Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur: Jenis dan Perbedaannya

oleh | Jan 10, 2024

source envato.

Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur: Jenis, Cara Membuat dan Perbedaannya

Membangun perusahaan manufaktur merupakan hal yang tidak mudah. Baik dari syarat dan perizinin, modal, pengetahuan dan juga proses keuangan.

Salah satu hal yang perlu Anda perhatikan adalah laporan keuangan perusahaan manufaktur yang sedikit berbeda dari jenis usaha lainnya.

Penyusunan laporan keuangan perusahaan manufaktur bisa sangat memakan waktu dan tenaga, juga sangat tidak disarankan untuk menggunakan pembukuan manual.

Hal ini dikarenakan proses pembukuan pada bisnis manufaktur terkenal rumit dan juga memerlukan pencatatan yang terperinci

Ingin mengetahui apa saja yang perlu Anda perhatikan sebelum membuat laporan keuangan perusahaan manufaktur? Baca terus artikel ini untuk lebih jelasnya:

Mengenal Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur

Mengenal Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur

ilustrasi Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur. source envato

Perusahaan manufaktur menggunakan bahan mentah dan suku cadang yang dibeli untuk menghasilkan produk untuk dijual.

Sehingga perusahaan manufaktur memiliki beberapa akun berbeda dibandingkan dengan laporan keuangan perusahaan jasa dan jurnal keuangan perusahaan dagang.

Jenis-jenis akun inventaris pada laporan keuangan perusahaan manufaktur, yaitu:

  • Bahan mentah: bahan dan suku cadang yang menunggu untuk digunakan dalam produksi
  • Pekerjaan dalam proses: bahan material, tenaga kerja, dan biaya produksi lainnya yang terakumulasi hingga saat ini untuk produk yang belum selesai
  • Barang jadi: harga pokok produk jadi yang siap dijual dan beberapa akun aset tetap jangka panjang.

Nilai dari setiap jenis persediaan diungkapkan dalam laporan keuangan perusahaan. Jumlahnya dapat ditampilkan secara individual di muka neraca atau diungkapkan dalam catatan kaki.

Di bagian aset jangka panjang dari neraca perusahaan manufaktur, terdapat juga perhitungan berupa aset seperti bangunan dan peralatan pabrik dan mungkin akun perkakas kecil.

Produsen sering kali memiliki paten untuk produk atau prosesnya. Biaya yang dikapitalisasi terkait dengan paten akan dimasukkan ke dalam bagian aset tak berwujud di neraca.

Laporan laba rugi untuk perusahaan manufaktur serupa dengan yang disiapkan untuk perusahaan merchandising atau retail.

Dalam menghitung harga pokok penjualan, hanya akun persediaan barang jadi yang digunakan.

Perbedaan diatas seringkali membuat pengusaha sulit untuk menyusun laporan keuangan manufaktur, Oleh karena itu Software Akuntansi menyediakan fitur khusus manufaktur.

Fitur Manufaktur Accurate Online, membantu pengusaha dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengecekan, hingga penyelesaian produksi agar dapat dilakukan lebih mudah!

Rasio Keuangan dalam Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur

Rasio Keuangan dalam Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur

ilustrasi Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur. source envato

Seperti telah kita bahas diatas, tidak seperti retailer, manufaktur memiliki tiga kategori inventaris unik: Bahan Baku, Barang dalam Proses, dan Barang Jadi.

Hal itu menyebabkan cara pengukuran dan penggunaan rasio keuangan yang berbeda dengan jenis usaha lainnya.

Perusahaan manufaktur membutuhkan penggunaan inventori, peralatan, dan personel yang efisien untuk mengembangkan produknya.

Perusahaan menggunakan rasio keuangan yang berbeda untuk mengevaluasi bisnisnya.

Rasio ini juga dapat digunakan untuk mengukur kesesuaian operasi dan untuk menentukan seberapa baik proses manufaktur berjalan.

Rasio keuangan ini perlu dipahami oleh investor guna lebih memahami cara membaca laporan keuangan perusahaan manufaktur sehingga menghasilkan investasi yang untung.

1. Inventory Turnover

Rasio perputaran persediaan atau inventory turnover mengukur keefektifan proses manufaktur perusahaan.

Rasio ini menunjukkan berapa kali perusahaan menjual dan mengganti inventorinya selama periode waktu tertentu.

Hal ini diukur dengan membagi harga pokok penjualan dengan saldo rata-rata dalam persediaan.

