Pengertian Inflasi, Jenis, Penyebab, Dampak, Cara Mengatasi

26 Mei 2020 | Ditulis oleh: Ibnu Ismail
Pengertian Inflasi, Jenis, Penyebab, Dampak, Cara Mengatasi

Poin penting


  • Inflasi adalah kenaikan harga barang & jasa secara terus-menerus di suatu negara dalam jangka waktu tertentu akibat ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan.

 

  • Inflasi dapat dibedakan berdasarkan tingkat keparahan (ringan, sedang, berat, hiperinflasi), penyebabnya (demand pull, cost push, struktural), dan asal sumbernya.

 

  • Inflasi terjadi karena meningkatnya permintaan, naiknya biaya produksi, atau tingginya jumlah uang beredar di masyarakat.

 

  • Meskipun pasti terjadi secara alamiah inflasi dapat diatasi oleh negara melalui kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan dalam suatu perekonomian selama periode tertentu, biasanya terjadi karena jumlah uang yang beredar melebihi ketersediaan barang dan jasa.

Fenomena ini berdampak pada daya beli masyarakat dan kesehatan ekonomi secara keseluruhan.

Mengetahui apa itu inflasi, jenis, penyebab, dampak, penghitungan, hingga solusi mengatasinya sangat penting bagi masyarakat dan pelaku usaha agar bisa menghadapi tantangan ekonomi dengan lebih siap.

Ingin penjelasan lengkap mulai dari jenis-jenis hingga cara mengatasi inflasi? Baca artikel selengkapnya di bawah ini!

Pengertian inflasi

Inflasi adalah kondisi kenaikan harga-harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu pada suatu negara.

Fenomena ini biasanya terjadi saat jumlah uang yang beredar di masyarakat melebihi persediaan barang dan jasa yang tersedia.

Artinya, walaupun masyarakat memiliki uang yang cukup banyak, inflasi tetap bisa terjadi karena ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran barang atau jasa.

Memahami penyebab, dampak, cara penghitungan, serta upaya mengatasi inflasi sangat penting agar masyarakat dan pelaku usaha bisa mengambil langkah antisipatif yang tepat.

Baca juga: Contoh Tindakan Ekonomi: Tujuan dan Jenis-jenisnya

Jenis-jenis inflasi

Berikut adalah beberapa jenis inflasi yang umum dikenal dalam ilmu ekonomi:

1. Inflasi berdasarkan tingkat keparahan

Inflasi Ringan
Kenaikan harga terjadi secara perlahan dan masih bisa dikendalikan, biasanya di bawah 10% per tahun. Inflasi ringan umumnya tidak berbahaya dan masih dianggap normal untuk pertumbuhan ekonomi.

Inflasi Sedang
Inflasi sedang terjadi saat kenaikan harga berada di antara 10% hingga 30% per tahun. Inflasi ini mulai mempengaruhi daya beli masyarakat, namun aktivitas ekonomi biasanya masih dapat berjalan.

Inflasi Berat
Ketika harga barang dan jasa naik 30% hingga 100% per tahun maka ini dapat dikategorikan ke inflasi berat. Daya beli masyarakat sangat tertekan dan menimbulkan gejolak ekonomi yang mengganggu stabilitas.

Hiperinflasi
Tidak cukup dengan kata berat, jika kenaikan harga barang terjadi di atas 100% per tahun, harga-harga melonjak secara drastis, nilai uang jatuh, dan masyarakat kesulitan melakukan transaksi maka hal ini dikenal sebagai hiperinflasi. Kondisi ini dapat memicu krisis ekonomi dan sosial.

2. Inflasi berdasarkan penyebabnya

Demand Pull Inflation
Demand pull inflation terjadi akibat meningkatnya permintaan barang dan jasa, melebihi penawaran, sehingga harga-harga naik.

