Likuiditas Bank Adalah: Pengertian, Jenis, dan Cara Mengelolanya

Likuiditas bank adalah kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban finansialnya yang akan jatuh tempo. Bank dengan likuiditas baik akan lebih mudah memelihara kepercayaan yang diberikan masyarakat. Karena itu, bank selalu berusaha mengelola rasio likuiditasnya dengan berbagai cara yang memungkinkan.

Dalam pengertian serupa, likuiditas bank adalah rasio keuangan bank yang menunjukkan baik atau buruknya kemampuan dalam mengelola aset lancar dalam pemenuhan kewajiban hutang jangka pendek. Dalam penerapannya, likuiditas bank terdiri dari beberapa jenis dengan perhitungan yang berbeda-beda.

Artikel berikut ini akan membahas mengenai likuiditas bank, termasuk penjelasan terkait pengertian, jenis-jenis, dan cara mengelolanya.

Pengertian Likuiditas Bank

Secara umum, likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Di mana umumnya, pemenuhan ini dilakukan dengan menggunakan harta atau aset lancar yang secepatnya dapat dicairkan.

Sehingga, dapat dikatakan bahwa likuiditas bank adalah kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya. Ketika bank memiliki sejumlah alat pembayaran pada saat tertentu, hal ini disebut sebagai kekuatan membayar. Namun, memiliki kekuatan membayar tidak selalu berarti memiliki kemampuan likuiditas yang baik.

Kemampuan likuiditas bank dapat dilihat melalui perhitungan berbagai jenis rasio likuiditas. Di mana akan terlihat apajah kas yang dimilikinya cukup untuk melunasi kewajiban ataukah harus mengubah beberapa aset menjadi uang tunai perusahaan.

Rasio likuiditas bisa menunjukkan apakah perusahaan memiliki cukup kas untuk melunasi kewajiban. Jika tidak, apakah perusahaan perlu mengubah beberapa aset mereka, seperti persediaan, piutang, atau sekuritas perdagangan untuk diubah menjadi uang tunai.

Baca juga: Financial Controller: Pengertian dan Fungsinya Untuk Bisnis

Jenis-Jenis Rasio Likuiditas Bank

Rasio likuiditas bank adalah hal yang penting untuk diketahui oleh bank, sehingga bank dapat memperkirakan apakah aset yang dimilikinya cukup untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya atau yang akan jatuh tempo. Di bawah ini beberapa jenis rasio likuiditas bank dengan karakteristik perhitungan yang berbeda-beda.

1. Quick Ratio

Jenis rasio pertama yang digunakan dalam mengukur tingkat likuiditas bank adalah quick ratio atau rasio cepat. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya pada para deposan, yakni pemilik giro, tabungan, dan deposito, dengan harga yang paling likuid yang dimiliki oleh bank.

2. Investing Policy Ratio

Investing policy ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam melunasi kewajibannya kepada para deposannya dengan cara melikuidasi surat-surat berharga yang dimilikinya.

3. Banking Ratio

Banking ratio digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas bank dengan membandingkan jumlah kredit yang disalurkan dengan jumlah deposit yang dimiliki. Semakin tinggi rasio ini, maka semakin rendah tingkat likuiditas bank karena jumlah dana yang digunakan untuk membiayai kredit semakin kecil, begitu pun sebaliknya.

4. Assets to Loan Ratio

Assets to loan ratio digunakan untuk mengukur jumlah kredit yang disalurkan dengan harta yang dimiliki oleh bank. Semakin tinggi tingkat rasio, maka semakin rendah pula tingkat likuiditas bank.

5. Cash Ratio

Cash ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam melunasi kewajiban yang harus segera dibayar dengan harta likuid yang dimilikinya.

6. Loan to Deposit Ratio

Loan to deposit ratio dalam perhitungan likuiditas bank adalah rasio yang digunakan untuk mengukur komposisi jumlah kredit yang diberikan, dibandingkan dengan jumlah dana masyarakat dan modal sendiri yang digunakan. Besarnya loan to deposit ratio menurut peraturan pemerintah yakni maksimal 110%.

