UAT Adalah Tahapan Penting Dalam Mendesain Produk

Dalam urusan membuat produk baru, sangat penting sekali bagi Anda untuk memikirkan reaksi dari para pengguna. Nah, user acceptance test atau UAT adalah tahap penting yang tidak boleh Anda lewatkan dalam proses ini.

Karena, UAT akan mampu menentukan kelayakan suatu produk sebelum masuk dalam tahap perilisan, baik itu dari sisi pengguna ataupun pengembangan produknya.

Nah, bila Anda tertarik untuk masuk ke dalam dunia product management dan ingin lebih tahu tentang tahapan ini lebih dalam, maka Anda bisa membaca berbagai hal tentang UAT pada artikel di bawah ini.

Pengertian User Acceptance Test (UAT)

Ketika sedang membuat desain produk, maka salah satu hal yang harus Anda pertimbangkan adalah pain points pengguna yang Anda targetkan. Berdasarkan laman Wordstream, pain points adalah masalah yang dihadapi oleh calon pelanggan Anda. Dalam hal ini, pelanggan tersebut adalah pengguna yang menggunakan aplikasi atau website Anda.

Setelah berhasil mengetahui pain points pelanggan dan berbagai kebutuhan mereka, maka tugas paling utama dari tim produk adalah menyelesaikan permasalahan tersebut. Caranya adalah dengan membuat desain produk yang mampu menjawab permasalahan pelanggan.

Disadur dari laman UserSnap, user acceptance testing atau UAT adalah serangkaian pemeriksaan yang dilakukan untuk memastikan apakah jawaban atau permasalahan tersebut sudah tepat dengan apa yang pelanggan butuhkan atau belum.

Umumnya, UAT lebih fokus pada fungsionalitas aplikasi dan detail teknis lainnya yang kemudian akan digunakan oleh para pengguna.

Baca juga: Black Box Testing: Pengertian, Manfaat, dan Berbagai Jenisnya

Tujuan UAT (User Acceptance Test)

Ketika sedang melakukan kegiatan Software Development Life Cycle (SDLC), tentunya tim pengembang aplikasi sudah melakukan serangkaian pemeriksaan agar bisa memastikan kelancaran fungsi fitur dan aplikasi yang sudah dibuatnya.

Tapi, tim developer dan testing akan menjadi sangat familiar dengan produk buatannya dan kemungkinan akan melewatkan beberapa hal. Untuk itu, UAT sangat diperlukan.

Sebagai pihak yang lebih awam terkait produk yang sedang dikembangkan, para pengguna akan mempunyai pemikiran yang lebih jernih. Sehingga, mereka akan bisa menilai fungsi produk dari sisi pengguna dan kemudian developer bisa menyelesaikan masalah yang ada sebelum produk tersebut dirilis.

Perlu Anda ketahui bahwa kegiatan utama yang harus dilakukan oleh UAT bukan hanya mencari masalah atau bugs secara teknis ataupun desain saja, tapi UAT juga bisa dijadikan sebagai media untuk menemukan bugs.

Baca juga: Unit Testing: Pengertian dan Bedanya Dengan Metode Testing Lainnya

Tipe-Tipe UAT

Dirangkum dari laman TechTarget, UserSnap, dan Growth Hackers, Tipe-tipe dari UAT adalah sebagai berikut:

1. Alpha & Beta Testing

Tipe pertama dari UAT adalah Alpha & Beta testing. Berdasarkan laman Geeks for Geeks, Alpha testing adalah proses tes aplikasi yang dilakukan agar bisa mencari bugs serta permasalahan lain sebelum produk tersebut diluncurkan ke pengguna.

Alpha testing umumnya dilakukan oleh staf internal yang masih berada di dalam ruang lingkup pengembangan aplikasi.

Sedangkan beta testing adalah tes aplikasi yang dilakukan oleh pengguna yang memang akan menggunakan website atau aplikasi. Tes ini kurang lebih sama seperti tes lapangan.

Bila kedua tes ini sudah dilakukan, maka nantinya akan ada laporan feedback yang bisa dijadikan sebagai bahan pengembangan aplikasi sampai menjadi aplikasi yang benar-benar siap untuk dirilis.

2. Contract Acceptance Testing

Contract Acceptance Testing adalah tes uji coba aplikasi berdasarkan tingkat kriteria secara spesifik, seperti apa yang sebelumnya sudah disetujui di dalam kontrak. Ketika menyetujui kontrak, maka tim yang akan mengerjakan produk akan menentukan kriteria paling relevan dengan proyek yang nantinya akan dijalankan.

