Apa itu Stagflasi? Kenapa Suatu Negara Bisa Mengalami Stagflasi?

Akhir-akhir ini, stagflasi menjadi suatu kata ataupun istilah yang cukup banyak dicari oleh masyarakat. Kondisi ini pernah dialami hampir di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa sebuah negara di dunia tidak bisa hidup dan juga berdiri sendiri, terlebih lagi untuk bisa mempertahankan perekonomiannya. Indonesia pun harus selalu waspada dalam mengantisipasi tantangan yang mampu memberikan pengaruh pada perekonomian negara.

Berdasarkan laman detik, tantangan tersebut berasal dari persoalan perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Kondisi perang yang terjadi antar kedua negara tersebut bisa menyebabkan lonjakan inflasi secara global.

Selain itu, kondisi perang tersebut juga bisa mempercepat pengetatan kebijakan moneter secara global, terutama di Amerika Serikat yang bisa melemahkan kondisi ekonomi sampai terjadi resesi dan menyebabkan stagflasi.

Lantas apa itu stagflasi? Kenapa sebuah negara bisa mengalami stagflasi? Ketahui jawaban lengkapnya dengan membaca artikel di bawah ini.

Apa itu Stagflasi?

Berdasarkan laman Investopedia, stagflasi adalah suatu kondisi yang mampu menggambarkan peningkatan jumlah pengangguran yang juga terjadi secara bersamaan dengan adanya kenaikan pada berbagai harga barang.

Jadi, penyebab utama terjadinya stagflasi adalah melemahnya kondisi perekonomian suatu negara negara serta peningkatan angka pengangguran atau stagnasi perekonomian secara bersamaan.

Stagflasi juga ditandai dengan meningkatnya pasokan uang di pasar, sedangkan jumlah barang atau suplainya terbatas bahkan tidak ada sama sekali.

Sebenarnya, kondisi ini juga masih menjadi hal kontradiktif, karena bila perkembangan ekonomi melambat dan diiringi dengan meningkatnya angka pengangguran, maka seharusnya tidak sampai menyebabkan kenaikan berbagai harga.

Sehingga, bila terjadi stagflasi, maka negara tersebut telah mengalami kondisi yang buruk, terutama dalam suatu perekonomian.

Tapi, bila kondisi pengangguran yang meningkat dan berdampak pada melemahnya daya beli bisa membuat berbagai harga barang meningkat serta terbatas jumlahnya, maka hal tersebut disebut dengan inflasi.

Inflasi itu sendiri adalah suatu keadaan dimana suatu nilai uang yang dimiliki oleh konsumen telah mengalami pelemahan. Sehingga, sebanyak apapun uang yang mereka miliki, mereka tidak bisa membeli barang tersebut dengan harga yang tinggi dengan jumlah yang terbatas.

Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Multiplier Effect? Bagaimana Cara Menghitungnya?

Stagflasi di Indonesia

Setelah kita mengetahui bersama tentang stagflasi, lalu apakah Indonesia sendiri pernah mengalami stagflasi? Tentu, hal tersebut pernah menjadi sejarah perekonomian Indonesia yang kelam.

Negara kita pernah mengalami kondisi stagflasi, tepatnya saat krisi moneter di tahun 1998. Kondisi tersebut secara bersamaan menurunkan nilai tukar Rupiah ke Dolar Amerika. Alhasil, harga barang pada saat itu melonjak mahal, sampai jumlah uang beredar di masyarakat, sehingga hal tersebut membuat nilai tukar uang pada suatu barang mengalami penurunan.

Tapi untuk bisa mencapai kondisi stagflasi, ketika itu Indonesia dikabarkan masih cukup jauh. Pasalnya, tingkat inflasi yang terjadi di Indonesia pada saat itu masih di bawah 2%. Selain itu, perkembangan ekonomi di Indonesia pada saat itu juga masih dikatakan baik.

