Break Even Point: Pengertian, Analisis, Contoh, Cara Hitung dan Optimasi Titik Impas

oleh | Nov 30, 2023

source envato.

Break Even Point: Pengertian, Analisis, Contoh, Cara Hitung dan Optimasi Titik Impas

Dalam ilmu ekonomi, sebagian besar dari kita pasti sering menumukan istilah break even point.

Istilah ini sering ditemukan pada artikel-artikel bisnis yang mengulas tentang keadaan dan situasi yang terjadi di perusahaan.

Seringkali, break even point dari sebuah perusahaan menjadi acuan bagi para investor untuk menginvestasikan uangnya.

Namun, bagi Anda yang masih awam, tentu menjadi sebuah kendala bagi pengusaha pemula untuk memahami sebuah berita dalam kolom bisnis dan keuangan.

Maka dalam artikel ini akan mengulas lebih lanjut mengenai break even point.

Akan ada beberapa hal yang dibahas yaitu pengertian, dasar-dasar, tujuan, manfaat, pembentuk serta cara menghitung break even point.

Pengertian Break Even Point

 Pengertian Break Even Point

ilustrasi penjelasan titik impas. source envato

Berdasarkan laman Investopedia, break even point (BEP) adalah suatu titik dimana jumlah pendapatan yang diterima sama dengan jumlah biaya yang dikeluarkan.

Dalam kata lain, BEP merupakan suatu titik dimana suatu usaha atau kegiatan tidak menghasilkan keuntungan maupun rugi.

BEP ini biasanya dihitung dengan menggunakan data-data keuangan, seperti harga jual produk atau jasa, biaya produksi, biaya tetap, biaya variabel dan lain sebagainya.

Dalam analisis bisnis, BEP sering digunakan untuk menentukan berapa banyak produk yang harus dijual agar dapat mencapai titik impas atau BEP.

Dengan mengetahui BEP, maka pengusaha dapat menentukan apakah suatu usaha atau kegiatan yang dilakukan layak untuk diteruskan atau tidak.

Jika BEP terlalu tinggi, maka usaha tersebut dapat dianggap tidak menguntungkan dan sebaiknya dihentikan.

Namun, jika BEP tercapai atau bahkan lebih rendah dari target, maka usaha tersebut dapat dianggap menguntungkan dan dapat diteruskan.

Baca juga: Margin Kontribusi: Pengertian, dan Cara Menghitung Margin Kontribusi

Dasar-dasar Break Even Point

 Dasar-dasar Break Even Point

ilustrasi penjelasan titik impas. source envato

Berikut adalah dasar-dasar dari break even point (BEP):

  • Biaya dan Pendapatan

Dalam analisis BEP, perlu dipahami bahwa biaya adalah pengeluaran yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu produk atau jasa, sedangkan pendapatan adalah hasil dari penjualan produk atau jasa tersebut.

  • Klasifikasi Biaya

Biaya dapat diklasifikasikan menjadi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost).

Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah, meskipun volume penjualan meningkat atau menurun, sementara biaya variabel adalah biaya yang berubah sesuai dengan volume penjualan.

  • Hubungan antara Biaya, Pendapatan, dan Volume Penjualan

Semakin besar volume penjualan, semakin besar pula biaya produksi dan operasional yang dikeluarkan, tetapi juga semakin besar pendapatan yang diperoleh.

  • Penghitungan BEP

BEP dapat dihitung dengan menggunakan rumus matematika yang melibatkan biaya tetap, biaya variabel, dan harga jual per unit.

  • Interpretasi Hasil BEP

Jika volume penjualan di bawah BEP, maka perusahaan akan mengalami kerugian.

Jika volume penjualan sama dengan BEP, perusahaan hanya mampu menutupi biaya produksi dan operasional, tetapi tidak memperoleh keuntungan.

Jika volume penjualan di atas BEP, maka perusahaan akan memperoleh keuntungan.

  • Penggunaan BEP dalam Pengambilan Keputusan

BEP dapat digunakan sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan bisnis, misalnya untuk menentukan harga jual yang tepat, mengevaluasi efisiensi operasional, atau merencanakan ekspansi usaha.

Dalam praktiknya, analisis BEP sering digunakan oleh perusahaan dalam merencanakan strategi bisnis dan mengoptimalkan keuntungan.

Namun, perlu diingat bahwa BEP hanya merupakan salah satu aspek dalam analisis bisnis yang lebih luas, dan tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya faktor dalam pengambilan keputusan bisnis.

