Product Backlog: Pengertian dan Bedanya Dengan Sprint Backlog serta Increment

Product backlog adalah salah satu istilah yang sangat wajib untuk dipahami bagi Anda yang memiliki karir dalam bidang pengembangan produk. Pada dasarnya, product backlog adalah salah satu kunci yang mampu membuat pekerjaan tim menjadi tetap kolaboratif, jelas, dan juga tangkas. Keseluruh hal tersebut kerap kali disebut dengan agile.

Lalu, kenapa product backlog memiliki peranan yang sangat penting? bagaimanakah cara membuat product backlog yang baik? Nah, pada kesempatan kali ini kami akan menjawab seluruh pertanyaan tersebut. Untuk itu, baca artikel tentang product backlog berikut ini hingga tuntas.

Apa itu Product Backlog?

Dilansir dari laman Scrum, product backlog pada dasarnya adalah suatu daftar. Daftar tersebut memiliki apa saja yang memang harus dilakukan untuk suatu produk. Terdapat urutan dari yang paling atas sampai yang paling bawah.

Urutan tersebut dibuat bukan tanpa rencana. Di dalamnya menunjukkan skala prioritas tertentu. Contohnya, dari urutan pertama terdapat pekerjaan dalam memperkuat keamanan suatu aplikasi. Selanjutnya, pada urutan kedua terdapat pekerjaan membangun fitur baru. Daftar tersebut terus berlanjut tanpa batasan tertentu.

Mereka yang mengemban tanggung jawab atas product backlog pada suatu perusahaan sering disebut dengan product owner. Mereka bertugas dalam mengurus konten, ketersediaan, dan juga urutan prioritas dari product backlog.

Product backlog juga tidak akan pernah ada habisnya. Kenapa? Karena proses pengembangan produk harus dilakukan secara terus menerus tanpa henti.

Selama masih ada produk, maka product backlog juga akan terus ada dan akan terus disesuaikan dengan kebutuhan. Sehingga, bisa kita simpulkan bahwa product backlog adalah to-do-list yang memiliki isi lebih spesifik, dan juga dibuat hanya demi kebutuhan produk saja.

Baca juga: Waste, Pengertian dan 7 Jenis Waste yang Terdapat dalam Lean Manufacturing

Mengapa Product Backlog Penting?

Daftar produk dibuat bukan tanpa alasan. Di dalamnya terdapat banyak sekali manfaat yang mampu melancarkan suatu proses pengembangan produk. Berdasarkan laman resmi Agile Alliance, salah satu fungsi penting dari product backlog adalah penghematan waktu dan juga kejelasan pekerjaan setiap tim.

Contohnya, seorang product designer tiba-tiba menyampaikan pada product owner bahwasanya terdapat salah satu fitur yang mampu membuat produknya berkembang lebih baik.

Hal ini bisa dituliskan pada product backlog. Ide tersebut tidak akan terlupakan, walaupun mungkin sudah tertumpuk dengan prioritas yang lainnya. Saat sudah waktunya tiba untuk melakukan penyelidikan, maka product owner bisa melakukan diskusi dengan tim apakah saran dari product design bisa diterima dengan baik ataukah tidak.

Pilihan pengembangan tersebut tidak bisa terlupakan. Selain itu, akan ada waktu khusus yang diluangkan oleh tim untuk bisa memikirkannya. Kejelasan seperti ini akan membuat pekerjaan tim menjadi lebih fokus.

Selain itu, laman resmi Zenhub juga menjelaskan bahwa product backlog adalah salah satu hal yang mampu membuat pekerjaan tim menjadi lebih rapi. Karena, product backlog berisi banyak sekali saran dari setiap pihak. Mulai dari tim sales, business development, pengembangan produk, sampai dari pengguna.

Seluruh hal tersebut akan tersusun rapi, bisa dilihat dan juga dinilai mana yang lebih penting daripada yang lainnya. Selain itu, tim juga tidak akan menjadi kebingungan terkait mana yang harus mereka kerjakan lebih dahulu.

Bersumber dari laman Atlassian, product backlog yang baik pun mampu membuat tim agar tetap agile. Kenapa? Karena tugas yang ada di dalamnya akan menggambarkan iterasi alias pecahan dari suatu pekerjaan. Sehingga, dengan adanya product backlog yang baik, akan mampu menciptakan tim yang juga baik, baik itu dari hasil akhir hingga proses yang dilewatinya.

Ciri-ciri Product Backlog yang Baik

Ciri-ciri product backlog yang baik adalah DEEP. Berikut ini adalah penjelasannya:

1. Detailed Appropriately

Ciri pertama dari product backlog yang baik adalah pemberian uraian yang begitu tepat. Artinya, tidak seluruhnya didalami, dibahas, dan juga ditulis secara detail.

Perlu digaris bawahi bahwa ada banyak yang mengantri di product backlog. Idealnya, pekerjaan dengan tingkat yang paling penting harus berada di paling atas. Hal tersebut harus dituliskan rinciannya secara lengkap.

2. Emergent

Seperti yang sudah kita jelaskan sebelumnya bahwa selama produk masih ada, maka product backlog pun akan terus berjalan. Hal ini juga adalah salah satu ciri dari product backlog yang baik. Jadi, selama produk masih ada, maka ia akan terus selalu diperbarui. Pekerjaan pun kerap kali keluar dan masuk dari hal tersebut.

