Joint Cost Adalah: Ini Pengertian dan Bedanya Dengan Joint Product Cost

Dalam suatu proses produksi, terdapat dua jenis biaya di dalamnya, yakni joint product cost dan joint cost. Sama seperti namanya, joint cost adalah biaya bersama, sedangkan joint product cost adalah biaya produk bersama. Walaupun terdengar hampir sama, namun kedua istilah ini memiliki perbedaan yang mendasar.

Lalu, apa bedanya joint cost dan joint product cost? Bagaimana cara mengalokasikan dana pada dua biaya tersebut? Tenang, kami akan menjawabnya pada artikel di bawah ini.

Pengertian Joint Cost dan Bedanya dengan Joint Product Cost

Joint cost adalah semua biaya yang muncul agar bisa menghasilkan dua jenis produk ataupun lebih, dimana proses produksi tersebut dilakukan secara simultan.

Proses penghitungan biaya tersebut dibatasi dengan titik pemisahan atau split of point, yang merupakan suatu waktu dimana produk utama dan produk sampingan yang dibuat secara bersamaan bisa dipisahkan.

Produk yang dihasilkan akan bisa langsung dijual pada titik ini, tapi juga bisa dilanjutkan produksinya agar bisa menghasilkan produk yang lebih menguntungkan.

Baca juga: Apa itu Cost Center? Berikut Pengertian, Fungsi dan Contohnya

Pengertian Produk Sampingan dan Produk Utama

Sebelum lebih jauh membahas tentang joint product cost, kita harus mengetahui lebih dulu tentang pengertian produk utama dan produk sampingan.

Produk utama adalah produk yang dibuat secara bersamaan dengan produk sampingan, tapi mempunyai kuantitas ataupun nilai yang lebih banyak daripada produk sampingan.

Sedangkan produk sampingan adalah produk yang walaupun dalam proses pembuatannya dilakukan bersamaan dengan produk utama, namun harga jualnya cenderung lebih rendah.

Contoh sederhananya adalah penggilingan padi. Mesin penggilingan padi tentu akan menghasilkan beras, dan sisanya akan menghasilkan dedak atau gabah. Nah, beras adalah produk utama, dan dedak atau gabah adalah contoh produk sampingan.

Contoh lainnya adalah pengilangan minyak bumi. Disana akan menghasilkan minyak dan aspal sebagai produk sisanya. Nah, produk utamanya adalah minyak bumi dan aspal adalah produk sampingannya.

Baca juga: Pengertian dan Perbedaan Profit Center dan Cost Center

Lalu Apa Bedanya Joint Cost dan Joint Product Cost

Lain halnya dengan joint cost atau biaya bersama, biaya produk bersama atau joint product cost adalah biaya yang muncul dari awal proses produksi. Di dalamnya mencakup biaya tenaga kerja, biaya bahan baku, dan juga biaya overhead.

Biaya ini akan muncul selama pengolahan di beberapa jenis produk. Setiap produk akan bisa dibedakan dengan berdasarkan sudut alokasinya. Alokasi biaya bersama bisa ditelusuri ke produk tertentu, yang artinya Anda bisa melakukan penelusuran aliran biaya tersebut di dalam proses produksi. Inilah perbedaan antara joint cost dan joint product cost, biaya akan dialokasikan untuk beragam jenis produk.

Baca juga: Mengenal Fixed Cost dan Bedanya Dengan Variable Cost

Cara Mengalokasikan Dana Joint Cost

Sesuai dengan pengertian di atas, biaya joint cost memang akan dialokasikan pada produk tertentu yang nantinya akan dicatat pada laporan keuangan.

Nah, beberapa metode yang bisa Anda gunakan untuk mengalokasikan dana joint cost adalah sebagai berikut:

1. Metode Unit Fisik

Dalam metode ini, alokasi biaya joint cost pada produk yang dihasilkan akan berdasarkan ukuran fisiknya. Ukuran tersebut bisa dinyatakan dalam satuan tertentu, seperti ton, pon, papan, galon, dan unit panas.

Contohnya, bila produk A menghasilkan 300 pon dan produk B menghasilkan 700 pon, maka produk A akan menerima alokasi biaya sebesar 30%, sedangkan alokasi biaya untuk produk B adalah sebesar 70%.