Namun, seperti yang sudah kita bahas bersama di atas, suatu negara sangat sulit untuk bisa hidup atau berdiri sendiri. Sehingga, negara kita harus selalu waspada. Pasalnya, Indonesia mempunyai hubungan perekonomian dengan negara lain, yang mungkin juga berbagai negara tersebut sedang mengalami indikasi terjadi risiko stagflasi.

Negara Indonesia pun harus selalu lebih waspada terhadap berbagai isu yang beredar, terutama di Amerika, negara Eropa, bahkan China, yang bisa menyebabkan terjadinya efek rambatan pada perekonomian dunia, termasuk di Indonesia sendiri.

Efek rambatan atau spillover effect, adalah suatu efek yang terjadi pada perekonomian di dalam suatu negara dari peristiwa yang terjadi di negara lainnya. Pasalnya, kondisi stagflasi ini terjadi karena salah satu faktor yang bisa membuat terjadinya efek rambatan.

Baca juga: Apa itu Resesi Ekonomi? Ini Pengertian Sebenarnya!

Stagflasi dan Dampak pada Investasi

Lantas, bagaimana bila suatu negara terjadi kondisi stagflasi? Apa saja dampaknya pada kegiatan investasi? Aset apa saja yang bisa diinvestasikan saat terjadi kondisi stagflasi?

Investasi emas mungkin bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan ketika terjadi stagflasi. Investasi lainnya mungkin ada pada batubara dan nikel. Namun, bila kondisi stagflasi terus melanda, maka diperkirakan permintaan pada batubara dan nikel mengalami penurunan. Sehingga, kedua komoditas tersebut bukan menjadi pilihan yang tepat.

Tapi, berinvestasi emas bisa menjaga uang Anda dari nilainya di masa depan dan bisa dijadikan pilihan yang tepat. Emas bukanlah aset yang produktif untuk bisa menghasilkan suatu hal. Tapi emas bisa menjaga nilai uang Anda di masa depan.

Baca juga: Ekonomi Rasional dan Irasional, Ini Perbedaannya!

Lalu, Apa yang Menyebabkan Terjadinya Stagflasi?

1. Melemahnya Kondisi Ekonomi

Kegiatan perekonomian sangat erat kaitannya dengan harga bahan bakar minyak serta bahan pokok lain. Oleh karena itu, kenaikan harga minyak memiliki dampak yang besar pada harga produk barang dan jasa.

Pihak pemerintah dan bank sentral seringkali mengeluarkan kebijakan untuk bisa mengendalikan inflasi. Tapi, kebijakan tersebut justru akan menekan angka perkembangan ekonomi, sehingga bisa menyebabkan stagflasi.

2. Angka Pengangguran yang Tinggi

Penyebab selanjutnya dari stagflasi adalah meningkatnya angka pengangguran yang bisa mengakibatkan melemahnya daya beli masyarakat. Dalam hal ini, angka pengangguran yang tinggi akan diikuti dengan meningkatnya harga barang pokok.

Ketika berbagai barang dan jasa mengalami kenaikan harga, maka ketersediaannya akan menjadi terbatas, dan pada saat itulah terjadi inflasi. Masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan akan kesulitan untuk bisa memenuhi kebutuhan pokoknya.

3. Meningkatnya Jumlah Uang yang Beredar

Kondisi stagflasi pun memiliki keterkaitan yang erat dengan meningkatnya jumlah uang yang beredar di masyarakat. Ketika pihak pemerintah dan bank sentral membuat kebijakan untuk meningkatkan jumlah uang beredar, maka kondisi inflasi bisa terjadi.

Kebijakan tersebut bisa dalam bentuk bank sentral yang mencetak banyak mata uang dan memudahkan kegiatan kredit dengan cara menurunkan suku bunga acuan.

Baca juga: Penyebab Rush Money dan Dampak Buruknya Bagi Perekonomian Negara

Lalu, Bagaimana Cara Mengatasi Stagflasi?

