Make to Stock: Pengertian, Cara Kerja, dan Contohnya

Diterbitkan: 28 Jan 2026 | Ditulis oleh: Alifian Adam
Make to Stock: Pengertian, Cara Kerja, Contohnya

Poin penting


  • Make to Stock adalah metode produksi yang membuat barang terlebih dahulu berdasarkan peramalan permintaan agar produk selalu siap dijual tanpa menunggu pesanan.

 

  • MTS ditandai dengan produksi massal berbasis forecast, spesifikasi produk standar, stok barang jadi dalam jumlah besar, dan lead time yang singkat.

 

  • Sistem MTS berjalan melalui tahapan peramalan permintaan, perencanaan produksi, produksi massal, penyimpanan stok di gudang, hingga distribusi cepat ke pelanggan.

 

  • MTS banyak digunakan pada industri FMCG, makanan dan minuman kemasan, elektronik mass market, serta tekstil dan apparel dengan permintaan stabil dan produk standar.

 

  • Make to Stock membutuhkan pengelolaan produksi dan inventaris yang akurat, untuk itu gunakan fitur manufaktur Accurate Online agar stok terkendali dan operasional lebih efisien.

Dalam industri dengan tingkat permintaan yang tinggi dan berulang, kecepatan ketersediaan produk seringkali menjadi faktor penentu kemenangan bisnis. Konsumen tidak ingin menunggu, sementara distributor dan retailer menuntut pasokan yang stabil.

Menurut Siemens Digital Industries Software, model produksi Make to Stock (MTS) banyak digunakan oleh perusahaan yang memiliki pola permintaan relatif stabil dan dapat diprediksi, karena memungkinkan produk selalu siap tersedia di pasar.

Di sinilah make to stock berperan sebagai strategi produksi yang menitikberatkan pada kesiapan stok dan efisiensi skala besar.

Pengertian Make to Stock (MTS)

Make to Stock (MTS) adalah metode produksi di mana perusahaan memproduksi barang terlebih dahulu berdasarkan hasil peramalan permintaan pasar, kemudian menyimpannya sebagai persediaan barang jadi di gudang.

Dalam sistem ini, proses produksi tidak menunggu adanya pesanan pelanggan. Produk dibuat dalam jumlah tertentu agar dapat langsung dijual dan dikirim ketika terjadi transaksi.

Model ini sangat berbeda dengan make to order yang baru memulai produksi setelah order masuk.

Pendekatan MTS bertujuan memastikan produk selalu tersedia, sehingga bisnis dapat merespons permintaan pasar dengan cepat.

Baca juga: Sales Forecast: Pengertian, Cara Membuat, dan Fungsinya

Karakteristik Make to Stock

Agar tidak keliru membedakan dengan sistem produksi lain, berikut karakteristik utama dalam sistem make to stock:

1. Produksi berbasis peramalan permintaan

Keputusan produksi dalam MTS ditentukan oleh forecast yang disusun dari data historis penjualan, tren musiman, hingga perilaku konsumen.

Akurasi peramalan menjadi kunci, karena kesalahan prediksi dapat berdampak langsung pada kelebihan atau kekurangan stok.

2. Produksi massal dengan spesifikasi standar

Produk dibuat dalam jumlah besar/massal dengan desain, ukuran, dan fitur yang relatif seragam. Standarisasi ini memungkinkan perusahaan menekan biaya produksi per unit dan meningkatkan efisiensi operasional.

3. Persediaan barang jadi dalam jumlah besar

Ciri khas MTS adalah keberadaan stok barang jadi di gudang. Produk disiapkan lebih dulu agar siap dijual kapan saja tanpa harus melalui proses produksi ulang.

4. Lead time pengiriman sangat singkat

Karena barang sudah tersedia, lead time atau waktu tunggu pelanggan menjadi sangat singkat. Hal ini memberikan keunggulan kompetitif terutama di pasar dengan tingkat persaingan tinggi.

Baca juga: Produksi Massal: Sejarah, Ciri-ciri, Tahapan, Contoh

Cara kerja Make to Stock

Alur kerja make to stock dirancang agar proses produksi, penyimpanan, dan distribusi berjalan efisien serta mampu memenuhi permintaan pasar secara cepat.

1. Analisis dan peramalan permintaan

Proses dimulai dengan mengolah data historis penjualan, tren pasar, pola musiman, hingga perilaku konsumen.

Perusahaan juga mempertimbangkan faktor eksternal seperti promosi, kondisi ekonomi, dan aktivitas kompetitor.

Forecast yang akurat menjadi fondasi utama dalam sistem make to stock, karena kesalahan peramalan dapat berdampak langsung pada kelebihan atau kekurangan stok.

