Ancaman Resesi Global di Depan Mata, Bagaimana Cara Menyikapinya?

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kita diancam oleh adanya resesi global. Sebabnya adalah adanya kenaikan pada suku bunga acuan yang terlalu agresif oleh bank sentral di berbagai negara demi meredam laju inflasi.

Namun Anda tidak perlu panik, karena bila Anda bisa menyikapinya dengan baik, Anda bisa tetap memperoleh keuntungan secara maksimal.

Lantas, bagaimana cara menyikapi resesi global? Baca terus artikel ini hingga selesai.

Apa itu Resesi?

Berdasarkan laman resmi OJK, resesi adalah suatu kondisi ekonomi negara yang memburuk karena terjadi penurunan Produk Domestik Bruto, meningkatnya angka pengangguran, dan negatifnya perkembangan ekonomi riil selama dua kuartal berturut-turut.

Siklus ekonomi yang menurun ini sudah terlihat di berbagai negara maju, seperti di Inggris. Berdasarkan lembaga keuangan Internasional S&P Global Ratings, negara Inggris sudah mengalami resesi sejak pertengahan tahun 2022 karena perkembangan ekonomi pada kuartal dua telah mengalami perlambatan 0,1% sedangkan inflasi di negara Inggris ini meningkat sampai dengan 9,9% pada bulan Agustus 2022.

Di sisi lain, tepatnya di Amerika Serikat, data klaim pengangguran melaporkan perbaikan di pasar tenaga kerja Amerika Serikat, sehingga ekspektasi para investor atas kenaikan suku bunga yang sangat agresif semakin tinggi. Perbaikan pada data pasar tenaga kerja ini menandakan bahwa inflasi tidak akan turun dalam waktu dekat

Seorang anggota The Fed mengatakan bahwa bank sentral Amerika Serikat akan meningkatkan suku bunga acuan sebanyak 1,25% di tahun 2022 agar bisa terus melawan inflasi yang tidak terkendali di level 2 hingga 3%. Hal tersebut juga semakin memperkuat opini investor bahwa negara paman sam sudah siap menukar resesi global dengan inflasi yang lebih terjaga.

Baca juga: Berbagai Jenis Inflasi dalam Perekonomian Negara

Bagaimana Kondisi Ekonomi Indonesia?

BPS atau Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa inflasi yang terjadi di bulan September mencapai 1,17% secara bulanan atau MOM. Dengan begitu, maka inflasi tahunan indeks harga konsumen atau IHK mencapai 5,95% MOMO dan inflasi pada tahun kalender berada di level 4,4% sepanjang tahun berjalan atau YTD.

Untuk di negara kita, kondisi inflasi memang diproyeksikan akan terus meningkat hingga akhir tahun dan mata uang Rupiah akan lebih cenderung melemah. Tapi, Presiden Indonesia menyatakan bahwa perkembangan ekonomi di Indonesia pada kuartal III tahun 2022 mencapai level 5,4 hingga 5% dan nilai tersebut lebih tinggi ketimbang dua kuartal sebelumnya.

Indonesia sebagai negara pengekspor diuntungkan dari naiknya harga komoditas energi seperti minyak dan batu bara, sehingga hal tersebut membuat terjadinya peningkatan surplus pada neraca perdagangan negara. Di sisi lain, sebagai kompensasi dari kenaikan BBM, maka dana Bantuan Langsung Tunai pun diberikan ke masyarakat.

Walaupun pasar modal memang terus dibayang-bayangi dengan ancaman resesi global, namun kinerja pasar saham nasional tidaklah mengecewakan.

Sepanjang tahun berjalan atau YTD sampai tanggal 30 September 2033, performa Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG masih mencatat adanya kenaikan sebesar 6,9% di level 7.041, walaupun secara bulanan di bulan September, namun indeks saham kebanggan tanah air ini terkoreksi sampai 1,9% banyaknya.

