biasanya digunakan pada investasi cepat atau trading. Dimana ia dapat membantu trader dalam menentukan saham pilihan yang berpotensi menghasilkan pundi-pundi uang dalam jangka pendek.

Untuk memahami lebih lanjut, berikut ini diuraikan penjelasan mengenai definisi, prinsip, dan indikator dalam analisis teknikal saham yang baik untuk diketahui.

Apa Itu Analisis Teknikal Saham?

Analisis teknikal adalah suatu pendekatan analisa harga yang mempelajari aktivitas pasar menggunakan data pasar, harga saham, dan volume transaksi. Analisis ini membutuhkan data dan grafik harga yang terjadi di masa lalu untuk kemudian dianalisis guna melihat adanya suatu tren atau pola tertentu yang terjadi.

Data-data historis yang digunakan dalam analisa teknikal terdiri dari banyak hal, mulai dari informasi harga pembukaan, penutupan, tertinggi, terendah, hingga volume perdagangan. Dimana analisa tidak melihat pada kondisi ekonomi, kesehatan keuangan perusahaan, ataupun prospek bisnis masa depan.

Analisa teknikal ini pun tidak hanya dapat digunakan dalam dunia saham saja, melainkan juga pada instrumen investasi lain, mulai dari forex hingga komoditas. Pada intinya, analisis teknikal saham digunakan jika ingin melakukan pembelian untuk jangka waktu pendek.

Baca juga: Pajak Saham: Ini Aturan dan Cara Lapornya!

Prinsip Dasar Analisis Teknikal Saham

Analisis teknikal memiliki tiga prinsip utama yang apabila dipahami dan dikuasai dapat diterapkan di berbagai instrumen trading. Lebih jelasnya, tiga prinsip dasar pada analisis ini meliputi:

1. Market Action Discounts Everything

Asumsi yang menjadi dasar analisis teknikal ialah bahwa segala hal yang mempengaruhi pergerakan pasar, baik fundamental, politik, bencana alam, dan faktor psikologis pelaku pasar, telah tercermin dalam pergerakan pasar. Berdasarkan asumsi tersebut, pengambilan keputusan trading dapat didasarkan pada pergerakan harga itu sendiri.

Robert A. Levy, pendiri CDA Investement Technologies, mengemukakan ada beberapa asumsi yang menjadi dasar analisis teknikal yang meliputi nilai pasar, interaksi permintaan dan penawaran, harga efek secara individual dan keseluruhan, serta tren perubahan harga.

Asumsi tersebut semuanya mendasarkan pada interaksi yang terjadi di pasar, baik yang berhubungan secara langsung maupun tidak langsung, baik yang rasional maupun yang irasional. Sehingga asumsi tersebut menempatkan harga yang tertera di atas segalanya.

2. Prices Move in Trend

Asumsi yang mendasari prinsip ini adalah bahwa pergerakan harga tidak bergerak secara acak, melainkan berlangsung dalam suatu pola tertentu yang akan terus bergerak sampai akhirnya berhenti dan berbalik arah.

Arah tren disini dapat berupa tren naik, tren turun, dan tren sideways (mendatar). Dimana dengan mengetahui tren tersebut, Anda bisa mengambil keputusan yang tepat dalam bertransaksi.

Di saat yang sama, dalam buku The Dow Theory yang dijelaskan oleh Charles H. Dow, tren dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu primary trend, secondary trend, dan minor trend.

Primary trend merupakan pergerakan harga dalam jangka waktu lama. Secondary trend merupakan pergerakan harga yang terjadi selama pergerakan harga dalam primary trend. Kemudian minor trend atau day-to-day move merupakan fluktuasi harga yang terjadi setiap hari.

3. History Repeats Itself

Para penganut analisis teknikal yakin bajwa pola atau tren harga saham bergerak dalam suati tren atau pola-pola tertentu. Dimana pola ini memiliki kecenderungan berulang dari masa ke masa.

Meski harga sahamnya sudah naik atau sebaliknya, namun pola fluktuasi yang sama bisa terjadi. Sebab itu, penganut analisis teknikal sering memperkirakan arah pergerakan harga di masa yang akan datang.

Baca juga: Pola Candlestick: Ini Pengertian dan Cara Membacanya

Jenis Indikator Analisis Teknikal Saham

Setidaknya, terdapat tujuh indikator analisa teknikal yang paling populer dan sering digunakan oleh seorang investor atau trader. Dimana tujuh indikator tersebut meliputi:

1. On-Balance Volume (OBV)

OBV adalah analisis teknikal saham yang menggabungkan harga dan volume suatu saham. Singkatnya, indikator ini digunakan untuk mengonfirmasi pergerakan harga saham.

