Apa Itu Additive Manufacturing? Ini Cara Kerjanya!

Istilah additive manufacturing pada dasarnya mengacu pada terobosan baru di dalam industri manufaktur yang seringkali dikenal dengan penggunaan printer 3D. Namun, sebenarnya teknologi ini sudah ada sejak tiga dekade lalu.

Teknologi additive manufacturing sudah banyak digunakan oleh beberapa perusahaan manufaktur, seperti perusahaan garmen, baja, dan otomotif.

Tapi, apa sebenarnya additive manufacturing itu? Bagaimana cara kerjanya? Dapatkan jawabannya dengan membaca artikel tentang additive manufacturing di bawah ini hingga selesai.

Apa Itu Additive Manufacturing?

Dikutip dari laman Sciencedirect, istilah additive manufacturing sebenarnya tidak terbatas pada percetakan 3D saja, tapi juga digunakan pada rapid prototyping serta direct digital manufacturing atau DDM. Kemajuan teknologi seperti ini telah menyebar luas dan masih akan memberikan berbagai kejutan lain di dunia industri manufaktur dengan berbagai perkembangannya.

Walaupun additive manufacturing sedang mengalami peningkatan tren dalam beberapa waktu belakangan, namun additive manufacturing atau 3D printing sebenarnya telah berusia 40 tahun lebih. 3D printing pertama kali digunakan di tahun 1981 lalu saat Dr. Hideo Kodama dari Jepang pertama kali mematenkan suatu alat untuk membuat prototipe dalam sistem penyemburan resin dengan menggunakan teknologi laser.

Tapi, pengajuan paten oleh dokter dari Jepang tersebut tidak pernah berhasil. Karena adanya masalah pendanaan, dirinya pun tidak bisa menyelesaikan prosesnya dalam kurun waktu satu tahun.

Beberapa tahun setelahnya, gagasan untuk membuat prototipe secara cepat pun tidak berhenti begitu saja. Terdapat 3 orang dari Prancis yang mencoba untuk mengembangkan ide tersebut lagi. Mereka adalah Jean-Claude André, Olivier de Witte, dan Alain le Méhauté.

Mereka mencoba mengajukan paten di tahun 1984, tapi mereka kembali mengalami masalah pendanaan, hingga akhirnya ide tersebut kembali ditinggalkan.

Hingga akhir tahun 1984, masa itu bisa dikatakan sebagai masa keemasan untuk teknologi cetak 3 dimensi. Hal tersebut dimulai dari adanya rasa frustasi yang dialami oleh Charles Chuck Hull ketika dirinya bekerja untuk suatu perusahaan manufaktur.

Dirinya pada kala itu mengeluhkan proses yang lama untuk pembuatan berbagai bagian kecil dalam pembuatan furniture. Dari hal tersebut, Hull menemukan metode pembentukan berbagai lapisan resin yang dikenal dengan 3D printing.

Lalu, Hull diberikan fasilitas sendiri oleh perusahaan untuk bisa menyelesaikan proyek tersebut. Tiga minggu setelah tim Prancis mengajukan hak patennya, Hull hadir dengan teknologinya sendiri yang dikenal dengan Stereolitografi yang masih digunakan sampai saat ini.

Lalu, pada tahun 2004, seorang dosen senior bidang teknik mesin dari University of Bath Inggris bernama Adrian Bowyer menemukan proyek yang dikenal dengan RepRap.

Hal tersebut memungkinkan suatu mesin 3D printer mampu mencetak sebagian besar komponennya sendiri. Sehingga, teknologi tersebut bisa disebarluaskan secara cepat dengan memungkinkan pemilik mesin cetak, mencetak mesin lainnya agar bisa dibagikan pada kerabat dan teman-temannya yang lain.

Perlu Anda ketahui bahwa di tahun 2008 terdapat inovasi baru dengan berhasil dibuatnya kaki palsu menggunakan mesin 3D printer. Saat ini memang tidak terhitung banyaknya orang yang sangat terbantu dengan kehadiran kaki palsu dari bantuan additive manufacturing.

Namun, karena belum banyak orang yang memiliki mesin 3D printer di rumahnya masing-masing, maka beberapa perusahaan penyedia layanan 3D printer pun bermunculan. Contohnya, terdapat perusahaan bernama Shapeways yang berpusat di Belanda. Perusahaan ini akan membantu siapa saja yang mempunyai desain 3 dimensi untuk membuat model buatannya dalam wujud yang nyata.

Baca juga: Berbagai Kode Produksi Makanan yang Harus Anda Ketahui Sebagai Pebisnis Makanan

Cara Kerja dan Proses Additive Manufacturing

Prinsip dasar dari additive manufacturing adalah menambahkan material, alih-alih membuat barang jadi dengan membuang material.

Metode manufaktur kuno mencakup pembentukan bahan mentah dengan menghilangkan berbagai bagiannya hingga menjadi suatu bentuk barang yang diinginkan perusahaan.

Sedangkan additive manufacturing adalah kebalikannya. Metode ini akan menambahkan ribuan lapisan super kecil yang saling terkombinasi hingga barang tersebut pun jadi.

Proses tersebut memerlukan komputer dan aplikasi khusus bernama CAD yang akan memberikan perintah kepada printer tentang bentuk barang yang diinginkan perusahaan. Cartridge yang digunakan juga bisa dengan berbagai jenis bahan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Baca juga: Mockup Adalah Komponen Penting dalam Mendesain Produk, Ini Cara Membuatnya!