Agar bisa mendapatkan rata-rata biaya unitnya, maka kita bisa membagi biaya total bersama dengan total pengeluaran.

2. Metode rata-rata seimbang

Pada metode sebelumnya, hanya kuantitas baranglah yang nantinya akan dijadikan acuan dalam menentukan alokasi biaya.

Padahal di dalam proses produksi, terdapat beberapa faktor lain yang juga harus diperhitungkan, seperti waktu yang diperlukan untuk memproduksi produk, kesulitan dalam proses produksi, serta perbedaan jenis tenaga kerja yang terlibat pada proses produksi.

Berbagai faktor tersebut harus diperhitungkan dalam metode rata-rata seimbang. Setiap faktor dan bobot relatif akan digabungkan ke dalam nilai tunggal, yang nantinya akan dikenal dengan faktor bobot.

3. Alokasi biaya berdasarkan nilai pasar relatif

Metode ini diklaim lebih baik daripada kedua jenis metode di atas. Pasalnya, metode ini menggunakan asumsi bahwa tidak ada biaya yang akan muncul bila semua produk yang dibuat menghasilkan pendapatan dan juga tingkat pengembalian yang cukup untuk menutupi semua biaya.

Hal tersebut senada dengan teori bahwa biaya yang dibutuhkan untuk bahan baku dan joint cost lainnya dalam proses produksi barang berkaitan dengan nilai jual produk.

4. Metode Nilai Jual Terpisah

Alokasi biaya yang terdapat di dalam metode ini didasarkan pada nilai pasar ataupun penjualan dari suatu produk di titik pemisahan. Semakin tinggi nilai pasar atas suatu produk, maka biaya yang dialokasikan untuk produk tersebut pun akan semakin besar.

Di dalamnya juga akan sangat mungkin terjadi alokasi biaya yang sifatnya konstan. Hal tersebut akan terjadi selama harga jual yang terdapat di titik pemisahan stabil atau fluktuasi setiap harganya seimbang.

5. Metode nilai realisasi bersih

Nilai pasar yang terdapat pada titik pemisahan adalah nilai yang belum tentu sesuai dengan para pelanggan. Untuk itu, metode ini menggunakan nilai jual hipotesis yang didapat dengan cara mengurangi seluruh biaya produksi yang bisa dipisahkan dari harga pasar.

Dengan menggunakan cara ini, maka Anda bisa mengalokasikan biaya joint cost secara lebih merata dengan didasarkan pada setiap bagian produk, dari nilai jual hipotesis yang ada.

6. Metode Persentase Margin Bruto Konstan

Pada metode ini, seluruh biaya yang terdapat di titik pemisahan akan diinput ke dalam biaya keseluruhan, yang artinya laba juga bisa masuk ke dalam biaya ini. Metode ini juga akan mengalokasikan joint cost di setiap produk yang akan menyebabkan persentase margin bruto yang sama.

7. Rasio Penjualan Terhadap Produksi

Metode ini akan mengalokasikan biaya joint cost dengan faktor pembobot, dimana faktor tersebut nantinya akan menampilkan persentase penjualan dengan persentase produksi. Sehingga, produk yang memiliki harga jual tinggi akan mendapatkan alokasi biaya bersama paling besar.

Baca juga: Pengertian Lengkap Biaya Diferensial dalam Sebuah Perusahaan

Penutup

Demikianlah penjelasan dari kami tentang joint cost. Bila Anda masih kesulitan untuk menghitung biaya joint cost ataupun biaya joint product cost, Anda bisa coba menggunakan software akuntansi dan bisnis dari Accurate Online.

Accurate Online adalah software akuntansi dan bisnis berbasis cloud yang akan menyajikan lebih dari 200 jenis laporan keuangan dan bisnis pada Anda secara instan.

Di dalamnya Anda bisa menikmati fitur manufaktur, persediaan, perpajakan, penjualan, pembelian, dan masih banyak lagi. Selain itu, Anda juga bisa lebih mudah dalam menghitung keperluan biaya joint cost ataupun biaya joint product cost.

Penasaran? Klik banner di bawah ini untuk mencoba Accurate Online selama 30 hari, Gratis!