Arti Feodal dalam Dunia Ekonomi dan Bedanya dengan Kapitalisme

Istilah feodalisme mungkin belum terlalu umum jika dibandingkan dengan istilah kapitalisme. Di mana sebenarnya, feodalisme merupakan sebuah sistem yang dahulu berkembang di wilayah Eropa pada abad pertengahan dan sempat mengakar dalam budaya masyarakat Indonesia. Secara harfiah, arti feodal ini berkaitan dengan sistem sosial, politik, dan ekonomi yang memberikan kekuasaan besar kepada golongan bangsawan.

Untuk lebih memahaminya, artikel kali ini akan menjelaskan arti feodal dari berbagai sudut pandang, sejarah sistem ekonomi feodal, dan bedanya dengan sistem ekonomi kapitalisme.

Pengertian Feodal

Kata feodal atau feodalisme berasal dari bahasa latin yaitu feudum, yang artinya wilayah kekuasaan, sedangkan feodalitas adalah layanan yang berhubungan dengan wilayah tersebut. Kedua kata ini digunakan selama abad pertengahan untuk merujuk pada bentuk kepemilikan properti.

Sementara itu, arti feodal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI adalah sesuatu yang berhubungan dengan susunan masyarakat yang dikuasai oleh kaum bangsawan; mengenai kaum bangsawan (tentang sikap, cara hidup, dan sebagainya); atau mengenai cara pemilikan tanah pada abad pertengahan di Eropa.

Kedua arti feodal di atas memperkuat pengertian dari sistem feodal atau feodalisme yang merupakan sistem sosial-politik yang memberikan kekuasaan besar pada golongan bangsawan sehingga bisa mengendalikan wilayah-wilayah yang bekerja sama dengannya.

Di masa sekarang, arti feodal lebih banyak mengarah pada hal-hal negatif dibandingkan positif karena digunakan untuk menggambarkan perilaku buruk, seperti gila hormat dan kuno.

Baca Juga: Permasalahan Ekonomi yang Umumnya Terjadi Di Dalam Bisnis

Sejarah Sistem Ekonomi Feodalisme

Sistem sosio-ekonomi feodalisme dimulai di benua Eropa pada abad pertengahan, yakni sekitar abad ke-5 hingga ke-12, dan didominasi oleh bangsawan atau keluarga raja. Dalam sistem ekonomi ini, raja adalah pemegang kekuasaan tertinggi atau satu-satunya orang yang bisa melakukan kepemimpinan. Raja akan membuat rakyat tunduk dengan membuat kebijakan autokratis yang menunjukkan bahwa semua hukum dan undang-undang harus sesuai dengan keinginan raja.

Salah satu bentuk dari sistem ini adalah hasil uang tanah yang seperempat bagiannya harus diberikan kepada raja. Misalnya, seorang tuan tanah memiliki hasil bruto sebesar Rp4.000. Maka, ia harus memberikan Rp1.000 untuk raja sebagai bentuk pajak, sedangkan Rp3.000 sisanya harus dibagi dengan pekerja yang mengelola lahan pertanian miliknya. Hal ini dianggap sangat merugikan tuan tanah dan terlalu buruk bagi pekerja kasar.

Faktor utama yang saat itu membuat raja bisa bersikap semena-mena dalam menerapkan kebijakan adalah karena orang-orang di belakangnya. Di mana sebagian besarnya adalah kaum ningrat dan petinggi agama, sehingga rakyat tidak memiliki kekuasaan apapun untuk melawan.

Selain kaum ningrat dan petinggi agama, sebenarnya ada satu lagi golongan yang tumbuh di sekitar kerajaan. Golongan ini disebut sebagai golongan niaga atau pengusaha, yang justru mengawali kejatuhan sistem ekonomi feodalisme.

Golongan niaga dianggap tidak mengancam karena jumlahnya yang sedikit dan tidak mengganggu tatanan kerajaan. Namun, lambat laun mereka menyadari bahwa undang-undang yang dibuat raja sangat menganggu perdagangan atau sistem ekonomi mereka. Akhirnya, golongan niaga mulai memprovokasi rakyat untuk memberontak. Hal ini dilakukan agar mereka bisa lebih nyaman dan bebas dalam mengembangkan usaha, sebab selama ini selalu dibatasi oleh undang-undang yang dianggap merugikan.

Adapun sistem ekonomi feodalisme pertama yang berhasil jatuh adalah yang berada di Perancis. Kaum niaga bersama dengan rakyat berhasil mendesak raja untuk menghapus sistem ekonomi feodalisme dan diganti dengan kapitalisme. Hal inilah yang membuat sistem ekonomi kapitalisme mulai banyak digunakan di abad ke-19.

