Apa itu Bubble Economy? Ini Pengertian dan Cara Mengatasinya!

Jika Anda tertarik untuk berinvestasi, khususnya investasi properti, maka Anda harus belajar sejarah ekonomi. Contohnya seperti yang terjadi pada tahun 2008 lalu, suatu krisis ekonomi yang sempat melanda Amerika Serikat. Krisis tersebut bahkan memberikan dampak yang besar untuk perekonomian global. Krisis tersebut terjadi karena adanya bubble economy atau gelembung ekonomi.

Bila Anda tidak waspada, bukan tidak mungkin fenomena tersebut akan kembali terjadi. Bubble economy adalah musuh paling besar dalam keberlangsungan bisnis ekonomi secara makro.

Saat Anda melihat tanda-tandanya, maka Anda harus segera bertindak cepat. Kerugian yang timbul karena pecahnya gelembung ekonomi adalah harga mahal yang belum tentu bisa terbayar kembali dalam waktu yang singkat.

Lantas, apa itu bubble economy? Penasaran? Dapatkan jawabannya dengan membaca artikel tentang bubble economy dibawah ini hingga selesai.

Apa itu Bubble Economy?

Berdasarkan laman Investopedia, bubble economy adalah sebuah siklus ekonomi dalam bentuk meningkatnya nilai sebuah objek secara cepat. Dalam hal ini, objek tersebut bisa dalam bentuk aset atau properti. Sama halnya seperti gelembung yang jika ditiup terlalu cepat agar cepat membesar, lama-kelamaan hal gelembung tersebut akan pecah.

Itu artinya, harga aset ataupun properti yang pada mulanya tinggi bisa terjun bebas secara tiba-tiba hingga kehilangan nilainya.

Sebenarnya, kondisi ini sangat lumrah terjadi di pasar saham, efek, bisnis real estate atau properti, dan lain sebagainya. Kondisi tersebut terjadi karena ketika terjadi pergantian pemain kunci, pola bisnis pun akan ikut berubah secara otomatis.

Baca juga: Apa itu Suku Bunga Acuan? Ini Pengertian dan Fungsinya!

Penyebab Bubble Economy

Sampai saat ini, banyak perdebatan dari para ahli tentang penyebab bubble economy. Namun, beberapa teori yang beredar adalah sebagai berikut:

Ada yang mengatakan bahwa ketika satu lahan bisnis sedang mengalami tren hingga memberikan keuntungan yang besar, perusahaan lebih cenderung meningkatkan gaji karyawan. Bahkan, beberapa diantaranya ada juga yang memberikan bonus tambahan.

Bonus ini kemudian dimanfaatkan untuk membeli aset atau properti. Karena banyak orang yang tertarik untuk membeli atau menjalankan bisnis properti, maka harga aset dan properti pun akan turut naik. Hal tersebut kemudian menampilkan bubble economy.

Pendapat lainnya ada yang mengatakan bahwa adanya kondisi ekonomi yang tengah cair. Pada kondisi ini, pengajuan pinjaman uang akan menjadi lebih mudah. Uang yang dipinjam dari bank lalu digunakan untuk membeli properti atau aset. Kondisi tersebut pun dikenal sebagai kondisi klasik dari bubble economy.

Nah, saat harga aset dan properti semakin tinggi, para pembeli pun mulai panik. Mereka akan semakin panik lagi saat tidak bisa mengembalikan pinjaman uang yang sudah terlanjur digunakan untuk membeli aset atau properti. Terlebih lagi bila proses pembeliannya dilakukan secara dicicil, seperti KPR.

Selain itu, ada juga teori yang mengatakan bahwa bubble economy terjadi karena adanya ketidaksimbangan dalam cara orang mengantisipasi kesempatan yang tersedia. Contohnya seperti mengejar harga aset alih-alih membeli aset tersebut berdasarkan harga intrinsiknya.

