Disaster Recovery Plan: Pengertian, Jenis, dan Cara Membuatnya

Bisnis kini mengandalkan teknologi di hampir semua urusan operasionalnya. Hal tersebut memang memudahkan keseluruhan pekerjaan, namun teknologi juga memiliki resiko berupa ketidakkebalan terhadap bencana. Dalam hal ini, disaster recovery plan atau DRP adalah cara untuk mencegah terganggunya operasional bisnis saat terjadi bencana.

Ketika bencana terjadi, operasional perusahaan dapat terganggu karena hilangnya data-data dalam sistem perusahaan. Hal ini dapat berdampak pada pendapatan dan kestabilan perusahaan. Karena itu, perusahaan perlu mencegahnya melalui DRP.

Artikel berikut ini akan menjelaskan lebih lanjut mengenai DRP, mulai dari pengertian, jenis-jenisnya, manfaatnya bagi perusahaan, hingga cara membuatnya.

Apa Itu Disaster Recovery Plan?

Disaster recovery plan atau DRP adalah perencanaan terperinci mengenai cara menanggapi insiden yang tidak direncanakan dan dapat menganggu operasional bisnis. Pengertian insiden di sini merujuk pada bencana yang dapat berupa bencana alam, serangan dunia maya, ataupun pemadaman listrik.

DRP disusun berdasarkan jenis bencana dan lokasinya. Instruksi penanganan bencana juga harus dicantumkan secara jelas agar bisa diterapkan oleh siapa saja sesuai dengan posisi dan kemampuannya. Dengan kata lain, DRP berisi strategi untuk mencegah dan meminimalisir efek yang dapat ditimbulkan dari bencana sehingga bisnis dapat terus beroperasi dan tidak terganggu.

Baca juga: Value Added: Pengertian, Manfaat, dan Contoh Penerapannya

Jenis-Jenis DRP

Terdapat empat jenis DRP yang paling umum digunakan, yakni yang berbasis virtual, jaringan, penyimpanan, dan pusat data.

1. Virtualized Disaster Recovery Plan

DRP ini menggunakan metode virtualisasi untuk memproses pemulihan data secara lebih cepat dan sederhana. Sistem pemulihan virtual dapat melakukan tindakan penyelamatan saat terjadi bencana data tanpa harus menunggu server fisik menyelesaikan beban kerjanya. Karena itulah, dari segi efisiensi waktu, jenis DRP ini dianggap lebih menguntungkan.

2. Network Disaster Recovery Plan

Disaster recovery jaringan berpusat pada pemulihan jaringan dan berkembang dari asumsi jaringan suatu perusahaan. Prosedur pemilihan jaringan biasanya melibatkan penggantian perangkat jaringan, koneksi dengan anggota tim IT, dan sejumlah usaha lain yang terkait guna memulihkan konektivitas yang sempat terputus. Adapun semakin kompleks suatu jaringan, maka akan semakin rumit pemulihan jaringannya.

3. Cloud Disaster Recovery Plan

Proses inti disaster recovery ini berpusat pada cloud storage yang merupakan portal pemulihan data penyimpanan yang diatur oleh penyedia layanan pihak ketiga. Perusahaan dapat menghemat ruang, waktu, dan biaya karena memiliki pusat data yang aman di dalam cloud tanpa perlu mengembangkan fasilitas sendiri ataupun mempekerjakan tenaga ahli.

4. Data Center Disaster Recovery Plan

DRP jenis ini berfokus pada fasilitas komputerisasi dan infrastruktur pusat data yang harus dikembangkan terlebih dahulu. Di mana prosedur pengembangan pusat data tersebut meliputi analisa komponen utama seperti lokasi hingga sistem dan perlindungan daya, serta pembahasan mengenai berbagai kemungkinan skenario dan resiko.

Baca juga: Community Relation Adalah: Pengertian dan Peran Pentingnya untuk Perusahaan

Manfaat Penerapan Disaster Recovery Plan

Manfaat utama disaster recovery plan adalah mencegah kehilangan data dan memungkinkan pemulihan TI yang memadai. Lebih dari itu, DRP memiliki manfaat lain bagi perusahaan, yang meliputi:

1. Menghemat Biaya

DRP dapat meningkatkan efisiensi biaya melalui pemeliharan perangkat lunak atau sistem, mulai dari pencegahan, deteksi, dan koreksi. Bahkan, seperti disebutkan sebelumnya, salah satu jenis DRP yakni Cloud DRP dapat menghemat biaya pencadangan dan pemeliharaan yang dikeluarkan perusahaan.