Cost Push Inflation
Inflasi yang dikenal dengan nama cost push inflation ini timbul karena kenaikan biaya produksi, seperti naiknya harga bahan baku, upah pekerja, atau kenaikan harga energi.

Inflasi Struktur (Structural Inflation)
Terjadi akibat adanya ketidakseimbangan struktur ekonomi, misalnya distribusi barang tidak lancar, sektor produksi tidak merata, atau pasokan terbatas di wilayah tertentu.

3. Inflasi berdasarkan asal sumber

Inflasi Domestik (Domestic Inflation)
Disebabkan oleh faktor-faktor dari dalam negeri, misalnya gagal panen, kebijakan fiskal longgar, penambahan jumlah uang beredar, dsb.

Inflasi Impor (Imported Inflation)
Terjadi karena kenaikan harga barang impor atau fluktuasi nilai tukar, sehingga harga barang di dalam negeri ikut naik.

Baca juga: Inflasi Dan Deflasi : Pengertian, Perbedaan, dan Penyebabnya secara Lengkap

Penyebab inflasi

Inflasi tidak semata-mata terjadi begitu saja, ada beberapa hal yang dapat memicu terjadinya inflasi. Berikut ini adalah hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya inflasi:

1. Meningkatnya permintaan (demand pull inflation)

Inflasi dapat terjadi jika permintaan terhadap barang dan jasa meningkat tajam, sementara ketersediaan stok barang terbatas.

Permintaan tinggi dari dalam maupun luar negeri, serta pengadaan belanja pemerintah dan swasta yang naik drastis, seringkali mendorong kenaikan harga.

2. Meningkatnya biaya produksi (cost push inflation)

Harga-harga barang bisa melonjak akibat naiknya biaya produksi, seperti harga bahan baku langka, meningkatnya upah buruh, atau kenaikan harga energi.

Ketika produsen harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk proses produksi, harga barang pun naik di pasaran.

3. Tingginya peredaran uang

Jika uang yang beredar di masyarakat jauh lebih banyak dari barang dan jasa yang tersedia, nilai uang akan turun dan harga-harga barang naik.

Kebijakan mencetak uang tanpa memperhatikan pertumbuhan ekonomi menjadi penyebab utama inflasi jenis ini.

Baca juga: Hiperinflasi: Pengertian, Faktor dan Contoh Negara yang Terkena Hiperinflasi

Dampak Inflasi

Inflasi tidak selalu memberikan dampak yang negatif bagi perekonomian, ada beberapa hal positif yang ditimbulkan dari adanya inflasi ini.

Berikut ini adalah dampak-dampak inflasi di setiap bidang baik itu dampak negatif maupun dampak positif:

1. Dampak inflasi bagi pendapatan

Disaat inflasi akan ada sebagian orang yang terkena dampak baik dan dampak buruk dalam hal pendapatannya. Hal positif ini akan dirasakan oleh pengusaha saat terjadinya inflasi lunak.

Mereka akan memperluas kegiatan produksi sehingga dapat meningkatkan perekonomiannya. Sementara hal negatif akan dirasakan oleh para pekerja yang berpenghasilan tetap.

Hal ini karena nilai uang yang mereka dapatkan tetap, sementara harga barang atau jasa naik.

2. Dampak inflasi di bidang ekspor

Dampak yang kurang menguntungkan akan dirasakan oleh para pegiat ekspor, karena biaya ekspor akan melambung tinggi saat terjadinya inflasi.

Tidak hanya itu barang-barang ekspor tersebut akan kalah saing dengan barang ekspor dari negara lain. Akibatnya turunlah pendapatan devisa dari hasil ekspor.

3. Dampak Inflasi untuk minat menabung

Saat terjadinya inflasi minat seseorang untuk menabung menjadi berkurang. Karena bunga yang didapatkan akan menjadi lebih kecil, sementara mereka harus tetap membayar uang administrasi tabungannya.

