Kasus Wirecard dan Cara Antisipasi Fraud dalam Laporan Keuangan

Kasus Wirecard sedang menjadi pembahasan yang ramai saat ini. Bagi yang belum mengetahui apa itu Wirecard, Wirecard adalah perusahaan yang menyediakan platform perangkat lunak sebagai sarana penerimaan dan fasilitas pengolahan pembayaran.

Perusahaan Wirecard mengalami salah satu kejatuhan nilai saham terburuk dalam sejarah indeks acuan Jerman setelah mengungkapkan bahwa sekitar 1,9 miliar euro ($ 2,1 miliar) atau sekitar 29,5 triliun rupiah (kurs 14.000) dalam bentuk kas telah hilang.

Mengetahui Lebih dalam Kasus Wirecard

Dikutip dari Finansial Times dalam membahas kasus Wirecard, perusahaan ini dilaporkan akan memindahkan uang dari rekening bank di Jerman ke neraca anak perusahaan yang tidak aktif di Hong Kong, dari mana uang itu akan ditransfer ke pelanggan fiktif, dan dari sana melakukan transfer ke rekening Wirecard di India. Hal Ini memberi kesan pada auditor lokal bahwa itu adalah pendapatan bisnis yang sah.

Perusahaan itu berusaha untuk mengambil alih operasi pembayaran Citigroup Inc. di Asia Pasifik, yang menjangkau 11 negara dan 20.000 retailer pada saat melakukan fraud akuntansi, menurut laporan itu.

Kecurangan atau fraud dalam akuntansi bukan hanya tindakan karyawan di perusahaan tersebut, tetapi merupakan bagian dari pola manipulasi angka yang lebih luas di Wirecard, menurut Finansial Time.

Dalam laporan tersebut, menunjukkan bahwa dua eksekutif senior di kantor perusahaan Munich, Thorsten Holten dan Stephan von Erffa, kepala perbendaharaan dan kepala akuntansi, sebenarnya menyadari skema round tripping, namun tidak mengambil tindakan.

Baca juga: Ingin Menjadi Akuntan Perpajakan? Perhatikan Hal Berikut Ini 

Apa itu Round Tripping?

Dalam  akuntansi istilah “round tripping” mengacu pada serangkaian transaksi antara perusahaan yang meningkatkan pendapatan perusahaan yang terlibat tetapi pada akhirnya, tidak memberikan manfaat ekonomi nyata bagi kedua perusahaan.

Meskipun tidak selalu ilegal, round triping bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan dan menyalahi standar akuntansi yang berlaku.

Penting bagi seorang pebisnis yang teliti untuk dapat mengenali kapan suatu transaksi bisa sama dengan round tripping – dan sebaliknya, mengetahui kapan suatu transaksi yang terlihat seperti round tripping padahal sebenarnya adalah transaksi yang sah.

Contoh Kasus Round Tripping

Contoh Round Tripping pada kasus wirecard umumnya melibatkan penjualan timbal balik aset yang identik.

Bayangkan Anda memiliki toko peralatan kantor, dan pemilik toko alat tulis mendatangi Anda dengan sebuah proposal. Dia akan membeli 40 rim kertas fotokopi dari Anda dengan harga eceran 30.000 per bungkus, dengan total 1.200.000.

Sementara itu, Anda akan membeli kertas identik darinya dengan harga yang sama, 1.200.000. Dia mengusulkan kesepakatan round tripping.

Contoh lain yang lebih mencolok mungkin termasuk pembayaran round tripping untuk “layanan” yang tidak ada, atau satu perusahaan “berinvestasi” di perusahaan lain, dengan perusahaan kedua berbalik dan menggunakan uang untuk membeli barang atau jasa dari perusahaan yang pertama berinvestasi di perusahaan tersebut.

Baca juga: Laporan Neraca: Pengertian, Cara Menyusunnya Dan Membacanya 

Tujuan Melakukan Round Tripping

Tujuan dari round tripping adalah untuk meningkatkan pendapatan – untuk membuat perusahaan terlihat seperti melakukan lebih banyak penjualan bisnis daripada yang sebenarnya.

Meskipun inti membangun perusahaan mana pun adalah laba, pengamat sering menilai pertumbuhan dan ukuran perusahaan berdasarkan pendapatan penjualannya.

Penawaran round tripping umumnya tidak meningkatkan laba; Seperti contoh diatas, pendapatan 1.200.000 yang akan Anda peroleh dari menjual kertas ke toko alat tulis akan diimbangi dengan biaya 1.200.000 untuk membeli jumlah kertas yang sama.

Tetapi setiap perusahaan mendapatkan tambahan 1.200.000 dalam pendapatan di laporan keuangan, sehingga tampak sangat baik dan lebih aktif daripada tanpa melakukan penjualan sama sekali.

