Debt to Equity Ratio (DER): Pengertian dan Rumusnya

oleh | Apr 26, 2024

source envato.

Debt to Equity Ratio (DER): Pengertian dan Rumusnya

Sehatnya atau tidaknya suatu perusahaan tidak hanya dinilai dari penjualan ataupun kualitas SDM-nya saja, namun juga dinilai berdasarkan perspektif keuangan internalnya.

Salah satunya adalah dengan mengukur debt to equity ratio atau pengukuran rasio utang terhadap modal.

Debt to Equity Ratio (DER) adalah salah satu rasio keuangan yang penting untuk dipahami oleh para pengusaha dan investor.

Rasio ini memberikan gambaran tentang seberapa besar perusahaan menggunakan utang dibandingkan dengan ekuitasnya untuk mendanai operasional dan investasi.

Baca artikel ini hingga akhir untuk memahami fungsi DER yang sesungguhnya!

Pengertian Debt to Equity Ratio

Debt to equity ratio atau DER merupakan rasio utang terhadap ekuitas. Hal ini juga biasa disebut dengan rasio utang modal.

Debt to equity ratio juga sering disebut sebagai rasio leverage atau rasio pengungkit yang artinya rasio yang dimanfaatkan untuk mengukur suatu nilai investasi yang ada pada suatu perusahaan.

Oleh karenanya, debt to equity ratio adalah rasio keuangan yang utama yang harus dilakukan dalam suatu perusahaan.

Kenapa? Karena debt to equity ratio digunakan untuk mengukur nilai posisi keuangan perusahaan.

Baca juga: Pengertian Rasio Solvabilitas dan 5 Cara Mudah Menghitungnya

Cara Menghitung Debt to Equity Ratio

Dibutuhkan rumus tertentu untuk menghitung Debt to equity ratio , rumusnya adalah:

Rumus Debt to equity ratio  (DER) = Total hutang ÷ Ekuitas.

Dengan catatan:

Utang atau liabilitas merupakan kewajiban yang memang harus dibayar oleh pihak perusahaan secara tunai pada pihak pemberi utang dalam kurun waktu tertentu.

Utang pun terbagi lagi menjadi tiga kategori berdasarkan jangka waktu pelunasannya, yaitu kewajiban lancar, kewajiban jangka panjang, dan kewajiban lain-lain.

Equity merupakan hak milik perusahaan atas suatu aset ataupun aktiva perusahaan yang didalamnya terdapat kekayaan bersih. Ekuitas akan terdiri dari setoran pemiliki perusahaan dan sisa laba ditahan.

Kewajiban lancar atau utang lancar adalah bentuk kewajiban yang lebih bersifat jangka pendeng, dan cenderung masih dianggap suatu hal yang biasa.

Umumnya, utang lancar merupakan utang perusahaan yang lebih menyangkut tentang kegiatan operasional perusahaan dan bersifat jangka pendek, seperti utang pada pihak supplier, membayar gaji, atau utang pembelian suatu alat untuk memenuhi kegiatan produksi.

Kewajiban jangka panjang adalah jenis utang yang termasuk berbahaya dan ada baiknya dihindari oleh pihak perusahaan.

Umumnya, utang jangka panjang memiliki nominal dan bunga yang besar, seperti pinjaman dari bank atau pihak lain.

Saat kewajiban lancar ternyata lebih besar daripada kewajiban panjang, maka hal tersebut masih bisa dianggap wajar.

Tapi jika yang terjadi adalah sebaliknya, makan hal tersebut bisa menjadi tanda perusahaan yang tidak sehat.

Bila kewajiban jangka panjang lebih besar nilainya daripada kewajiban lancar, maka ancaman yang akan terjadi pada perusahaan adalah adanya gangguan likuiditas.

Baca juga: Rasio Utang: Pengertian, Rumus, Contoh dan Fungsinya

Contoh Perhitungan DER Perusahaan

Contoh Perhitungan DER Perusahaan

ilustrasi Debt to Equity Ratio (DER). source envato

Misalkan perusahaan ABC memiliki total utang sebesar Rp 500.000.000 dan ekuitas sebesar Rp 1.000.000.000.

