Berbagai Jenis Inflasi dalam Perekonomian Negara

Di tahun 1998 lalu, Indonesia pernah mengalami inflasi besar yang pada akhirnya menyebabkan krisis moneter. Kala itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika melemah secara drastis. Jenis inflasi yang terjadi kala itu menyebabkan nilai tukar Dollar AS terhadap rupiah melonjak menjadi Rp 13,513 di akhir bulan Januari 1998.

Lantas, apa itu inflasi? Kenapa Inflasi bisa terjadi? Apa saja yang bisa menyebabkan terjadinya inflasi? Apa saja jenis-jenisnya? Dapatkan jawabannya dengan membaca artikel tentang jenis-jenis inflasi di bawah ini hingga selesai.

Apa itu Inflasi?

Berdasarkan laman Wikipedia, inflasi adalah besaran tingkat kenaikan harga yang digunakan dalam asumsi makro APBN dalam satuan persen atau meningkatnya berbagai harga secara umum dan terjadi secara terus menerus.

Kenaikan harga yang terjadi pada satu atau dua produk tidak bisa disebut sebagai inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas atau menyebabkan kenaikan pada berbagai barang lain. Terdapat setidaknya tiga hal penting yang harus dipenuhi agar bisa dikatakan inflasi, yaitu:

  1. Kenaikan harga terjadi secara terus menerus
  2. Terjadi kecenderungan meningkatnya harga
  3. Terdapat kenaikan yang bersifat umum

Baca juga: Apa itu Bubble Economy? Ini Pengertian dan Cara Mengatasinya!

Penyebab Terjadinya Inflasi

Alasan utama terjadinya inflasi adalah karena permintaan barang lebih tinggi dari pada penawarannya. Sehingga, terjadi kelangkaan barang dan jasa yang bisa membuat harga jadi meningkat.

Selain itu, inflasi juga bisa terjadi bila jumlah uang yang diedarkan meningkat. Jadi saat jumlah barang tetap namun jumlah uang beredar bertambah berkali-kali lipat, maka kenaikan harga akan sebanding dengan peningkatan jumlah yang tersebut.

Baca juga: Apa itu Suku Bunga Acuan? Ini Pengertian dan Fungsinya!

Jenis-Jenis Inflasi

Perlu Anda ketahui bahwa ada banyak sekali jenis inflasi, yaitu:

1. Jenis Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya

Berdasarkan tingkat keparahannya, inflasi terbagi menjadi inflasi ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Berikut ini adalah ulasannya:

  • Inflasi Ringan

Inflasi ringan tidak begitu mengganggu kondisi perekonomian karena berbagai harga produk hanya akan mengalami kenaikan secara umum. Kenaikan yang terjadi pada inflasi ringan ini berada di bawah 10% per tahun.

  • Inflasi Sedang

Inflasi sedang ini bisa membahayakan kegiatan perekonomian karena bisa menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang sudah mempunyai penghasilan tetap. Kenaikan harga yang terjadi pada inflasi sedang ini sekitar 10% hingga 30% per tahun.

  • Inflasi Berat

Inflasi berat ini bisa mengganggu kegiatan perekonomian, karena masyarakat sudah tidak lagi ingin menabung di bank karena bunganya lebih kecil daripada laju inflasi. Kenaikan harga yang terjadi pada inflasi berat ini sekitar 30% hingga 100% per tahun.

Inflasi yang terjadi di indonesia pada tahun 19 lalu termasuk ke dalam inflasi berat. Bahkan, inflasi yang terjadi saat ini mencapai angka 77,63% yang disebabkan karena krisis moneter.

  • Inflasi Sangat Berat

Inflasi sangat berat merupakan inflasi yang sudah sangat sulit untuk dikendalikan karena kenaikan harga yang terjadi berada diatas 100% per tahun.

