Pengertian Kebijakan Fiskal, Tujuan, Jenis dan Komponennya

Perekonomian dalam suatu negara menjadi tolak ukur pasti dalam melihat seberapa sukses suatu negara. Oleh karena itu pemerintah senantiasa menjaga stabilitas ekonomi dalam negaranya melalui penetapan berbagai kebijakan diantaranya kebijakan fiskal dan moneter. Pengertian kebijakan fiskal adalah berkaitan dengan upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dengan mengatur pemasukan dan pengeluaran negara.

Baca juga : Deflasi Adalah Kebalikan Dari Inflasi. Berikut adalah Pengertian, Jenis dan Contohnya

Pengertian Kebijkan Fiskal

Sebelum membahas lebih jauh mengenai kebijakan pembaca mengetahui pengertian kebijakan fiskal secara mendalam terlebih dahulu.

Fiskal sendiri digunakan untuk memberikan penjelasan mengenai bentuk pendapatan pemerintah yang berasal dari masyarakat. Pendapatan tersebut dianggap sebagai pendapatan yang digunakan sebagai pengeluaran negara untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negara.

Kebijakan fiskal merupakan merupakan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dengan cara meningkatkan atau menurunkan pendapatan atau anggaran negara. Pemerintah memiliki kewenangan untuk menentukan besaran anggaran atau pendapatan yang dikeluarkan pada program tertentu. 

Kebijakan ini dibuat dengan maksud untuk mempengaruhi jalannya perekonomian dan menjaga keseimbangan ekonomi dalam negara. Pembuatan kebijakan ini tidak lain didasarkan pada teori John Maynard Keynes mengenai fungsi kebijakan fiskal. 

Dalam teori ini Keynes meyakini bahwa peningkatan atau penurunan pendapatan dan pengeluaran dapat mempengaruhi perekonomian negara. Kebijakan ini bisa meningkatkan inflasi, aliran kas, dan mengatasi pengangguran dalam suatu negara.

Melalui kebijakan ini pengeluaran agregat dapat ditingkatkan yang bisa berdampak pada pendapatan nasional dan tingkat penggunaan tenaga kerja. Selain itu permintaan agregat mengenai jumlah produksi barang dan jasa pada tingkat harga tertentu juga menjadi tolak ukur keberhasilan negara.

Baca juga : Pengertian Surat Perjanjian Hutang, Manfaat, Contohnya dan Cara Membuatnya

Tujuan Kebijakan Fiskal

Dari pengertian di atas sebenarnya sudah tersurat apa tujuan utama mengapa pemerintah melakukan kebijakan fiskal. Tujuan utama dari dilakukannya kebijakan ini adalah untuk stabilitas perekonomian atau stabilitas harga. Untuk ulasan lebih lanjut mengenai tujuan dari diberlakukannya kebijakan ini bisa di simak berikut ini.

1. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada suatu negara menjadi tujuan dari diberlakukannya kebijakan fiskal (fiscal policy). Saat perekonomian meningkat maka perkembangan bisnis semakin nyata dan masyarakat akan memperoleh pendapatan yang tinggi pula. Pendapatan masyarakat yang tinggi menjadi tolak ukur kesejahteraan bangsa secara keseluruhan.

Upaya pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui fiscal policy adalah dengan mengurangi pajak. Dengan begitu masyarakat bisa lebih banyak membelanjakan pendapatannya yang sejatinya mampu meningkatkan investasi dan pendapatan bisnis. Saat pengeluaran pemerintah lebih tinggi maka pertumbuhan ekonomi akan terpacu untuk terus meningkat.

Baca juga : Mengetahui Lebih Jauh PPH Badan dan Mekanisme Penghitungannya

2. Mencegah Pengangguran

Pencegahan terhadap terjadinya pengangguran merupakan tujuan utama dari diberlakukannya kebijakan ini. Kegagalan dalam mencapai kesempatan kerja penuh atau pengangguran akan menyebabkan tidak tercapainya tingkat pendapatan nasional yang tinggi. 

Selain itu, adanya pengangguran membuat laju pertumbuhan ekonomi tidak tumbuh maksimal dan bisa saja menurun. Dengan penerapan fiscal policy yang tepat pengangguran dapat dicegah sehingga output nasional tetap terus tumbuh. Hal ini karena kesempatan kerja penuh dapat tercapai dan membuat pendapatan nasional tinggi dan laju pertumbuhan ekonomi semakin baik.

3. Stabilitas Harga

Tujuan lain dari penerapan fiscal policy adalah mempertahankan harga umum pada tingkat yang layak. Jika harga umum turun secara tajam maka akan mendorong timbulnya pengangguran karena sektor usaha kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan.

Kondisi ini membuat perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja yang berakibat timbulnya pengangguran yang sangat banyak. Sebaliknya, jika harga-harga umum yang naik tajam dan terus meningkat maka memberikan dampak yang baik bagi perekonomian. 

Naiknya harga umum atau inflasi mampu menciptakan kesempatan kerja penuh dan memberikan keuntungan kepada sebagian organ. Tetapi masyarakat berpenghasilan rendah akan tetap menderita karena nilai uang terus menurun dan membuat mereka semakin miskin.

Baca juga : Melakukan Penghitungan Pendapatan Nasional dengan Rumus yang Tepat

Jenis Kebijakan Fiskal

Setelah mengetahui pengertian kebijakan fiskal secara mendalam, pembahasan selanjutnya yang akan menjadi informasi penting adalah jenis-jenis kebijakan fiskal. Secara umum, kebijakan ini dibagi dalam 2 jenis yaitu kebijakan ekspansif dan kebijakan kontraksional yang dibahas lebih lanjut berikut ini.