Ketika OBV naik, volume pembelian melebihi volume penjualan yang menyebabkan peningkatan harga. Sementara ketika OBV turun, penjualan melebihi volume pembelian dan berdampak pada penurunan harga.

2. Accumulation/Distribution Line

Accumulation/Distribution Line dikenal juga dengan sebutan garis A/D. Dimana garis ini merupakan indikator yang paling umum digunakan yang mampu menentukan aliran uang masuk dan keluar dari sekuritas.

Secara sepintas, garis A/d hampir mirip dengan OBV, hanya saja garis A/D mempertimbangkan saham pada periode tertentu saja.

3. Average Directional Index (ADX)

ADX digunakan untuk mengukur kekuatan dan momentum tren. Dalam hal ini, analisis ADX menggunakan garis atau angka 20 dan 40. Yang artinya, apabila garis di bawah 20, maka kekuatan tren sedang menurun. Sementara saat garis berada di atas 40, maka kekuatan tren sedang meningkat.

ADX sendiri ditentukan dengan garis berwarna hitam dan berada di tengah-tengah antara angka 20 dan 40.

4. Aroon Indicator

Jenis indikator ini digunakan untuk menunjukan kekuatan tren dan keakuratan titik masuk, serta untuk mengidentifikasi tren baru yang akan dimulai. Indikator Aroon sendiri terdiri dari dua garis, yakni Aroon-up (warna hijau) dan Aroon-down (warna merah).

Ketika garis Aroon-up memotong garis Aroon-down dan sebaliknya, ada kemungkinan terjadi perubahan tren. Sementara ketika Aroon-down berada di angka nol dan bersimpangan dengan Aroon-up, hal tersebut menunjukkan titik masuk dan kecenderungan tren akan naik dan sebaliknya.

Baca juga: Cash Value Adalah istilah Penting dalam Asuransi, Ini Pengertiannya!

5. Moving Average Convergence Divergence (MACD)

MACD menjadi indikator andalan para trader karena relatif mudah digunakan dalam rangka menunjukkan kekuatan tren. Indikator jenis ini terdiri dari dua jenis, yaitu garis MACD dan garis sinyal, yang bergerak lebih lambat

Garis sinyal di atas titik nol mengindikasikan up-trend sedang berlangsung. Sebaliknya, ketika garis berada di bawah titik nol, maka down-trend yang sedang berlangsung.

6. Relative Strength Index (RSI)

RSI merupakan garis acuan analisis teknikal berupa angka tengah atau nol. Standarnya, RSI berada di angka 30 dan 70.

Indikator ini menunjukkan kondisi jenuh beli (overbought) dan jenuh jual (oversold). Dimana overbought diindikasikan ketika harga menyentuh atau melebihi angka 70. Kemudian oversold terjadi ketika harga menyentuh atau di bawah angka 30.

Relative Strength Index juga disebutkan bisa menjadi indikator level support dan resistance.

7. Stochastic Oscillator

Stochastic Oscillator mengukur harga relatif saat ini terhadap kisaran harga dalam periode tertentu. Stochastic Oscillator terdiri dari dua garis yang berada pada angka 0 dan 100. Dimana biasanya, garisnya berwarna hijau dan merah.

Adapun ketika garis hijau berada di atas garis merah, artinya tren sedang naik. Ketika garis hijau bersimpangan dengan garis merah, maka tren cenderung turun.

Baca juga: Hukum Forex Di Indonesia Mengacu Pada Undang-Undang dan Fatwa MUI

Kesimpulan

Demikianlah penjelasan mengenai definisi, prinsip dasar, dan indikator dalam analisis teknikal saham. Diketahui bahwa jenis analisis ini digunakan untuk investasi jangka pendek atau trading dengan melihat pada histori data harga pada masa lampau untuk memprediksi harga di masa depan.

Seperti diketahui, investasi bertujuan untuk mencapai tujuan finansial di masa depan. Dimana tujuan finansial ini sejatinya juga tidak terlepas dari pengelolaan keuangan yang baik dan benar. Dalam hal ini, pengelolaan keuangan dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien menggunakan software akuntansi dan bisnis seperti Accurate Online.

Accurate Online merupakan software berbasis cloud yang menyediakan lebih dari 200 jenis laporan keuangan dan bisnis. Berbagai fitur dan keunggulan tersedia di dalamnya guna memudahkan Anda dalam membuat laporan keuangan secara lebih akurat, cepat, dan otomatis.

Jika tertarik, Anda dapat menikmati Accurate Online secara gratis selama 30 hari dengan klik tautan gambar di bawah ini.

ibnu

Lulusan S1 Ekonomi dan Keuangan yang menyukai dunia penulisan serta senang membagikan berbagai ilmunya tentang ekonomi, keuangan, investasi, dan perpajakan di Indonesia