3. Estimated

Ciri selanjutnya dari product backlog yang baik adalah estimated. Karakteristik ini terlihat mirip seperti yang ada pada poin pertama. Estimated dalam hal ini adalah beban kerja dan juga durasi yang sudah diperhitungkan.

Posisi yang paling atas mampu menunjukkan keterangan waktu yang lebih jelas, seperti dua minggu. Sementara itu, posisi “lama”, “singkat”, “menengah”, dan lain-lain harus berada di posisi selanjutnya.

4. Prioritized

Ciri yang terakhir adalah disusun dengan berdasarkan skala prioritas. Bila tim tengah sedang mengerjakan apa yang berada pada posisi atas, maka yang berada pada posisi bawah tidak harus dipikirkan saat ini. Posisi bawah harus akan dipikirkan, dikaji, dan ditambahkan detail tertentu setelah apa yang ada pada prioritas tinggi sudah selesai.

Apa Bedanya dengan Sprint Backlog dan Increment

Sprint backlog memiliki bentuk daftar yang mempunyai alur maju. Mulai dari daftar pekerjaan yang memang harus dikerjakan sampai dengan daftar pekerjaan yang sudah diselesaikan oleh setiap anggota tim. Setiap anggota tim akan diatur agar bisa mengerjakan berbagai bagian yang sudah ada di dalam daftar sprint backlog.

Dengan adanya sprint backlog, maka setiap anggota tim dan juga pihak yang terkait mampu melihat setiap perkembangan tugasnya. Jadi, setiap manajer bisa melihat tugas apa saja yang memang belum selesai, tugas yang saat itu sedang dikerjakan, dan juga tugas apa saja yang memang sudah selesai.

Design Sprint dan Prosesnya

Design sprint didapatkan dari proses yang umumnya disebut dengan sprint planning dan hasil dari sebuah proses yang disebut dengan print planning. Design sprint sendiri pada dasarnya memiliki tujuan sprint, tugas yang harus dikerjakan, dan juga tujuan yang memang belum tercapai.

Berikut ini adalah beberapa tahapan dari design sprint:

1. Understand

Pembuatan design sprint dapat diawali dengan proses yang memahami keperluan dan juga permintaan dari pihak klien. Kebutuhan dan juga permintaan ini nantinya akan menjadi basis design sprint yang sudah dibuat.

2. Diverge

Proses selanjutnya yang harus dilakukan bila semua anggota tim sudah memahami kebutuhan dan juga permintaan yang diinginkan oleh klien adalah mengembangkan berbagai solusi yang mampu menjawab keperluan dan permintaan tersebut.

3. Decide

Dalam proses sebelumnya, pasti akan ada banyak solusi yang ditemukan. Nah, dalam tahapan kali ini, tim akan memilih satu dari sekian banyak solusi terbaik agar bisa dikembangkan lebih lanjut.

4. Prototype

Ide yang sebelumnya sudah dipilih dan dikembangkan lebih lanjut akan menjadi prototype produk yang diharapkan mampu memenuhi keperluan dan juga permintaan klien.

5. Validate

Proses terakhir yang harus dilakukan adalah proses uji coba. Proses ini akan dicoba langsung oleh klien itu sendiri. Setelah proses ini sudah dilakukan, maka artinya seluruh bagian dari sprint backlog sudah terpenuhi dengan baik.

Pengertian Increment

Increment adalah suatu pengiriman sprint yang mana didalamnya terdiri dari beberapa cerita pengguna yang bersama-sama akan menghasilkan suatu produk yang sudah berfungsi dengan baik ataupun setengah jadi. Untuk para pemilik kepentingan di dalamnya, increment adalah suatu parameter atas kemajuan yang sudah dicapai oleh para tim pengembang.

Baca juga: Flagship Adalah Konsep Produk Yang Mampu Menumbangkan Kompetitor, Ini Penjelasannya!

Penutup

Demikianlah penjelasan dari kami tentang product backlog. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa product backlog pada dasarnya adalah suatu daftar. Daftar tersebut memiliki apa saja yang memang harus dilakukan untuk suatu produk. Terdapat urutan dari yang paling atas sampai dengan ke yang paling bawah.

Dalam menerapkannya, terdapat beberapa perhitungan yang harus dilakukan agar mampu menghasilkan product backlog yang baik.

Namun, hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah manajemen keuangan yang baik. Caranya adalah dengan selalu mencatat setiap pengeluaran dan pemasukan perusahaan dalam laporan keuangan. Pencatatannya harus dilakukan serapi dan seakurat mungkin agar bisa dijadikan referensi untuk mengambil kebijakan yang tepat.

Untuk Anda yang kesulitan untuk membuatnya, Anda bisa menggunakan software akuntansi Accurate Online. Di dalamnya, Anda bisa mendapatkan lebih dari 200 jenis laporan keuangan yang bisa Anda dapatkan secara otomatis. Anda hanya perlu memasukkan beberapa data perusahaan saja.

Selain itu, Anda juga bisa menikmati berbagai fitur menarik lainnya dalam Accurate Online yang akan mampu membantu kegiatan bisnis Anda, seperti fitur pembelian, fitur persediaan, fitur penjualan, fitur manufaktur, dan masih banyak lagi.

Ayo coba Accurate Online sekarang juga dan nikmat berbagai fitur lengkap di dalamnya secara gratis selama 30 hari dengan klik tautan gambar di bawah ini.https://accurate.id/lp/marketing-form/