Jelas ini membuat angka-angka dalam laporan keuangan terlihat lebih baik bagi investor atau pemberi pinjaman, sehingga meningkatkan kepercayaan investor. Namun seperti yang kami katakan diatas, tindakan ini adalah tindakan yang tidak sah, hal ini yang terjadi pada kasus Wirecard.

Baca juga: Konsep Dasar Akuntansi: Pengertian dan 8 Konsep yang Harus Anda Tahu

kasus wirecard 2

Mengetahui Fraud dalam Laporan Keuangan

Teknik analisis laporan keuangan dapat membantu Anda menemukan dan memeriksa kejadian atau transaksi tak terduga dalam informasi keuangan.

Prosedur analitis ini didasarkan pada premis bahwa hubungan yang relatif stabil ada di antara peristiwa ekonomi tanpa adanya kondisi yang bertentangan.

Perusahaan publik yang mengalami peristiwa ini harus mengungkapkan dan menjelaskan fakta dalam laporan keuangannya dan bisa dipertanggungjawankan.

Berikut adalah beberapa cara untuk mengetahui fraud dalam laporan keuangan untuk meminimalisir kasus fraud seperti yang dialami oleh Wirecard:

Teknik Komparatif

Hubungan antara data keuangan yang tampaknya mencurigakan harus diselidiki. Auditor atau pemilik bsinis dapat menggunakan teknik berikut untuk membantu mereka mengidentifikasi hubungan seperti itu:

  • Bandingkan informasi keuangan periode saat ini dengan informasi, anggaran, dan perkiraan keuangan periode sebelumnya.
  • Periksa hubungan antara informasi keuangan. Misalnya, harga pokok penjualan diharapkan bervariasi secara langsung dalam kaitannya dengan penjualan.
  • Mempelajari hubungan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan terkait. Sebagai contoh, penjualan department store diharapkan bervariasi dengan ukuran luas lantai penjualan.
  • Bandingkan informasi dengan informasi dari unit atau entitas organisasi lain dalam industri yang sama.

Download eBook Panduan dan Template Pembukuan Sederhana dengan Excel untuk Bisnis Kecil

Hubungan Keuangan

Pemahaman tentang hubungan umum antara saldo laporan keuangan tertentu diperlukan untuk mengidentifikasi hubungan yang tampak janggal. Jika penjualan meningkat, bagaimana seharusnya dampak bagi biaya penjualan?

Jika biaya komisi berkurang, apa yang diharapkan dari penjualan? Jawaban untuk pertanyaan seperti ini adalah dasar dari analisis keuangan. Hubungan berikut bersifat umum, dan secara tradisional terjadi di antara akun keuangan; Namun, keadaan unik dapat memberikan hasil yang berbeda.

Aset vs. Kewajiban

Perusahaan yang sehat secara finansial berusaha menjaga keseimbangan yang konsisten antara aset dan liabilitas.

Dengan menjaga keseimbangan tertentu, perusahaan menampilkan soliditasnya kepada pemberi pinjaman atau investor ekuitas dan menekan biaya pembiayaan.

Perubahan mendadak dari norma historis berarti sesuatu telah berubah dengan pandangan manajemen tentang bisnisnya. Ini juga dapat menunjukkan bahwa manajemen berusaha menyembunyikan sesuatu.

Peningkatan rasio yang tiba-tiba bisa berarti bahwa liabilitas seperti utang jangka panjang telah disembunyikan dalam neraca keuangan. Jika nilai kewajiban naik dan rasio merosot ke bawah, itu bisa mengungkapkan bahwa perusahaan meminjam dana terlalu banyak untuk membiayai operasi dan bahwa risiko fraud terjadi sangat besar.

Baca juga: Berbagai Jenis Profesi Akuntan dan Cara Menjadi Akuntan Kredibel

Penjualan vs. Harga Pokok Penjualan

Perusahaan menghasilkan penjualan karena menjual barang dagangannya.

Barang dagangan ini harus dibeli, diproduksi, atau keduanya, yang semuanya memerlukan pengeluaran kasuntuk bahan, tenaga kerja, dan sebagainya.

Karena itu, untuk setiap penjualan, harus ada biaya yang terkait dengannya. Jika penjualan meningkat, maka harga pokok penjualan umumnya meningkat secara proporsional.

Tentu saja, ada kasus di mana perusahaan telah mengadopsi metode yang lebih efisien dalam memproduksi barang, sehingga mengurangi biaya, tetapi masih ada biaya yang terkait dengan penjualan yang diakui pada penjualan barang.

Piutang Penjualan vs. Penjualan

Ketika suatu perusahaan melakukan penjualan kepada pelanggan, perusahaan umumnya mengirimkan barang kepada pelanggan sebelum pelanggan membayar, sehingga menghasilkan piutang usaha bagi perusahaan.

