Standar Akuntansi Keuangan: Pengertian dan Jenis Standar Akuntansi di Indonesia

Di dunia akuntansi terutama di Indonesia, terdapat sebuah standar yang mengatur praktik akuntansi yang disebut sebagai Standar Akuntansi Keuangan. Standar ini mengatur pembuatan, penyusunan, hingga proses pencatatan dan penyajian data-data akuntansi. Tujuannya agar semua bentuk laporan keuangan menjadi seragam dan mudah dipahami oleh siapa saja.

Pengertian Standar Akuntansi Keuangan

Di Indonesia, pengertian akan Standar Akuntansi Keuangan atau SAK adalah sebuah standar atau landasan baku akan praktik akuntansi yang digunakan di Indonesia. Pembuatan standar baku akuntansi ini disusun dan diterbitkan oleh sebuah dewan standar akuntansi dari Ikatan Akuntan Indonesia. Standar baku ini mengatur proses pembuatan, penyusunan, dan penyajian laporan keuangan di Indonesia.

SAK berawal dari standar akuntansi yang digagas oleh Ikatan Akuntan Indonesia pada tahun 1973. Pada tahun tersebut Ikatan Akuntan Indonesia membuat sebuah prosedur atau standar yang diberi nama Prinsip Akuntansi Indonesia. Pembuatan Prinsip Akuntansi Indonesia ini digagas setelah melihat perkembangan pasar modal di Indonesia yang mulai tumbuh.

Pada praktiknya, Prinsip Akuntansi Indonesia ini terus berkembang mengikuti perkembangan zaman, hingga mengalami beberapa perubahan nama seperti Prinsip Akuntansi Indonesia 1984 hingga akhirnya menjadi bernama Standar Akuntansi Keuangan atau SAK pada tanggal 1 Oktober 1994. Hingga berlanjut pada tahun 2012, SAK terus mengalami pembaharuan dan penyesuaian.

SAK yang ada di Indonesia disesuaikan dengan mengikuti standar akuntansi internasional yang sudah baku seperti GAAP, IAS, atau FRS. Tujuannya agar seluruh dokumen atau laporan keuangan di Indonesia juga sudah diakui secara internasional. Sehingga akan membantu pelaku usaha dalam mengarungi pasar global internasional.

Download eBook Panduan dan Template Pembukuan Sederhana dengan Excel untuk Bisnis Kecil

Fungsi Standar Akuntansi Keuangan

Pembuatan standar pada dunia akuntansi bukan dilakukan tanpa makna karena adanya standar pada akuntansi ini memiliki beberapa fungsi. Fungsi yang pertama dari adanya standar akuntansi adalah untuk penyeragaman laporan keuangan. Fungsi yang kedua untuk memudahkan akuntan dalam menyusun laporan keuangan.

Fungsi lain yang tidak kalah penting adalah untuk mempermudah pembaca dan auditor untuk memahami dan membandingkan masing-masing entitas laporan keuangan yang berbeda-beda. Dengan adanya standar pada akuntansi keuangan, semua laporan keuangan yang ada di seluruh dunia memiliki cara penyusunan yang serupa. Tidak ada akuntan yang membuat laporan keuangan sesuai dengan seleranya masing-masing.

Baca juga: Cara Membuat Laporan dan Pengelolaan Akuntansi Melalui Excel

standar akuntansi keuangan 2

Jenis Standar Akuntansi Keuangan yang Berlaku di Indonesia

Di Indonesia sendiri ada empat jenis SAK yang berlaku. Masing-masing SAK ini digunakan menurut jenis usaha atau organisasinya. Penyusunan dan penerapan jenis-jenis SAK ini sudah disesuaikan dengan perkembangan dunia bisnis di Indonesia. Berikut ini adalah empat jenis SAK yang berlaku di Indonesia

1. PSAK-IFRS

PSAK merupakan perubahan nama terbaru dari SAK yang disusun dan diterbitkan oleh DSAK pada tahun 2012. Penyusunan PSAK ini mengikuti standar yang digunakan oleh IFRS atau International Financial Reporting Standards dengan menyesuaikan pada kondisi bisnis di Indonesia.

Pembuatan dan penyusunan PSAK ini menjadi standar dalam pencatatan, penyusunan, dan penyajian laporan keuangan.

Adanya standar yang sesuai dengan PSAK ini membuat semua informasi keuangan yang ada mudah dipahami dan relevan bagi semua pengguna laporan keuangan tersebut.

Penyusunan laporan keuangan berdasarkan jenis PSAK ini digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang tergolong ke dalam perusahaan publik. Pemilihan IFRS sebagai pedoman bagi PSAK adalah karena adanya penilaian transaksi dan evaluasi pada laporan keuangan.

Adanya penilaian dan evaluasi ini dapat mencerminkan kondisi ekonomi secara nyata. Penerapan IFRS sendiri juga memberikan beberapa manfaat seperti meningkatkan daya banding dari laporan keuangan, memberikan informasi yang berkualitas pada pasar modal, hingga meningkatkan kualitas dari laporan keuangan itu sendiri.

Baca juga: Kasus Wirecard dan Cara Antisipasi Fraud dalam Laporan Keuangan

2. SAK-ETAP

Sebaliknya, bila perusahaan tersebut belum atau tanpa akuntabilitas publik, maka proses penyusunan laporan keuangannya menggunakan SAK-ETAP.

Sehingga pembuatan laporan keuangan dari perusahaan tersebut harus menggunakan standar khusus, bila ditujukan untuk penggunaan eksternal perusahaan. Karena perusahaan belum memiliki akuntabilitas publik, maka laporan keuangannya juga lebih sederhana.

