Kebijakan Quantitative Tightening dan Contoh Implementasinya

Kondisi perekonomian suatu negara tak lepas dari kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh bank sentral. Di mana setiap kebijakan moneter yang dikeluarkan berfungsi untuk menahan gejolak perekonomian sekaligus mempertahankan kondisi ekonomi agar tetap stabil. Seperti halnya yang dilakukan oleh kebijakan moneter yang disebut kebijakan Quantitative Tightening (QT).

Kebijakan Quantitative Tightening merupakan kebalikan dari Quantitative Easing yang mengacu pada kebijakan moneter yang diadopsi oleh The Fed untuk memperluas neraca. Sehingga, bisa dikatakan bahwa kebijakan QT adalah kebijakan moneter yang dilakukan untuk memperkecil neraca dengan menyusutkan cadangan moneternya guna menghilangkan likuiditas, atau uang, dari pasar keuangan sehingga dapat menghindari terjadinya inflasi.

Untuk pemahaman yng lebih jelas, berikut ini artikel yang menjelaskan apa itu kebijakan Quantitative Tightening, beserta contoh implementasi kebijakannya di Amerika Serikat dan dampaknya bagi negara-negara berkembang.

Apa Itu Quantitative Tightening?

Mengutip Investopedia, Quantitative Tightening (QT) mengacu pada kebijakan moneter yang mengurangi neraca Federal Reserve System (FED). Proses ini juga dikenal sebagai normalisasi neraca, di mana The Fed maupun bank sentral lain akan menyusutkan cadangan moneternya dengan menjual obligasi atau membiarkannya jatuh tempo, serta mengeluarkannya dari saldo kasnya. Hal ini ditujukan untuk menghilangkan likuiditas, atau uang, dari pasar keuangan.

Kebijakan QT juga bisa diartikan sebagai kebijakan moneter yang diambil bank sentral untuk memperketat jumlah uang yang beredar di masyarakat. Dengan begitu, bank sentral dapat menormalisasi tingkat suku bunga sekaligus untuk menghindari potensi inflasi yang apabila tidak ditangani akan berdampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Pengertian Inflasi, Penyebab, Dampak, Perhitungannya, dan Cara Mengatasinya

Implementasi Kebijakan Quantitative Tightening di Amerika Serikat

Pada 2008 lalu, AS mengalami krisis ekonomi yang disebabkan oleh penurunan tingkat konsumsi dalam negeri, lesunya sektor properti, dan angka pengangguran yang tinggi. Untuk mengatasinya, The Fed selaku bank sentral, mengambil kebijakan Quantitative Easing sebanyak tiga kali dalam kurun waktu selama 2008 hingga 2012.

Penerapan kebijakan moneter tersebut terbukti mampu memulihkan dan menstabilkan kondisi ekonomi pada tahun 2013. Namun, karena Quantitative Easing dilakukan dengan membeli surat utang atau obligasi secara masif, hal tersebut membuat neraca bank sentral ‘membengkak’.

Neraca yang berlebihan ini berdampak pada kinerja bank sentral itu sendiri, di mana kemampuan untuk mengelola dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya resesi ekonomi di masa mendatang menjadi terbatas.

Akhirnya, pada tahun 2014, The Fed memutuskan menerapkan kebijakan moneter lain, yaitu Quantitative Tightening yang mengubah pelonggaran kuantitatif menjadi pengetatan kuantitatif. Beberapa upaya yang dilakukan The Fed dalam penerapan kebijakan ini meliputi:

1. Menghentikan Pembelian Obligasi

Untuk memperkecil ukuran neraca, The Fed mulai menghentikan pembelian obligasi pada tahun 2014 hingga tidak melakukan pembelian obligasi sama sekali. Hal ini mengindikasikan tidak ada lagi pencetakan uang yang dikeluarkan sebagai stimulus kepada pemerintah maupun swasta melalui pembelian obligasi. Artinya, tidak ada lagi jumlah uang beredar yang ditambahkan ke publik.

2. Membiarkan Obligasi Lama Hingga Jatuh Tempo

The Fed juga membiarkan obligasi lama yang telah dibeli selama tahun 2008 hingga 2013 agar mengendap sampai tiba waktunya jatuh tempo. Ketika jatuh tempo, The Fed akan menerima pengembalian uang tunai dari pihak-pihak yang menjual obligasi, yakni pemerintah dan swasta.