Baca juga: Mengenal Desentralisasi dan Peran Pentingnya untuk Pemerintahan Negara

2. Jenis Inflasi Berdasarkan Sifatnya

Berdasarkan sifatnya, inflasi terbagi menjadi inflasi merayap, inflasi menengah, dan inflasi tinggi. Berikut ini adalah penjelasannya:

  • Inflasi Merayap (Creeping Inflation)

Inflasi merayap ditandai dengan adanya laju inflasi yang rendah, yang mana terjadi kenaikan harga yang berjalan secara lambat dengan persentase yang cenderung kecil serta dalam kurun waktu lama.

  • Inflasi Menengah (Galloping Inflation)

Jenis inflasi ini ditandai dengan adanya kenaikan harga yang cukup tinggi dan mempunyai sifat akselerasi yang terjadi dalam kurun waktu singkat.

Itu artinya, berbagai harga yang terjadi pada minggu atau bulan sekarang lebih tinggi dari harga di minggu atau bulan lalu. Lalu, di minggu atau bulan depan harga tersebut akan meningkat kembali, begitu juga seterusnya. Dampak yang akan dirasakan adalah kondisi perekonomian yang semakin susah dan berat.

  • Inflasi Tinggi (Hyperinflation)

Inflasi yang tinggi ditandai dengan adanya laju inflasi yang parah dan juga tinggi. Inflasi ini akan membuat masyarakat enggan menyimpan uangnya di bank. Perputaran uang juga akan terjadi secara cepat dan harga-harga akan terus mengalami akselerasi.

Umumnya, kondisi ini terjadi karena pemerintah pusat mengalami defisit anggaran, seperti dalam kondisi perang yang ditutup dengan mencetak uang.

Baca juga: Apa itu Resesi Ekonomi? Ini Pengertian Sebenarnya!

3. Jenis Inflasi Berdasarkan Asalnya

  • Inflasi yang Berasal dari Dalam Negeri (Domestic Inflation)

Contoh sederhana dari domestic inflation adalah seperti ketika terjadi defisit anggaran secara terus menerus, gagal panen, dan lain sebagainya.

Dalam kondisi tersebut, umumnya pihak pemerintah akan memberikan instruksi pada Bank Indonesia untuk mencetak uang baru dengan jumlah yang besar agar bisa memenuhi kebutuhan pemerintah.

Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi di dalam negeri adalah meningkatnya biaya produksi dalam negeri dan meningkatnya permintaan masyarakat pada barang, sedangkan kenaikan penawarannya tidak bisa diimbangi.

  • Inflasi yang Berasal dari Luar Negeri (Imported Inflation)

Inflasi yang berasal dari luar negeri ini terjadi karena inflasi yang terjadi di luar negeri itu sendiri, sehingga membuat harga barang-barang impor meningkat. Jenis inflasi ini umumnya dialami oleh beberapa negara yang sedang berkembang dan umumnya sebagian besar produksinya menggunakan bahan serta alat dari luar negeri.

Baca juga: Apa Itu Stagflasi? Kenapa Suatu Negara Bisa Mengalami Stagflasi?

Penutup

Demikianlah penjelasan dari kami tentang berbagi jenis inflasi yang adal dalam dunia perekonomian. Sebagai pebisnis, Anda harus mengetahuinya dengan baik agar Anda bisa membuat perencanaan dan mengelola keuangan bisnis secara tepat.

Nah, untuk memudahkan Anda dalam membuat perencanaan dan mengelola keuangan, Anda bisa menggunakan aplikasi akuntansi dan bisnis dari Accurate Online.

Kenapa ? Karena aplikasi ini mampu mencatat lebih dari 200 jenis laporan keuangan secara otomatis, cepat, akurat dan #lebihbaik. Selain itu, Anda juga bisa menikmati fitur luar biasa lainnya yang akan memudahkan Anda dalam mengelola dan mengembangkan bisnis.

Tunggu apa lagi? Ayo caba dan gunakan Accurate Online sekarang juga selama 30 hari gratis dengan hanya mendaftarkan bisnis Anda pada tauan gambar di bawah ini.

ibnu

Lulusan S1 Ekonomi dan Keuangan yang menyukai dunia penulisan serta senang membagikan berbagai ilmunya tentang ekonomi, keuangan, investasi, dan perpajakan di Indonesia