Apa Itu Pendapatan Asli Daerah? dan Dampaknya Untuk Masyarakat?

Pada dasarnya, pendapatan asli daerah merupakan komponen yang penting di dalam kebijakan fiskal di Indonesia. Pendapatan asli daerah merupkan bentuk komitmen dari pemerintah Indonesia dalam menjalankan roda perekonomian pemerintahan secara tidak terpusat.

Karena terjadi Pandemi Covid-19, pendapatan asli daerah di berbagai wilayah saat ini sedang mengalami penurunan. Pasalnya, sumber pendapatan daerah yang disetor ke pihak pemerintah daerah mengalami penurunan karena adanya pandemi.

Lalu, apa itu pendapatan asli daerah? Apa saja dampaknya untuk masyarat di daerah tersebut? Dapatkan jawabannya dengan membaca artikel di bawah ini hingga selesai.

Apa itu Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Menurut Undang-undang Nomor 33 tahun 2004, pendapatan asli daerah adalah pendapatan yang diperoleh daerah dan ditarik berdasarkan peraturan daerah serta sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Itu artinya, pendapatan asli daerah adalah pendapatan yang diperoleh oleh pemerintah daerah dari sumber daya yang dimiliki oleh daerah tersebut.

Untuk itu, nominal PAD di setiap provinsi dan juga kabupaten atau kota berbeda-beda, tergantung dari kondisi alam serta perekonimian dari daerah itu sendiri.

Di tahun 2018, provinsi DKI Jakarta masuh menjadi provinsi yang memiliki jumlah PAD paling tinggi di Indonesia.

Baca juga: Akuntansi Keuangan Daerah: Pengertian, Fungsi, dan Metode Pencatatannya

Jenis Pendapatan Asli Daerah

Berdsarkan Pasal 6 ayat (1) UU 33/2004, jenis-jenis pendapatan asli daerah adalah sebagai berikut:

1. Pajak Daerah Menjadi Sumber Pendapatan Asli Daerah

Pada dasrnya, pajak daerah adalah suatu sumber pendapatan dari pajak yang ditarik oleh pihak pemerintah daerah untuk kebutuhan daerah itu sendiri. Beberapa contoh pahak daerah adalah pajak hotel, pajak kendaraan bermotor, pajak restoran, dan lain masih banyak lagi.

2. Retribusi Daerah

Retribusi daerah adalah sejumlah nominal biaya yang dibayar oleh pihak masyarakat atas adanya pelayanan langsung yang mereka peroleh dari pemerintah. Jenis pendapatan asli daerhan ini tidak sama seperti pajak.

Pajak adalah sumber PAD yang didapat karena adanya manfaat tidak langsung, sementara retribusi adalah sumber PAD dari jasa atau manfaat yang didapat langsung dari masyarakat.

Beberapa contoh sederhana dari retribusi daerah adalah tetribusi parkir di pinggir jalan umum, retribusi atas pengelolaan sampah, retribusi yang dibayar oleh pedagang pasar, dan lain sebagainya.

Baca juga: Belanja Modal Adalah: Pengertian, Jenis, dan Cara Menghitungnya

3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah

Kekayaan daerah tersebut seperti hasil tambang batu bara, perkebunan kelapa sawit, hasil tambang marmer dan lain-lain. Kekayaan daerah ini berbeda beda di setiap provinsi dan kabupaten.

4. Pendapatan Lain-Lain yang Sah

Menurut pasal 6 ayat (2) UU 22/2004, telah dijelaskan bahw berbagai hal yang temasuk ke variabel lain, seperti jasa giro, pendapatan bunga, komisi, keuntungan selisih nilai tukar mata uang, pendapatan atau potongan dalam bentuk lain yang diperoleh dari pengadaan barang dan jasa di setiap daerah.

Karena jumlah sumber PAD di setiap provinsi itu berbeda-beda, maka sangat wajar jika jumlah PAD di tiap provinsi pun berbeda-beda. Provinsi dengan jumlah penduduk yang lebih banyak tentunya mempunyai PAD yang juga lebih banyak.

Baca juga: Memahami Pengertian APBN dan APBD, serta Fungsi dan Tujuannya

Pengaruh PAD Bagi Masyarakat

PAD adalah pendapatan daerah yang didapat dari pembayaran pajak dan juga retribusi yang ditarik dari masyarakat itu sendiri. Oleh karenanya, PAD harus bisa digunakan untuk kepentingan masayakat sebaik-baiknya.

PAD dengan jenis pendapatan lainnya seperti dana perimbangan, hibah, dan bahkan dana keistimewaan (untuk berbagai provinsi tertentu) maka harus dijadikan pertimbangan utama dalam membuat APBD.

Anggaran yang dibuat dalam APBD inilah yang memperlihatkan bagaimana penyaluran PAD kepada masyarakat. Dana dari APBD ini nantinya bisa digunakan untuk beragam hal, seperti membayar karyawan kontrak, memperbaiki jalan daerah, sampai beasiswa pendidikan untuk putra-putri daerah.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Adalah: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Mengukurnya

Penutup

Demikianlah penjelasan dari kami tentang pendapatan asli daerah. Jadi, pendapatan asli daerah adalah pendapatan yang diperoleh oleh pemerintah daerah dari sumber daya yang dimiliki oleh daerah tersebut.

Nah, sebagai seorang pebisnis, tentunya Anda harus membayar pajak daerah dan retirbusi. Pembayaran tersebut harus Anda catat secara rapi di dalam catatan akuntansi Anda.

Namun, mencatat kegiatan akuntansi secara manual tentunya akan memakan banyak waktu dan rentan terjadi kesalahan serta kecurangan. Solusinya adalah dengan menggunakan aplikasi bisnis dari Accurate Online.

Accurate Online adalah aplikasi buatan anak bangsa yang akan dikembangkan dengan menggunakan teknologi cloud computing berbasis website dan sudah dibekali dengan tingkat keamanan yang tinggi. Tampilan dashboard di dalamnya pun sangat sederhana. Sehingga, aplikasi ini bisa Anda akses secara mudah, aman dan nyaman.

Aplikasi ini juga sudah dipercaya oleh ratusan ribu pebisnis di Indonesia dan sudah meraih penghargaan TOP Brand Award dari tahun 2016. Sehingga, Anda sudah tidak perlu lagi meragukan keandalan dari Accurate Online.

Dengan menggunakan aplikasi ini, Anda bisa lebih mudah dalam mengelola keuangan karena Accurate Online akan menyajikan lebih dari 200 jenis laporan keuangan secara akurat.

Lebih dari itu, Accurate Online juga akan membantu Anda dalam mengelola persediaan barang di gudang, menyelesaikan penjualan dan pembelian barang dengan cepat, menyelesaikan administrasi perpajakan, dan masih banyak lagi.

Lebih menariknya lagi, seluruh keunggulan dan kelebihan yang terdapat di dalam Accurate Online bisa Anda nikmati dengan biaya investasi yang sangat terjangkau. Bahkan, Anda bisa lebih dulu menggunakannya secara gratis selama 30 hari dengan klik banner di bawah ini.

footer image blog akuntansi

Seberapa bermanfaat artikel ini?

Klik salah satu bintang untuk menilai.

0 pembaca telah memberikan penilaian

Belum ada yang memberikan penilaian untuk artikel ini :( Jadilah yang pertama!

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

ibnu

Lulusan S1 Ekonomi dan Keuangan yang menyukai dunia penulisan serta senang membagikan berbagai ilmunya tentang ekonomi, keuangan, investasi, dan perpajakan di Indonesia