Operating Profit Margin Adalah Hal Penting dalam Analisis Rasio Keuangan, Ini Penjelasannya!

Pada dasarnya, rasio OPM atau operating profit margin adalah salah satu pembahasan yang penting di dalam analisa rasio keuangan, terutama dalam pembahasan rasio profitabilitas. Setiap perusahaan bisa menggunakan rasio operating profit margin ini untuk menilai kemampuannya dalam menghasilkan laba operasi dan juga penjualan bersih selama periode tertentu.

Di sisi lain, laba operasi di dalam operating profit margin adalah laba bersih sebelum akhirnya dikenakan bunga dan pajak.

Rasio profitabilitas merupakan salah satu cara yang tepat untuk menilai tingkat pengembalian yang akan diperoleh dari kegiatan investasi suatu perusahaan. Rasio ini sangat berguna agar bisa mengetahui kondisi perusahaan dalam periode tertentu agar bisa menghasilkan laba perusahaan.

Bila kondisi perusahaan ditinjau dari tingkatan profitabilitas dinilai menguntungkan dan menjanjikan laba, maka nantinya akan lebih mudah dalam menarik banyak investor dan harga saham pun nantinya akan menjadi lebih tinggi.

Nah, dalam kesempatan kali ini, mari bersama kita dalami tentang rasio operating profit margin pada artikel di bawah ini.

Gross Profit Margin dan Net Profit Margin

Selain operating profit margin, terdapat beberapa penilaian tingkat profitabilitas, yakni gross profit margin dan juga net profit. Gross profit margin adalah suatu presentasi dan laba kotor berbanding dengan penjualan perusahaan.

Semakin besar nilai gross profit margin, maka akan semakin baik juga kondisi operasional perusahaan dalam satu periode selanjutnya.

Sedangkan nett profit margin adalah rasio antara laba bersih penjualan setelah dikurangi semua expenses, termasuk di dalamnya pajak yang dibandingkan dengan angka penjualan.

Bila persentase net profit margin yang diperoleh semakin tinggi, maka perusahaan pun akan dinilai baik dalam menjalankan operasional bisnisnya.

Selain itu, terdapat juga ROA atau return on asset yang mampu memberikan dampak negatif pada suatu harga saham. Return on asset merupakan bagian penting dari rasio profitabilitas yang sangat penting untuk bisa mengetahui tingkat kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dari penggunaan maksimal pada semua aset yang dimilikinya.

ROA pun sangat penting untuk bisa menilai kualitas dan juga kinerja perusahaan dalam hal menghasilkan laba bersih atas pemanfaatan sumber daya yang ada.

Baca juga: Beban Bunga: Jenis Perlakuan dan Cara Pencatatannya

Pengertian Operating Profit Margin

Operating profit margin adalah penilaian kemampuan perusahaan dalam hal meningkatkan laba sebelum bunga dan juga pajak dibandingkan dengan penjualan yang sudah dilakukan oleh perusahaan.

Rasio operating profit margin mampu merepresentasikan keuntungan murni yang diterima perusahaan atas adanya setiap penjualan yang sudah dilakukan.

Operating profit margin akan dinilai murni bila jumlah yang diterima sudah benar-benar didapat dan hasil operasi perusahaan dengan cara mengabaikan berbagai kewajiban finansial, seperti halnya pajak dan juga bunga.

Sama halnya seperti gross profit margin dan juga net profit margin, bila persentase operating profit margin bernilai semakin meningkat, maka perusahaan juga akan dinilai baik dalam menjalankan kegiatan bisnisnya.

Baca juga: Cara Menghitung Biaya Total dan Contoh Kasusnya

Fungsi OPM

Pada dasarnya, tujuan dan juga fungsi dari rasio operating profit margin adalah agar bisa melakukan evaluasi performa operasional bisnis perusahaan. Rasio operating profit margin ini nantinya akan mempertimbangkan biaya operasional atau operating expenses selain harga pokok penjualan atau cost of good sold.

Dalam hal ini, setiap biaya operasional yang diabaikan atau dihapus, yakni biaya penjualan dan administrasi umum dari laba kotor dan juga laba operasi, atau laba sebelum dikenakan pajak dan bunga. Sehingga, rasio operating profit margin nantinya bisa dihitung dengan cara membandingkan operating profit dan juga revenue perusahaan.

Baca juga: Contoh Soal Rekonsiliasi Bank dan Pengertian Lengkapnya

Rasio Operating Profit Margin yang Baik

Agar bisa menentukan baik atau tidaknya nilai operating profit margin, maka harus dilakukan perbandingan dengan operating profit margin yang ada pada periode sebelumnya. Bila OPM terus mengalami peningkatan, maka operating profit margin bisa dinilai oleh perusahaan mempunyai keuntungan murni yang juga baik.

Pun demikian juga sebaliknya, bila operating profit margin mengalami penurunan pada periode sebelumnya, maka manajemen perusahaan harus hati-hati dalam memaksimalkan aset dalam periode bisnis yang nantinya akan berjalan.

Baca juga: Rumus MC (Marginal Cost) dan Cara Menghitungnya

Rumus OPM

Brigham & Houston (2013), menjelaskan bahwa cara menghitung atau rumus dari operating profit margin adalah dengan membandingkan earning before interest and tax atau EBIT dengan penjualan atau sales, atau bisa juga dihitung dengan cara membagi operating profit dengan revenues.