Perusahaan dapat menggunakan rasio ini untuk membuat keputusan yang lebih baik tentang harga, manufaktur, pemasaran, dan pesanan inventaris baru mereka.

Seorang investor harus memperhatikan rasio turnover yang tinggi, karena perhitungan yang rendah merupakan indikator bahwa perusahaan manufaktur menangani terlalu banyak persediaan.

Hal ini menempatkan entitas manufaktur pada risiko yang lebih besar untuk persediaan usang dan kadaluarsa atau pencurian properti perusahaan.

2. Maintenance Costs to Total Expenses

Perusahaan manufaktur dapat menggunakan peralatan atau mesin selama proses produksi barangnya.

Pengukuran kritis atas keberlanjutan operasi jangka panjang adalah membandingkan biaya perbaikan dan pemeliharaan dengan total biaya.

Proporsi biaya perbaikan yang rendah menandakan satu dari dua hal.

  • Pertama, perusahaan memiliki aset tetap tahan lama yang tidak memerlukan banyak pemeliharaan berkelanjutan.
  • Kedua, perusahaan dapat memilih untuk mengganti peralatan dengan mesin yang lebih baru dan lebih andal.

Dalam kedua kasus tersebut, stakehoder dapat memperoleh wawasan tentang perencanaan strategis jangka panjang manajemen untuk mengimplementasikan teknologi yang tersedia.

3. Rasio Pendapatan Per Karyawan

Membagi total pendapatan perusahaan manufaktur dengan jumlah karyawan menghasilkan pendapatan yang diperoleh per karyawan.

Stakeholder menggunakan perhitungan untuk menentukan efisiensi teknologi suatu entitas.

Misalnya, dua perusahaan manufaktur masing-masing memperoleh pendapatan $ 10 juta. Namun, satu perusahaan manufaktur memiliki 50 karyawan, sedangkan yang lain memiliki 20 karyawan.

Dengan asumsi mereka memproduksi barang serupa, perusahaan dengan 50 karyawan tersebut mungkin beroperasi secara tidak efisien.

Sebagai alternatif, perusahaan dengan 20 karyawan secara teoritis menggunakan teknologi yang lebih efisien dengan kemampuan yang lebih besar.

Bagi seorang investor, metrik ini penting, karena perusahaan dengan 20 karyawan lebih baik secara finansial dalam jangka panjang.

4. Total Biaya Manufaktur Per Unit Minus Bahan

Perusahaan manufaktur mengeluarkan banyak biaya saat mengembangkan dan membuat produk.

Meskipun bahan langsung dari produk mudah dilacak, banyak faktor dan biaya lain yang masuk ke suatu barang mungkin tidak mudah diidentifikasi.

Oleh karena itu, metrik keuangan ini membagi total biaya produksi, tidak termasuk bahan langsung, dengan jumlah unit yang diproduksi.

Stakehoder dapat memanfaatkan angka ini dengan menentukan berapa banyak biaya tambahan yang diperlukan untuk menghasilkan barang dan seberapa efisien proses perusahaannya.

5. Biaya Manufaktur terhadap Total Beban

Perusahaan manufaktur mengeluarkan biaya saat memproduksi produk serta biaya tidak langsung yang diperlukan untuk menjalankan bisnis.

Dari sudut pandang investor, lebih diinginkan untuk melihat sebagian besar biaya terkait langsung dengan produksi dibandingkan dengan biaya lain, termasuk gaji supervisor atau sewa gedung.

Biaya manufaktur terhadap total beban adalah metrik keuangan yang mengukur proporsi ini.

Hasil penghitungan yang lebih tinggi menunjukkan lebih banyak biaya yang dapat diatribusikan ke biaya yang secara langsung dibutuhkan untuk memproduksi produk.

6. Return on Net Assets

Perusahaan manufaktur menggunakan aset tetapnya terutama inventaris dan peralatan untuk menghasilkan pendapatan.

Untuk alasan ini, pengukuran keuangan yang penting adalah pengembalian aset bersih.

Dengan membagi laba bersih dari sebuah pabrik dengan aset bersih divisi tersebut, sebuah perusahaan manufaktur dapat mengukur seberapa sukses bagian bisnisnya dalam memanfaatkan asetnya untuk mengembangkan keuntungan bagi perusahaan.

Seorang pemilik bisnis harus menggunakan rasio ini untuk menentukan perusahaan manufaktur yang paling efisien.

7. Rasio Margin Kontribusi Unit

Rasio margin kontribusi dihitung dengan mengambil selisih antara total pendapatan dan total biaya variabel dan membagi angka ini dengan total pendapatan.