Uang tunai tersebut nantinya akan ditahan dan tidak digunakan untuk diinvestasikan kembali melalui pembelian obligasi baru. Dengan begitu, uang tersebut akan lenyap dan neraca keuangan bank sentral dapat menyusut atau mengecil dari ukuran sebelumnya.

3. Menjual Obligasi dan Surat-Surat Berharga

Upaya selanjutnya yang dilakukan The Fed adalah dengan menjual obligasi dan surat-surat berharganya. Selain untuk mengurangi neraca, penjualan ini bertujuan menurunkan harga obligasi sehingga mampu menarik minat pembeli.

4. Menaikkan Suku Bunga

Selain yang terkait dengan obligasi, The Fed juga berupaya menaikkan suku bunga guna menormalisasi neraca. Suku bunga yang lebih tinggi akan membuat tingkat pengembalian pinjaman semakin tinggi pula. Pengajuan pinjaman pada bank-bank komersial pun akan berkurang. Dengan begitu, jumlah uang yang beredar di masyarakat akan berkurang dan lebih terkendali.

Baca Juga: Pengertian Obligasi, Karakteristik, Jenis, dan Keuntungan Memilih Obligasi

Dampak Kebijakan Quantitative Tightening Bagi Negara Berkembang

Ketika kebijakan Quantitative Tightening diterapkan, perekonomian akan berubah dan uang dolar yang beredar di pasaran akan berkurang. Karena hal itu, negara berkembang akan terkena dampak berupa:

1. Bursa Saham Mengalami Perlambatan

Ketika bank sentral Amerika menaikkan suku bunganya, arus investasi akan berubah dan investor akan memindahkan uangnya dari negara berkembang ke Amerika. Hal ini dikarenakan imbal hasil investasi yang dinilai membaik dan lebih aman, sehingga uang panas di bursa saham negara berkembang akan ditarik kembali ke Amerika.

2. Lonjakan Harga Dolar

Dengan kembalinya uang dolar ke asalnya, dolar di negara berkembang tentu akan berkurang. Sesuai hukum pasar, ketika jumlah dolar terbatas, maka harganya akan melonjak naik.

3. Cadangan Devisa Berkurang

Bank sentral di negara berkembang akan berusaha membatasi penguatan dolar agar tidak terlalu tinggi. Akibatnya, cadangan devisa akan berkurang banyak untuk menstabilkan harga dolar tersebut.

4. Suku Bunga Naik

Untuk menahan melemahnya mata uang lokal terhadap kenaikan harga dolar, bank sentral negara berkembang pun akan menaikkan suku bunganya.

5. Perlambatan Ekonomi

Pada akhirnya, bursa saham yang melambat, harga dolar dan suku bunga yang meningkat, serta cadangan devisa yang berkurang, semuanya akan memperlambar ekonomi negara berkembang.

Baca Juga: Quantitative Easing adalah Salah Satu Kebijakan Moneter, Ini Penjelasannya!

Penutup

Quantitative Tightening merupakan salah satu kebijakan moneter yang dikeluarkan bank sentral untuk menjaga kondisi perekonomian, tepatnya untuk memperkecil neraca bank sentral sehingga dapat menekan potensi inflasi yang mungkin memburuk.

Bagi pemilik bisnis, inflasi adalah hal yang harus diwaspadai dan harus telah dipersiapkan caranya untuk menghadapinya di kemudian hari. Salah satunya adalah dengan melakukan perencanaan finansial yang matang dan pembukuan yang sesuai standar sehingga bisa digunakan untuk evaluasi bisnis ke depannya. Untuk mempermudah proses, pemilik bisnis bisa menggunakan aplikasi bisnis dari Accurate Online.

Accurate Online sendiri merupakan aplikasi bisnis dan akuntansi yang menyediakan fitur terlengkap untuk proses pengelolaan finansial bisnis, termasuk penyediaan lebih dari 200 jenis laporan keuangan. Fitur-fitur tersebut mudah untuk digunakan dan bisa diakses secara fleksibel.

Jika Anda tertarik untuk mencobanya, klik tautan gambar di bawah ini dan nikmati Accurate Online secara gratis selama 30 hari.

ibnu

Lulusan S1 Ekonomi dan Keuangan yang menyukai dunia penulisan serta senang membagikan berbagai ilmunya tentang ekonomi, keuangan, investasi, dan perpajakan di Indonesia