Laporan keuangan yang sederhana ini disusun dengan menggunakan standar jenis SAK-ETAP. Pada standar jenis ini, tidak ada penilaian pada aset tetap dan aset tak berwujud. Laporan laba/rugi yang dibuat juga laporan yang bersifat komprehensif. SAK-ETAP ini menggunakan standar akuntansi IFRS yang sudah disederhanakan.

Adanya laporan keuangan dengan standar SAK-ETAP ini dapat membantu perusahaan yang berskala kecil dan menengah dalam penyusunan laporan keuangannya.

Standar yang digunakan pada SAK-ETAP ini lebih sederhana karena siklus akuntansinya biasanya tidak berubah selama beberapa tahun. Sehingga pengaturannya juga lebih sederhana. Namun, SAK-ETAP tetap membutuhkan professional judgement pada proses auditnya.

Baca juga: Ingin Menjadi Akuntan Perpajakan? Perhatikan Hal Berikut Ini

3. PSAK-Syariah

Dilihat dari namanya saja sudah sangat mudah dipahami bahwa standar akuntansi keuangan yang satu ini merupakan standar akuntansi yang berbasis syariah. Penyusunan laporan keuangan yang menggunakan standar PSAK-Syariah ini umumnya dilakukan oleh badan usaha yang memiliki konsep syariah dalam penyelenggaraan usahanya.

Penyusunan PSAK-Syariah sendiri dilakukan oleh Dewan Akuntansi Keuangan Syariah yang mengacu pada fatwa dari Majelis Ulama Indonesia atau MUI. Dalam penyusunan PSAK-Syariah sendiri sebetulnya masih menggunakan model SAK yang digunakan secara umum. Namun, terdapat penyesuaian pada beberapa hal yang berkaitan dengan transaksi syariah.

Beberapa transaksi syariah seperti Mudharabah, Salam, Istishna, Murabahah, dan Ijarah adalah jenis-jenis transaksi yang dimasukkan dalam PSAK-Syariah.

Transaksi ini tidak ada pada transaksi secara umum, sehingga dalam laporannya harus menggunakan standar khusus yang ditetapkan dalam PSAK-Syariah. Cabang PSAK-Syariah tergolong ke dalam jenis SAK yang masih baru dikembangkan seiring berkembangnya badan usaha syariah di Indonesia.

Baca juga: Laporan Neraca: Pengertian, Cara Menyusunnya Dan Membacanya

4. Standar Akuntansi Pemerintah

Sesuai dengan namanya juga, SAP ini digunakan oleh instansi-instansi pemerintah dalam menyusun laporan keuangannya. Tidak terkecuali instansi pemerintah pusat maupun daerah, semuanya menggunakan SAP dalam penyusunan laporan keuangannya.

Penerbitan SAP ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah dan menjadi jenis SAK terakhir yang berlaku di Indonesia dan regulasinya diatur oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan atau KSAP.

Penyusunan laporan keuangan instansi pemerintah memang harus dibedakan dari jenis laporan keuangan perusahaan umum. Sifat laporan keuangan instansi pemerintah yang tertutup membuat publikasinya tidak bisa diketahui secara luas. Namun, penyusunan laporan keuangan ini tetap wajib untuk menjamin pengelolaan keuangan negara yang transparan.

Dalam penyusunan laporan keuangan yang menggunakan Standar Akuntansi pemerintah, ada beberapa jenis laporan yang disebut sebagai laporan keuangan pokok. Laporan keuangan pokok yang dimaksud adalah Neraca, Laporan Arus Kas, Laporan Realisasi Anggaran, dan Catatan Atas Laporan Keuangan.

Keuangan negara adalah hal yang sangat sensitif karena menyangkut pajak dari masyarakat. Dengan penyusunan laporan keuangan ini, instansi pemerintah dituntut untuk tetap transparan dalam penggunaan keuangan negara.  Sehingga tercipta instansi pemerintah yang baik dan bersih untuk mendukung pemerintahan.

Baca juga: Laporan Perubahan Modal : Pengertian, Rumus, Elemen, dan Contohnya

Kesimpulan

Penyusunan laporan keuangan di Indonesia harus menggunakan standar akuntansi yang sudah ditetapkan. Di Indonesia sendiri terdapat jenis standar akuntansi keuangan yang diakui. Masing-masing jenis standar ini digunakan oleh kepentingan yang berlainan.

Penyusunan laporan keuangan dengan standar akan memberikan kemudahan bagi auditor dalam melakukan audit demi terciptanya lingkungan keuangan yang sehat dan bersih. 

Dalam proses pembukuan manual, bisnis Anda seharsunya menggunakan standar akuntansi keuangan tersebut. Namun masalahnya adalah proses pembukuan manual sangat rentan human error yang bisa mengakibatkan dalam pembuatan laporan keuangan usaha Anda.

Belum lagi tindakan fraud yang sangat besar kemungkinanannya terjadi, dan akan merugikan usaha Anda secara keseluruhan.

Untuk meminimalisir hal ini, ada baiknya Anda menggunakan software akuntansi yang sesuai dengan PSAK, memenuhi kebutuhan bisnis Anda, mudah digunakan dan memiliki harga terjangkau, contohnya adalah Accurate Online.

Hanya dengan 200 ribu perbulan, Anda bisa mendapatkan fitur terbaik yang bisa Anda akses kapanpun dan dimanapun Anda mau. Mulai dari pencatatan dan pengeluaran usaha, pelaporan dan penghitungan pajak otomastis, panghitungan aset, smartlink ebanking, integrasi ke marketplace, multi cabang, multi gudang, otomasi leih dari 200 jenis laporan keuangan dan masih banyak lagi.

Jadi apalagi yang masih Anda ragukan? Anda bisa mencoba menggunakan Accurate Online secara gratis selama 30 hari melalui tautan pada gambar di bawah ini:

accurate 2