Prinsip Biaya Historis dan Fair Value, Ini Perbedaannya!

Apakah Anda sudah mengetahui biaya historis di dalam prinsip dasar ilmu akuntansi? Secara umum, prinsip biaya historis akan berlaku dan digunakan di dalam laporan keuangan, termasuk di dalam prinsip yang berlaku secara umum.

Historical cost atau biaya historis itu sendiri adalah suatu nilai historis yang memanfaatkan harga ketika terjadinya transaksi dan menganggap bahwa harga akan tetap stabil.

Untuk itu, dalam membuat laporan keuangan secara prinsip biaya historis akan dikatakan kurang bisa menjelaskan kondisi yang sebenarnya. Kenapa? Karena terdapat perubahan daya beli mampu memberikan dampak pada laporan keuangan, sehingga bisa menimbulkan ketidakakuratan dan juga ketidaktelitian.

Sementara itu, di sisi lain, prinsip laporan keuangan akan menggunakan suatu metode pengukuran nilai wajar atau yang umumnya dikenal dengan fair value. Fair value adalah harga yang didapat dalam menjual suatu aset, ataupun harga yang dibayar untuk bisa mengalihkan suatu liabilitas dalam suatu transaksi antar setiap pelaku pasar dan juga pada tanggal pengukuran.

Tapi, mengambil keputusan dengan berdasarkan fair value adalah suatu hal yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk laporan keuangan, karena di dalamnya tidak memiliki reliabilitas.

Sementara itu, di dalam biaya historis laporan keuangan akan dipandang sebagai suatu pengurangan kualitas secara relevan.

Nah, dalam kesempatan kali ini, kami akan memberikan penjelasan lengkap tentang prinsip biaya historis atau historical cost dengan nilai wajar atau fair cost. Penasaran? Baca terus artikel tentang prinsip biaya historis di bawah ini hingga selesai.

Pengertian Prinsip Biaya Historis (Historical Cost) dan Nilai Wajar (Fair Value)

Di dalam dasar ilmu akuntansi, biaya historis atau historical cost adalah nilai dari suatu aset yang berbasis pada harga beli ataupun harga moneter secara riil. Secara tidak langsung, hal ini juga akan memberikan dampak pada debit dan kredit di dalam pembukuan dengan menggunakan pencatatan biaya historis itu sendiri.

Disisi lain, nilai wajar atau fair value adalah suatu nilai atau harga yang diterima dalam menjual suatu aset, ataupun harga yang dibayar untuk keperluan mengalihkan sebuah liabilitas secara transaksi antar pihak pasar dengan tanggal pengukurannya itu sendiri.

Untuk itu, konsep ini akan sangat berkaitan dengan prinsip biaya mencatat harga perolehan dari utang, aset, biaya, dan modal. Di lain hal, harga perolehan ini ditujukan sebagai harga pertukaran barang dengan uang yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak di dalam kegiatan transaksi.

Pengukuran prinsip biaya historis sangat mudah dilakukan untuk mendapatkan harga dari suatu aset secara riil, jika pencatatan tersebut disimpan dengan baik.

Pencatatan ini bisa diperoleh dari kegiatan perdagangan, penjualan, sampai pembelian yang digunakan untuk menentukan biaya historis di dalam suatu aset. Namun, historical cost adalah biaya yang belum tentu mampu menggambarkan biaya yang sebenarnya dibandingkan dengan pengukuran nilai wajar atau fair value dari sebuah aset.

Nantinya tentu akan terjadi penyimpangan nilai aset di dalam biaya historis atas harga pembelian asli yang bisa dilihat dari waktu ke waktu.

Contohnya, Alina menjual gedung perkantoran seharga 500 juta rupiah. Namun, setelah 15 tahun berlalu, harga pasaran dari gedung perkantoran Alina akan meningkat hingga 1,2 miliar rupiah.

Baca juga: Cara Menghitung Biaya Total dan Contoh Kasusnya

Point Penting Dalam Prinsip Biaya Historis

  • Biaya historis di dalam suatu aset akan mengacu pada harga beli ataupun nilai moneter aslinya.
  • Untuk dasar prinsip dalam biaya historis, transaksi bisnis nantinya akan cenderung mencatat berbagai biaya perolehan asli.
  • Prinsip biaya historis juga nantinya akan memperhitungkan dan juga mencatat seluruh aset perusahaan dengan harga ataupun biaya asli maupun harga pembelian yang sudah tercatat di dalam neraca, serta berlaku juga untuk pencatatan di dalam kewajiban perusahaan.

Baca juga: Biaya Eksplisit: Ini Pengertian dan Contohnya

Seperti Apa Prinsip Biaya Historis?

Penerapan prinsip biaya historis akan memberikan dampak pada jalannya siklus akuntansi, contohnya adalah di dalam pembuatan laporan keuangan. Prinsip biaya historis yang dimanfaatkan oleh perusahaan harus bisa memperhitungkan dan mencatat seluruh aset dengan harga pembelian ataupun biaya secara riil di dalam neraca.

Prinsip ini tidak menggambarkan penyesuaian harga secara fluktuatif di pasar, sehingga akan berakibat pada perubahan fluktuasi inflasi.