Manfaat Additive Manufacturing

Metode manufaktur sebelumnya mampu membuat barang dengan bentuk dan juga desain yang beragam, namun additive manufacturing mampu melampaui hal tersebut.

Salah satu manfaat utama dari teknologi ini adalah kemampuannya dalam membentuk desain yang lebih banyak. Desain barang yang tidak bisa dibuat manufaktur dengan satu bongkahan bahan mentah bisa dilakukan lewat teknologi additive manufacturing.

Contohnya seperti bentuk cekungan atau bentuk berlubang yang berada di tengah bisa dibuat oleh perusahaan dengan menggunakan bahan mentah tanpa perlu meleburkan dan juga menempelkan bahan lain. Sehingga, barang yang diproduksi akan jauh lebih kuat dan tidak ada satupun titik yang rapuh.

Prosesnya pun cenderung lebih cepat. Perusahaan manufaktur tidak harus lagi melakukan rapat berulang kali dalam mendiskusikan bagaimana suatu barang bisa terbentuk. Perubahan desain bisa dilakukan oleh perusahaan dengan satu kali klik. Dengan adanya fleksibilitas tersebut, perusahaan mampu lebih hemat biaya.

Selain itu, keterbatasan produksi pun seringkali mempengaruhi desain barang karena kerap kali tidak bisa dicapai dalam proses. Nah, teknologi additive manufacturing mampu mewujudkan desain idaman perusahaan.

Untuk itu, perusahaan harus menerapkan sistem supply chain management agar bisa memperoleh visibilitas dan analisis yang lengkap agar bisa mengelola produk dan material secara akurat dan didesain guna mengikuti perubahan pasar yang terjadi secara cepat.

Baca juga: Produk Digital: Pengertian dan Contohnya Untuk Bisnis Anda

Tantangan Utama dalam Menggunakan Teknologi Additive Manufacturing

Terdapat banyak sekali tantangan yang harus dihadapi dalam menggunakan teknologi additive manufacturing. Pertama, tidak semua bahan bisa diolah dengan memanfaatkan proses additive manufacturing.

Seorang senior manager advanced remanufacturing technology center mengatakan bahwa kendala dan juga tantangan paling besar dalam penggunaan additive manufacturing adalah pemanfaatan dan bahannya.

Menurutnya, saat ini tidak semua bahan bisa diolah dengan proses additive manufacturing. Terdapat banyak sekali faktor yang menjadi pertimbangan di dalamnya, seperti daya dan kecepatan laser, morfologi serbuk, sampai proses akhir yang terkadang cacat atau tidak sempurna yang mampu merusak nilai produk.

Hal tersebut juga diperkuat dengan fakta bahwa proses aditifi sampai saat ini hanya sebesar 63% yang bisa digunakan sebagai prototipe, dan 21% digunakan menjadi barang jadi. Sedangkan sisanya bisa dibilang sebagai produk gagal.

Tantangan selanjutnya adalah sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia sangat memberikan dampak pada teknologi ini. Perusahaan manufaktur memang memerlukan SDM yang bisa memahami pengoperasian 3D printing dan pemahaman atas berbagai bahan yang digunakan.

Terlebih lagi, saat ini masih sangat sedikit sekali SDM di Indonesia yang memahami penerapan additive manufacturing.

Baca juga: Daftar dan Jenis Produk Konsumen Beserta Contohnya

Solusinya Adalah dengan Menggunakan Aplikasi Bisnis Khusus

Suatu aplikasi bisnis yang memiliki fitur manufakturing adalah kunci utama yang mampu membantu perusahaan dalam menjalankan inovasi bisnis. Aplikasi tersebut akan membantu Anda untuk mengawasi banyaknya material yang digunakan oleh perusahaan dalam melakukan produksi melalui additive manufacturing.

Data manajemen dari fitur manufakturing mampu melacak produk Anda, dari mulai bahan baku, pengiriman, dan keefektifan semua proses hanya dengan memanfaatkan ujung jari saja.

Solusi yang dihadirkan oleh aplikasi bisnis yang memiliki fitur manufakturing juga akan memprediksi pesanan yang akan terjadi di masa depan, sehingga perusahaan mampu mempersiapkannya secara baik.

Namun karena teknologi ini masih terbilang baru, maka Anda harus memastikan mesin 3D printing bisa berjalan dengan baik secara berkala.

Baca juga: Design Sprint, Metode Terbaik Untuk Membuat Produk Secara Cepat

Penutup

Additive manufacturing adalah suatu terobosan baru dalam teknologi di industri manufaktur yang mampu membantu perusahaan dalam memproduksi barangnya. Manfaat tersebut bahkan mampu melampaui teknologi manufaktur tradisional.

Namun untuk bisa mengoperasikannya, maka Anda harus menggunakan aplikasi bisnis yang memiliki fitur manufaktur seperti Accurate Online. Dengan adanya fitur manufaktur dari Accurate Online, Anda bisa lebih mudah dalam menerapkan additive manufacturing.

Lebih dari itu, Accurate Online juga sudah terintegrasi dengan fitur lainnya yang akan memudahkan Anda dalam membuat lebih dari 200 jenis laporan keuangan, melakukan kegiatan penjualan dan pembelian, mengelola persediaan barang, menyelesaikan proses perpajakan, dan masih banyak lagi.

Ayo coba dan gunakan Accurate Online sekarang juga selama 30 hari gratis dengan klik tautan gambar di bawah ini.

anggimo

Seorang wanita lulusan sarjana manajemen bisnis dan akuntansi yang hobi menulis blog tentang manajemen bisnis secara spesifik.