Oleh karena itu, hubungan antara penjualan dan piutang secara langsung proporsional. Jika penjualan meningkat, maka piutang harus meningkat kira-kira pada tingkat yang sama.

Penjualan vs. Persediaan

Inventori perusahaan adalah barang dagangan yang siap untuk dijual. Perusahaan pada umumnya mencoba mengantisipasi penjualan di masa depan, dan dengan melakukan itu, mencoba memenuhi permintaan ini dengan memiliki persediaan stok yang memadai.

Oleh karena itu, persediaan biasanya mencerminkan pertumbuhan penjualan. Jika penjualan meningkat, maka persediaan harus meningkat untuk memenuhi permintaan penjualan.

Persediaan yang tumbuh pada kecepatan yang lebih cepat daripada penjualan mungkin mengindikasikan barang dagangan yang sudah usang, bergerak lambat atau persediaan berlebihan.

Baca juga: Contoh Invoice, Pengertian, Tujuan, Tipe, Elemen, dan Tips Membuatnya

Margin keuntungan

Perusahaan menghasilkan pendapatan penjualan dengan menjual produk atau menyediakan layanan. Demikian juga, perusahaan mengeluarkan biaya langsung dan tidak langsung terkait dengan memproduksi atau mendapatkan produk yang mereka jual, atau menyediakan layanan untuk pelanggan mereka. Marjin laba kotor, operasi, dan laba bersih ditunjukkan pada laporan laba rugi.

Seiring waktu, margin laba harus tetap konsisten karena perusahaan menargetkan laba tertentu agar tetap dalam bisnis. Jika perusahaan menghadapi peningkatan persaingan dan harus mengurangi harga untuk produk-produknya, ia harus mencari cara untuk memotong biaya.

Tekanan yang berkelanjutan pada margin laba menunjukkan tekanan pada manajemen, yang pada akhirnya dapat menyebabkan fraud dalam pelaporan keuangan.

Baca juga: Faktur Adalah Hal Penting Pada Bisnis. Berikut Pengertian, Fungsi, Jenis dan Contohnya

Kejadian Tak Terduga

Ketika prosedur analitis mengungkap kejadian yang tak terduga di antara data keuangan, pemeriksa fraud harus menyelidiki hasilnya.

Evaluasi hasil harus mencakup pertanyaan dan prosedur tambahan. Sebelum bertanya kepada karyawan dan manajemen perusahaan tentang variasi, pemeriksa fraud harus terlebih dahulu menetapkan harapan untuk penyebab varibel tersebut.

Dari penyebab yang diharapkan, pemeriksa kecurangan akan lebih cocok untuk mengajukan pertanyaan yang bermakna saat mewawancarai personel perusahaan.

Penjelasan yang berasal dari karyawan kemudian harus diuji melalui pemeriksaan bukti pendukung. Misalnya, jika manajer penjualan menunjukkan bahwa kenaikan penjualan disebabkan oleh kampanye iklan baru, periksa akun pengeluaran iklan untuk memverifikasi bahwa kampanye memang terjadi. Jika biaya iklan serupa dengan tahun sebelumnya, hubungannya tidak masuk akal dan tindakan fraud mungkin ada.

Baca juga: Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa VS Perusahaan Dagang dan Tahapannya

Kesimpulan

Fraud dalam laporan keuangan tidak hanya merugikan bisnis, lebih jauh tindakan ini juga merugikan pihak eksternal dalam bisnis Anda, seperti yang kita tahu pada kasus wirecard yang berdampak terhadap investor perusahan tersebut.

Untuk meminimalisir tindakan ini ada baiknya Anda menggunakan sistem akuntansi dan pembukuan yang mampu menginput sekaligus menyajikan data secara real time. Salah satu solusinya adalah menggunakan software akuntansi berbasis online seperti Accurate Online.

Dengan Accurate Online, Anda bisa dengan mudah memantau seluruh data finansial kapanpun dan dimanapun Anda mau. Seperti pada video diatas, Accurate Online juga memilki fitur multi pengguna yang mampu membuat data keuangan bisnis Anda lebih aman dari tindakan fraud.

Tidak hanya fitur tersebut, jika Anda menggunakan Accurate Online, Anda bisa dengan mudah melakukan pemantauan dan pengelolaan aset, rekonsilasi transksi otomatis, pelaporan dan penghitungan pajak, sampai otomasi lebih dari 200 jenis laporan keuangan dimanapun dan kapanpun Anda mau.

Tertarik? Anda bisa mencoba menggunakan Accurate Online secara gratis selama 30 hari melalui tautan pada gambar di bawah ini:

accurate 3