Misalnya, produk yang dijual seharga 1.000.000 dengan biaya variabel 300.000 memiliki rasio margin kontribusi 70% (( 1.000.000 –  300.000) /  1.000.000).

Rasio tersebut mengukur persentase pendapatan yang diatribusikan untuk menutupi biaya tetap.

Jika Anda adalah seorang investor, Anda dapat menggunakan rasio ini untuk menentukan keamanan sebuah perusahaan manufaktur.

Perusahaan manufaktur dengan rasio margin kontribusi yang tinggi memiliki waktu yang lebih mudah untuk menutupi biaya tetap dan tidak terlalu berisiko sebagai investasi.

Jenis-jenis Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur

Jenis-jenis Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur

ilustrasi Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur. source envato

1. Laporan Laba Rugi (Income Statement):

Laporan ini mencatat semua pendapatan dan biaya selama periode tertentu, memberikan gambaran mengenai laba bersih atau kerugian perusahaan.

2. Laporan Neraca (Balance Sheet):

Menunjukkan aset, kewajiban, dan ekuitas pemilik pada suatu titik waktu, memberikan gambaran posisi keuangan perusahaan.

3. Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flows):

Menggambarkan bagaimana kas masuk dan keluar dari perusahaan selama periode tertentu, terbagi menjadi aktivitas operasional, investasi, dan pendanaan.

4. Laporan Perubahan Modal/Ekuitas:

Mencerminkan perubahan dalam ekuitas pemilik dari awal hingga akhir periode, termasuk laba bersih, investasi pemilik, dan dividen.

5. Laporan Biaya Produk (Cost of Goods Manufactured – COGM):

Menunjukkan biaya produksi bersih yang dihabiskan untuk barang yang diproduksi selama periode tertentu.

Setiap laporan memiliki peran penting dalam memberikan wawasan mendalam tentang kinerja keuangan perusahaan manufaktur.

Cara Membuat Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur

Cara Membuat Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur

ilustrasi Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur. source envato

1. Laporan Laba Rugi (Income Statement):

  1. Hitung Pendapatan Usaha: Jumlahkan semua pendapatan dari penjualan produk.
  2. Hitung Harga Pokok Penjualan (COGS): Jumlahkan biaya produksi, termasuk bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead.
  3. Hitung Laba Kotor: Kurangkan COGS dari pendapatan usaha.
  4. Kurangkan Biaya Operasional: Kurangkan biaya operasional, seperti gaji, biaya pemasaran, dan administrasi dari laba kotor.
  5. Hitung Laba Bersih: Ini adalah hasil akhir setelah mengurangkan semua biaya.

2. Laporan Neraca (Balance Sheet):

  1. Daftarkan Aset: Sertakan aset seperti persediaan, peralatan, dan piutang.
  2. Catat Kewajiban: Termasuk hutang usaha, hutang jangka panjang, dan liabilitas lainnya.
  3. Hitung Ekuitas Pemilik: Ekuitas adalah selisih antara aset dan kewajiban.
  4. Pastikan Persamaan Akuntansi Terpenuhi: Total aset harus sama dengan total kewajiban dan ekuitas.

3. Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flows):

  1. Hitung Arus Kas Operasional: Sertakan penerimaan dari penjualan, pembayaran biaya operasional, dan pajak.
  2. Hitung Arus Kas Investasi: Termasuk pembelian atau penjualan aset tetap.
  3. Hitung Arus Kas Pendanaan: Sertakan penerimaan atau pembayaran utang dan dividen.

4. Laporan Perubahan Modal/Ekuitas:

  1. Catat Modal Awal: Ekuitas pada awal periode.
  2. Hitung Laba Bersih: Dari laporan laba rugi.
  3. Catat Investasi Pemilik: Jika ada tambahan modal dari pemilik.
  4. Kurangkan Dividen yang Dibayarkan: Jika ada pembayaran dividen.
  5. Hitung Modal Akhir: Jumlahkan semua elemen untuk menentukan ekuitas pada akhir periode.

5. Laporan Biaya Produk (Cost of Goods Manufactured – COGM):

  1. Hitung Bahan Baku yang Digunakan: Jumlahkan biaya bahan baku yang digunakan selama produksi.
  2. Hitung Tenaga Kerja Langsung: Sertakan biaya langsung tenaga kerja yang terlibat dalam produksi.
  3. Hitung Overhead Pabrik: Biaya produksi tambahan seperti listrik pabrik dan pemeliharaan mesin.
  4. Hitung Total Biaya Produksi: Jumlahkan semua komponen untuk mendapatkan biaya total produksi.