Baca juga: Pengertian Biaya Tetap dan Variabel serta 3 Perbedaannya

Tujuan Analisa Break Even Point

 Tujuan Analisa Break Even Point

ilustrasi penjelasan titik impas. source envato

Tujuan analisis Break Even Point (BEP) adalah untuk membantu perusahaan memahami berapa banyak produk atau jasa yang harus dijual untuk mencapai pendapatan sama dengan biaya produksi dan operasional perusahaan.

Selain itu, tujuan analisis BEP adalah untuk:

1. Menghitung Jumlah Penjualan Minimum yang Diperlukan untuk Menutupi Biaya Produksi dan Operasional Perusahaan:

Dengan mengetahui BEP, perusahaan dapat menentukan jumlah penjualan minimum yang harus dicapai untuk mencapai titik impas.

Hal ini sangat penting bagi perusahaan yang baru memulai usaha atau menghadapi persaingan yang ketat.

2. Mengidentifikasi Margin Keamanan (Safety Margin) atau Ruang Lingkup Keuntungan (Profit Scope):

Margin keamanan adalah selisih antara volume penjualan aktual dengan BEP.

Sementara itu, ruang lingkup keuntungan adalah selisih antara volume penjualan aktual dengan BEP, dikali dengan margin kontribusi (kontribusi per unit).

Dengan mengetahui margin keamanan dan ruang lingkup keuntungan, perusahaan dapat mengetahui seberapa besar risiko kerugian atau potensi keuntungan di masa depan.

3. Menentukan Harga Jual yang Tepat:

Dengan mengetahui biaya tetap dan variabel per unit produk atau jasa, serta BEP, perusahaan dapat menentukan harga jual yang tepat untuk mencapai target keuntungan yang diinginkan.

4. Mengetahui Tingkat Efisiensi Operasional:

Dengan membandingkan Break even point dengan volume penjualan aktual, perusahaan dapat mengevaluasi efisiensi operasionalnya.

Jika perusahaan berhasil melebihi BEP, artinya perusahaan dapat mencapai keuntungan lebih besar dari yang diharapkan.

Namun, jika volume penjualan masih di bawah BEP, perusahaan perlu memperbaiki efisiensi operasionalnya untuk mencapai keuntungan yang diinginkan.

Dengan memahami tujuan analisis BEP, perusahaan dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan bisnis yang tepat dan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.

Baca juga: Full Costing: Pengertian, Kelemahan, Kelebihan dan Bedanya dengan Variable Costing

Manfaat Analisa Break Even Point

Manfaat Analisa Break Even Point

ilustrasi penjelasan titik impas. source envato

Analisis Break Even Point (BEP) memiliki beberapa manfaat bagi perusahaan, antara lain:

  • Memahami Jumlah Penjualan Minimum yang Dibutuhkan

Dengan melakukan analisis BEP, perusahaan dapat mengetahui jumlah penjualan minimum yang dibutuhkan untuk menutupi biaya produksi dan operasional perusahaan.

Hal ini membantu perusahaan dalam merencanakan strategi bisnis dan menentukan target penjualan yang realistis.

  • Menentukan Harga Jual yang Tepat

Dengan mengetahui biaya tetap dan variabel per unit produk atau jasa, serta BEP, perusahaan dapat menentukan harga jual yang tepat untuk mencapai target keuntungan yang diinginkan.

Hal ini membantu perusahaan dalam bersaing di pasar dan memperoleh keuntungan yang optimal.

  • Meningkatkan Efisiensi Operasional

Dengan membandingkan BEP dengan volume penjualan aktual, perusahaan dapat mengevaluasi efisiensi operasionalnya.

Jika perusahaan berhasil melebihi BEP, artinya perusahaan dapat mencapai keuntungan lebih besar dari yang diharapkan.

Namun, jika volume penjualan masih di bawah BEP, perusahaan perlu memperbaiki efisiensi operasionalnya untuk mencapai keuntungan yang diinginkan.

  • Mengidentifikasi Margin Keamanan atau Ruang Lingkup Keuntungan

Margin keamanan adalah selisih antara volume penjualan aktual dengan BEP.

Sementara itu, ruang lingkup keuntungan adalah selisih antara volume penjualan aktual dengan BEP, dikali dengan margin kontribusi (kontribusi per unit).

Dengan mengetahui margin keamanan dan ruang lingkup keuntungan, perusahaan dapat mengetahui seberapa besar risiko kerugian atau potensi keuntungan di masa depan.