4. Dampak inflasi terhadap harga bahan pokok

Inflasi yang terjadi menyebabkan sulitnya untuk menetapkan harga suatu bahan pokok. Karena harga yang ditetapkan bisa saja terlalu besar ataupun terlalu kecil. Prediksi yang dilakukan untuk memprediksi inflasi di masa mendatang seringkali tidak tepat.

Hal inilah yang menjadi penyebab penetapan untuk harga jual dan harga pokok menjadi tidak tepat. Sehingga membuat produsen menjadi kesulitan dan ekonomi menjadi kacau.

Baca juga : Mengenal Sistem Ekonomi Komando: Pengertian dan Kelebihan

Penghitungan inflasi

Laju inflasi dapat dihitung dengan beberapa cara. Berikut ini adalah cara-cara untuk menghitungnya:

1. Menghitung indeks harga konsumen (IHK)

Metode ini adalah yang paling sering digunakan untuk mengukur inflasi.

Caranya, dengan menghitung rata-rata perubahan harga sejumlah barang dan jasa yang biasa dibeli oleh konsumen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, Indeks Harga Konsumen (IHK) disusun dari 11 kelompok pengeluaran utama, yaitu:

  1. Makanan, Minuman, dan Tembakau
  2. Pakaian dan Alas Kaki
  3. Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga
  4. Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga
  5. Kesehatan
  6. Transportasi
  7. Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan
  8. Rekreasi, Olahraga, dan Budaya
  9. Pendidikan
  10. Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran
  11. Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya

Jika harga-harga dalam “keranjang belanja” IHK naik, berarti inflasi sedang terjadi.

2. Deflator PDB

Cara ini mengukur inflasi dengan membandingkan perubahan harga seluruh barang dan jasa yang dihasilkan di dalam negeri baik barang baru, barang jadi, maupun jasa dari waktu ke waktu.

Deflator PDB sangat efektif untuk melihat gambaran besar pergerakan harga dalam satu negara.

3. Menggunakan indeks harga produsen

Jika ingin tahu inflasi dari sisi produsen atau industri, metode penghitungan indeks harga produsen bisa dipakai.

Di sini, kita menghitung perubahan harga bahan baku, upah pekerja, dan biaya lain yang harus dikeluarkan produsen untuk memproduksi barang atau jasa.

4. Menggunakan indeks harga komoditas

Metode ini fokus pada harga-harga komoditas tertentu, misalnya minyak, logam, atau bahan makanan pokok.

Jika harga komoditas naik tajam, biasanya akan memicu inflasi secara umum.

5. Menghitung indeks biaya hidup

Satu lagi metode populer, yaitu menghitung kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Indeks ini mencerminkan berapa besar pengeluaran rumah tangga untuk hidup dari waktu ke waktu, mulai dari makanan, transportasi, sampai sewa rumah.

Baca juga : Devaluasi Adalah Kebalikan dari Inflasi, Ini Penjelasannya!

Cara mengatasi inflasi

Inflasi merupakan kejadian alamiah yang pasti terjadi. Tidak ada negara yang dapat menghindari terjadinya inflasi.

Untuk itu berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi inflasi:

1. Menggunakan Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal adalah langkah untuk menangani masalah inflasi dengan cara mengatur pengeluaran dan penerimaan pemerintah.

Caranya dengan menghemat pengeluaran pemerintah, cara yang satu ini sudah terbukti bisa mengatasi inflasi di suatu negara.

Selain mengurangi pengeluarannya, pemerintah dapat melakukan cara lain yakni dengan menaikkan tarif pajak rumah tangga maupun perusahaan. Cara ini dapat menurunkan tingkat konsumsi para konsumen, sehingga harga barang dapat turun.

2. Menggunakan Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter bertujuan untuk menjaga kestabilan moneter, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan.

Cara dari kebijakan moneter yang pertama adalah dengan membatasi jumlah uang yang beredar. Bank sentral harus mengambil keputusan dan menentukan ketersediaan uang kas pada bank-bank lain.

