PRD Adalah: Ini Pengertiannya Di Dalam Desain Produk

Saat membuat desain produk, tentu akan ada banyak sekali komponen yang harus Anda persiapkan. Nah, product requirement document atau PRD adalah dokumen yang bisa menyiapkan data tersebut.

Lalu apa itu PRD? Bagaimana penerapannya di dalam desain produk? Tenang, karena kami akan menjawabnya pada artikel tentang PRD di bawah ini yang bersumber dari laman Product Plan, Hygger.io, dan Actuation Consulting.

Pengertian Product Requirement Document (PRD)

Terdapat beberapa tahapan yang harus Anda lewati di dalam proses desain produk. Tahap pertama adalah riset dan mencari pain points dari pelanggan, output agar bisa mengetahui hal apa saja yang diperlukan, dan masih banyak lagi, sebelum pada akhirnya produk tersebut dirilis di pasar.

Namun, pain points adalah suatu masalah yang banyak dialami oleh pelanggan, dan Anda harus bisa mengembangkan desain produk Anda agar bisa mengatasi masalah tersebut.

Nah, PRD adalah tahapan di dalam output, yang dibuat setelah berhasil menemukan solusi atas pain points yang ingin dikembangkan. PRD adalah arsip yang digunakan di dalam proses pengembangan desain produk.

Data yang terdapat di dalam PRD adalah data yang berkaitan dengan fungsionalitas, hasil yang diinginkan, dan persyaratan lain yang harus diketahui agar produk bisa disempurnakan dan bisa lanjut ke tahap berikutnya.

Jadi sederhananya, PRD adalah seperti checklist yang harus dipenuhi sebelum produk masuk ke dalam tahap uji coba dan dirilis ke pelanggan. Nantinya, dokumen ini akan membantu product manager untuk bisa mengatur proyek dan berbagai hal detail di dalamnya.

Agar lebih memudahkan tugas mereka, maka diperlukan PRD yang detail, lengkap dan berkualitas tinggi sebagai acuan sepanjang proyek dijalankan.

Baca juga: MRR adalah Total Pendapatan Bisnis Selama Satu Bulan, Bagaimana Cara Menghitungnya?

Aspek Penting Dalam PRD

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, terdapat banyak sekali komponen yang harus dipersiapkan di dalam suatu PRD. Nah, aspek penting di dalam PRD adalah sebagai berikut:

1. Tujuan

Fungsi yang paling utama dari PRD adalah agar bisa menjelaskan produk yang ingin dibuat, dari mulai tujuan hingga fitur serta fungsionalitas produk.

Untuk itu, komponen utama yang harus tersedia di dalam dokumen adalah tujuan dari produk dan tujuan yang dicapai.

2. Fitur Produk

Aspek penting selanjutnya yang harus ada di dalam PRD adalah penjelasan dari setiap fitur produk. Fitur yang paling kecil pun harus Anda berikan penjelasannya agar pengembangan produk bisa dilakukan secara maksimal.

Berikanlah gambaran atau contoh yang bisa memudahkan tim pengembangan dalam menjalankan tugasnya.

3. UX Flow

PRD pun harus mencatat alur pengalaman pengguna atau UX flow agar bisa menggambarkan alur kerja desain secara menyeluruh. Sebagian besar orang memang baru akan mengurus hal ini dari berbagai fitur setelah PRD disepakati. Namun akan lebih baik bila komponen ini lebih dulu dimasukkan.

Sehingga, nantinya manajer produk bisa memastikan bahwa tujuan perilisan produk sudah terpenuhi dengan lengkap.

4. Persyaratan Sistem atau Lingkungan

Komponen lainnya yang harus ada di dalam PRD adalah persyaratan sistem ataupun lingkungan.  Di dalam komponen ini, maka semuanya harus bisa dipastikan secara rinci dan jelas.

5. Asumsi, Batasan, dan Ketergantungan

Komponen terakhir di dalam PRD adalah batasan, asumsi, dan juga tingkat ketergantungan yang ada. Isi di dalam komponen PRD adalah daftar perkiraan perilaku pengguna, tantangan yang ada, dan juga elemen yang diperlukan dalam membuat desain produk fungsional.

Baca juga: Project Plan: Pengertian dan Manfaatnya

Fungsi Product Requirement Document (PRD)

Selain mampu memudahkan proses pengembangan produk dan memperjelas tata kelola pekerjaan dari tim pengembangan, fungsi lain dari PRD adalah sebagai berikut:

  • Menggabungkan setiap langkah pada gambaran lengkap atas suatu produk dengan pilihan agar bisa memasukkan ataupun menghilangkan beberapa fitur serta mendeteksi potensi masalah di waktu yang tepat.
  • Membantu visualisasi waktu yang diperlukan untuk proses pengembangan produk ataupun proyek.
  • PRD akan membantu tim pengembang agar bisa memahami anggaran yang diperlukan dalam proses pengembangan produk.
  • Secara khusus, PRD bisa membantu mewujudkan sinergi dan juga rasa pengertian yang lebih komprehensif antara pelanggan dengan tim pengembang.

Baca juga: Non-Functional Requirements Demi Hasilkan Produk Terbaik

Perbedaan PRD dengan MRD

1. Tujuan

Berdasarkan laman Actuation Consulting, perbedaan utama dari MRD dan PRD adalah tujuan dari pembuatan dokumennya.