Harap diingat pembuatan laporan keuangan harus mengikuti standar akuntansi dan pastikan akurasi data transaksi untuk menghasilkan laporan keuangan yang akurat.

Selain menggunakan akuntan professional, Anda dapat memanfaatkan Software Akuntansi guna menghasilkan laporan yang sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi manufaktur.

Pelajari cara mudah membuat laporan keuangan perusahaan manufaktur dengan Accurate Online untuk mempersingkat kerja Anda!

Perbedaan Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur dengan Perusahaan Dagang

Perbedaan Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur dengan Perusahaan Dagang

ilustrasi Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur. source envato

1. Penghitungan HPP yang Berbeda

Untuk perusahaan dagang, umumnya perusahaan tersebut membeli stok dari produsen dan langsung dipasarkan kembali ke konsumen.

Untuk penghitungan HPP dalam perusahaan dagang juga cukup sederhana yaitu:

  1. Menambahkan jumlah pembelian persediaan selama satu periode dengan persediaan awal periode,
  2. Lalu kurangi jumlah persediaan tersebut dengan persediaan akhir hasil Stock Opname perusahaan pada akhir periode.

Maka jumlah HPP selama satu periode akan diketahui dengan cara-cara tersebut.

Nilai HPP tersebut juga akan digunakan sebagai pengurang dari total pendapatan bersih perusahaan untuk mengetahui nilai laba kotor.

Penghitungan HPP di perusahaan manufaktur lebih rumit, dan memecah biaya dalam persediaan menjadi 3 kategori yaitu biaya bahan baku, pengolahan barang setengah jadi dan nilai persediaan barang

Penghitungan ini mencakup semua komponen, bagian, atau bahan yang dibutuhkan untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam proses pengolahan barang setengah jadi.

Setelah itu perusahaan manufaktur juga harus menghitung biaya tenaga kerja langsung dan overhead pabrik dalam perhitungan HPP-nya.

2. Penghitungan Biaya Overhead

Pada bisnis manufaktur biaya overhead adalah biaya tambahan atau biaya lain-lain, yang tidak terkait langsung dengan proses bisnis dan produksi yang dilakukan dalam operasi bisnis.

Biaya ini akan selalu ada pada setiap laporan keuangan perusahaan manufaktur, tidak seperti laporan keungan perusahaan jasa.

Kesimpulan

Perusahaan manufaktur adalah organisasi yang lebih kompleks daripada perusahaan perdagangan dan karena itu memiliki variasi biaya yang lebih besar untuk dikendalikan.

Misalnya, perusahaan dagang dapat membeli furnitur untuk dijual kepada konsumen, sedangkan perusahaan manufaktur harus memperoleh bahan mentah untuk diproduksi menjadi furnitur.

Manufaktur mengeluarkan biaya tambahan, seperti tenaga kerja langsung, untuk mengubah bahan mentah menjadi furnitur. Serta mengoperasikan pabrik fisik tempat proses produksi berlangsung.

Beberapa dari biaya ini terkait langsung dengan produksi, sementara yang lain adalah biaya umum yang diperlukan untuk menjalankan bisnis.

Karena proses manufaktur dapat menjadi sangat kompleks, perusahaan manufaktur secara konstan mengevaluasi proses produksinya untuk menentukan di mana penghematan biaya dimungkinkan.

Kesulitan mengelola pembukuan dan membuat laporan keuangan untuk bisnis manufaktur?

Anda bisa mencoba menggunakan software akuntansi yang sudah mendukung pencatatan pembukuan manufaktur yaitu Accurate Online.

10 kelebihan Fitur Manufaktur Accurate Online siap membantu Anda dalam proses pencatatan keuangan sesuai standar umum dan mudah untuk dilakukan!

Tertarik menggunakan Fitur Manufaktur Accurate Online? Anda bisa mencoba menggunakan Accurate Online secara gratis selama 30 hari melalui tautan pada gambar di bawah ini:

akuntansibanner
sidebarPromo

Download Template Pembukuan Bisnis

Template pembukuan untuk bisnismu dengan format Excel.

Khaula Senastri
Seorang lulusan S1 ilmu akuntansi yang suka membagikan istilah, rumus, dan berbagai hal yang berkaitan dengan dunia akuntansi lewat tulisan.

Artikel Terkait