Cara lainnya yakni dengan menaikkan nilai bunga, sehingga banyak orang yang berminat untuk menabung.

Cara selanjutnya adalah dengan menggunakan kebijakan operasi pasar terbuka yang artinya adalah menjual surat-surat berharga untuk mengurangi jumlah uang yang beredar.

Baca juga : Rupiah Melemah? Ini Dampak dan Cara Menghadapinya

Angka inflasi di Indonesia

Berikut adalah angka inflasi yang pernah terjadi di Indonesia selama 3 tahun terakhir:

1. Inflasi Indonesia 2023

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), laju inflasi tahunan Indonesia pada tahun 2023 sebesar 2,61% (year on year per Desember 2023).

Inflasi ini relatif terkendali, dengan penyumbang utama kenaikan harga makanan, minuman, dan tembakau, terutama akibat kenaikan harga pangan seperti beras dan cabai.

2. Inflasi Indonesia 2024

Berdasarkan data year-on-year BPS pada desember 2024, BPS melaporkan tingkat inflasi tahunan Indonesia secara nasional berkisar sekitar 1,57%.

Kenaikan harga beras, cabai, dan beberapa bahan pokok masih menjadi pemicu utama inflasi di periode ini.

3. Inflasi Indonesia 2025

Meskipun belum sampai di penghujung tahun, BPS sudah melakukan survei per Juli 2025 dan saat ini tingkat inflasi di Indonesia berada di angka 2,37% (year-on-year).

Baca juga: 10 Contoh Kelangkaan Ekonomi di Indonesia dan Efeknya

Infografis inflasi infografis inflasi

Penutup

Inflasi adalah tantangan ekonomi yang wajar terjadi di setiap negara. Namun dengan memahami penyebab, dampak, serta strategi mengatasi inflasi, masyarakat dan pelaku usaha dapat lebih siap dalam merespon perubahan ekonomi.

Penerapan disiplin keuangan dalam kehidupan dan bisnis juga sangat penting agar tetap tahan terhadap dampak inflasi ke depannya.

Jika Anda pemilik bisnis, hal yang harus Anda lakukan untuk menghadapi inflasi adalah dengan melakukan perencanaan finansial yang matang pada bisnis.

Salah satunya dengan melakukan pembukuan yang sesuai standar untuk menghasilkan laporan keuangan yang bisa Anda gunakan sebagai evaluasi dalam perencanaan bisnis Anda ke depannya.

Untuk mempermudah proses pembukuan pada usaha, Anda bisa mencoba menggunakan software akuntansi yang memiliki fitur terlengkap untuk proses penglolaan finansial bisnis yang lebih baik.

Accurate Online adalah software pembukuan berbasis cloud yang sudah dikembangkan sejak 20 tahun lalu dan digunakan oleh lebih dari ratsan ribu pengguna dari berbagai jenis bisnis.

Hanya dengan 200 ribuan perbulan, Anda bisa dengan mudah mengelola dan memantau proses keungan bisnis dimanapun Anda berada dengan Accurate Online.

Cobalah Accurate Online gratis selama 30 hari melalui klik tautan pada gambar di bawah ini!

ekonomi-keuanganfooter-copy

Efisiensi Bisnis dengan Satu Aplikasi Praktis!

Konsultasikan kebutuhan bisnismu dengan tim kami.

Jadwalkan Konsultasi
artikel-sidebar

Download E-Book Peluang Bisnis Potensial 2025

Inilah 3 Peluang Bisnis yang Diprediksi Bersinar di 2025.

Ibnu Ismail
Berawal dari hobi berkembang hingga profesi, tak sekedar fokus menulis di bidang ekonomi dan keuangan, saat ini Saya juga menggeluti SEO dan SEM secara lebih mendalam.

Artikel Terkait