7. Investment Risk Ratio

Investment risk ratio digunakan untuk mengukur risiko yang terjadi dalam investasi surat-surat berharga, yakni dengan membandingkan harga pasar surat berharga dengan harga nominalnya. Semakin tinggi nilai rasio ini, maka semakin besar pula kemampuan bank dalam menyediakan alat-alat likuid.

8. Liquidity Ratio

Liquidity risk digunakan untuk mengukur risiko yang akan dihadapi bank jika gagal dalam memenuhi kewajiban terhadap para deposannya dengan harta likuid yang dimilikinya

9. Credit Risk Ratio

Credit risk ratio digunakan untuk mengukur risiko terhadap kredit yang disalurkan dengan membandingkan kredit macet dengan jumlah kredit yang disalurkan.

10. Deposit Risk Ratio

Deposit risk ratio menyatakan besarnya kemampuan dana equity capital bank ketika digunakan untuk membayar kembali seluruh dana deposannya.

Baca juga: Konsultan Keuangan: Ini Beberapa Hal yang Harus Anda Perhatikan Sebelum Memilihnya

Cara Mengelola Likuiditas Bank

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh bank untuk mempertahankan rasio likuiditasnya dalam posisi aman. Di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Memperpanjang jatuh tempo semua kewajiban bank, kecuali ketika tingkat bunga cenderung menurun.
  • Melakukan diversifikasi sumber dana bank.
  • Menjaga keseimbangan jangka waktu aset dan kewajiban.
  • Memperbaiki posisi likuiditas dengan mengalihkan aset yang kurang marketable menjadi lebih

Selain itu, setidaknya terdapat tiga stategi untuk menjaga likuiditas bank berjalan dengan baik, yakni meliputi:

  • Strategi preventif, yaitu menjauhi unsur-unsur spekulatif sehingga masalah likuiditas dapat dihindari.
  • Strategi represif, yakni strategi yang dilakukan apabila bank terlanjur mengalami masalah likuiditas. Langkah yang dilakukan bisa berupa meminjam dari pasar uang, mengkonversi dana valuta asing yang dimiliki, dan meminjam valuta asing dari pasar internasional.
  • Strategi profitabilitas, yakni kesanggupan dalam memperoleh laba. Di mana pendapatan bank adalah sasaran utama yang harus dicapai oleh bank untuk mendapatkan profit.

Baca juga: EPS Adalah: Ini Pengertian dan Fungsinya untuk Perusahaan

Penutup

Likuiditas bank adalah kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau yang akan jatuh tempo. Semakin baik nilai likuiditasnya, maka akan semakin baik pula kemampuan bank dalam melunasi kewajibannya.

Hal yang sama berlaku pada likuiditas perusahaan. Di mana nilai likuiditas yang baik akan menjadi nilai lebih ketika perusahaan hendak diakuisisi oleh perusahaan lain.

Selain likuiditas, kredibilitas suatu perusahaan juga dapat ditunjukkan melalui laporan keuangan. Di mana laporan keuangan yang disusun dengan baik menunjukkan bahwa keuangan di perusahaan tersebut dikelola secara profesional. Dalam hal pengelolaan keuangan, Anda bisa menggunakan software akuntansi dan bisnis seperti Accurate Online.

Accurate Online menyediakan lebih dari 200 jenis laporan keuangan dan bisnis. Berbagai fitur tersedia secara lengkap, mudah untuk digunakan, dan bisa diakses kapan saja serta di mana saja.

Jika ingin mencobanya, silahkan klik tautan gambar di bawah ini dan nikmati Accurate Online secara gratis selama 30 hari.

ibnu

Lulusan S1 Ekonomi dan Keuangan yang menyukai dunia penulisan serta senang membagikan berbagai ilmunya tentang ekonomi, keuangan, investasi, dan perpajakan di Indonesia