Debt to Equity Ratio = Total Utang / Ekuitas = Rp 500.000.000 / Rp 1.000.000.000 = 0,5

Dalam hal ini, DER perusahaan ABC adalah 0,5. Ini berarti perusahaan menggunakan setiap Rp 0,50 utang untuk setiap Rp 1,00 ekuitasnya.

Gunakan Aplikasi Akuntansi untuk memudahkan Anda dalam mengetahui rasio ini dengan mudah dan akurat.

Dengan Fitur Laporan Rasio Keuangan, seluruh rasio keuangan bisnis dapat Anda ketahui dan bandingkan secara langsung.

Baca juga : Cara Mudah Menghitung Seluruh Rasio Keuangan di Aplikasi Akuntansi

Rasio Utang Terhadap Modal sebagai Penilai

Perhitungan Debt to Equity Ratio harus dilakukan secara cermat dan teliti karena hasil angka yang sangat penting dan dibutuhkan dalam perhitungan laporan keuangan pada suatu perusahaan.

Sehat atau tidaknya kondisi finansial perusahaan akan bergantung dari laporan Debt to Equity Ratio.

Jika ternyata nilai debt to equity ratio meningkat, maka perusahaan tersebut berarti mendapatkan pendanaan dari pemberi utang atau investor.

Jadi, mereka tidak mendapatkan pendapatan dari perusahaannya sendiri. Hal ini sangat berbahaya dan harus diawasi secara ketat, karena perusahaan tersebut tentunya harus membayar utang yang telah dipinjam dalam kurun waktu tertentu.

Para pihak pemberi utang ataupun investor cenderung akan lebih memilih perusahaan yang nilai debt to equity ratio­-nya rendah, karena aset investor akan tetap aman jika suatu saat terjadi kerugiaan.

Semakin tinggi nilai Debt to Equity Ratio, maka akan semakin tinggi juga jumlah utang yang harus dilunasi perusahaan dalam jangka waktu tertentu.

Untuk itu, perusahaan yang memiliki nilai debt to equity ratio yang kecil akan lebih mudah dalam mendapatkan pendanaan dari berbagai investor.

Nilai Debt to Equity Ratio yang kecil juga menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki kewajiban utang yang kecil. Sehingga, nantinya akan lebih menguntungkan para investor yang hendak melakukan pendanaan.

Diperlukan perhitungan debt to equity ratio yang cermat dan akurat demi menghindari berbagai kekeliruan.

Untuk para pemimpin perusahaan, tentunya mereka harus lebih cermat dan cerdas lagi dalam pengambilan modal, proses produksi dan pemasaran, agar rasio utang tidak terlalu tinggi.

Baca juga: Pengertian Debt Burden Ratio dan 10 Faktor yang Memengaruhinya

Debt to Equity Ratio dan Pajak Penghasilan

Pemerintah Indonesia pun ternyata mengeluarkan peraturan mengenai Debt to Equity Ratio. Mentri Keuangan lantas mengeluarkan suatu ketentuan tentang besarnya debt to equity ratio dalam peraturan Mentri Keuangan No. 169/PMK.010/2015.

Peraturan yang berisi penentuan besarnya perbandingan antara utang dan modal perusahaan untuk keperluan penghitungan pajak penghasilan.

Beberapa peraturan tersebut berisi hal-hal yang sangat penting, yaitu:

  • Ketentuan nilai Debt to Equity Ratio (DER) berlaku untuk semua badan wajib pajak yang didirikan dan berada di Indonesia yang seluruh modalnya terbagi atas beberapa saham
  • Nilai utang dan modal dihitung dari saldo rata-rata pada satu tahun pajak atau pada bagian tahun pajak.
  • Maksimal besarnya nilai perbandingan utang dan modal adalah 4:1.
  • Terdapat beberapa pengecualian bagi beberapa kelompok wajib pajak, yaitu pihak perbankan, asuransi, pertambangan, lembaga pembiayaan, dan seluruh lembaga yang penghasilannya dikenai pajak penghasilan dan wajib pajak tersebut menjalankan usahanya pada bidang infrastruktur.
  • Jika nilai DER melebih 4:1, maka biaya peminjaman yang dapat diperhitungkan adalah besarnya biaya pinjaman sesuai dengan rasio 4:1.
  • Biaya pinjaman berisi bunga pinjaman, diskon dan premium, serta biaya lain terkait pinjaman, beban sewa pembiayaan, imbalan karena jaminan pengembalian utang dan selisih kurs pinjaman atas mata uang asing.
  • Jika wajib pajak memiliki saldo ekuitas nol atau kurang dari nol, maka seluruh biaya pinjaman tidak bisa diperhitungkan dalam penghitungan penghasilan kena pajak.
  • Ketentuan yang baru ini sudah berlaku sejak tahun pajak 2016.
  • Ketentuan pelaksanaan yang lebih lanjut akan diatur oleh Peraturan Direktur Jenderal Pajak