1. Penyesuaian Pajak

Sebagai upaya untuk mendorong laju perkembangan ekonomi, pihak pemerintah bisa membuat berbagai kebijakan penurunan pajak. Hal tersebut bisa mendukung kegiatan investasi, karena kehadiran insentif PPN dan pemotongan pajak korporasi.

Contoh sederhananya seperti insentif PPN, pajak kendaraan bermotor sebesar 0%, insentif PPh untuk karyawan, dan lain sebagainya.

Selain itu, kenaikan pajak juga bisa menekan laju inflasi, sehingga bisa terhindari dari kondisi stagflasi. Penyesuaian tersebut bisa dalam bentuk penurunan pajak dalam ruang lingkup kesehatan pendidikan, sampai harga bahan pokok. Sehingga, daya beli masyarakat pun bisa meningkat.

2. Kebijakan Tenaga Kerja

Agar bisa mengatasi jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka perusahaan bisa melakukan pemotongan upah karyawan. Cara ini bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menekan laju inflasi. Selain itu, pihak pemerintah pun harus bisa mengurangi angka pengangguran. Walaupun sulit, namun ketersediaan lapangan pekerja mempunyai peran yang penting dalam mengatasi stagflasi.

3. Diversifikasi Investasi Pada Aset yang Aman

Setiap investor harus bisa melakukan diversifikasi investasi agar bisa mengamankan asetnya di tengah situasi perekonomian yang sedang mengalami penurunan.

Selain melakukan investasi pada saham, reksadana, atau surat berharga yang lainnya, Anda bisa mengalokasikan penghasilan Anda pada instrumen investasi lain, seperti emas. Emas sangat terkenal sebagai pelindung aset. Emas juga mampu melindungi nilai uang Anda di masa depan.

Baca juga: Indikator Pertumbuhan Ekonomi dan Contoh Perhitungannya

Penutup

Demikianlah penjelasan dari kami tentang stagflasi. Jadi, stagflasi adalah suatu kondisi perekonomian di dalam suatu negara yang mengalami pelemahan, tingginya tingkat inflasi, dan meningkatnya angka pengangguran dalam waktu yang bersamaan dalam periode waktu tertentu.

Penyebabnya adalah melemahnya kondisi ekonomi karena terjadi kenaikan pada harga pokok, meningkatnya jumlah uang yang beredar di masyarakat, hingga angka pengangguran yang tinggi.

Cara untuk mengatasi stagflasi adalah dengan melakukan penyesuaian pajak, diversifikasi investasi ke instrumen yang lebih aman seperti emas, dan menerapkan kebijakan khusus untuk para karyawan. Kebijakan khusus ini bisa dalam bentuk pemotongan upah atau mengurangi waktu lembur karyawan.

Namun untuk bisa melakukan hal tersebut, tentunya Anda harus mengatur ulang anggaran perusahaan Anda. Nah, agar bisa lebih mudah dalam mengelola anggaran keuangan perusahaan, Anda bisa menggunakan aplikasi bisnis dan akuntansi dari Accurate Online.

Dengan menggunakan Accurate Online, Anda bisa mendapatkan lebih dari 200 jenis laporan keuangan yang akan memudahkan Anda untuk mengelola anggaran keuangan. Selain itu, aplikasi ini juga sudah terintegrasi dengan fitur bisnis lainnya yang akan membuat bisnis Anda berjalan lebih efisien. Sehingga, Anda bisa lebih mudah dalam mengembangkan bisnis.

Penasaran dengan Accurate Online? Anda bisa mencobanya lebih dulu selama 30 hari gratis dengan klik tautan gambar di bawah ini.

footer image blog akuntansi

Seberapa bermanfaat artikel ini?

Klik salah satu bintang untuk menilai.

0 pembaca telah memberikan penilaian

Belum ada yang memberikan penilaian untuk artikel ini :( Jadilah yang pertama!

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

ibnu

Lulusan S1 Ekonomi dan Keuangan yang menyukai dunia penulisan serta senang membagikan berbagai ilmunya tentang ekonomi, keuangan, investasi, dan perpajakan di Indonesia