2. Perencanaan produksi dan bahan baku

Berdasarkan hasil peramalan, perusahaan menyusun rencana produksi yang mencakup jumlah unit yang akan dibuat, kebutuhan bahan baku, jadwal penggunaan mesin, serta alokasi tenaga kerja.

Tahap ini bertujuan memastikan proses produksi berjalan sesuai kapasitas dan biaya tetap terkendali.

3. Proses produksi massal

Produksi dilakukan secara berkelanjutan dalam jumlah besar sesuai rencana yang telah ditetapkan.

Fokus utama pada tahap ini adalah efisiensi biaya, konsistensi kualitas produk, dan kecepatan output. Standarisasi proses dan spesifikasi produk menjadi kunci agar produksi berjalan stabil.

4. Penyimpanan di gudang

Setelah selesai diproduksi, barang jadi disimpan di gudang sebagai persediaan siap jual.

Pengelolaan inventaris sangat krusial untuk menjaga akurasi stok, menghindari penumpukan berlebih, serta meminimalkan risiko kerusakan atau produk usang.

5. Distribusi ke pelanggan

Ketika terjadi permintaan dari pasar, produk dapat langsung dikirim tanpa perlu menunggu proses produksi tambahan.

Inilah keunggulan utama make to stock, yaitu kecepatan pemenuhan pesanan dan kelancaran distribusi.

Untuk memastikan proses penyimpanan hingga distribusi berjalan efisien, dibutuhkan sistem yang mampu memantau stok secara real-time dan terintegrasi dengan proses produksi.

Di sinilah Accurate Online berperan melalui fitur manufaktur yang membantu bisnis mencatat hasil produksi, mengelola persediaan gudang, hingga memantau pergerakan barang secara akurat dalam satu sistem.

Dengan data stok yang selalu ter-update, risiko overstock, kekurangan barang, maupun kesalahan distribusi dapat ditekan.

Ingin proses make to stock lebih rapi dan terkendali? Coba Accurate Online gratis dan rasakan kemudahan mengelola produksi, inventaris, dan distribusi secara terintegrasi.

Baca juga: Pengertian Manajemen Persediaan, Fungsi, dan 5 Metode

Contoh Industri yang menerapkan Make to Stock

Model make to stock banyak diterapkan pada industri dengan produk standar dan permintaan yang relatif stabil. Berikut adalah beberapa perusahaan yang menggunakan sistem make to stock:

1. Industri FMCG

Produk kebutuhan sehari-hari seperti sabun, pasta gigi, dan deterjen memiliki tingkat konsumsi tinggi dan permintaan yang cenderung konsisten.

Oleh karena itu, produsen memproduksi dalam jumlah besar agar produk selalu tersedia di rak toko.

2. Industri makanan dan minuman kemasan

Minuman botol, makanan ringan, dan produk instan sangat bergantung pada ketersediaan stok untuk menjaga kelancaran distribusi.

Sistem make to stock membantu produsen memenuhi permintaan pasar dengan cepat, terutama saat terjadi lonjakan penjualan.

3. Industri elektronik mass market

Produk elektronik dengan spesifikasi umum, seperti rice cooker, blender, atau kipas angin, biasanya diproduksi secara massal.

Standarisasi produk memungkinkan produksi efisien dan distribusi luas ke berbagai kanal penjualan.

4. Industri tekstil dan apparel mass production

Pakaian dengan desain dan ukuran standar diproduksi terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan pasar ritel.

Dengan sistem make to stock, produsen dapat menjaga ketersediaan produk di toko dan mengantisipasi tren penjualan musiman.

Baca juga: Apa itu Pabrik Garment? Ini Pengertian dan 4 Bedanya dengan Pabrik Tekstil

Manfaat Make to Stock

Penerapan make to stock memberikan berbagai keuntungan strategis, terutama bagi bisnis dengan permintaan yang relatif stabil dan volume penjualan tinggi.

1. Ketersediaan produk terjamin

Dengan sistem make to stock, produk sudah tersedia sebelum permintaan datang. Hal ini memungkinkan bisnis merespons kebutuhan pasar dengan cepat tanpa harus menunggu proses produksi.

Ketersediaan stok yang konsisten membantu mencegah lost sales, menjaga hubungan dengan distributor dan retailer, serta meningkatkan kepercayaan pelanggan karena produk selalu siap dibeli.

2. Efisiensi biaya produksi

Produksi dalam jumlah besar memungkinkan perusahaan memanfaatkan skala ekonomi. Biaya per unit dapat ditekan karena penggunaan mesin, tenaga kerja, dan bahan baku dilakukan secara optimal.