3. Regulation Acceptance Testing

Uji coba ini dilakukan agar bisa memastikan bahwa aplikasi yang sudah dikembangkan sudah sesuai dengan peraturan-peraturan tertentu, seperti hukum atau sebagainya.

4. Operational Acceptance Testing

Tipe keempat dari UAT adalah Operational Acceptance Testing atau yang banyak dikenal dengan Operational Readiness Testing atau Production Acceptance Testing.

Tes ini lebih fokus pada alur kerja yang memungkin suatu sistem atau aplikasi bisa digunakan. Selain itu, tes ini juga mencakup alur kerja dari pelatihan pengguna, rencana cadangan, beragam proses pemeliharaan, hingga pemeriksaan keamanan.

5. Black Box Testing

Black Box Testing adalah adalah jenis UAT yang tergolong sebagai uji coba fungsionalitas suatu aplikasi. Dalam prosesnya, end user akan menguji fungsi suatu aplikasi tanpa melihat struktur kode internal yang ada di dalamnya.

Artinya, pengguna yang menjalankan tes ini hanya mengetahui apa saja yang seharusnya dilakukan dari suatu software, bukan cara dalam melakukannya.

Sehingga, hasil tes ini akan menunjukkan apakah pengguna bisa menggunakan aplikasi sesuai dengan fungsi awal dibuatnya aplikasi tersebut.

Baca juga: Apa itu AB Testing dan Bagaimana Penggunaannya dalam Marketing?

Mengapa UAT Ini Penting?

1. Mempermudah Kerja Software Developer

Salah satu alasan kenapa UAT adalah proses yang penting adalah karena pengguna, baik itu dari sisi internal ataupun pengguna terpilih, akan diberi kesempatan untuk menguji coba aplikasi sebelum secara resmi diluncurkan.

Berdasarkan uji coba tersebut, tentunya akan ada saran dan kritik dari para pengguna. Berbagai masukan tersebut akan memudahkan pihak pengembang aplikasi, karena mereka bisa memperbaiki kesalahan dengan berdasarkan data riil tanpa adanya bias.

2. Menyesuaikan dengan User

Tujuan utama pengembangan software tentu adalah agar bisa membuat produk yang ramah pengguna. Hal ini dinilai sangat penting, karena pada akhirnya para penggunalah yang akan menggunakan aplikasi tersebut.

Untuk itu, proses UAT melibatkan para pengguna yang memang nantinya akan menggunakan aplikasi atau yang mungkin sebelumnya sudah pernah menggunakan aplikasi tersebut.

Tujuan utamanya adalah agar bisa mengetahui fungsionalitas aplikasi, kemudahan dalam penggunaannya, dan lain sebagainya.

3. Menghemat Tenaga

Alasan lain kenapa UAT sangat penting adalah agar bisa mengetahui masalah atau bugs yang tidak terlihat, kemudahan dalam menggunakannya, dan hal lainnya.

Bila sudah diatasi sejak dini, maka kemungkinan masalah yang sama akan muncul di lain hari akan sangat kecil. Walaupun memang harus ada proses pemeliharaan serta pengembangan lagi, tapi Anda jadi tidak perlu kerja dua kali dan para pengguna pun akan lebih puas saat menggunakan aplikasi.

Tips melakukan UAT (User Acceptance Test)

Beberapa tips yang bisa Anda lakukan saat melakukan UAT adalah sebagai berikut:

1. Perencanaan

UAT adalah suatu proses yang sangat penting. Untuk itu, kunci kesuksesan UAT adalah perencanaan yang matang. Nah, beberapa hal yang harus Anda persiapkan dalam melakukan UAT adalah sebagai berikut:

  • Functional Requirement

Anda harus menyiapkan berbagai hal yang ingin Anda uji dan memastikan kesesuaiannya dengan tujuan bisnis.

  • Strategi Tes

Anda harus menentukan hal apa saja yang ingin diuji, cara mengujinya, dan siapa saja yang akan menguji.

  • Skenario Tes

Tujuan dilakukannya tes ini adalah untuk memastikan semua sistem berjalan dengan baik. Skenario ini bisa dipersiapkan oleh pengguna, business analyst, atau product owner.

  • Standard Laporan Tes

Siapkanlah format laporan serta informasi yang akan Anda perlukan.