Seorang ahli ekonomi bernama John Keynes pernah menjelaskan hal ini dalam bukunya yang berjudul “The General Theory of Employment, Interest, and Money”.

Keynes menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mengkonsumsi berbagai hal secara emosional. Salah satunya adalah melakukan pembelian suatu hal yang sedang tren, lalu berharap harga dari barang tersebut bisa meningkat cukup banyak dan juga lama.

Kebiasaan seperti ini padahal bisa memicu terjadinya bubble economy.

Baca juga: Mengenal Desentralisasi dan Peran Pentingnya untuk Pemerintahan Negara

Lantas, Bagaimana Cara Mengatasi Bubble Economy?

Untuk mengatasi bubble economy, beberapa cara yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Mempelajari Tips Cara Berinvestasi yang Aman dan Cerdas

Jika ini adalah kali pertama Anda melakukan investasi, cobalah untuk mempelajari beragam tips cara berinvestasi secara aman dan cerdas. Anda memang harus lebih berani dalam mengambil risiko investasi. Tapi akan lebih baik jika Anda memiliki cadangan uang yang cukup jika investasi pertama Anda ternyata gagal.

  • Memilih Objek Investasi dan Semacamnya

Cobalah untuk memilih instrumen investasi yang tidak asing dan sesuai dengan kebutuhan Anda. Hindarilah hanya sekedar ikut-ikutan orang untuk berinvestasi, terlebih lagi bila Anda tidak memahami cara berinvestasi dalam bidang tersebut.

  • Hindari Membeli Karena Tren dan Mengandalkan Spekulasi Pasar

Ciri-ciri dari pembeli emosional adalah pembeli yang hanya mengikuti tren tanpa memikirkan efek jangka panjang. Jika Anda bukan seorang ahli ekonom, hindarilah mengandalkan para spekulasi pasar. Dalam hidup, akan selalu ada kejutan yang belum tentu menyenangkan.

Baca juga: Apa Itu Stagflasi? Kenapa Suatu Negara Bisa Mengalami Stagflasi?

Penutup

Pada intinya, investasi bukan hanya tentang berani mengambil risiko saja. Bila Anda melakukannya dengan cerdas dan tetap mengikuti batas aman, Anda bisa meminimalisir risiko dan bahkan bisa memperoleh untung yang besar.

Bubble economy adalah suatu kondisi yang tidak seorang pun menginginkannya. Untuk bisa menghindarinya, lakukanlah investasi secara cerdas dan juga aman.

Selain itu, Anda harus bisa mengelola keuangan dengan baik, terutama jika Anda adalah seorang pebisnis. Nah untuk itu, akan #lebihbaik jika Anda mengandalkan aplikasi akuntansi dan bisnis dari Accurate Online.

Aplikasi yang telah dipercaya oleh ratusan ribu pebisnis di Indonesia ini mampu menyajikan lebih dari 200 jenis laporan keuangan yang bisa Anda manfaatkan untuk mengelola keuangan dan membuat keputusan bisnis yang tepat.

Selain itu, Accurate Online juga sudah dilengkapi dengan beragam fitur lain yang akan membantu Anda dalam melakukan penjualan dan pembelian, mengelola persediaan barang di gudang, menyelesaikan urusan perpajakan, dan masih banyak lagi.

Jadi, apa lagi yang Anda tunggu? Ayo coba dan gunakan Accurate Online sekarang juga selama 30 hari gratis dengan klik tautan gambar di bawah ini.

footer image blog akuntansi

Seberapa bermanfaat artikel ini?

Klik salah satu bintang untuk menilai.

0 pembaca telah memberikan penilaian

Belum ada yang memberikan penilaian untuk artikel ini :( Jadilah yang pertama!

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

ibnu

Lulusan S1 Ekonomi dan Keuangan yang menyukai dunia penulisan serta senang membagikan berbagai ilmunya tentang ekonomi, keuangan, investasi, dan perpajakan di Indonesia