Nah, rumus dalam menghitung operating profit margin adalah sebagai berikut:

Operating profit margin: [(RevenuesCost of Goods SoldOperating Expenses) / Revenues] x 100%.

Jika disederhanakan, maka rumus dari operating profit margin adalah sebagai berikut

Operating profit margin = (EBIT / Revenues) x 100%.

Dalam hal ini, istilah lain dari revenues adalah net sales. Sedangkan EBIT bisa mengacu pada operating income atau laba usaha.

Baca juga: Historical Cost Adalah: Pengertian dan Perbedaannya dengan Fair Value

Contoh Soal Operating Profit Margin

Sebagai bahan pembelajaran, mari kita mengambil contoh kasus pada perusahaan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Dalam laporan perusahaan ICBP per tanggal 31 Desember 2019, diketahui neto atau net sales mereka adalah sebanyak Rp42.296.703 dan laba sebelum dikenakan pajak penghasilan adalah sebesar Rp7.436.972.

Lalu, operating profit margin dari ICBP pada tahun 2019 adalah sebagai berikut:

OPM = (Rp7.436.972 / Rp42.296.703) x 100%

OPM = 17,6%

Baca juga: Ragam Bentuk Buku Besar dan Contohnya

Cara Interpretasi OPM

Setelah kita mengetahui bahwa nilai operating profit margin dari perusahaan ICBP pada tahun 2019 adalah sebesar 17,6%. Lalu, bagaimana cara interpretasi rasio operating profit margin dari perusahaan tersebut:

Jadi dalam hal ini, ICBP diketahui bisa mendapatkan laba operasi sebanyak 17,6% dari total penjualan. Semakin banyak nilai operating profit margin, maka akan semakin besar juga perusahaan tersebut dalam meminimalisir biaya produksi dan juga biaya operasional.

Operating profit margin yang tinggi juga bisa menggambarkan bahwa perusahaan tersebut bisa menghasilkan pendapatan yang besar.

Fabozzi & Drake (2009) menjelaskan bahwa margin laba operasi bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sama seperti margin laba kotor, ditambah dengan biaya operasional, seperti sebagai berikut:

  • Biaya sewa perusahaan
  • Pendapatan lain-lain, seperti biaya pendapatan dari investasi
  • Pengeluaran marketing
  • Beban hutang yang buruk.

Baca juga: Jurnal Penyusutan: Pengertian dan Cara Membuatnya

Cara Analisis Operating Profit Margin (OPM)

Cara yang sederhana dan paling banyak dilakukan investor dalam melakukan analisis rasio keuangan adalah dengan melakukan industry comparison, yaitu dengan membandingkan nilai rasio keuangan suatu perusahaan dengan nilai rasio rata-rata industri perusahaan.

Contoh sederhananya, perusahaan ICBP tergolong sebagai industri consumer goods di bursa efek Indonesia atau BEI. Nah, untuk menganalisis nilai rasio OPM dari ICBP ini, Anda bisa membandingkannya dengan nilai rasio OPM rata-rata industri consumer goods. Bila rasio operating profit margin dari ICBP berada di atas rata-rata industri, maka artinya ICBP mempunyai performa yang lebih unggul.

Pun begitu juga sebaliknya, bila operating profit margin mereka berada di bawah rata-rata industri, maka performa dari perusahaan ICBP pun harus ditingkatkan kembali.

Rasio operating profit margin yang tinggi bisa menggambarkan dua hal, perusahaan mampu meminimalisir biaya operasional dan bisa memaksimalkan pendapatannya.

Baca juga: Piutang Pendapatan: Pengertian dan Contohnya

Penutup

Demikianlah penjelasan dari kami tentang operating profit margin. Jadi, operating profit margin adalah salah satu jenis rasio keuangan yang bisa menampilkan kemampuan suatu perusahaan dalam meminimalisir biaya operasional dan kemampuan perusahaan dalam memaksimalkan pendapatan atau penjualannya.

Cara dalam menghitung rasio operating profit margin adalah dengan membandingkan laba operasional dengan total penjualan atau sales perusahaan. Operating profit margin bisa mengacu pada EBIT atau earning before interest and tax.

Total penjualan juga bisa mengacu pada revenues atau pendapatan. Semakin tinggi nilai rasio operating profit margin, maka semakin baik juga performa profitabilitas dari suatu perusahaan. Bila rasio operating profit margin bernilai negatif, maka operasional perusahaan lebih besar daripada pendapatan atau penjualannya.

Bila Anda masih kesulitan dalam menghitung operating profit margin, maka Anda bisa menggunakan aplikasi yang bisa menyajikan perhitungan tersebut secara mudah dan cepat. Salah satu rekomendasi aplikasinya adalah Accurate Online.

Accurate Online adalah aplikasi bisnis dan akuntansi yang mampu menyajikan perhitungan bisnis yang cepat dan mampu menyajikan lebih dari 200 jenis laporan keuangan secara otomatis dan akurat.

Selain itu, Accurate Online juga sudah dilengkapi dengan berbagai fitur bisnis lain yang akan mempermudah Anda dalam mengelola dan mengembangkan bisnis, seperti fitur penjualan, persediaan, perpajakan, dan masih banyak lagi.

Penasaran dengan Accurate Online? Anda bisa menggunakan dan mencoba seluruh kelebihan dari Accurate Online selama 30 hari gratis melalui banner di bawah ini.

Lala

Seorang lulusan S1 ilmu akuntansi yang suka membagikan istilah, rumus, dan berbagai hal yang berkaitan dengan dunia akuntansi lewat tulisan.