2. Pilih Pengguna Dengan Bijak

Disarankan untuk tidak memilih pengguna secara asal dalam menguji coba produk Anda, seperti keluarga, teman atau kolega bisnis. Disarankan untuk lebih memilih target pengguna yang benar-benar sesuai. Bila sudah mempunyai data pengguna dari produk sebelumnya, Anda bisa melibatkan pengguna tersebut.

3. Dokumentasi

Walaupun sebagian besar perusahaan sudah melakukan UAT, namun mereka ternyata lupa untuk mendokumentasikan hasil dari UAT itu sendiri. Nah, salah satu cara yang paling mudah dalam mendokumentasikan UAT adalah dengan menggunakan error reporting tool atau menggunakan bugs tracking sederhana lainnya.

4. Buat Sistem Komunikasi yang Mudah

Beberapa tim UAT mungkin ada yang melakukan pekerjaannya secara remote. Dalam hal ini Anda bisa menggunakan sistem komunikasi berupa email, atau chat kolaboratif. Intinya, komunikasi antar tim harus berjalan efektif. Anda juga bisa menggunakan feedback tools tertentu selama proyek dikerjakan.

5. Mengadakan Training untuk User

Sebelum memulai proses UAT, ada baiknya untuk melakukan sesi briefing atau training agar Anda bisa memberikan visualisasi yang baik pada pengguna yang ingin melakukan tes. Intinya, pastikanlah mereka bisa mengetahui berbagai hal yang ingin diuji coba. Bila perlu, berikanlah pendampingan selama beberapa waktu.

6. Menganalisis Output Dari UAT

Dalam tahap akhir pelaksanaan UAT, Anda akan memperoleh banyak feedback dari pengguna. Terdapat beberapa hal yang harus Anda pertimbangkan dalam menganalisanya, yaitu stabilitas sistem, jangkauan uji coba, dan kemampuan penggunaan dari sistem

7. Adakan Sesi One-On-One

Umumnya, data yang dihasilkan dari suatu UAT adalah kualitatif. Nah, agar lebih memperkaya data, Anda bisa menyelenggarakan sesi one-on-one. Untuk mereka yang tidak bisa menghadiri sesi secara langsung, Anda bisa melakukan video call.

Baca juga: Beta Testing Adalah: Pengertian dan Bedanya dengan Alpha Testing

Penutup

Demikianlah penjelasan lengkap dari kami tentang UAT. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa user acceptance testing atau UAT adalah serangkaian pemeriksaan untuk memastikan apakah produk yang dibuat oleh perusahaan sudah tepat dan sesuai dengan apa yang pelanggan butuhkan.

Dengan melakukan UAT, perusahaan bisa lebih mampu memenuhi kebutuhan pelanggan dan menyediakan produk yang mereka perlukan. Sehingga, akan mampu mencapai kesuksesan dan tujuan bisnis dengan lancar.

Namun, kesuksesan bisnis tidak hanya bisa diperoleh dengan melakukan UAT saja, terdapat beberapa hal lain yang harus diperhatikan juga. Salah satunya adalah mengelola keuangan bisnis dengan baik dan mencatat setiap pemasukan serta pengeluaran yang terjadi secara tepat.

Namun, sebagian perusahaan masih kesulitan dalam melakukan hal tersebut karena menggunakan cara manual, baik itu menulisnya dalam buku atau hanya menggunakan aplikasi excel saja. Jika Anda adalah salah satu pebisnis yang masih menggunakan cara tersebut, maka ini saat yang tepat untuk meninggalkannya.

Kenapa? Karena sekarang Anda sudah bisa menggunakan software akuntansi dan bisnis dari Accurate Online. Aplikasi akuntansi ini memiliki tampilan antar muka yang sederhana, sehingga sangat mudah dimengerti oleh orang awam sekalipun.

Di dalamnya Anda bisa mendapatkan lebih dari 200 jenis laporan keuangan dan laporan bisnis lainnya secara otomatis. Belum lagi berbagai fitur menarik yang ada di Accurate Online bisa Anda gunakan agar bisa mencapai efisiensi bisnis yang optimal.

Nah, Anda bisa mencoba seluruh keunggulan dan fitur menarik dari Accurate Online saat ini juga secara gratis selama 30 hari dengan hanya klik banner di bawah ini. accurate1

anggimo

Seorang wanita lulusan sarjana manajemen bisnis dan akuntansi yang hobi menulis blog tentang manajemen bisnis secara spesifik.