Tujuan dibuatnya MRD adalah agar bisa menentukan target pasar, profil calon pembeli, dan hal apa saja yang diperlukan oleh pembeli.

Disisi lain, tujuan dibuatnya PRD adalah agar bisa menginformasikan pada tim pengembangan terkait fungsionalitas produk dan fitur yang sudah dijelaskan di dalam MRD. Jadi, MRD dan PRD akan saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya.

2. Urutan Pembuatan Dokumen

Walaupun kedua dokumen ini saling melengkapi, namun pembuatannya tidak bisa dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Berdasarkan poin di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa MRD harus terlebih dulu dibuat sebelum tim membuat PRD.

Tanpa adanya MRD, PRD yang sudah dibuat hanya berisi fungsionalitas produk yang tidak spesifik, dibuat untuk siapa, dan apa yang sebenarnya diperlukan. Tanpa adanya PRD, data yang diperlukan kemungkinan tidak lengkap karena akan tercecer atau bahkan tidak dipersiapkan dengan baik.

Untuk itu, urutan pembuatannya tidak boleh diubah. Ketika memuat PRD, tim akan memerlukan MRD sebagai dasar acuan yang jelas agar bisa menentukan berbagai fitur yang harus ada di dalam produk.

3. Panjang Dokumen

Perbedaan terakhir dari MRD dan PRD adalah panjang dari setiap dokumen tersebut. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, semakin singkat MRD, maka akan semakin efektif juga tim untuk memahami hal apa saja yang diperlukan oleh pelanggan di dalam target pasar.

Di sisi lain, PRD memiliki dokumen yang lebih panjang, karena di dalamnya berisi seluruh data yang diperlukan dan harus dipenuhi sebelum produk masuk ke tahap uji coba. Isi dari PRD tidak perlu berbelit-belit, namun harus detail dan bisa memenuhi seluruh checklist data yang diperlukan.

Baca juga: Trend Analysis: Apa Itu, Jenis-Jenis, dan Manfaat Melakukannya

Tips Membuat Product Requirement Document (PRD)

Berdasarkan berbagai hal penting yang terdapat pada PRD di atas, kita bisa memperkirakan dengan baik terkait cara membuat PRD. Nah, berbagai langkah dalam membuat PRD adalah sebagai berikut:

1. Diskusi dan Sinergi

Seperti yang sebelumnya sudah disinggung bahwa subjek dari PRD adalah tim pengembang dan klien. Hal inilah yang membuat PRD harus bisa disepakati dan dipahami bersama sebelum proses pengembangan produk dilakukan.

Adanya kesepakatan antar pihak bisa dilakukan dengan cara diskusi dan sinergi antar manajer produk, klien, dan tim pengembang. Kesesuaian permintaan klien atas suatu produk harus disesuaikan juga dengan sumber daya teknis dan juga anggota tim pengembang.

2. Pemantapan dan Pembagian Kerja

Sama seperti proyek pengerjaan umum, PRD juga mencakup pemantapan pada berbagai bagian produk yang akan dikerjakan dan pembagian tim kerja pada setiap sub bagian. Adanya pemantapan dan pembagian kerja yang tercantum di dalam PRD akan mempermudah tim pengembang agar bisa fokus pada bagian kerjanya dan bisa menekan potensi kecacatan ataupun revisi.

3. Evaluasi

Walaupun diciptakan untuk menekan revisi, tapi PRD bukanlah dokumen yang tidak mungkin akan dievaluasi. Terdapat persyaratan dalam pengembangan produk yang sudah pasti juga terdapat risiko di dalamnya.

Proses evaluasi dilakukan dengan tetap memerhatikan berbagai kaidah dan kesepakatan antar setiap pihak agar perbaikan yang sudah dilakukan tidak keluar dari jalur produksi.

Baca juga: Business Analytics: Pengertian dan Bedanya dengan Business Intelligence

Penutup

Demikianalh penjelasan dari kami tentang PRD. Jadi, PRD adalah tahapan di dalam output, yang dibuat setelah berhasil menemukan solusi atas pain points yang ingin dikembangkan. PRD adalah arsip yang digunakan di dalam proses pengembangan desain produk.

Di dalam proses PRD ini tentunya diperlukan sumber daya yang memadai dan anggaran dana yang cukup untuk bisa menyelesaikan PRD dengan baik demi pengembangan produk yang lebih optimal.

Nah, untuk membantu Anda dalam mengelola anggaran dana, Anda bisa menggunakan aplikasi bisnis dari Accurate Online.

Dengan menggunakan aplikasi ini, Anda akan lebih mudah dalam membuat anggaran dana yang Anda perlukan, dan semuanya akan tercatat di dalam laporan keuangan secara otomatis dan tepat.

Lebih dari itu, di dalamnya juga sudah tersedia fitur dan modul yang sangat luar biasa dan tentunya bisa meningkatkan efisiensi operasional bisnis Anda.

Tunggu apa lagi? Segera coba dan gunakan Accurate Online sekarang juga selama 30 hari gratis melalui banner di bawah ini.

Nat

Wanita lulusan S1 Bisnis Manajemen yang sering membagikan berbagai ilmunya dalam bidang bisnis secara menyeluruh kepada masyarakat, mulai dari tips, ide bisnis, dan masih banyak lagi.