Oleh karena itu, prinsip pada biaya historis ini adalah dasar dari kegiatan trade off secara berkelanjutan, sebagai suatu kegunaan dan juga keandalan dari suatu aset.

Disisi lain, tanpa adanya penyesuaian pun biaya historis di dalam suatu aset tetap bisa diandalkan meskipun tidak bermanfaat untuk jangka panjang perusahaan.

Misalnya, bila perusahaan PT ABC telah membeli gedung perkantoran dengan harga 500 juta rupiah ketika 15 tahun yang lalu, maka prinsip di dalamnya tidak akan memberikan representasi secara umum terkait nilai wajar aset saat ini.

Jadi, nilai wajar aset di dalam pasar akan terbukti lebih berguna, namun nilai wajar ini hanya bisa diasumsikan secara subjektif. Sedangkan prinsip biaya historis akan lebih dilakukan secara objektif. Selain itu, prinsip biaya objektif juga lebih bersifat wajib.

Baca juga: Pengertian Lengkap Biaya Diferensial dalam Sebuah Perusahaan

Cara Menyesuaikan Historical Cost

Jika dilihat berdasarkan prinsip akuntansi konservatif, aset yang dicatat di dalam biaya historis memang harus disesuaikan dan juga dihitung sesuai dengan penggunaanya.

Jadi untuk setiap aset yang berjangka panjang, pasti akan mengalami biaya penyusutan. Biaya tersebut akan digunakan sebagai dasar perhitungan atas pengurangan nilai aset berdasarkan umur atau masa manfaatnya.

Cara yang lainnya dalam menetapkan biaya historis pada berbagai aset yang berbeda adalah dengan biaya penyesuaian inflasi atau dengan biaya penggantian.

Biaya penggantian adalah suatu nilai yang akan dibayar untuk mendapatkan aset serupa. Sedangkan biaya penyesuaian inflasi adalah penyesuaian atas atau positif melalui berbagai biaya akuisisi aset ketika terjadinya kegiatan pembelian.

Beberapa aset yang dicatat di dalam neraca harus memanfaatkan nilai wajar dalam harga pasarnya, yang mana aset jangka pendek ini bisa ditemukan di dalam aset lancar di dalam neraca.

Contohnya, aset lancar dari suatu investasi yang bisa dipasarkan, harga pasar dalam aset ini harus dicatat agar bisa menunjukkan nilai yang lebih akurat dari apa yang akan diterima oleh pihak perusahaan jika aset tersebut sudah dijual.

Baca juga: Struktur Biaya: Pengertian Lengkap, Contoh dan Fungsinya

Penutup

Demikianlah penjelasan dari kami tentang prinsip biaya historis atau historical cost dan perbedaannya dengan nilai wajar atau fair value di dalam pembukuan. Prinsip biaya tersebut akan memberikan dampak pada laporan keuangan perusahaan dan akan berhubungan dengan pengambilan keputusan.

Dengan adanya artikel ini, diharapkan Anda bisa mengetahui berbagai hal penting dalam menerapkan prinsip historical cost, yang mana biaya ini mempunyai prinsip pengukuran biaya secara riil ketika terjadinya transaksi.

Namun, jika Anda ingin membuat laporan keuangan secara mudah dan memperoleh nilai yang akurat sesuai dengan standar akuntansi terbaru, maka Anda bisa memanfaatkan aplikasi bisnis dan akuntansi dari Accurate Online.

Accurate Online adalah aplikasi yang dikembangkan dengan teknologi cloud computing berbasis website. Aplikasi ini juga sudah dilengkapi dengan sistem keamanan yang ketat. Sehingga Anda bisa mengaksesnya secara nyaman dan data perusahaan Anda akan terlindungi dengan aman.

Hingga artikel ini diterbitkan, Accurate Online sudah dipercaya oleh lebih dari 483 ribu pebisnis di Indonesia dan akan terus meningkat lagi, mulai dari pebisnis usaha kecil dan menengah hingga pebisnis besar. Accurate Online pun sudah mendapatkan penghargaan Top Brand Award sebanyak 7 kali berturut-turut, dari tahun 2016 hingga tahun 2022 dalam kategori software akuntansi.

Dengan menggunakan Accurate Online, Anda sebagai pebisnis dan akuntan bisa mendapatkan lebih dari 200 jenis laporan keuangan secara otomatis, cepat dan akurat.

Accurate Online pun sudah dibekali dengan berbagai fitur dan modul bisnis luar biasa, seperti fitur pemantauan persediaan, fitur pembuatan invoice secara otomatis, rekonsiliasi bank secara cepat, menghitung aset, menghitung pajak bisnis, dan fitur lainnya yang akan meningkatkan efisiensi bisnis Anda secara signifikan.

Lebih menariknya lagi, seluruh fitur dan kelebihan dari Accurate Online ini bisa Anda nikmati dengan biaya investasi yang sangat terjangkau.

Bahkan, Anda bisa mencobanya terlebih dahulu selama 30 hari gratis dengan klik tautan gambar di bawah ini.

Lala

Seorang lulusan S1 ilmu akuntansi yang suka membagikan istilah, rumus, dan berbagai hal yang berkaitan dengan dunia akuntansi lewat tulisan.