  • Membantu Perencanaan Bisnis

Analisis BEP membantu perusahaan dalam merencanakan strategi bisnis dan menentukan target penjualan dan keuntungan yang realistis.

Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mengambil keputusan bisnis yang lebih baik dan mencapai tujuan bisnis yang diinginkan.

Dengan memahami manfaat analisis BEP, perusahaan dapat menggunakan informasi tersebut untuk meningkatkan kinerja keuangan dan efisiensi operasional perusahaan serta merencanakan strategi bisnis yang lebih baik.

Baca juga: Sistem Ekonomi: Pengertian, Fungsi dan Jenisnya

Pembentuk Break Even Point

Pembentuk Break Even Point

ilustrasi penjelasan titik impas. source envato

Break even point (BEP) dapat dibentuk dari perhitungan biaya produksi dan penjualan suatu produk atau jasa. Terdapat beberapa faktor yang membentuk BEP, yaitu:

  1. Biaya Tetap (fixed cost): Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah meskipun volume produksi atau penjualan berubah. Contoh biaya tetap adalah sewa gedung, gaji karyawan tetap, dan biaya peralatan.
  2. Biaya Variabel (variable cost): Biaya variabel adalah biaya yang berubah sesuai dengan volume produksi atau penjualan. Contoh biaya variabel adalah bahan baku, upah tenaga kerja langsung, dan biaya transportasi.
  3. Harga Jual (selling price): Harga jual adalah harga yang ditetapkan oleh perusahaan untuk menjual produk atau jasa kepada konsumen.
  4. Margin Kontribusi (contribution margin): Margin kontribusi adalah selisih antara harga jual dan biaya variabel per unit produk atau jasa. Margin kontribusi digunakan untuk menutupi biaya tetap dan memberikan keuntungan pada perusahaan.

Dari faktor-faktor di atas, BEP dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

BEP (unit) = Biaya Tetap / (Harga Jual per unit – Biaya Variabel per unit)

BEP (uang) = Biaya Tetap / Margin Kontribusi per unit

Dari rumus tersebut, BEP dapat dihitung dalam bentuk jumlah unit produk/jasa yang harus dijual / dalam bentuk uang yang harus diperoleh dari penjualan produk atau jasa untuk mencapai titik impas.

Dengan mengetahui BEP, perusahaan dapat menentukan target penjualan yang realistis dan mengoptimalkan kinerja keuangan perusahaan.

Baca juga: Rumus Varians: Pengertian, Cara Hitung, dan Contohnya

Metode dan Cara Perhitungan Break Even Point

Metode dan Cara Perhitungan Break Even Point

ilustrasi penjelasan titik impas. source envato

Break even point di dunia akuntansi akan sangat berguna bagi pengusaha.

Karena dengan mengetahui nilai BEP, maka Anda sebagai pengusaha mampu menentukan langkah strategis bagi perusahaan dalam menentukan harga jual, metode produksi, dsb.

Berikut terdapat tiga rumus yang digunakan dalam menghitung BEP:

  • BEP per unit

BEP Unit = (Biaya Tetap) / (Harga per unit – Biaya Variable per Unit)

BEP diperoleh dari biaya tetap dibagi dengan margin kontribusi per unit.

Nilai margin kontribusi per unit diperoleh dari selisih antara harga jual per unit dengan biaya variabel per unit.

Selain itu, nilai margin kontribusi bisa diperoleh dari hasil pembagian antara total penjualan keseluruhan dengan biaya variabel.

  • BEP Nilai Penjualan

BEP = Biaya Tetap / (1 – (Biaya Variabel/Harga))

BEP dapat dihitung berdasarkan hasil nilai penjualan. Nilai BEP diperoleh dari biaya tetap dibagi dengan hasil selisih antara 1 dengan hasil pembagian variabel dan harga penjualan.

  •  BEP dengan satuan mata uang

BEP Mata Uang = (Biaya Tetap) / (Kontribusi Margin per unit / Harga per Unit)

BEP diperoleh dari harga jual satuan per unit dikalikan dengan BEP per unit.

Maka, dari hasil perkalian tersebut akan diperoleh nilai Break even point dengan satuan mata uang yang digunakan.

Ketika menghitung BEP dengan satuan mata uang, Anda harus menentukan mata uang mana yang akan digunakan,

Jika terdapat perbedaan mata uang maka salah satu mata uang nilainya harus dikurskan terlebih dahulu.

Contoh dan Cara Analisis Break Even Point

Budi adalah akuntan manajerial yang bertanggung jawab atas Perusahaan A, yang menjual botol air.