Baca Juga: Sistem Ekonomi Kapitalis, Pengertian dan Perannya

Perbedaaan Sistem Ekonomi Feodalisme dan Kapitalisme

Pada sistem ekonomi kapitalisme, pihak yang “menguasai” sektor ekonomi adalah mereka yang memiliki modal dan sarana untuk melakukan kegiatan produksi dan distribusi. Mereka akan mempekerjakan pekerja dengan sistem upah atau gaji, bukan bagi hasil seperti dalam sistem feodalisme.

Berdasarkan hal tersebut, terdapat tiga perbedaan utama di antara sistem ekonomi feodalisme dan kapitalisme, yang di antaranya meliputi:

1. Perkembangan Karir

Sesuai arti feodal, sistem ekonomi feodalisme membuat seorang tuan tanah akan terus menjadi tuan tanah dan seorang pekerja akan terus menjadi pekerja. Dengan kata lain, tidak akan ada perubahan derajat maupun kesempatan untuk maju dalam karir di dalam sistem ekonomi ini.

Berbeda dengan sistem kapitalisme, di mana pekerja memiliki peluang meningkatkan karirnya apabila mampu menunjukkan kinerja yang baik.

2. Ragam Pekerjaan

Sistem ekonomi feodalisme mengharuskan pekerja untuk bekerja di lahan pertanian yang bukan milik mereka. Pasalnya, mereka menganggap bahwa hasil pertanian adalah harta yang paling menguntungkan.

Sementara, dalam sistem ekonomi kapitalis, pekerja bebas untuk memilih pekerjaannya dan tidak harus di sektor pertanian.

3. Pemaksaan

Pada saat itu, feodalisme umum terjadi di zaman perang, sehingga ada banyak pekerja yang harus berakhir menjadi prajurit demi membantu raja memenangkan peperangan. Di dalam sistem ekonomi kapitalis, tidak ada pemaksaan dari atasan atau raja sehingga pekerja bisa lebih bebas untuk bekerja dan memanfaatkan kelebihannya.

4. Dominasi

Dalam sistem feodalisme, para penguasa memiliki posisi dominan permanen dalam sosial dan ekonomi masyarakat. Sementara dalam sistem kapitalisme, para kapitalis tidak terlalu dominan karena adanya pemerintah yang memangku kebijakan sosial dan ekonomi.

5. Kekuasaan

Raja memegang kekuasaan tertinggi, di mana hubungan mereka dengan tuan tanah berdasarkan pada relasi sub-ordinasi dalam sistem feodalisme. Sementara dalam sistem kapitalisme, pemerintah adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Dengan begitu, kaum kapitalis hanya pemodal yang mempekerjakan orang lain sebagai karyawan, dan hak-hak karyawan dilindungi oleh pemerintah.

Baca Juga: Tindakan Ekonomi : Pengertian, Jenis, Tujuan Dan Contohnya

Penutup

Demikianlah penjelasan mengenai arti feodal dan sistem ekonomi feodalisme yang pernah menjadi bagian dalam sejarah ekonomi dunia. Di masa sekarang, feodalisme sudah hampir musnah dan digantikan dengan sistem ekonomi lain yang lebih adil dan menguntungkan bagi pekerja, pemilik tanah, dan pemerintah.

Sistem ekonomi yang menguntungkan juga akan membantu pemilik bisnis dalam menjaga keberlangsungan bisnisnya. Dengan begitu, mereka bisa terus membuka ladang pekerjaan dan membantu meningkatkan perekonomian negara. Dalam hal ini, sistem pengelolaan keuangan adalah salah satu hal yang berperan besar dalam membantu menyukseskan bisnis. Di mana penggunaan aplikasi bisnis seperti Accurate Online akan sangat mempermudah prosesnya secara keseluruhan.

Accurate Online menyediakan lebih dari 200 jenis laporan keuangan dan bisnis yang mudah untuk digunakan dan bisa diakses secara fleksibel. Beragam fitur di dalamnya, seperti fitur buku besar, penjualan dan piutang, pembelian dan hutang, hingga aset tetap, semuanya ditujukan untuk membuat proses pengelolaan dan pembuatan laporan keuangan menjadi lebih cepat, akurat, dan otomatis.

Nah, jika Anda tertarik untuk menggunakannya, segera klik tautan di bawah ini dan nikmati Accurate Online secara gratis selama 30 hari!

ibnu

Lulusan S1 Ekonomi dan Keuangan yang menyukai dunia penulisan serta senang membagikan berbagai ilmunya tentang ekonomi, keuangan, investasi, dan perpajakan di Indonesia