1. Ekspansif

Kebijakan jenis ini biasa diterapkan saat negara mengalami resesi atau deflasi yang cukup serius untuk merangsang kembali pertumbuhan ekonomi. Melalui kebijakan ini, pemerintah akan melakukan penurunan pajak atau membelanjakan uang dalam jumlah besar atau bisa keduanya.

Tujuan dilakukannya kebijakan ini adalah untuk membuat konsumen memegang lebih banyak uang. Saat masyarakat memegang uang lebih banyak, mereka akan membelanjakannya lebih banyak pula yang berguna untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.

2. Kontraksional

Berbanding terbalik dengan jenis kebijakan sebelumnya, kebijakan konstruksional dilakukan untuk menghambat laju pertumbuhan ekonomi. Aneh memang jika kebijakan ini di terapkan karena laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa menguntungkan negara.

Namun hal ini tidak berlaku bagi negara yang mengalami tingkat inflasi yang tinggi. Ternyata bukan hanya deflasi yang merugikan, namun inflasi yang terlalu tinggi juga dapat memberi dampak buruk bagi negara. Kebijakan kontraksioner dilakukan dengan memotong pengeluaran negara dan meningkatkan pajak.

Baca juga : Pengertian dan Pengaruh Pemangkasan Suku Bunga bagi Bisnis

Komponen di Dalam Kebijakan Fiskal

Pembahasan selanjutnya untuk melengkapi informasi seputar kebijakan fiskal adalah komponen-komponen yang terdapat di dalam kebijakan tersebut. Secara umum, fiscal policy memiliki 4 komponen utama yang terdiri dari kebijakan perpajakan, pengeluaran, investasi dan pengelolaan utang. Untuk memahami keempat komponen tersebut, simak selengkapnya berikut ini.

1. Kebijakan Perpajakan

Kebijakan perpajakan merupakan salah satu kebijakan yang diberlakukan dalam penentuan fiscal policy. Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan pemerintah yang terbesar baik dari pajak langsung maupun pajak tidak langsung. Penetapan kebijakan ini bertujuan menjaga pajak progresif melalui keputusan pemberlakuan pajak.

Menaikkan tarif pajak dapat mengurangi daya beli masyarakat terhadap barang/jasa dan berimbas pada penurunan produksi dan investasi. Sebaliknya, jika tarif pajak diturunkan maka masyarakat memiliki kesempatan untuk membelanjakan uangnya untuk meningkatkan inflasi.

2. Kebijakan Pengeluaran

Kebijakan yang berkaitan dengan pendapatan dan pengeluaran modal dalam negara diatur dalam kebijakan pengeluaran. Pengeluaran modal dilakukan untuk berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan dan sebagainya serta membayar kewajiban negara beserta bunga internal maupun eksternalnya.

Anggaran pemerintah sangat penting untuk mewujudkan pengeluaran pemerintah yang efektif dalam suatu negara. Hal ini bisa digunakan sebagai pelunasan terhadap pembiayaan defisit dalam mengisi kesenjangan antara pendapatan dan belanja negara.

Baca juga : Pengertian Bilyet Giro, Sifat, Bentuk, Syarat, dan Proses Rekonsiliasinya

3. Kebijakan Investasi dan Disinvestasi

Agar pertumbuhan ekonomi berada dalam keseimbangan maka optimalisasi investasi harus ditingkatkan. Pada beberapa tahun belakangan ini, arus modal internasional semakin meningkat dan memberikan dampak yang cukup besar. Melalui Arus Modal Internasional ekonomi domestic dapat diintegrasikan secara baik dengan ekonomi global.

4. Pengelolaan Utang atau Surplus

Apabila pendapatan yang diterima oleh pemerintah lebih besar daripada anggaran yang dihabiskan maka negara tersebut mengalami surplus. Namun jika terjadi kondisi sebaliknya maka negara tersebut mengalami defisit atau kerugian. Pembiayaan terhadap defisit atau kerugian dilakukan dengan melakukan pinjaman dari pihak asing atau dengan mencetak uang.

Baca juga : Mengenal Lebih Jauh Pengertian Liabilitas Dalam Operasional Bisnis

Dampak Kebijakan Fiskal dalam Bisnis

Nah itulah informasi seputar informasi mendalam mengenai pengertian kebijakan fiskal, tujuan, jenis hingga komponennya yang menjadi pembahasan kali ini. Melalui tulisan ini, pembaca diharapkan bisa mengambil manfaat dan pengetahuan dari pembahasan kali ini.

Kebijkan fiskal terkadang juga berdampak pada operasional bisnis yang sedang Anda bangun, misalnya dengan kebijakan peningkatan pajak. Untuk mengantisipasi dampak negatif dari kebijakan ini, ada baiknya Anda melakukan perencanaan finansial pada bisnis dengan pembukuan yang benar dan sesuai standar.

Tidak mengetahui ilmu akuntansi atau tidak punya waktu untuk melakukan kegiatan pembukuan? Anda bisa mencoba menggunakan software pembukuan yang memiliki fitur terbaik, mudah digunakan dan juga harga terjangkau, contohnya adalah Accurate Online.

Accurate Online adalah software akuntansi berbasis cloud yang telah dipercaya oleh lebih dari 300 ribu pengguna dari berbagai jenis bisnis dan memiliki fitur terbaik dengan harga yang terjangkau.

Tidak percaya? Anda bisa mencoba menggunakan Accurate Online secara gratis selama 30 hari melalui tautan pada gambar di bawah ini :

accurate fokus pengembangan