2. Meningkatkan Produktivitas Karyawan

Upaya DRP setidaknya harus ditangani oleh dua orang dengan peran dan tanggung jawab yang sama. Hal tersebut dilakukan agar ketika salah satu karyawan tidak hadir, karyawan lainnya dapat melakukan tugas tersebut. Redudansi seperti ini dinilai bermanfaat untuk jangka panjang dan dapat meningkatkan efektivitas serta produktivitas tim.

3. Meningkatkan Loyalitas Pelanggan

DRP dapat membantu perusahaan dalam memenuhi dan mempertahankan kualitas layanan melalui resiko yang lebih kecil terhadap data loss dan downtime yang dihadapi pelanggan. Pada akhirnya, pelayanan yang baik dan terjamin ini dapat sekaligus meningkatkan loyalitas pelanggan.

Baca juga: Brand Trust adalah Salah Satu Kunci Buat Pelanggan Setia, Ini Alasanya!

Cara Membuat Disaster Recovery Plan

Pembuatan DRP dapat dilakukan secara efektif melalui langkah-langkah yang  dimulai dari pembuatan analisis resiko, penetapan anggaran, pengembangan rencana, hingga pengujian.

1. Membuat Analisis Resiko

Langkah pertama dalam menyusun DRP adalah dengan melakukan analisis resiko secara menyeluruh terhadap sistem komputer perusahaan. Buat daftar kemungkinan resiko yang mengancam pengoperasian sistem dan prediksi seberapa besar kemungkinan resiko tersebut terjadi.

Adapun yang termasuk dalam ancaman adalah segala sesuatu yang dapat menyebabkan pemadaman sistem, baik buatan manusia seperti serangan virus dan penghapusan data yang tidak disengaja ataupun ancaman alam seperti banjir dan kebakaran. Tentukan ancaman mana yang paling mungkin terjadi dan urutkan sesuai prioritas.

2. Menetapkan Anggaran

Setelah mengetahui resiko, cari tahu beberapa hal seperti apa yang dapat dilakukan untuk meminimalisirnya, berapa biaya yang diperlukan, hingga bagaimana cara mengurangi dampaknya.

Anggaran disaster recovery umumnya berbeda-beda antar satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Namun biasanya, berkisar di angka 2% sampai 15% dari keseluruhan anggaran TI, yang juga tergantung dari seberapa besar operasional perusahaan bergantung pada sistem.

3. Mengembangkan Rencana

Prosedur DRP harus ditulis dalam rencana atau skrip yang rinci. Tentukan bagaimana penanganan ketika berbagai aspek jaringan hilang, siapa yang mengatur perbaikan atau rekonstruksi, serta bagaimana proses pemulihan data terjadi.

Uraikan pula prioritas pemulihan dan bagaimana prosedur komunikasinya. Anda juga bisa melengkapi skrip dengan membuat daftar checklist untuk memverifikasi bahwa semuanya kembali normal setelah perbaikan dan pemulihan data dilakukan.

4. Menguji dan Merevisi

Lakukan pengujian sesering mungkin setelah DRP dibuat. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa semua anggota mengetahui perannya dan memvalidasi bahwa semua bagian berfungsi sebagaimana mestinya. Catat selalu hasil pengujian dan perbarui DRP untuk mengatasi apabila terdapat kekurangan.

Begitu pun ketika lingkungan bisnis berubah, maka DRP juga harus diubah. Idealnya, periksa kembali rencana setiap tahun untuk mengatasi ancaman baru yang bisa muncul kapan saja.

Baca juga: Net Promoter Score: Metrik Akurat Untuk Menilai Loyalitas Pelanggan

Penutup

Demikianlah pembahasan mengenai disaster recovery plan (DRP) yang merupakan upaya pencegahan terhadap bencana yang dapat menganggu operasional perusahaan. Kehilangan data pada sistem tidak hanya akan menganggu operasional, melainkan juga dapat merugikan perusahaan. Karena itu, penting untuk melakukan DRP sebaik mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Hal yang sama berlaku terhadap data keuangan perusahaan, di mana diperlukan sebuah software yang dapat menjaga keamanan informasi dan kemudahan dalam pengelolaan keuangan, seperti halnya yang dilakukan oleh aplikasi bisnis dan akuntansi dari Accurate Online.

Accurate Online menyediakan lebih dari 200 jenis laporan keuangan yang mudah untuk digunakan dan dilengkapi dengan berbagai fitur menarik. Karena berbasis cloud, Accurate Online juga dapat diakses kapan saja serta di mana saja, termasuk di perangkat yang berbeda.

Ratusan ribu pebisnis dari berbagai sektor usaha di Indonesia juga telah mempercayakan pengelolaan keuangan dengan Accurate Online. Tertarik untuk menggunakannya? Jika iya, silahkan klik tautan gambar di bawah ini dan nikmati Accurate Online secara gratis selama 30 hari.