Selain itu, pembelian bahan baku dalam volume besar sering kali memberikan harga yang lebih kompetitif dari pemasok.

3. Proses operasional lebih sederhana

Standarisasi produk membuat alur produksi menjadi lebih mudah dikendalikan.

Perusahaan tidak perlu sering menyesuaikan desain atau spesifikasi, sehingga proses perencanaan, pengendalian kualitas, dan penjadwalan produksi dapat berjalan lebih stabil dan konsisten.

4. Kepuasan pelanggan meningkat

Karena produk sudah tersedia dan siap dikirim, waktu tunggu pelanggan hingga barang sampai menjadi sangat singkat.

Pengiriman yang cepat memberikan pengalaman belanja yang lebih baik, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan memperkuat loyalitas, terutama di pasar yang sensitif terhadap kecepatan layanan.

Baca juga: Pengertian Perusahaan Manufaktur: Ciri-ciri, Contoh

Kekurangan Make to Stock

Meski menawarkan banyak keuntungan, sistem make to stock juga memiliki sejumlah risiko yang perlu dikelola dengan baik.

1. Risiko stok menumpuk

Ketergantungan pada peramalan permintaan membuat MTS sangat sensitif terhadap kesalahan forecast.

Jika prediksi tidak akurat, perusahaan dapat mengalami kelebihan stok yang sulit terjual, sehingga menambah beban biaya dan ruang penyimpanan.

2. Biaya penyimpanan tinggi

Persediaan barang jadi dalam jumlah besar membutuhkan gudang yang memadai, sistem pengelolaan inventaris, serta biaya pemeliharaan tambahan.

Semakin lama stok tersimpan, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung perusahaan.

3. Risiko produk usang atau rusak

Perubahan tren pasar, teknologi, atau preferensi konsumen dapat membuat produk yang tersimpan terlalu lama menjadi usang.

Selain itu, stok yang disimpan dalam jangka panjang juga berisiko mengalami kerusakan, penurunan kualitas, atau kedaluwarsa.

4. Arus kas tertahan di persediaan

Dalam sistem make to stock, modal bisnis banyak terserap dalam bentuk barang jadi yang belum terjual.

Kondisi ini dapat membatasi fleksibilitas keuangan perusahaan, terutama jika perputaran stok berjalan lebih lambat dari yang direncanakan.

Baca juga: Cara Memilih Lokasi Gudang Strategis untuk Optimalkan Bisnis

Apa perbedaan Make to Stock dan Make to Order?

Make to Stock (MTS) adalah strategi produksi yang membuat barang terlebih dahulu berdasarkan peramalan permintaan, lalu menyimpannya sebagai stok siap jual.

Sistem ini menekankan kecepatan distribusi, efisiensi produksi massal, dan cocok untuk produk standar dengan permintaan stabil.

Sementara itu, Make to Order (MTO) baru memulai produksi setelah ada pesanan pelanggan.

Pendekatan ini memungkinkan kustomisasi lebih tinggi dan risiko stok menumpuk lebih rendah, namun membutuhkan waktu tunggu lebih lama. MTO umumnya digunakan untuk produk khusus atau permintaan yang sulit diprediksi.

Baca juga: 5 Fitur yang Wajib Ada di Software Akuntansi Manufaktur

Penutup

Make to stock adalah strategi produksi yang mengutamakan kecepatan, efisiensi, dan kesiapan produk di pasar.

Model ini sangat efektif untuk bisnis dengan permintaan stabil, namun menuntut pengelolaan produksi dan persediaan yang akurat agar tidak menimbulkan pemborosan.

Untuk mendukung hal tersebut, bisnis membutuhkan sistem manufaktur yang terintegrasi dan transparan.

Accurate Online hadir dengan fitur manufaktur yang membantu Anda mengelola perencanaan produksi, stok bahan baku, barang jadi, hingga laporan biaya dan keuangan secara real-time.

Ingin produksi lebih efisien dan stok lebih terkendali? Coba Accurate Online gratis sekarang dan rasakan kemudahannya, klik banner di bawah!

marketing-manajemenfooter-copy

Efisiensi Bisnis dengan Satu Aplikasi Praktis!

Konsultasikan kebutuhan bisnismu dengan tim kami.

Jadwalkan Konsultasi
artikel-sidebar

Download E-Book Mengenal Kewajiban Pajak Perusahaan

Hindari masalah pajak dengan pahami pajak perusahaan di ebook ini!

Alifian Adam
Hai salam kenal saya Adam! lulusan sistem informasi dengan ketertarikan tinggi pada dunia digital! saya juga suka menulis dan berbagi informasi!

Artikel Terkait