Baca juga: Pengertian Debt to Service Ratio dan 3 Cara Mudah Menghitungnya

Penilaian Debt to Equity Ratio

Biasanya, nilai debt to equity ratio yang optimal dalam suatu perusahaan adalah sekitar satu kali, dimana jumlah utang sama dengan jumlah ekuitas.

Namun, rasio ini tidak bisa disamakan antara satu jenis industri dengan industri lainnya.

Kenapa? Karena hal ini tergantung dari proporsi aktiva lancar dan aktiva tidak lancar pada industri tersebut.

Semakin banyak aktiva atau aset tidak lancar maka akan semakin banyak pula nilai ekuitas yang diperlukan untuk membiayai investasi jangka panjang.

Berapa Nilai DER yang Baik?

Untuk kebanyakan perusahaan saat ini, debt to equity ratio yang bisa diterima adalah sekitar 1,5 kali hingga dua kali.

Untuk perusahaan yang sudah go publik, maka debt to equity ratio yang bisa diterima adalah 2 kali atau lebih. Namun untuk perusahaan kecil dan menengah, maka angka tersebut tidak bisa diterima dengan baik.

Apakah semakin tinggi nilai DER semakin bagus performa perusahaan?

Umumnya, nilai debt to equity ratio yang tinggi akan menggambarkan perusahaan tersebut tidak mampu menghasilkan dana yang cukup dalam memenuhi kewajiban utangnya.

Bagaimana jika nilai DER suatu perusahaan rendah?

Namun, nilai debt to equity ratio yang rendah juga bisa menandakan bahwa pihak perusahaan tidak mampu meningkatkan keuntungannya secara maksimal.

Baca juga: Rasio Profitabilitas: Pengertian, Manfaat, Jenis dan Cara Penghitungannya

Kesimpulan

Secara keseluruhan, debt to equity ratio adalah salah satu indikator penting untuk menilai kesehatan keuangan pada suatu perusahaan.

Debt to equity ratio akan menggambarkan tingkat kemandirian pada suatu perusahaan tentang utang. Semakin rendah nilai debt to equity ratio, maka akan semakin bagus.

Tapi, debt to equity ratio bukan satu-satunya indikator yang bagus untuk menilai suatu keuangan perusahaan .

Sama seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, bahwa debt to equity ratio berkaitan sekali dengan beban perusahaan dan ekuitas, sehingga perhitungan debt to equity ratio sangatlah bergantung pada laporan keuangan.

Agar lebih mempermudah Anda dalam menyusun laporan keuangan tanpa human error, maka Anda bisa menggunakan software akuntansi dari Accurate Online.

Beberapa fitur yang bisa Anda manfaatkan dengan menggunakan Accurate Online adalah perhitungan dan laporan keuangan yang real time dan akurat. Sehingga, Anda tidak perlu takut lagi akan adanya kesalahan ketika menghitung laporan keuangan.

Tertarik? Anda bisa mencoba menggunakan Accurate Online secara gratis selama 30 hari melalui tautan pada gambar di bawah ini:

akuntansibanner
sidebarPromo

Download Template Pembukuan Bisnis

Template pembukuan untuk bisnismu dengan format Excel.

Khaula Senastri
Seorang lulusan S1 ilmu akuntansi yang suka membagikan istilah, rumus, dan berbagai hal yang berkaitan dengan dunia akuntansi lewat tulisan.

Artikel Terkait