Dia sebelumnya menetapkan bahwa biaya tetap Perusahaan A terdiri dari pajak properti, sewa, dan gaji eksekutif, yang jumlahnya mencapai 100.000 dolar.

Biaya variabel yang terkait dengan produksi satu botol air adalah  2 dolar per unit. Botol air ini dijual dengan harga premium 12 dolar.

Untuk menentukan brak even point atau titik impas botol air premium Perusahaan A:

BEP = 100.000 / (12 – 2) = 10.000

Oleh karena itu, mengingat biaya tetap, biaya variabel, dan harga jual botol air, Perusahaan A perlu menjual 10.000 unit botol air untuk mencapai titik impas.

  • Penggambaran Grafis Break Even Point

Representasi grafis dari penjualan unit dan penjualan dolar yang diperlukan untuk mencapai titik impas disebut sebagai grafik titik impas atau grafik Cost Volume Profit (CVP). Di bawah ini adalah grafik CVP dari contoh di atas:

grafik bep

Penjelasan:

  • Satuan ada di sumbu X (horizontal) dan jumlah dolar ada di sumbu Y (vertikal).
  • Garis merah menunjukkan total biaya tetap sebesar 100.000 dolar
  • Garis biru menunjukkan pendapatan per unit yang terjual. Misalnya, menjual 10.000 unit akan menghasilkan pendapatan 10.000 x  12 = 120.000 dolar.
  • Garis kuning menunjukkan biaya total (biaya tetap dan variabel). Misalnya, jika perusahaan menjual 0 unit, maka perusahaan akan mengeluarkan $ 0 untuk biaya variabel, tetapi 100.000 dolar untuk biaya tetap dengan total biaya 100.000 dolar. Jika perusahaan menjual 10.000 unit, perusahaan akan memerlukan 10.000 x  2 =  20.000 dolar untuk biaya variabel dan 100.000 dolar untuk biaya tetap dengan total biaya 120.000 dolar.
  • Titik impasnya adalah 10.000 unit. Pada titik ini, pendapatan akan menjadi 10.000 x 12 =  120.000 dolar dan biaya akan menjadi 10.000 x 2 = 20.000 dolar dalam biaya variabel dan  100.000 dolar dalam biaya tetap.
  • Jika jumlah unit melebihi 10.000, perusahaan akan mendapat untung dari unit yang terjual. Perhatikan bahwa garis pendapatan lebih besar dari garis biaya total kuning setelah 10.000 unit produksi. Begitu juga jika jumlah unit di bawah 10.000, perusahaan akan merugi. Dari 0-9,999 unit, garis biaya total berada di atas garis pendapatan.

Beberapa Faktor yang Mampu Meningkatkan Break Even Point Perusahaan

Berikut adalah beberapa faktor yang mampu meningkatkan break even point (BEP) suatu perusahaan:

  1. Kenaikan biaya produksi: Apabila biaya produksi meningkat, maka perusahaan harus menjual lebih banyak unit produk untuk mencapai titik impas, sehingga BEP akan naik.
  2. Penurunan harga jual produk: Jika harga jual produk turun, maka perusahaan harus menjual lebih banyak unit produk untuk mencapai titik impas, sehingga BEP akan naik.
  3. Kenaikan biaya variabel: Biaya variabel merupakan biaya yang berubah-ubah sesuai dengan jumlah produksi yang dihasilkan. Jika biaya variabel meningkat, maka perusahaan harus menjual lebih banyak unit produk untuk mencapai titik impas, sehingga BEP akan naik.
  4. Penurunan penjualan: Jika penjualan turun, maka perusahaan harus menjual lebih banyak unit produk untuk mencapai titik impas, sehingga BEP akan naik.
  5. Penambahan investasi yang tidak menghasilkan laba: Jika perusahaan menambahkan investasi yang tidak menghasilkan laba, maka BEP akan naik.
  6. Kenaikan biaya tetap: Biaya tetap merupakan biaya yang tidak berubah meskipun jumlah produksi meningkat atau menurun. Jika biaya tetap meningkat, maka BEP akan naik.
  7. Perubahan kebijakan pajak: Perubahan kebijakan pajak dapat meningkatkan biaya perusahaan, sehingga perusahaan harus menjual lebih banyak unit produk untuk mencapai titik impas, sehingga BEP akan naik.

Semua faktor di atas dapat mempengaruhi BEP suatu perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus mengelola biaya dan penjualan dengan baik untuk mencapai BEP yang optimal dan menghindari risiko kebangkrutan.