Performa kerja pasar saham yang positif ini diiringi dengan masih kuatnya dasar ekonomi nasional. OJK melaporkan bahwa walaupun pasar terkoreksi secara bulanan di September 2022, namun para investor asing masih membukukan arus masuk sebesar 3,055 triliun rupiah. Bahkan, sepanjang tahun berjalan sampai bulan September, investor asing masih membukukan net buy sebesar 60,47 triliun rupiah.

Baca juga: Apa itu Bubble Economy? Ini Pengertian dan Cara Mengatasinya!

Lantas, Perlukan Mencairkan Aset Investasi untuk Menghadapi Resesi Global?

Melihat adanya ancaman resesi global dan kondisi inflasi seperti kenaikan harga BBM yang mana dampaknya turut meningkatkan harga barang lain, apakah setiap orang harus memiliki uang tunai dalam jumlah yang banyak?

Berdasarkan kondisi tersebut, sebagian investor ada yang panik dan mencairkan investasinya. Padahal, langkah tersebut belum tentu bijak, karena investor bisa mengamankan dananya pada instrumen investasi yang memiliki risiko rendah.

Ketika terjadi resesi global, memang uang tunai adalah hal yang penting. Tapi, uang tunai tidak selamanya dalam bentuk fisik saja, Anda juga bisa memilikinya dalam bentuk setara kas atau instrumen lain yang lebih likuid, seperti reksadana pasar uang atau surat berharga negara.

Masih berdasarkan laman OJK, reksadana pasar uang adalah instrumen investasi yang di dalamnya terdiri dari kumpulan aset dalam bentuk pasar uang. Aset pasar uang ini termasuk surat berharga negara dan deposito bank, atau obligasi yang memiliki waktu jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karenanya, aset ini tergolong likuid atau mudah dicairkan dan mempunyai risiko yang rendah.

Di sisi lain, instrumen investasi lainnya yang bisa Anda pertimbangkan adalah Surat berharga negara ritel atau obligasi negara ritel seri ORI 022 yang pada saat ini sedang mengalami masa penawaran. SBN ritel akan dijamin 100 oleh negara, baik itu pokok ataupun kupon atau imbal hasilnya.

Jaminan terkait SBN ritel ini sudah diatur dalam Undang-undang surat utang negara dan Undang-undang APBN. Itu artinya, pembayaran pokok dan kupon di dalamnya sudah dianggarkan oleh negara.

Jaminan SBN ritel ini sudah tertuang dalam dua undang-undang yaitu UU tentang Surat Utang Negara dan UU tentang APBN. Artinya, pembayaran pokok dan kupon SBN sudah dianggarkan oleh negara.

Baca juga: Apa itu Suku Bunga Acuan? Ini Pengertian dan Fungsinya!

Penutup

Pada intinya, dalam menghadapi ancaman resesi global, Anda tidak perlu panik dan langsung mencarikan semua aset investasi Anda. Sebaliknya, Anda harus terus melakukan investasi agar bisa bertahan dan mendapatkan peluang keuntungan setelah melewati resesi ini.

Selain itu, Anda juga harus lebih cerdas dalam mengelola keuangan Anda dan mencatat pengeluaran dan pemasukan yang Anda peroleh. Nah, agar lebih mudah dalam melakukan tersebut, #lebihbaik Anda menggunakan software akuntansi dan bisnis dari Accurate Online.

Aplikasi ini mampu mencatat setiap transaksi yang terjadi pada bisnis Anda secara otomatis dan mampu menyajikan lebih dari 200 jenis laporan keuangan secara akurat.

Di dalamnya pun sudah dilengkapi dengan berbagai fitur bisnis lain yang saling terintegrasi. Sehingga Anda bisa lebih mudah dalam mengelola dan mengembangkan bisnis.

Penasaran dengan Accurate Online? Ayo coba selama 30 hari gratis sekarang juga dengan klik tautan gambar di bawah ini.

ibnu

Lulusan S1 Ekonomi dan Keuangan yang menyukai dunia penulisan serta senang membagikan berbagai ilmunya tentang ekonomi, keuangan, investasi, dan perpajakan di Indonesia