Baca juga: Tips Mudah Cara Menghitung BEP dengan Akurat

Cara Mengurangi Break Even Point

Cara Mengurangi Break Even Point

ilustrasi penjelasan titik impas. source envato

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi break even point (BEP) suatu perusahaan, antara lain:

  1. Menurunkan biaya produksi: Perusahaan dapat menekan biaya produksi dengan mengurangi penggunaan bahan baku, mengefisienkan proses produksi, atau menggunakan teknologi yang lebih efektif.
  2. Meningkatkan harga jual produk: Perusahaan dapat meningkatkan harga jual produk untuk meningkatkan margin keuntungan, sehingga BEP dapat ditekan.
  3. Meningkatkan volume penjualan: Perusahaan dapat meningkatkan volume penjualan untuk mencapai BEP lebih cepat. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan promosi, memperluas jangkauan pasar, atau meningkatkan kualitas produk.
  4. Mengurangi biaya tetap: Perusahaan dapat mengurangi biaya tetap seperti biaya sewa atau gaji karyawan dengan mengefisienkan operasional perusahaan.
  5. Memperbaiki manajemen keuangan: Perusahaan harus mengelola keuangan dengan baik, seperti menunda pembayaran atau mengurangi utang, untuk mengurangi beban keuangan dan BEP.
  6. Menjalin kemitraan: Perusahaan dapat menjalin kemitraan dengan perusahaan lain untuk membagi biaya produksi atau memperluas jangkauan pasar sehingga dapat meningkatkan volume penjualan dan menurunkan BEP.
  7. Mengoptimalkan penggunaan aset: Perusahaan harus memastikan bahwa aset seperti mesin produksi atau peralatan lainnya digunakan secara optimal agar tidak ada biaya yang tidak perlu.

Dengan mengurangi BEP, perusahaan dapat meningkatkan margin keuntungan dan meningkatkan daya saing di pasar.

Namun, perusahaan harus melakukan penghitungan yang teliti dan memperhatikan faktor-faktor lain seperti risiko dan potensi pasar.

Baca juga: Mengenal Contribution Margin, Cara Menghitung, dan 5 Manfaat Besarnya untuk Bisnis

Infografis Ringkasan Materi

Infografis_Break-Even-Point-01

Baca juga: Manajemen Keuangan: Pengertian, Tujuan, Fungsi, Prinsip, dan Tips Pengelolannya

Kesimpulan

Break even point (BEP) adalah titik impas di mana total pendapatan sama dengan total biaya, sehingga perusahaan tidak menghasilkan keuntungan atau kerugian.

BEP penting bagi perusahaan karena dapat membantu dalam menentukan strategi operasional dan keuangan.

Semakin rendah Break even point, semakin mudah bagi perusahaan untuk mencapai titik impas dan mulai menghasilkan keuntungan.

Untuk mengurangi BEP, perusahaan dapat meningkatkan harga jual produk, meningkatkan volume penjualan, menurunkan biaya produksi, mengurangi biaya tetap, memperbaiki manajemen keuangan, menjalin kemitraan, atau mengoptimalkan penggunaan aset.

Namun, perlu diingat bahwa BEP hanya menggambarkan titik impas dan tidak memperhitungkan faktor-faktor lain seperti risiko pasar atau potensi pertumbuhan pasar.

Oleh karena itu, perusahaan harus melakukan penghitungan yang teliti dan memperhatikan faktor-faktor lain dalam mengambil keputusan strategis.

Anda memiliki banyak produk dan kesulitan dalam menghitung break even point pada bisnis?

Gunakanlah software akuntansi yang memiliki fitur penghitungan transasksi dan pelaporan keuangan terlengkap seperti Accurate Online.

Software Akuntansi dan Bisnis Accurate Online adalah software berbasis cloud yang sudah digunakan oleh ratusan ribu pengguna dari berbagai jenis bisnis dan memiliki fitur terbaik dan cocok untuk setiap bisnis yang ada di Indonesia.

Jadikanlah bisnis lebih mudah dengan pembukuan yang lebih baik bersama Accurate Online.

Anda bisa mencoba menggunakan Accurate Online secara gratis selama 30 hari melalui tautan pada gambar di bawah ini:

Seberapa bermanfaat artikel ini?

Klik salah satu bintang untuk menilai.

28779 pembaca telah memberikan penilaian

Belum ada yang memberikan penilaian untuk artikel ini 🙁 Jadilah yang pertama!

Anggi

Artikel Terkait